tirto.id - Rodri resmi bergabung ke Barcelona dari Manchester City. Bintang Timnas Spanyol dan peraih Ballon d'Or 2024 ditebus Barca dengan mahar 60 juta Euro, plus adds-on mencapai 16,5 juta Euro. Nilai tersebut terbilang fantastis karena kontrak Rodri dengan Manchester City tinggal menyisakan 1 tahun.
Namun, bagi Barcelona mendatangkan Rodri ke Camp Nou bukan sekadar membeli pemain bintang, tetapi juga pukulan terhadap seteru abadinya di Spanyol, Real Madrid. Pasalnya, sebelum akhirnya pindah ke Barcelona, Rodri sudah lebih dulu dikaitkan dengan Los Blancos.
Dalam unggahan di akun Instagram resmi @fcbarcelona, klub Catalunya tersebut memberikan sambutan kepada pemain bernama lengkap Rodrigo Hernandez Cascante tersebut dengan antusias. Total, terdapat 9 unggahan yang dibuat untuk menyambut sang pemenang Ballon d'Or 2024 tersebut.
"Selamat datang di Barcelona, Rodri," tulis salah satu unggahan di akun Instagram @fcbarcelona menyambut kedatangan Rodri.
Jejak Seteru Barcelona vs Real Madrid di Bursa Transfer
Perseteruan Barcelona dengan Real Madrid di lapangan sudah tidak diragukan lagi telah berlangsung sejak kedua tim berdiri. Laga Barcelona vs Real Madrid yang bertajuk El Clasico acapkali berlangsung panas.
Sebelum kompetisi dimulai, kedua tim juga kerap berseteru di bursa transfer. Pembajakan Luis Figo secara langsung dari Barcelona ke Real Madrid, menjadi salah satu perpindahan pemain yang paling diingat.
Selain Figo, Real Madrid dan Barcelona juga pernah berebut Alfredo Di Stefano yang kemudian menjadi legenda Real Madrid. Ada juga Michael Laudrup yang sebelum Figo, lebih dulu menyeberang langsung dari Barcelona ke Real Madrid.
Dari banyaknya pemain yang diperebutkan di bursa transfer oleh Barcelona dan Real Madrid, ceritanya kerap berakhir dengan Real Madrid jadi tim yang menang, sedangkan Barcelona sebagai pihak yang dirugikan. Alasan pun berulang, Real Madrid memiliki uang lebih melimpah ketimbang Barcelona.
Namun, kedatangan Rodri ke Camp Nou menjadi anomali. Walau Barcelona dalam beberapa tahun terakhir dilanda krisis finansial, mereka sanggup memberi tawaran lebih tinggi kepada Manchester City ketimbang Real Madrid.
Laporan David Ornstein, seorang jurnalis olahraga untuk The Athletic menyebut Barcelona membayar 60 juta Euro plus add-ons mencapai 16,5 juta Euro. Nominal tersebut lebih besar dari tawaran Real Madrid kepada Manchester City yang disebut 50 juta Euro.
Perpindahan Luis Figo dari Barcelona ke Real Madrid
Salah satu rivalitas paling panas Barcelona dengan Real Madrid di bursa transfer adalah perpindahan Luis Figo di tahun 2000. Figo yang sudah 5 musim membela Barcelona secara mengejutkan menyeberang ke Real Madrid pada musim panas 2000.
Luis Figo datang ke Barcelona pada tahun 1995 dari Sporting CP. Bersama Blaugrana, Figo langsung menjadi sosok yang dicintai penggemar karena kontribusinya. Figo membantu Barcelona meraih 7 trofi yaitu 2 LaLiga (1997-98, 1998-99), 2 Copa del Rey (1996-97, 1997-98), 1 Supercopa de España (1996), 1 Piala Winners (1996-97), dan 1 Piala Super Eropa (1997).
Selama 5 musim di Barcelona, Figo mencetak 46 gol dan 91 assists dalam 249 pertandingan. Dia pun begitu dicintai suporter, terutama gairah yang dia tunjukkan saat menghadapi Real Madrid. Namun, segala cerita manis itu berakhir di musim panas 2000.

