tirto.id - Angka penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebagai dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan terus bertambah. Selama Agustus 2026, tercatat ada 44.224 kasus ISPA di provinsi itu.
Pengidap ISPA pada Agustus 2026 menjadi tertinggi sepanjang tahun ini. Pada Juli 2026, penderita ISPA tercatat 38.345 orang dan pada Juni 2026 sebanyak 36.294 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumsel, Ira Primadesa, mengungkapkan lonjakan kasus ISPA mulai terjadi pada Juli dan Agustus 2026 atau memasuki musim karhutla yang menimbulkan kabut asap. Kondisi udara yang buruk membuat masyarakat mudah terpapar ISPA.
"ISPA di Sumsel selama Agustus kemarin sangat tinggi, ada 44.224 penderita," ungkap Ira Primadesa, Kamis (10/9/2026).
Ira menjelaskan penderita ISPA terbanyak terdapat di Palembang. Sepanjang Januari-Agustus 2026, tercatat 113.883 orang yang terkena penyakit itu.
Penyumbang ISPA terbesar juga berada di daerah-daerah yang terjadi karhutla. Seperti di Muara Enim sebanyak 40.512 kasus, Musi Banyuasin 25.174 kasus, Banyuasin 19.728 kasus, Lahat 17.464 kasus, Musi Rawas 17.068 kasus, OKU Timur 16.446 kasus, Ogan Ilir 14.917 kasus, Lubuklinggau 14.538 kasus, dan Ogan Komering Ilir 14.391 kasus.
"Memang peningkatan kasus ISPA tidak terjadi merata di seluruh daerah. Tapi dalam catatan kami, tahun ini penderita ISPA naik signifikan dibanding tahun lalu," kata Ira.
Menurut Ira, jumlah penderita ISPA di Sumsel diprediksi terus bertambah pada September 2026. Dalam laporan yang masuk, penderita ISPA berdasarkan data harian terus meningkat dari hari-hari sebelumnya.
"Kami imbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan karena kualitas udara makin buruk. Jika pun terpaksa, wajib pakai masker agar tidak terpapar asap karhutla," kata Ira.
Kualitas Udara di Palembang Sangat Buruk
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengatakan kualitas udara di Sumsel, khususnya di Palembang, selama tiga hari terakhir masuk dalam level hitam yang berarti udara sangat buruk. Sementara, waktu paling berbahaya terjadi pada dini hari karena kabut asap semakin pekat.
"Benar, selama tiga hari ini kualitas udara di Palembang sangat buruk, masuk level hitam atau berbahaya bagi kesehatan," kata Wandayantolis.
Dari pantauan Stasiun BMKG Musi II Palembang, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) menembus 400 hingga 600 mikrogram per meter kubik. PM2.5 menurun menjelang pagi namun masih dalam kategori tidak sehat dan kembali meningkat mulai sore hari.
"Siang berangsur turun, tapi sore, malam, sampai dini hari PM2.5 terus naik dan semakin tidak sehat," kata dia.
Wandayantolis menyebut kabut asap di Sumsel murni berasal akibat karhutla, bukan pengaruh abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Sebab sejauh ini, debu erupsi tidak sampai ke Palembang.
"Kabut asap ini sumbernya karhutla, bukan abu vulkanik. Akan berangsur hilang jika hujan turun dan karhutla tidak terjadi lagi," tutup Wandayantolis.
Masuk tirto.id


































