tirto.id - Lionel Messi menyatakan pensiun dari Timnas Argentina pada 31 Agustus 2026 yang disampaikan melalui akun media sosial pribadinya. Keputusan itu resmi mengakhiri masa bakti La Pulga bagi negaranya sejak tahun 2004.
Messi telah bermain untuk Timnas Argentina di berbagai kelompok umur. Walaupun perjalanannya tidaklah sempurna, sempat menyerah karena gagal di final Piala Dunia 2014, Copa America 2015 dan 2016, pesepak bola yang kini berusia 39 tahun itu mempersembahkan segalanya untuk tanah airnya.
Selama 22 tahun karirnya di Timnas Argentina, Lionel Messi telah bermain 207 kali di level senior. Jumlah itu belum termasuk kontrubusi juara Piala Dunia U20 2005, dan medali emas Olimpiade Beijing 2008 yang diikuti pemain kelompok umur 23 tahun.
Lionel Messi pun telah mencetak 125 gol untuk tim senior, ditambah 16 gol yang dia lesahkan di Timnas usia muda. Berbagai trofi pun berhasil dia persembahkan dari Le Albiceleste di antaranya juara Piala Dunia U20 2005, medali emas Olimpiade Beijing 2008, juara Piala Dunia 2022, juara Copa America 2021 dan 2024, serta 2 final lain Piala Dunia 2014 dan 2026. Tak hanya itu, dia juga memberikan gelar Finalissima 2022 untuk Argentina.
"Setelah waktu yang berlalu sejak final (Piala Dunia 2026), memikirkannya dengan lama, saya memberitahu kalian semua bahwa saya pensiun dari Tim Nasional," kata Messi di akun Instagram @leomessi.
"Ini adalah keputusan yang menyakitkan dan hati saya masih terluka, tapi ini adalah momen yang tepat. Saya bersumpah telah memberikan yang terbaik, tidak hanya dalam beberapa tahun terakhir saat saya memenangkan segalanya. Saya selalu berjuang dan memberikan yang terbaik untuk jersey ini, untuk memberi mereka kebahagiaan dan membuat mereka bangga menjadi orang Argentina melalui sepak bola."
"Tidak banyak waktu yang tersisa dan episode telah ditutup dan itu menyakitkan bagi saya. Saya selalu senang menjadi bagian dari Tim Nasional. Saya telah memberikan segalanya, saya tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan, dan selain itu ada banyak pemain muda hebat yang layak berada di sini."
"Terima kasih atas semua cinta dalam 20 tahun ini. Saya akan sangat rindu mendengar kalian dari dalam tim. Sekarang saya akan menjadi salah satu dari kalian, selalu mendukung dan memberikan semangat dari luar (dalam periode baik maupun buruk)."
"Terima kasih kepada keluarga saya yang selalu ada di sisi saya, selalu mengiringi saya dalam perjalanan yang indah tapi sulit ini. Terima kasih kepada setiap pelatih, rekan tim, dan pemimpin yang selalu ada di sini untuk berbagi. Saya menyimpan kenangan dan momen-momen tak terlupakan di sini."
"Saya pergi dengan rasa tenang dan bangga, memiliki rekan setim seperti kalian, dan momen impian. Sangat gila bisa mengalami ini semua bersama kalian. Saya mencintai kalian, terima kasih Tuhan karena menjadikan saya orang Argentina," tambah Messi sambil mengatakan bahwa surat tersebut ia tulis dua hari setelah final Piala Dunia 2026, dan semakin yakin pensiun setelah kepergian sang ayah.
Bakat Emas di Bawah Bayang-bayang Legenda
Tidak dapat diragukan bahwa Messi hadir ke Timnas Argentina sebagai salah satu bakat terbesar. Pesona Messi dalam menggiring bola, melakukan gerakan untuk mengelabui dan melewati lawan, serta kemampuan finishing menjadi warna baru kala itu.
