Menuju konten utama
Mozaik

Untuk Direnungkan para Fans Real Madrid

Di balik gemerlap bintang dan prestasi Real Madrid, klub ini menerakan jejak junta militer dan keberpihakan kepada pelaku genosida.

Untuk Direnungkan para Fans Real Madrid
Jenderal Francisco Franco. Wikipedia/Biblioteca Virtual de Defensa

tirto.id - "Argumen bahwa olahraga dan politik tidak boleh dicampuradukkan justru menjadi resep sempurna untuk korupsi," tandas Profesor Alan Tomlinson, dalam wawancaranya bersama Cruyff Institute. Bagi sejarawan sepak bola cum sosiolog tersebut, sepak bola adalah turunan dari kebudayaan manusia dan sudah pasti berkelindan dengan politik.

Walakin, hingga kini, wacana "sepak bola dan politik tak boleh dicampuradukkan" masih menguar bebas, bahkan di tatanan puncak: FIFA. Berkali-kali mereka memakai senjata itu untuk melarang kampanye tertentu—yang tidak sesuai dengan nilai-nilai FIFA. Tapi, sudah menjadi rahasia umum bahwa semua itu hanyalah omong kosong.

FIFA secara gamblang mendukung Ukraina pascaserangan Rusia. Mereka bahkan memboikot Rusia di Piala Dunia 2022. Namun, dalam kasus Israel, mereka diam dan mengeluarkan kartu sakti itu.

Serupa doktrin dari bapak ke anak, klaim berstandar ganda dari FIFA tersebut akhirnya menurun ke klub-klub di bawah pengawasannya. Salah satunya adalah Real Madrid, yang sejak lama punya jejak kelam campur tangan diktator Spanyol, Francisco Franco.

Real Madrid yang Condong di Sisi Zionis

September 2025 lalu, petugas keamanan Stadion Santiago Bernabeu melarang masuk penggemar Marseille yang membawa bendera Palestina. Itu terjadi sesaat sebelum laga Real Madrid vs Marseille digelar, dalam lanjutan Liga Champions Eropa 2025-2026.

Pihak Real Madrid mengklaim sikap itu sebagai "ketegasan dalam menegakkan aturan agar tetap netral". Tapi, jelas itu bualan belaka, sebab di balik jubah megah Los Merengues tercecer darah di mana-mana.

Jauh pada waktu lampau, tepatnya era 1950-an, di salah satu periode yang diagung-agungkan oleh para fans fanatiknya, sedikit banyak kesuksesan Real Madrid lahir dari bantuan Jenderal Franco. Di masa itu pula Real Madrid mampu merengkuh lima gelar Piala Champions secara beruntun (1956-1961), empat trofi La Liga, dan satu Piala Interkontinental.

Salah satu suksesor Real Madrid masa itu, Alfredo Di Stefano, berhasil didatangkan ke Santiago Bernabéu berkat campur tangan Franco. Kala itu, sang jenderal "meminta" Josep Samitier, kepala pemandu bakat Barcelona, untuk mengatur agar klub ibu kota tersebut bisa memperoleh jasa si pemain tanpa banyak pesaing. Diktator itu menjanjikan sejumlah uang dan fasilitas lain jika Samitier mampu mewujudkannya.

Menurut Nick Fitzgerald, dalam kolomnya yang terbit di These Football Times, mendakwa kesuksesan Real Madrid berkaitan langsung dengan campur tangan Franco adalah sikap gegabah. Namun, fakta bahwa sang jenderal cawe-cawe tak bisa dielakkan.

Namun, bukan hanya itu yang perlu dipertimbangkan (calon) fans Real Madrid. Selain bainah pelarangan pengibaran bendera Palestina di stadion dan keterlibatan jenderal Franco, borok kemanusiaan telah menggerogoti Real Madrid dari dalam.

Kapten lapangan hijau Los Merengues saat ini, Dani Carvajal, merupakan pendukung Vox, partai sayap kanan mentok di Spanyol, yang secara terang-terangan berdiri di sisi Israel.

Hal itu terlihat dari unggahan media sosial juru bicara Vox, Isabel Pérez Moñino, dengan takarir lugas: "Hari ini kami dengan bangga menghadiri penyerahan Medali Emas Komunitas Madrid kepada Dani Carvajal, di mana bukan hanya seorang olahragawan hebat yang diakui, tetapi juga teladan bagi nilai-nilai yang membangun bangsa yang kuat."

Sebelumnya, bek sayap Los Merengues tersebut juga kedapatan pernah mengundang Santiago Abascal, pemimpin Vox, untuk menonton pertandingan di VIP Box Stadion Santiago Bernabéu.