Adalah Florentino Perez yang mengakhiri cerita indah Luis Figo di Barcelona. Demi mengalahkan Lorenzo Sanz dalam pemilihan presiden Real Madrid periode 2000-2004, dia membuat janji kampanye yang mustahil diwujudkan siapa pun. Real Madrid akan mendatangkan Luis Figo dari Barcelona.
Semula tidak ada yang percaya dengan janji Florentino Perez, bahkan Luis Figo sendiri. Dalam serial dokumenter yang diproduksi oleh Netflix pada tahun 2022, Figo bahkan mengabaikan pemberitaan dirinya bakal pindah ke Real Madrid.
Namun, segalanya menjadi lebih nyata saat Florentino Perez benar-benar terpilih menjadi presiden Real Madrid, mengalahkan petahana Lorenzo Sanz. Hasil pemilu yang sebetulnya tidak berkaitan dengan Barcelona dan Luis Figo itu kemudian melahirkan cerita rumit yang masih menjadi misteri hingga hari ini.
Setelah menjalani proses yang panjang, Luis Figo benar-benar pindah ke Real Madrid dengan biaya transfer 62 juta Euro dan memecahkan rekor transfer masa itu. Kubu Barcelona sendiri menolak menjual Figo ke Real Madrid, tetapi Florentino Perez mengaktifkan klausul pelepasan Luis Figo sebesar 60 juta Euro sehingga Barca tidak bisa menolaknya.

Joan Gaspart, Presiden Barcelona kala itu kemudian menuduh Luis Figo, benar-benar meninggalkan Barcelona sebagai penghianat. Gaspart menyebut Figo lebih memilih uang yang ditawarkan oleh Real Madrid alih-alih bertahan dan menghormati Barcelona.
"Figo pergi meninggalkan Barcelona sebagai seorang pengkhianat. Ia tidak mengapresiasi betapa besarnya fans mencintainya. Ia membuat keputusan yang salah dan fans tidak akan mau memaafkannya," kata Gaspart sebagaimana dilansir Marca.
"Figo [sedang liburan di Portuhal] berkata pada saya [melalui telepon], 'Joan, saya punya dua tiket yaitu Lisbon-Madrid dan Lisbon-Barcelona. Keputusan ada pada Anda soal tiket yang akan saya ambil'. Ia juga berkata bahwa satu-satunya cara ia kembali ke Barcelona adalah dengan cek dari (bank) La Caixa senilai 500 juta pesetas (mata uang Spanyol saat itu)," tutur Gaspart mengenai pembicaraan terakhirnya dengan Figo.
Cerita Joan Gaspart lantas menyulut kemarahan publik Barcelona. Pasalnya, Luis Figo lebih memilih pergi ke Real Madrid alih-alih bertahan. Dia pun dituduh mata duitan dan menghianati Barcelona.
Figo lantas membantah dirinya mata duitan. Dia menyebut Joan Gaspart membuat cerita yang tidak sepenuhnya benar. Dia pun mengakui menelepon Joan Gaspart, sebelum memutuskan pindah ke Real Madrid, tetapi pembicaraan mereka sama sekali berbeda dengan cerita Gaspart di media.
Transfer Rumit Alfredo Di Stefano yang Dibeli Barcelona dan Real Madrid
Sebelum Luis Figo meninggalkan Barcelona untuk bergabung ke Real Madrid, sudah ada pemain bintang Barcelona lainnya, Michael Laudrup yang menyeberang langsung ke klub rival. Namun, saga transfer tersebut belum cukup untuk menggambarkan rivalitas kedua tim untuk mendatangkan seorang pemain.
Mundur ke tahun 1953, ketika sepak bola belum sepopuler hari ini perebutan pemain antara Barcelona dengan Real Madrid sudah membanjiri tajuk berita di tahun itu. Musababnya adalah pemain berbakat dari Argentina bernama Alfredo Di Stefano.
Pada tahun 1952, Millonarios diundang menjalani laga persahabatan dalam rangka 50 tahun Real Madrid. Di Stefano yang bakatnya sudah terkenal seantero Amerika Latin hingga Eropa, turut dalam rombongan Millonarios.