Messi melakukan debut di timnas senior pada 17 Agustus 2005 dalam laga persahabatan melawan Hungaria. Ia datang dengan modal 1 gol dari 21 laga bersama Barcelona di musim pertamanya yaitu 2004-05. Tapi, yang membuatnya dipanggil Timnas Argentina adalah sukses yang dia buat Piala Dunia U20 2005. Messi muda sukses membawa timnya juara, ditambah pencapaian individu menjadi top skor dengan 6 gol, dan pemain terbaik.
Sayang, debut Messi tidak sesuai harapan. Masuk di menit 64 menggantikan Lisandro López, 40 detik kemudian kartu merah langsung diterima Lionel Messi akibat menyikut Vilmos Vanczák saat duel perebutan bola. Saat itu Lionel Scaloni, pelatih Argentina sekarang, menjadi salah satu pemain yang membela Messi di lapangan.
Pekerman lantas mengajak Messi ke Piala Dunia 2006, menjadikan Messi pemain termuda di skuad Argentina saat itu dengan usia 18 tahun. Kepercayaan dari Pekerman yang pada akhirnya membuat jalan Messi di timnas terasa sangat mulus.
Kendati diakui sebagai pemain berbakat, namun Messi tetap dicela publik Argentina karena gagal memberikan gelar juara. Messi memang membawa Argentina juara Piala Dunia U20 2005 dan meraih medali emas Olimpiade 2008.

Tapi, itu semua dianggap belum cukup. Untuk mendapat pengakuan dari penggemar sepak bola di Argentina, Lionel Messi setidaknya harus bisa seperti Diego Armando Maradona, pemain fenomenal Argentina sebelumnya yang berhasil mempersembahkan gelar juara Piala Dunia 1986.
Episode menyedihkan bagi Messi datang saat ia dan Argentina kalah 3 kali beruntun di laga final, yakni final Piala Dunia 2014, final Copa America 2015, dan final Copa América Centenario 2016. Seolah merasa gagal dan tekanan besar dari publik, Messi memutuskan pensiun dari timnas pada tahun 2016.
Sungguh ironis dengan capaian gemilangnya bersama Barcelona dengan koleksi 34 gelar juara yaitu 10 LaLiga, 7 Copa del Rey, 7 Supercopa de España, 4 Liga Champions, 3 Piala Super Eropa, dan 3 Piala Dunia Antarklub.
Dalam periode bersama Barcelona itu pula Messi menyabet 6 Ballon d'Or. Namun, bersama Timnas Argentina, Messi belum dianggap sebagai pemain hebat karena belum mampu mempersembahkan gelar juara.

Comeback dan Mencapai Puncak Kejayaan
Edgardo Bauza, pelatih yang menggantikan Gerardo Martino setelah gagal di Copa América Centenario 2016, memegang peranan penting dalam kembalinya Messi ke tim nasional. Bauza sukses membujuk Messi dan membuatnya kembali bermain pada September 2016 atau 2 bulan setelah keputusan pensiun dibuat.
Messi lantas berhasil membawa Argentina asuhan Jorge Sampaoli lolos ke Piala Dunia 2018. Walau kembali gagal di sana, Messi seolah menemukan secercah cahaya, terutama saat Lionel Scaloni dan Pablo Aimar ditunjuk menjadi pelatih sementara menggantikan Sampaoli.
Dalam suatu kisah, Scaloni sempat menghubungi Messi untuk memaparkan visi dan misinya untuk Timnas Argentina. Scaloni mengajak Aimar, sosok yang diidolakan Messi. Sebuah momen yang lantas menjadi titik balik Argentina dan Messi.
Setelah stadion-stadion kembali dibuka dan pertandingan sepak bola kembali diselenggarakan, kisah Lionel Messi sepenuhnya berbeda. Dalam keheningan laga-laga Copa America 2021 di Brasil, langkah kaki Messi menggiring dan menendang bola seolah jadi satu-satunya suara yang ada di Brasil.
Puncaknya di final Copa America 2021 yang boleh dihadiri penonton, Lionel Messi mengangkat piala di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, menaklukkan tempat yang dianggap angker untuk Timnas Argentina. Dari Maracana, cerita berikutnya adalah legenda yang dibuat oleh pemain yang sempat dianggap gagal bagi tanah airnya.
Argentina kemudian menjuarai Finalissima 2022, mengalahkan juara Eropa, Italia. Kemudian Piala Dunia 2022 melengkapi kisah fenomenal Lionel Messi bersama Timnas Argentina, sekaligus menjadikannya Greatest of All Time (GOAT).

Tidak berhenti sampai di situ, Argentina masih menunjukkan dominasinya di wilayah Amerika Latin dengan gelar juara Copa America 2024. Walau sayangnya, gelar Piala Dunia 2026 gagal diperoleh karena kalah dari Spanyol di final.
Rentetan keberhasilan itu tidak hanya melegakan Messi. Namun bagi Timnas Argentina, gelar juara Copa America 2021 merupakan trofi pertama mereka setelah 28 tahun, atau tepatnya sejak juara Copa America 1993, sedangkan Piala Dunia 2022 adalah gelar ke-3 mereka di ajang sepak bola sejagat tersebut.
Legasi Solid Meski Gagal Juara Piala Dunia 2026
Kemampuan Messi seolah tak lekang oleh waktu. Di usia yang sudah 39 tahun saat tampil di Piala Dunia 2026, dia masih bisa memimpin Argentina mencapai final ke-3 sepanjang karirnya. Dia pun tak sekadar jadi penggembira, tetapi menjalankan peran kunci dengan mencetak 8 gol dan 4 assists sepanjang turnamen.
Walau tak sedominan di masa muda, tetapi di Piala Dunia 2026 dia mampu membuat momen magis di hampir setiap pertandingan. Lionel Messi adalah kunci Argentina melakukan comeback atas Inggris di babak semifinal, begitu pula saat mengalahkan Mesir dan Cape Verde.
Di balik aksi magisnya di lapangan, ada rahasia yang tidak banyak diketahui penonton atau banyak orang mengabaikannya. Lionel Messi sedang bergelut dengan pikirannya sendiri, melihat bola yang ada di lapangan, dan bapaknya yakni Jorge Messi sedang menderita sakit.

Setelah Piala Dunia 2026 selesai, dan Lionel Messi gagal mengangkat piala untuk kedua kalinya, sang ayah berpulang pada 8 Agustus 2026. Kepergian Jorge Messi pun turut mengambil peran dalam keputusannya pensiun dari Timnas Argentina.
Jorge adalah sosok yang sangat berjasa dalam karier sepak bola Messi, terutama pada masa awal kepindahan Messi ke Barcelona di usia belia. Saat itu Jorge menemani Messi selama menjalani masa adaptasi di Barcelona. Maka tidak heran, meninggalnya sang ayah turut berperan penting dalam keputusan Messi pensiun dari Timnas Argentina.
Walau demikian, Messi yang pada awalnya dianggap tidak sehebat Maradona, pada akhirnya jauh lebih baik dari pendahulunya itu. Jika Maradona hanya bisa memberikan 1 gelar Piala Dunia dan Finalissima 1993, Messi menuntaskan tugas dengan catatan lebih baik: 1 Piala Dunia, 1 Finalissima, dan 2 Copa America.
Messi memang gagal menutup kariernya dengan gelar juara bersama Timnas Argentina. Tapi, warisan yang ia berikan kepada negaranya di bidang sepak bola, rasanya akan sulit terulang jika melihat betapa sentralnya peran Messi.
Kehilangan Lionel Messi pun bakal menjadi tantangan untuk penerusnya di Timnas Argentina. Perannya yang begitu penting di lini depan Le Albiceleste bakal sulit digantikan. Bukan hanya mencari sosok baru, Argentina sepertinya juga perlu mengubah gaya bermain yang sebelumnya selalu berpusat pada Lionel Messi.
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama
Masuk tirto.id

































