tirto.id - Pertandingan Liga Champions terkadang tak sekadar soal menghadapi beratnya faktor teknis di lapangan hijau. Kadang, faktor nonteknis seperti cuaca dan bencana alam turut berperan membuat sebuah tim kuat, jadi kesulitan.
Itulah yang dialami Barcelona dan Lyon di semifinal Liga Champions 2009/2010, bertepatan dengan erupsi Gunung Eyjafjallajökul di Islandia. Keduanya harus menempuh ratusan mil perjalanan darat menggunakan bus, hal yang tidak lazim di sepak bola modern, karena penerbangan ditutup akibat debu vulkanik menyelimuti sebagian besar langit Eropa.
Ketika konfederasi sepak bola Eropa (UEFA), sudah mempersiapkan jadwal turnamen dengan matang, semua dikacaukan oleh bencana alam. Erupsi Gunung Eyjafjallajökul nyaris membuat jadwal Liga Champions dan Liga Europa berantakan. Pada 17 April 2010 gunung di Islandia itu meletus, beberapa hari sebelum laga leg 1 semifinal Liga Champions 2009-2010.
Eyjafjallajökul Meletus, Liga Champions Jalan Terus
Gunung berapi terhitung jarang membuat sebuah pertandingan sepak bola terdampak. Tapi, sekali erupsi, efeknya bisa cukup masif. Jika tidak percaya, lihat saja bagaimana upaya Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Persita Tangerang, dan Dewa United pulang ke kota masing-masing ketika Gunung Anak Krakatau erupsi sejak 4 September 2026.
Di Eropa, situasi serupa pernah terjadi ketika Eyjafjallajökul, gunung berapi di Islandia dengan tinggi 1.666 meter, mengalami erupsi. Aktivitas seismik Gunung Eyjafjallajökul sebenarnya sudah terjadi sejak akhir Desember 2009. Lalu pada Maret 2010, erupsi pertama terjadi.
Efek lebih besar terjadi ketika erupsi kedua terjadi mulai 14 April 2010. Laporan The Guardian menyebut efek letusan kedua 20 kali lebih besar dari yang pertama. Dampak instan yang terjadi, penerbangan di hampir seluruh langit Eropa kala itu menjadi berbahaya karena partikel abu vulkanik.

Padahal, transportasi udara menjadi elemen penting di sepak bola modern untuk mengatasi jadwal pertandingan yang padat. Terlebih untuk kompetisi seperti Liga Champions yang melibatkan banyak tim dari berbagai negara, dengan jarak tempuh yang jauh.
Walaupun jalur darat masih bisa dijadikan alternatif, dampaknya bagi pemain cukup signifikan. Energi pemain bisa terkuras akibat terlalu lama dalam perjalanan.
Situasi itu menimpa Barcelona, klub Spanyol yang harus bertandang ke Italia demi menghadapi Inter Milan di San Siro pada leg pertama semifinal Liga Champions 2009/2010. Hal yang sama juga dialami Lyon, klub Prancis yang harus pergi ke Munchen, Jerman demi menghadapi Bayern Munchen di Allianz Arena.
Tidak hanya Liga Champions, situasi saat itu turut mempengaruhi laga leg 1 semifinal Europa League 2010. Dua pertandingan dijadwalkan main pada 23 April 2010 yaitu Hamburg vs Fulham dan Atletico Madrid vs Liverpool.
Lantas, mengapa UEFA tidak menunda jadwal pertandingan saat itu? Tidak ada alasan resmi saat dari UEFA, tetapi Piala Dunia 2010 yang digelar pada Juni-Juli 2010 ditengarai jadi pertimbangan kompetisi di level klub harus tetap jalan sesuai jadwal.
"Dua laga leg 1 semifinal UEFA Champions League akan tetap berlangsung sesuai jadwal pekan ini walau ada pembatasan perjalanan via udara di Eropa saat ini," tulis pernyataan resmi UEFA saat itu.
Pada akhirnya, semua pertandingan leg 1 semifinal Liga Champions dan Europa League 2009-10 saat itu tetap berlangsung sesuai jadwal. Walau dari sudut pandang klub, mereka tentu dirugikan karena harus melakukan perjalanan darat untuk memainkan pertandingan.