Pertandingan Real Madrid vs Millonarios pun tidak hanya dihadiri penggemar Real Madrid, tetapi juga pencari bakat klub-klub elit Eropa, termasuk Barcelona. Dalam laga tersebut, Di Stefano mencetak hattrick dalam kemenangan 2-4 Millonarios atas Real Madrid di Stadion Chamartin, Madrid, Spanyol.
Selepas pertandingan, Real Madrid langsung menjajaki kemungkinan untuk merekrut Alfredo Di Stefano. Di saat yang sama, Barcelona yang juga menginginkan Di Stefano, menemukan fakta bahwa pemain asal Argentina itu masih terikat kontrak dengan River Plate.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Real Madrid mengumumkan telah merekrut Alfredo Di Stefano dari Millonarios, sedangkan Barcelona juga mendatangkan pemain yang sama dari River Plate. Kedua kubu mengklaim proses transfer pemain mereka dilakukan secara sah.
Awal masalah terjadi saat Alfredo Di Stefano masih bermain di River Plate, kemudian bergabung dengan Millonarios di Liga Kolombia. Kala itu, Liga Kolombia masih belum terdaftar sebagai kompetisi resmi oleh FIFA, sehingga proses transfer urung dilakukan. Di Stefano pun bermain di Millonarios dengan kesepakatan personal, tanpa transfer resmi dari River Plate.
Situasi itu pun membuat River Plate mengklaim secara hukum adalah klub pemilik Alfredo Di Stefano, sehingga punya hak atas transfer sang pemain. Sementara itu, secara de facto Alfredo Di Stefano adalah pemain Millonarios sejak tahun 1949.
Sengketa Alfredo Di Stefano yang direkrut Real Madrid dan Barcelona pun sampai membuat federasi sepak bola Spanyol (RFF), dan FIFA sampai turun tangan. Bahkan, lobi-lobi politik turut andil dalam menentukan keputusan akhir.
Barcelona dan Real Madrid pun diakui telah melakukan proses transfer dengan benar, sehingga punya hak atas Alfredo Di Stefano. Sebagai jalan tengah, Di Stefano bakal bermain untuk Real Madrid selama 2 musim, kemudian pindah ke Barcelona. Klausul itu pun disepakati oleh semua pihak.
Belakangan, Barcelona memilih melepaskan haknya atas Alfredo Di Stefano. Sebagai gantinya, klub Catalan itu meminta Real Madrid membayar biaya transfer yang dikeluarkan Barcelona agar bisa memiliki Di Stefano secara penuh.
Bersama Real Madrid, Alfredo Di Stefano sukses besar dengan raihan 17 gelar juara. Di antaranya adalah 8 gelar LaLiga, 5 Liga Champions, 2 Latin Cup, 1 Intercontinental Cup, dan 1 Copa del Generalísimo. Di saat yang sama, Barcelona mengalami periode paling sulit dalam sejarah klub.
Rodri adalah Pembalasan Barcelona kepada Real Madrid
Dari banyaknya perseteruan Barcelona vs Real Madrid di bursa transfer, Blaugrana acapkali gagal mendapatkan pemain yang diinginkannya. Mereka bahkan kehilangan pemain andalan seperti Michael Laudrup dan Luis Figo yang berlabuh ke Real Madrid.
Namun, situasinya berbeda di bursa transfer 2026. Barcelona sukses menikung transfer Rodri dari Manchester City ke Real Madrid, dan membawa pemain ke Catalunya. Hal itu seolah membalas kekalahan Barcelona dalam bursa transfer yang telah lewat atau ketika bintang mereka dibajak Real Madrid.
Rodri bergabung ke Barcelona dari Manchester City usai membawa Timnas Spanyol juara Piala Dunia 2026. Padahal, di bulan Maret 2026, dalam wawancara dengan BBC, dia menyebut hanya akan pindah ke Real Madrid apabila meninggalkan Manchester City.

Bak gayung bersambut, Real Madrid kemudian menjajaki kemungkinan mendatangkan Rodri ke Santiago Bernabeu saat bursa transfer dibuka. Kendati sudah melakukan pembicaraan serius, Manchester City menilai tawaran Real Madrid tidak sesuai harapan The Citizens.
Sejumlah media di Inggris seperti The Athletic dan Sky Sports menyebut Real Madrid memberikan tawaran maksimal 50 juta Euro. Angka tersebut dianggap logis oleh kubu Los Blancos karena kontrak Rodri dengan Manchester City bakal habis di musim panas 2027.
