Tio Oen, Dokter Anti-Fasis Asal Bojonegoro di Perang Sipil Spanyol

Oleh: Mochammad Naufal - 4 Agustus 2021
Dibaca Normal 4 menit
Mari mengenal dokter Tio Oen Bik, dokter asal Bojonegoro dengan semangat internasionalis. Ia terlibat melawan fasis di Spanyol, juga belahan bumi lain.
tirto.id - Penulis raksasa abad ke-20 Ernest Hemingway pergi meninggalkan Paris untuk meliput sebuah perang pada 1937. Ia bertugas sebagai wartawan untuk North American Newspaper Alliance. Pada tahun yang sama, penulis terkenal lain, George Orwell, bertempur bersama militan trotskyis POUM (Partido Obrero de Unificación Marxista). Keduaya terjun ke Semenanjung Iberia untuk perkara yang sama: Perang Sipil Spanyol (1936-1939).

Perang melibatkan kaum Republikan, pemerintah terpilih pada Pemilu 1936 yang didukung oleh aliansi kiri, melawan pemberontak nasionalis pimpinan seorang fasis Jenderal Francisco Franco yang didukung kelompok kanan, yakni militer, gereja, dan abdi monarki. Franco juga dibentengi kawan-kawan fasisnya di luar negeri, Hitler dari Jerman dan Mussolini asal Italia.

Meski terpecah dalam beberapa kelompok, yang berperang melawan fasis sebagian besar bergabung dalam Brigade Internasional, tentara relawan yang dibentuk oleh Komunis Internasional (Komintern). Jumlahnya tidak kurang dari 60 ribu.

Dengan kekuatan sebesar itu aliansi kiri tetap kalah. Franco memenangkan perang dan menancapkan kediktatoran sampai kematiannya pada 1975.

Terlepas dari hasil perang, kisah Hemingway, Orwell, dan para relawan Eropa-Amerika kelak mendominasi narasi Perang Sipil Spanyol. Yang kurang masyhur adalah kisah keterlibatan para relawan dari luar Eropa-Amerika, terutama Asia. Padahal, seperti dikatakan ahli sejarah Tionghoa dari Cardiff University Gregor Benton dalam buku Chinese Migrants and Internationalism (2007), Brigade Internasional diisi relawan dari setidaknya 53 bangsa, termasuk Tionghoa.

Semua ini tidak mengherankan sebab menurutnya Spanyol pada 1936 adalah “Makkah” bagi para orang kiri dari berbagai penjuru dunia.

Dari sekian banyak relawan Tionghoa yang terjun ke medang perang, ada sosok peranakan kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur. Ia adalah Tio Oen Bik, dokter yang bertugas sebagai relawan medis dan tim antipesawat penyerbu.

Perjuangan Tio melawan fasisme dikisahkan oleh sejarawan Nancy Tsou dan Len Tsou dalam artikel “The Asian Volunteers in the Spanish Civil War: A Report” yang dimuat Science and Society (2004, Vol. 68). Disebutkan bahwa dokter kelahiran Januari 1906 itu melibatkan diri dalam Perang Sipil Spanyol dalam Brigade 15. Mula-mula, pada Maret 1937, Tio ditempatkan di pusat rehabilitasi Centro de Reeducación Profesiona di kota kecil sebelah tenggara Madrid, Mahora. Ketika itu jabatannya letnan. Pada April 1938, Tio dipindahkan ke Denia sebagai pasukan antipesawat penyerbu.

Tio terus berjuang di Spanyol sampai 1938, ketika Republik mulai mengalami kekalahan dan Brigade Internasional dibubarkan.


Dokter Anti-Fasis

Bagaimana awal mula Tio terlibat dalam peristiwa sebesar Perang Sipil Spanyol? Tulisan lain Nancy dan Len berjudul “Dr. Tio Oen Bik: A Global Warrior” yang dimuat Journal of Veterans of the Abraham Lincoln Brigade (1996, Vol. 18) dapat menjadi rujukan penting. Mereka menggali kisah perjalanan Tio lewat dokumen, surat, serta wawancara dengan veteran Brigade Internasional yang pernah bekerja dengannya.

Selepas lulus sekolah kedokteran di NIAS (Nederlands Indische Artsenschool) Surabaya, Tio melanjutkan studi ke Universitas Amsterdam pada 1929. Di Amsterdam, bersama kawan-kawannya, Tio membentuk kelompok berhaluan kiri-nasionalis bernama Sarekat Peranakan Tionghoa Indonesia (SPTI). Salah satu anggotanya adalah Tan Ling Djie yang kelak menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1948. SPTI juga dekat dengan tokoh kiri Indonesia seperti Musso dan Alimin. Secara organisasi, SPTI menjalin relasi yang erat dengan Perhimpunan Indonesia (PI). Keduanya memiliki posisi politik yang sama, yakni nasionalisme Indonesia.

Dari organisasi ini keterlibatan Tio untuk melawan kolonialisme juga fasisme di kancah global semakin dalam. Berdasarkan keterangan Nancy dan Len, Tio pernah mengikuti kongres antiperang sedunia di Amsterdam.

Ketika Tio masih merampungkan studi, tepatnya pada 1931, tentara fasis Jepang menginvasi Cina. Pada masa itu perhimpunan Tionghoa Indonesia Chung Hwa Hui (CHH) gencar menggalang solidaritas internasional.