Erupsi Eyjafjallajökul Bikin UCL Amburadul
Kendati laga tetap digelar sesuai jadwal, tidak dipungkiri ada upaya dari tim-tim peserta UCL untuk menunda pertandingan. Terutama Barcelona dan Lyon yang kala itu dirugikan karena harus menempuh perjalanan darat ke kandang lawan.
Dalam kondisi normal, jarak Barcelona ke Milan dan Lyon ke Munich jika menggunakan pesawat ditempuh antara 1,5-2 jam menggunakan penerbangan langsung. Namun, akibat Bandara yang ditutup, Barcelona harus melakukan perjalanan darat dengan durasi 20-25 jam.
Barcelona yang kala itu diperkuat Lionel Messi dan sejumlah pemain bintang lainnya harus menempuh perjalanan darat 984 km. Jarak tersebut setara dengan perjalanan dari Jakarta menuju Jember alias titik paling Timur Pulau Jawa.

Menurut laporan The Guardian, skuad Barcelona saat itu harus membagi waktu perjalanan menjadi 2 hari. Pertama, mereka menempuh jarak 634 kilometer dari Barcelona menuju Cannes, Prancis. Setelah beristirahat semalam di sana, rombongan pemain Barcelona melanjutkan perjalanan sepanjang 350 kilometer menuju Milan, Italia.
Jarak tempuh yang terlalu jauh disebut jadi musabab Barcelona tampil kedodoran di leg pertama semifinal Liga Champions 2009/2010. Akurasi passing mereka menurun di angka 88% dari rata-rata passing Barcelona di UCL pada tahun tersebut yang mencapai 92%. Walaupun tetap dominan, anak asuh Pep Guardiola kala itu harus kalah dari Inter Milannya Jose Mourinho dengan skor 3-1.
Barcelona sebetulnya mampu unggul lebih dulu di menit 19 melalui gol Pedro Rodríguez. Namun, kondisi fisik yang menurun di babak kedua membuat Inter Milan mampu mengacak-acak pertahanan Blaugrana untuk mencetak 3 gol balasan melalui Wesley Sneijder, Maicon dan Diego Milito.
Bukan hanya Barcelona yang tampil buruk di leg 1 semifinal Liga Champions 2009/2010 akibat kelelahan, Lyon juga kalah dari Bayern Munchen yang bermain dengan 10 orang.
Saat itu, Lyon asuhan Claude Puel harus menempuh perjalanan darat sepanjang 740 kilometer. Sama seperti Barcelona, Lyon menyiasati perjalanan menjadi 2 hari dengan mengambil waktu istirahat di Stuttgart.
Kendati lelah tidak dipungkiri mempengaruhi performa tim, bek Lyon kala itu, Cris, enggan menjadikannya alasan. Menurutnya, Lyon kalah karena gagal memanfaatkan peluang dengan baik, terutama saat unggul jumlah pemain.
"Itu [perjalanan darat] tidak bisa dijadikan alasan. Jika pemain bersembunyi di balik alasan itu, mereka tidak siap memainkan pertandingan Liga Champions," tutur Cris setelah pertandingan.