Tak hanya Carvajal yang secara tak langsung mendukung zionis Israel. Penjaga gawang nomor satu Real Madrid, Thibaut Courtois, bahkan secara gamblang menunjukkan keberpihakannya kepada aktor genosida.

Seperti dilaporkan oleh surat kabar Israel, Maariv, Courtois dan istrinya, yang merupakan model asal Israel, melayangkan dukungan kepada Israel melalui media sosial pribadinya. Tak hanya itu, ia juga mendonasikan 200 ribu shekel untuk Israel, atau sekitar lebih dari 1 miliar rupiah.

"Apa yang Kumau, Harus Kudapatkan!"

Sejak menjadi alat politik jenderal diktator Franco, Real Madrid tidak terbiasa kalah. Sifat "mengerahkan segalanya demi mendapatkan hal yang diinginkan" sudah kadung menurun dan barangkali telah menjadi DNA Real Madrid era modern.

Soal itu diamini oleh banyak kalangan di jejaring sepak bola, termasuk Sir Alex Ferguson, pelatih Manchester United periode 1986–2013. Pada 2008, tak lama sebelum Cristiano Ronaldo direlakan bergabung ke tim ibu kota Spanyol, Fergie bilang:

“Hal yang benar-benar memalukan dari semua ini adalah bahwa Real Madrid, sebagai klub milik Jenderal Franco, memiliki sejarah, sebelum demokrasi datang ke Spanyol, untuk mendapatkan siapa pun yang diinginkannya dan melakukan apa pun yang diinginkannya.”

Bukti atas klaim itu bisa ditelusuri dengan mudah, termasuk pada era kiwari. Pada 2024, ketika isu Vinicius Junior bakal kalah dalam perebutan Ballon d'Or menyeruak dan makin kuat, pihak Real Madrid mengambil sikap yang memantik banyak reaksi karena dianggap kontroversial. Mereka memboikot keputusan tersebut dan seluruh elemen klub menolak menginjakkan kaki di acara penghargaan tersebut.

Meskipun dikritik berbagai pihaksalah satunya Paul Doyle, jurnalis olahraga senior dari Irlandia—terkait kepentingan pasar di balik pembentukan dan bias pemilihannya, sikap Real Madrid pada 2024 dianggap terlalu kekanak-kanakan. Javier Tebas, presiden LaLiga, juga tak luput mengomentari sikap pihak Real Madridyang juga diiringi dengan pengakuan konyol bahwa ia adalah fans Real Madrid.

Dalam wawancara sebagaimana dikutip dari Goal, Tebas menilai sikap Los Merengues itu tidak perlu, apalagi ketika klub tersebut merasa sebagai korban. "Itu berlebihan," katanya.

Mental "tak mau kalah" Real Madrid akhirnya "bersalaman" dengan kepentingan Florentino Pérez yang menjabat presiden klub pada periode 2000-2006 serta 2009-sekarang.

Bukan tanpa alasan Real Madrid menyandang julukan Los Galacticossecara harfiah berarti galaksi (yang penuh bintang)sejak tahun 2000. Pada masa itu, kucuran dana Real Madrid seolah tak terbatas dan karenanya bisa menggaet pemain-pemain bintang, termasuk transfer Zinedine Zidane, Ronaldo, David Beckham, Michael Owen, Robinho, Sergio Ramos, serta Luis Figo yang dibajak dari klub rival, Barcelona. Itu semua dilakukan demi bisa memborong trofi ke Bernabeu, termasuk gelar Si Kuping Besar, Liga Champions, meski hanya tercapai sekali pada musim 2001-2002.

Proyek Galacticos Jilid 1 ala Pérez digencarkan tak lama setelah ia memimpin perusahaan konstruksi ACS, yang berdiri pada 1997 dengan dukungan keuangan awal dari keluarga Alberto dan Marchkeduanya berhubungan dekat dengan kediktatoran Franco.

Beriringan dengan kesuksesan bisnis ACS, yang dengan cepat merambah pasar lintas negara, Pérez kembali menjabat presiden klub sejak 2009. Proyek Galacticos pun kembali dilancarkan. Dana triliunan digelontorkan. Tak tanggung-tanggung, sejumlah bintang generasi baru diboyong ke Bernabeu sekaligus, termasuk Kaka, Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, Angel Di Maria, Mesut Ozil, Toni Kroos, Gareth Bale, hingga yang terakhir, Eden Hazard.

Jika Franco membantu Real Madrid secara terang-terangan agar bisa mendapatkan hal yang diinginkan klub, termasuk kemenangan atas Barcelona di Copa del Generalisimo (1943) serta pembajakan pemain bintang Alfredo Di Stefano pada 1953, tidak demikian dengan Pérez. Di era modern, mental "tak mau kalah" itu diwujudkan dengan uang. Tapi masalahnya, bagaimana perusahaan Pérez itu bekerja?