Pada 1935, kawan-kawan Tio di SPTI memilih pulang ke Indonesia dan meneruskan perjuangan dari dalam negeri. Namun Tio tidak. Ia punya pertimbangan lain. Ia sadar bahwa geliat fasisme sedang bangkit di depan mata, di Spanyol. Karena itu ia menilai di sanalah tenaganya lebih dibutuhkan. “Spanyol ada dalam bahaya yang nyata, kita harus membantunya untuk mengalahkan dunia fasisme,” kata Tio kepada para anggota CHH, sebagaimana dikutip Nancy dan Len. Tio akhirnya membulatkan diri dan pergi ke Spanyol lewat Pegunungan Pirenia pada 1937.

Di kesatuan antipesawat, Tio bekerja bersama kira-kira 90 relawan dari berbagai negara, seperti Norwegia, Swedia, Polandia, Luksemburg, Swiss dan Amerika. Dalam regu itu Tio tidak hanya bertempur, tetapi juga tetap menjalankan tugas sebagai dokter. Masih mengutip Nancy dan Len, seorang relawan Amerika bernama Leo Rosenberg mengenal Tio “sebagai seorang yang berusaha keras, namun sangat tenang, menjalankan tugas kesehatan secara efisien dan tanpa pretensi.”


Tentara relawan yang bergabung dalam Brigade Internasional berangsur dipulangkan pada September 1938. Menjelang akhir 1938, aliansi tentara pendukung Republikan mulai kewalahan, terutama akibat perpecahan internal. Kekalahan Republikan semakin nyata pada awal 1939. Tentara Franco lantas menguatkan cengkeramannya dan memenangkan perang pada April 1939.

Sebagai anggota Brigade Internasional, Tio Oen Bik keluar Spanyol lewat Prancis. Tio dan enam orang Tionghoa lain terjebak di Camp de Gurs, daerah selatan Prancis, selama beberapa bulan akibat permasalahan dokumen.

A Luta Continua

Keluar dari Spanyol tidak membuat Tio berhenti menentang fasisme. Berdasarkan catatan Nancy dan Len, sepucuk surat bertanggal 22 Juni 1939 dikirim oleh Tio dan kawan-kawannya kepada koran Tionghoa yang berbasis di New York, The Salvation Times. Surat itu menjelaskan niat mereka yang kokoh untuk tetap melawan fasisme. Kali ini, Tio mengarahkan pandangannya ke Cina yang tengah berusaha membebaskan diri dari fasis Jepang.

Perjuangan Tio melawan fasisme kemudian berlanjut. Setelah persoalan dokumen selesai, Tio melanjutkan perjalanan panjang dan sampai di Yan’an, Provinsi Shaanxi, Cina pada 1940. Bersama dengan pekerja internasional dari berbagai negara, Tio bertugas di Rumah Sakit Pusat Yan’an. Ia terus bertugas sebagai dokter sampai tentara fasis Jepang berhasil diusir.

Tio tidak segera pulang ke Indonesia meski Jepang berhasil dipukul mundur dan kalah dalam Perang Dunia II pada 1945. Kekuatan fasisme utama dunia (Jerman, Jepang, Italia) untuk sementara habis. Ia pindah ke Kota Yantai, Provinsi Shandong. Di sana dia bekerja selama dua tahun untuk United Nations Relief and Rehabilitation Administration (UNRRA), sebuah badan di bawah PBB yang berfungsi untuk memulihkan populasi dan wilayah terdampak perang.

Hingga tahun-tahun berikutnya, Tio aktif menghadiri berbagai perkumpulan kaum komunis, serikat buruh, juga kelompok intelektual di berbagai wilayah, mulai dari Beijing, Moskow, Kalkuta, hingga Praha.

Sampai di sini jelaslah alasan mengapa Nancy dan Len menjuluki Tio sebagai “petarung global”. Perjuangannya tidak mengenal sekat-sekat teritori negara.


Infografik perang sipil spanyol dan diktator franco
Infografik perang sipil spanyol dan diktator franco


Puas berlanglang buana, Tio akhirnya kembali ke Indonesia empat tahun setelah pengakuan penuh dari Belanda atau pada 1953. Tio menemukan lanskap politik yang sama sekali berbeda. Kawan-kawannya semasa kuliah seperti Tan Ling Djie telah tersingkir dari Komite Pusat (CC) PKI.

Tio akhirnya menarik diri dari segala kegiatan politik, tulis Nancy dan Len. Sama dengan dokter komunis legendaris Che Guevara yang punya pengalaman dengan para pasien lepra di Peru, Tio memilih mengabdikan diri merawat pasien lepra di Jakarta. Pada 1960, Tio ditugaskan untuk menjadi dokter di salah satu pulau di Ambon. Di sana ia menemukan jodoh; menikahi seorang perawat. Itu diketahui dari surat kepada Dr. Rolf Becker, kawannya sewaktu bekerja di UNRRA, yang berada di Jerman Timur. Tio dan Rolf rutin bersurat selama bertahun-tahun.

Tio sempat pulang ke Bojonegoro sebelum putus kontak dengan Becker. Surat terakhirnya dikirim pada 1 Agustus 1966 dari Bojonegoro. Becker berasumsi Tio telah menjadi korban pembantaian pasca-G30S. Sementara seorang dokter yang sempat berhubungan dengan Tio mengatakan ia meninggal akibat penyakit.

Baca juga artikel terkait TIO OEN BIK atau tulisan menarik lainnya Mochammad Naufal
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Mochammad Naufal
Editor: Rio Apinino
DarkLight