Sudah kalah dan kelelahan, Barcelona dan Lyon harus kembali ke negara masing-masing menggunakan jalur darat lagi. Mereka juga memiliki jadwal kompetisi domestik yang harus dimainkan di akhir pekan, sebelum kembali bermain di leg 2.
Barcelona tercatat menghadapi Xerez pada 24 April 2010 dalam lanjutan LaLiga, sedangkan Lyon mendapat kelonggaran dari Ligue 1. Jadwal Lyon melawan AS Monaco ditunda ke 12 Mei untuk memberi waktu istirahat untuk pemain Lyon.
Walaupun memiliki tujuan baik, keputusan Ligue 1 tidak luput dari kritikan. Terutama, Louis van Gaal yang menjadi pelatih Bayern Munchen. Meski memahami alasannya, Van Gaal menyebut keputusan Ligue 1 tidak bisa dibenarkan.
"Federasi Sepak Bola Prancis berpikir keputusan itu bisa memberikan Lyon kesempatan lebih besar ke final dan saya pikir memang benar. Tapi UEFA harus memantau hal-hal seperti itu karena itu tidak adil," tutur Louis Van Gaal dikutip dari laman FourFourTwo.
Alam pun seolah memiliki andil paling besar dalam kegagalan Barcelona dan Lyon melaju ke final Liga Champions 2009/2010. Pasalnya, setelah pulang ke kota masing-masing, jalur udara kembali dibuka setelah intensitas abu vulkanik Gunung Eyjafjallajökul mereda. Kendati masih erupsi, sebaran abunya sudah tidak lagi parah.
Inter Milan pun melaju ke final Liga Champions 2009/2010 berkat keunggulan agregat 3-2. Mereka bertemu Bayern Munchen di final yang menang agregat 4-0 atas Lyon. Hasil akhirnya pun sudah diketahui, Inter Milan membuat sejarah bersama Jose Mourinho. Il Nerazzurri menjadi juara setelah mengalahkan Bayern Munchen 2-0.
Di semifinal Liga Europa, pertandingan juga digelar sesuai jadwal. Fulham menang dari Hamburg dengan agregat 2-1, sedangkan Atletico Madrid unggul gol tandang setelah saling mengalahkan melawan Liverpool. Skor agregat mereka kalah itu adalah 3-3.

Jalan Darat Bikin Pemain Nyaris "Sekarat"
Menempuh perjalanan darat hingga ribuan kilometer (pulang-pergi), menjadi hal tidak mudah, terutama untuk atlet yang mengandalkan ketahanan fisik. Terlebih, mereka harus menjalani pertandingan dengan tensi tinggi karena memasuki fase akhir.
Total, skuad Barcelona menempuh perjalanan darat 1.968 kilometer dari Barcelona-Milan-Barcelona untuk menghadapi Inter Milan. Sedangkan Lyon setidaknya menempuh jarak 1.480 kilometer dari Lyon-Munchen-Lyon untuk menghadapi Bayern Munchen.
Hal itu pun bukan perkara mudah bagi pemain sepak bola profesional di era modern. Walaupun para pemain tidak mengeluhkan jadwal yang padat, tetapi perjalanan itu diakui melelahkan.
Di sisi lain Txiki Begiristain selaku Direktur Olahraga Barcelona, menyesalkan kakunya UEFA. Dalam pandangan Begiristain, UEFA seharusnya bisa berupaya lebih agar tidak merugikan satu pihak saja.
"UEFA seharusnya lebih fleksibel. Saya tahu memang tidak ada banyak tanggal tersisa untuk memainkan laga, tapi mereka harusnya berupaya tidak memberikan keuntungan pada satu pihak, dalam hal ini adalah tuan rumah," tutur Begiristain.
"Membuat tim melakukan perjalanan jauh dengan bus sudah ketinggalan zaman. Bagi saya, saya akan memajukan beberapa pertandingan liga agar ada akhir pekan yang kosong untuk menggelar Liga Champions. Seharusnya ada tindakan yang dilakukan agar tidak menguntungkan tuan rumah," lanjutnya.
Meletusnya Gunung Eyjafjallajökull akan selalu menjadi bagian dari sejarah sepak bola Eropa tahun 2010. Tidak hanya Liga Champions, Gunung Eyjafjallajökull juga akan selalu dikenang sebagai penyebab gagalnya transfer Robert Lewandowski ke Blackburn Rovers.
Lewandowski yang sudah sepakat bergabung dengan Blackburn Rovers akhirnya batal karena tidak ada penerbangan dari Polandia ke Inggris. Takdir kemudian membelokkannya ke Borussia Dortmund, kemudian Bayern Munchen dan Barcelona.
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama
Masuk tirto.id

