Namun, Manchester City menginginkan harga lebih untuk melepas gelandang andalannya. Apalagi, Rodri merupakan peraih Ballon d'Or 2024 dan baru saja membantu Timnas Spanyol memenangi Piala Dunia 2026. Jika Real Madrid enggan menaikkan tawaran, Manchester City lebih memilih kehilangan pemainnya secara gratis musim depan.
Di sisi lain, pelatih anyar Real Madrid, Jose Mourinho juga tidak begitu antusias mendatangkan Rodri. Bahkan, Mourinho disebut menolak ide transfer Rodri, sehingga Real Madrid juga tidak begitu ngotot mendatangkan Rodri ke Santiago Bernabeu.
Situasi itu pun dimanfaatkan oleh Barcelona. Deco sebagai Direktur Olahraga Barcelona, langsung terbang ke Inggris untuk melakukan pembicaraan dengan Manchester City. Dia juga menghubungi Rodri, apakah bersedia pindah ke Barcelona.
Bukan hanya Deco yang berupaya mendatangkan Rodri, rekan-rekannya di Timnas Spanyol sampai pelatih Barcelona saat ini, Hansi Flick juga menghubungi Rodri. Upaya itu pun tidak sia-sia, karena akhirnya Rodri memilih berlabuh ke Barcelona dengan biaya transfer 60 juta Euro plus adds-on mencapai 16,5 juta Euro.

Biaya transfer yang dikeluarkan oleh Barcelona untuk merekrut Rodri pun cukup fantastis. Terlebih dengan kondisi keuangan Blaugrana dalam beberapa musim terakhir yang sulit mendaftarkan pemain ke LaLiga.
Sebelum mendatangkan Rodri dengan biaya transfer mencapai 76,5 juta Euro, Barcelona juga sudah merekrut Anthony Gordon dari Newcastle United senilai 80 juta Euro. Pemain baru Barcelona lainnya Karim Adeyemi (Borussia Dortmund), ditaksir mencapai 29 juta Euro, dan Jesse Bisiwu (Club Brugge) 8,5 juta Euro.
Secara keseluruhan, Barcelona telah mengeluarkan 194 juta Euro untuk mendatangkan pemain di bursa transfer musim panas 2026. Sementara itu, pemasukan mereka dari menjual pemain sebesar 70,5 juta Euro.
Barcelona tercatat menjual Ferran Torres (PSG) 50 juta Euro, Ansu Fatih (AS Monaco) 11 juta Euro, Jofre Torrents (Ajax) 6 juta Euro, Iñaki Peña (Panathinaikos) 3 juta Euro, dan Andrés Cuenca (Como) 500 ribu Euro. Dengan demikian aktivitas transfer mereka mengalami minus 123,5 juta Euro.
Kendati begitu, neraca keungan Barcelona sudah mulai membaik sehingga kedatangan Rodri tidak memberi dampak signifikan terhadap kondisi klub. Apalagi, kepergian Ferran Torres ke PSG serta pemain muda yang dilepas telah membuka alokasi gaji yang cukup untuk Rodri.
Akan tetapi, keputusan mendatangkan Rodri oleh Barcelona tetap menjadi pertanyaan, apakah Barcelona benar-benar membutuhkannya? Pasalnya, mereka memiliki sejumlah pemain di lini tengah seperti Frenkie de Jong, Marc Bernal, dan Marc Casadó di posisi gelandang bertahan.
Pada musim 2025-26, Barcelona memainkan 57 pertandingan di semua kompetisi. Menurut statistik Transfermarkt, Frenkie de Jong bermain 38 pertandingan (2.569 menit), Marc Bernal 33 pertandingan (1.313 menit), dan Marc Casadó 34 pertandingan (1.397 menit).
Dari catatan statistik tersebut, pelatih Barcelona, Hansi Flick belum memiliki pemain yang selalu diandalkan di posisi gelandang bertahan. Oleh karenanya, kehadiran Rodri diharapkan bisa menutup kekurangan lini tengah Barcelona.
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama
Masuk tirto.id

