Gurita Bisnis si Presiden yang Berlumur Darah

Seiring waktu sejak berdiri pada 1997, ACS, yang terbukti punya rekam jejak didanai oleh keluarga Alberto dan March, menjelma kekuatan bisnis gigantik. Ia bahkan menjadi salah satu perusahaan konstruksi terbesar di dunia, dengan pendapatan terbanyak (kalau dilihat dari keuntungan yang diraup dari luar wilayah asalnya, Spanyol).

Seperti ditulis oleh Eoghan Gilmartin di Tribune Magazine, pengaruh cukup besar di tatanan kekuasaan Spanyol, terutama dukungan dari Perdana Menteri José María Aznar, membuat ACS mengantongi beberapa kunci serep. Salah satunya adalah keleluasaan mengambil kredit tanpa batas melalui bank tabungan regional yang dikenal sebagai cajas. Pinjaman itu juga yang jadi sumber dana proyek Galacticos Real Madrid, termasuk pembelian Cristiano Ronaldo pada 2009. Klub mendapat pinjaman dari Caja Madrid sebanyak 76 juta Euro, padahal itu adalah masa-masa ketika dunia, termasuk Spanyol, dilanda krisis keuangan.

Kepentingan Real Madrid dan Pérez bersama ACS-nya pun tercampur aduk. Real Madrid diduga berperan penting dalam upaya memastikan agar proyek pemerintah negara-negara tertentu bisa jatuh ke tangan ACS. Salah satu jalan tikusnya tentu saja lewat transfer pemain, seperti yang telah diinvestigasi oleh banyak media massa. Di antaranya termasuk transfer penyerang Meksiko Javier Hernandez "Chicharito" dan James Rodriguez dari Kolombia.

Setelah James Rodriguez didatangkan Real Madrid, Pérez memperoleh rejeki nomplok berupa proyek jalan di Kolombia senilai 820 juta Euro, dengan jangka waktu kontrak 25 tahun. Mundo Deportivomenyebutnya sebagai "manfaat lain yang diperoleh presiden klub Florentino Pérez, bersama perusahaan konstruksinya, ACS."

Di Meksiko, ACS kejatuhan proyek gigantik senilai 432 juta Euro, berupa pembangunan, pengoperasian, serta modernisasi beberapa pabrik. Hal itu didapatkan hanya dua minggu setelah Chicharito bersepakat bergabung dengan Real Madrid. ESPN Deportes menyebut kasus tersebut "memunculkan kecurigaan yang meluas tentang hubungan bias antara Real Madrid dan urusan bisnis presidennya."

Tentu saja bukan hanya itu kontroversi Pérez yang, saking banyaknya, sukar disebut kebetulan belaka atau sekadar tuduhan tak jelas. Muara dari semua kontroversi Pérez dan Real Madrid pimpinannya adalah keterlibatan mereka dalam pendudukan Israel atas Palestina.

Pada September 2025, PBB memasukkan beberapa perusahaan milik Pérez ke dalam daftar hitam lantaran beroperasi di wilayah Palestina yang diokupasi oleh Israel.

PBB menilai ACS menggunakan sumber daya lokal untuk membangun infrastruktur yang mendukung permukiman ilegal Israel. Alasan yang sama menjerat Sociedad Española de Montajes Industriales (SEMI), anak perusahaan ACS. Kata PBB, perusahaan-perusahaan itu telah "menyediakan peralatan atau material yang memfasilitasi pembangunan dan pemeliharaan permukiman, penghancuran rumah-rumah Palestina, kegiatan pengawasan, atau eksploitasi komersial sumber daya alam."

Hingga saat ini, setidaknya ada lebih dari 700 ribu pemukim Israel yang tinggal secara ilegal di 250 permukiman di seluruh Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Adalah hukum internasional sendiri yang mendakwanya sebagai tindakan ilegal.

Bersisian dengan bantahan dari ACS dan SEMI, juga kelindan kontroversi pemain, tokoh klub, serta perusahaan milik "bos" Pérez, Real Madrid sejak dulu memang tak pernah tegas mengutuk okupasi dan genosida Israel di Palestina. Padahal, beberapa tahun sebelumnya, klub ibu kota Spanyol itu secara tegas menunjukkan keberpihakannya kepada Ukraina, salah satunya dengan menyumbangkan sejumlah uang dengan embel-embel "Semua Bersama Ukraina".

Baca juga artikel terkait REAL MADRID atau tulisan lainnya dari Fadli Nasrudin

tirto.id - Mozaik
Penulis: Fadli Nasrudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi