tirto.id - Como 1907 akan menjalani debut mereka di Liga Champions 2026/27 dengan menjamu RB Leipzig pada Jumat (11/9/2026) di Stadio Giuseppe Sinigaglia, Como. Tidak hanya itu, dalam tahun ke-119 sejak berdiri, I Lariani bakal berjumpa PSG, Barcelona, Manchester United, hingga Feyenoord.
Jelang laga penuh sejarah kontra RB Leipzig, Como memberikan gestur menyentuh untuk fans mereka. Mirwan Suwarso, sang presiden klub, beserta jajaran eksekutif I Lariani menyerahkan kursi penonton VIP mereka untuk suporter veteran agar bisa menonton langsung tim kesayangan mereka.
Langkah ini hanyalah salah satu dari sekian kebijakan Como 1907 yang humanis untuk pendukung setia klub tersebut sejak era baru pada 2019. Bertepatan dengan bergantinya kepemilikan, I Lariani yang berkutat puluhan tahun di strata bawah sepak bola Italia, merangsek naik ke Serie A, bahkan musim lalu finis di peringkat 4, di atas klub elite seperti AC Milan dan Juventus.
Apa yang tengah terjadi di klub yang stadionnya terletak tepat di sebelah Lago di Como itu?
Jatuh Bangun Como dari Spesialis Serie B Menuju UCL
Jika menengok catatan sejarah, masa lalu Como 1907 memang lebih banyak diwarnai tetes keringat dan perjuangan berdarah-darah di kompetisi strata bawah ketimbang gelimang kemewahan Serie A. Klub yang berdiri sejak 1907 ini tercatat menghabiskan 37 musim di Serie B, 35 musim di Serie C, dan 7 musim terlempar ke Serie D.
Sebaliknya, Como baru mencicipi atmosfer Serie A sebanyak 15 musim. Debut pertama mereka terjadi pada musim 1949/1950, sementara prestasi terbaik sepanjang sejarah klub ini baru saja terjadi musim lalu saat mereka finis di posisi empat klasemen Liga Italia 2025/2026.
Siklus pahit jatuh-bangun sudah jadi makanan sehari-hari bagi suporter Como. Tim kesayangan mereka berulang kali menelan pil pahit degradasi dari Serie A, mulai dari 1953, 1976, 1982, hingga 1989. Nestapa kian menjadi saat mereka balik terlempar ke Serie C pada 2003. Puncak paling kelam akhirnya menghantam pada Desember 2004, Como bangkrut lalu divonis harus merangkak dari nol di divisi amatir, Serie D.

Kendatipun sempat berjuang naik kelas, badai pailit kedua balik menerjang pada musim 2016/2017. Kala itu, klub terpaksa dilego lewat jalur lelang sampai akhirnya dibeli oleh Akosua Puni Essien, istri dari eks bintang Chelsea, Michael Essien. Nahas, era kepemimpinan tersebut juga tak bisa bicara banyak. Krisis finansial kembali melanda sampai-sampai klub tak mampu membayar gaji pemain, bahkan menunggak tagihan operasional stadion.
Titik balik bersejarah akhirnya tercipta pada April 2019. Sent Entertainment Ltd., perusahaan media berbasis di London yang terafiliasi dengan Djarum Group milik keluarga Hartono, mengambil alih kepemilikan klub ini. Sejak itu, performa Como melesat bagai roket.
I Lariani langsung menyegel gelar juara Serie D pada musim pertama kepemilikan baru, mengunci tiket promosi dari Serie C di tengah pandemi pada musim 2020/2021, bertarung sengit di Serie B, sampai akhirnya mengunci tiket promosi ke panggung Serie A pada musim 2023/2024 usai paceklik panjang 21 tahun.
"Posisi kita saat ini tidak menjamin kita akan tetap berada di sana pada musim depan. Pengorbanan dan kerja keraslah yang membawa kita sejauh ini. Mempertahankan posisi tersebut bakal menuntut usaha jauh lebih besar lagi. Segala pencapaian musim lalu kini tak lagi berarti. Mari kita mulai lagi dari nol. Nol kemenangan. Nol prestasi," tulis Mirwan di Instagramnya.
Pembuktian kualitas Como benar-benar meledak musim lalu. Tim asuhan Cesc Fabregas enggan hanya sekadar numpang lewat atau jadi medioker. I Lariani mengamuk, finis di posisi keempat klasemen akhir Serie A, sekaligus mengunci tiket lolos langsung ke Liga Champions untuk kali pertama sepanjang 117 tahun sejarah berdirinya klub ini.
Tangan Midas Mirwan Suwarso di Como
Mirwan Suwarso resmi menduduki kursi Presiden Como sejak Oktober 2024. Namun, peran krusial sebagai perpanjangan tangan pemilik saham sudah berjalan sejak Sent Entertainment masuk pada 2019.
Uniknya, Mirwan dikenal sebagai sosok pemimpin yang tahu batasan. Ia berulang kali berujar tak mau ikut campur urusan teknis, taktik, atau racikan formasi di lapangan. Tugas utamanya menjadi jembatan strategis antara visi besar keluarga Hartono di Indonesia dengan jajaran manajemen di Italia, juga arsitek bisnis yang menopang kemandirian klub.
Di bawah komando Mirwan, Como beralih membangun ekosistem bisnis lintas sektor, mencakup unit usaha ritel, modernisasi properti stadion, pengembangan akademi usia muda, hingga pembentukan divisi hiburan khusus untuk mengelola hak komersial dan ajang komunitas.

Mirwan menganalogikan arah pembangunan Como layaknya imperium hiburan terbesar di dunia. Dalam wawancaranya dengan BBC Sports, ia membeberkan bahwa proyek klubnya itu mengacu pada model bisnis Disney yang punya taman hiburan, film, studio media, hingga lini merchandising.
Salah satu manuver terhebat Mirwan di bursa transfer manajerial adalah keberhasilannya mengamankan jasa Cesc Fabregas. Saat juru taktik muda berbakat itu gencar digoda klub raksasa Serie A seperti Inter Milan hingga deretan tim elite Bundesliga, Mirwan bergerak cepat membentengi sang pelatih. Hubungan harmonis dan kesamaan visi sejak awal bikin Fabregas mantap bertahan demi membentuk identitas dan mentalitas pemenang I Lariani.
Soal perburuan pemain, Mirwan juga menerapkan kebijakan rasional. Ia menolak mentah-mentah tren belanja jor-joran tanpa perhitungan. Efisiensi dan kesehatan finansial jangka panjang menjadi fondasi utama. Bahkan, ia tak gentar meski harus menghadapi risiko kehilangan pemain bintang seperti Nico Paz yang punya klausul buyback dari Real Madrid.
Bagi Como, lolos ke Liga Champions bukan obsesi gila yang harus dicapai dengan cara bakar duit.
"(Target lolos Liga Champions) terjadi tiga tahun lebih cepat dari yang diperkirakan, tapi yang sekarang perlu kita lakukan adalah mempercepat pertumbuhan. Kita tidak bisa menganggap Liga Champions sebagai hal pasti, dalam artian hanya membakar uang untuk mempertahankan status ini. Kita mencapainya lewat strategi, untuk membangun sesuatu yang berkelanjutan. Dan kita harus mempertahankannya," ujar Mirwan kepada Gazzetta dello Sport.
Dalam jangka panjang, jajaran pemilik Como menarget pengurangan suntikan modal secara bertahap. Tujuannya membuat Como 1907 jadi klub yang mandiri, sehat, dan berdikari tanpa bergantung pada modal investor luar.
Tiket VIP UCL untuk Para Fans Veteran Como
Sensasi Como berlanjut pada Jumat (11/9) dini hari pekan ini. Mereka bersiap melakoni laga debut bersejarah di Liga Champions menjamu salah satu wakil Jerman, RB Leipzig, di Giuseppe Sinigaglia. Kandang keramat Como ini sudah bersolek sepanjang musim panas, mulai dari pembongkaran Curva Ovest, perluasan area lapangan, hingga peremajaan sistem pencahayaan demi memenuhi standar ketat UEFA.
Namun, kewajiban memangkas kursi penonton untuk memenuhi regulasi UEFA membuat lonjakan permintaan tiket tak terbendung. Tiket laga debut di Liga Champions ludes dalam waktu singkat, meninggalkan banyak pendukung setia tanpa akses masuk.
Melihat tingginya antusiasme tersebut, Presiden Como Mirwan Suwarso beserta jajaran eksekutif klub bikin keputusan unik. Ia mengumumkan bahwa dirinya dan beberapa direktur klub memilih menyerahkan jatah kursi VIP mereka di laga itu untuk diberikan kepada suporter veteran Como.
Mirwan mengakui keterbatasan kursi stadion membuat manajemen belum mampu mengakomodasi semua suporter yang ingin hadir langsung di lapangan.
"Saya dan beberapa direktur klub memutuskan untuk memberikan kursi kami di pertandingan ini. Kami ingin kursi itu diberikan kepada fans yang menanti paling lama, yaitu pendukung yang lahir tahun 1950 atau lebih awal yang sudah mengikuti Como di semua kategori dan di setiap era," ujar Mirwan.

Langkah ini menjadi bentuk penghormatan bagi para suporter veteran yang setia mengawal Como melewati masa-masa kelam, termasuk dua kali vonis bangkrut dalam dua dekade terakhir. Dari terpuruk di divisi bawah, Como mengamankan tiga kali promosi dalam enam tahun, sampai akhirnya kembali ke Serie A pada 2024 lalu debut di Liga Champions pada 2026.
Gestur apik ini juga menandakan I Lariani masih sejalan dengan prinsip yang mereka kembangkan tahun-tahun sebelumnya. Mirwan pernah menuturkan kepada La Gazzetta dalam wawancara tertanggal 16 Desember 2024 bahwa, "Kami selalu berusaha memberikan yang lebih kepada para penggemar, sesuatu yang melampaui sepak bola dan dapat menghibur semua orang, entah dewasa maupun anak-anak, pendukung fanatik maupun penikmat biasa."
Sebelumnya, Como 1907 menjalankan sejumlah program kemasyarakatan berbasis komunitas untuk mendekatkan diri kepada warga lokal Como. Salah satunya, program "Como for Como", yaitu skema bisnis cenderamata yang memasok produk ke 325 toko lokal, dengan 25 persen keuntungan dialokasikan untuk mendanai pembangunan infrastruktur medis dan kegiatan komunitas setempat.
Ada pula program yang menyentuh generasi muda Como sejak dini. Setiap bayi yang lahir di Como mendapatkan jersei bayi gratis beserta dua tiket musiman untuk masa depan, sedangkan seluruh anak sekolah di bawah usia 13 tahun berhak atas akses menonton pertandingan gratis di stadion.
Setelah pendekatan humanis bertahun-tahun, Como mendapatkan buahnya. Warga setempat tetap terikat pada klub meski punya pemilik orang asing. Keterikatan itu pula yang akan jadi senjata bagi Como untuk menjalani petualangan bersejarah di panggung teratas Eropa. Setelah RB Leipzig, lawan-lawan lain di UCL sudah menanti I Lariani, dari Feyenoord, Manchester United, Lens, AEK Athens, Real Betis, PSG, hingga Barcelona.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id


































