tirto.id - Sebanyak lima ekor bayi orangutan dievakuasi dari kawasan hutan Ranakotha Badapahi, Balasore, Negara Bagian Odisha, India pada Selasa (7/9/2026) waktu setempat. Penemuan satwa terancam punah ini sempat membingungkan petugas lantaran orangutan merupakan hewan endemik Pulau Kalimantan dan Sumatra.
Seturut Hindustan Times, lima ekor bayi orangutan itu ditemukan oleh petugas konservator hutan ketika melakukan patroli di Hutan Lindung Ranakatha pada Selasa pagi. Kepala Konservator Hutan, Prem Kumar Jha, menyebut kelima satwa dilindungi tersebut diperkirakan berusia antara satu hingga dua tahun.
Petugas sempat kebingungan dengan temuan ini. Hal itu mengingat bentang alam India bukan habitat orangutan.
Orangutan selama ini dikenal sebagai hewan endemik dari Pulau Kalimanta yang hidup di ekosistem hutan hujan tropis. Sementara itu, Hutan Lindung Ranakatha di India memiliki ekosistem tropis pesisir yang berbeda dari hutan hujan tropis.
Prem Kumar Jha menyebut pihaknya kini tengah berupaya untuk menyelidiki bagaimana spesies asli Pulau Borneo itu bisa ditemukan di kawasan berjarak lebih dari 3.000 kilometer dari habitat asli mereka. Ia juga mengatakan temuan ini telah diinformasikan ke pihak kepolisian setempat.
“Bagian satwa liar dari departemen kehutanan sedang menyelidiki bagaimana mereka sampai ke Odisha,” katanya.
Sementara itu, kelima bayi orangutan kini dievakuasi petugas ke Taman Zoologi Nandankanan. Di sana, mereka akan mendapatkan perawatan.
“Setelah hewan-hewan tersebut dibawa ke Nandankanan di Bhubaneswar, mereka akan tetap berada di karantina sebelum keputusan lebih lanjut diambil tentang perawatan mereka,” turut Prem Kumar Jha.
Bayi Orangutan di India Diduga Diselundupkan
Penemuan orangutan di Odisha membuat otoritas setempat menduga bahwa mereka telah jadi korban penyelundupan satwa lintas negara. Menteri Kehutanan Negara Bagian Odisha Ganesh Ram Singh Khuntia menduga peristiwa ini melibatkan mafia internasional.
“Mafia internasional mungkin terlibat dalam perdagangan mereka [para orangutan],” katanya.
Menukil Times of India, Satuan Tugas Khusus (STF) Kepolisian Odisha dan Biro Pengendalian Kejahatan Satwa Liar (WCCB) kini berupaya untuk menelusuri dugaan tersebut. Operasi gabungan untuk menginvestigasi hal tersebut dilaporkan telah dimulai pada Rabu (9/9).
Dugaan penyelundupan itu menguat setelah kronologi penemuan orangutan di India ini mengindikasikan jejak-jejak para pelaku.
Sebelum ditemukan pada Selasa, bayi-bayi orangutan itu terlebih dulu dilihat oleh warga sekitar pada Senin. Hal ini kemudian memicu pelaporan warga ke petugas konservasi hutan dan berujung pada penemuan lima bayi orangutan pada Selasa pagi.
Kemudian, kamera CCTV yang dipasang di dekat area tersebut merekam keberadaan sebuah mobil SUV hitam yang tak dikenal pada Senin malam. Pihak kepolisian menduga mobil ini memiliki keterkaitan dengan penemuan bayi orangutan pada keesokan harinya.
Berdasarkan temuan awal tersebut, pihak kepolisian setempat dilaporkan tengah menghimpun informasi terkait orangutan yang ada di India. Hal ini termasuk menyisir kebun binatang di seluruh negeri guna mengonfirmasi apakah ada laporan kehilangan satwa dari fasilitas mereka.
Orangutan hingga kini masih tergolong sebagai satwa yang terancam punah. Spesies kera berbulu oranye ini pertama kali ditetapkan sebagai satwa terancam punah (endangered) sejak 1986 lalu. Namun, sejak itu, kondisinya tak membaik.
Pada 2016 lalu, status orangutan Kalimantan ditingkatkan menjadi sangat terancam punah (critically endangered). Hal ini terjadi seiring laju deforestasi dan perburuan yang masif di Borneo.
Padahal, menurut Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, orangutan merupakan spesies yang penting bagi keberlangsungan ekosistem hutan di Kalimantan dan Sumatra. Ia dikenal sebagai satwa dengan kecerdasan tinggi dan telah berperan dalam siklus kesehatan ekosistem hutan tropis.
“Mereka menyebar biji sembari mengonsumsi berbagai jenis buah, mampu mencerna biji berukuran lebih besar ketimbang hewan frugivora lain, dan menjelajah jarak yang luar biasa sembari membuang biji. Dengan melindungi orangutan di habitat alaminya, ratusan spesies flora-fauna juga terlindungi,” tulis BOS Foundation dalam laman resmi mereka.
Community Forest Ecosystem Services (CFES) bahkan menyebut orangutan sebagai “arsitek hutan” dan “insinyur ekosistem” karena peran mereka dalam regenerasi hutan tropis. Hingga kini, keberadaan orangutan di hutan Kalimantan dan Sumatra dijadikan sebagai salah satu indikator penting untuk mengukur tingkat keanekaragaman hayati dan kesehatan vegetasi.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































