tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kebun Raya Sriwijaya, Desa Bakung, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, akhirnya padam setelah tim gabungan berjibaku selama enam hari.
Karhutla di kawasan konservasi hutan gambut itu diketahui sejak Jumat (4/9/2026). Tim gabungan melakukan pemadaman dari darat maupun udara.
Banyaknya material kering dan tebalnya lapisan gambut membuat api cepat menyebar. Berdasarkan perkiraan sementara, setidaknya 30 hektare lahan di kawasan tersebut hangus terbakar.
Karhutla tidak hanya menimbulkan kabut asap, tetapi juga membakar berbagai tumbuhan khas gambut. Sejumlah pohon besar yang merupakan flora lahan basah, seperti Hydnocarpus heterophylla, Combretocarpus motleyi, dan Alphonsea teysmannii, roboh setelah api membakar bagian bawah gambut hingga kedalaman lebih dari satu meter.
Kebakaran gambut yang cukup dalam juga berdampak pada pagar pembatas kebun di bagian belakang dan sejumlah tiang listrik. Kondisi tersebut membuat tanah gambut mengalami penurunan hingga bangunan dan struktur yang berdiri di atasnya ambruk.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan pohon-pohon yang roboh merupakan tanaman khas gambut yang menjadi sumber plasma nutfah. Namun, banyak pohon berukuran besar dari berbagai jenis tumbang karena bagian akarnya terbakar.
"Tumbangan pohon banyak, sebagian besar tak tertolong, api memakan gambutnya. Jadi dimakan bagian akar, akhirnya tumbang-tumbang," ungkap Ferdian, Kamis (10/9/2026).
Menurut dia, secara umum api sudah padam. Namun, tim masih melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada sisa bara yang berada di bawah permukaan gambut.
"Sekarang tinggal tahap mopping up, hari ini ditarget tuntas dan clear," kata dia.
Dalam proses tersebut, tim pemadam harus bekerja dengan sangat hati-hati karena potensi pohon tumbang masih cukup besar. Tim juga berupaya menyelamatkan tanaman yang belum tersentuh api.
"Potensi tumbang lagi masih ada karena termakan di bawah, pergerakan tim juga terbatas, faktor safety menjadi pertimbangan," kata Ferdian.
Sebagai informasi, Kebun Raya Sriwijaya memiliki luas sekitar 100 hektare dan diinisiasi pada 2011. Kebun raya ini berada di bawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
Kawasan tersebut termasuk dalam ekoregion hutan rawa gambut Sumatera, dengan tema koleksi tumbuhan obat dan lahan basah Sumatera. Selain fungsi konservasi, Kebun Raya Sriwijaya juga memiliki fungsi wisata, penelitian, edukasi, dan penyediaan jasa lingkungan.
Koleksi tumbuhan obat di kawasan tersebut umumnya dimanfaatkan untuk pengobatan herbal. Tema koleksi itu antara lain dipengaruhi oleh lokasi sebaran dan ketinggian tempat tumbuh.
Kebun Raya Sriwijaya juga dilengkapi embung konservasi, taman tematik, koleksi tanaman hias, serta tanaman khas gambut. Kawasan tersebut sebelumnya merupakan hutan produksi yang kemudian ditetapkan sebagai kawasan hutan dengan tujuan konservasi.
Penulis: Irwanto
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































