Kisah Marie Thomas, Dokter Perempuan Pertama Indonesia

Ilustrasi Marie Thomas. tirto.id/Sabit
Oleh: Petrik Matanasi - 29 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kiprah Marie Thomas sebagai dokter perempuan pertama Indonesia sempat dikisahkan dalam novel karya Nh. Dini yang berjudul "Amir Hamzah, Pangeran dari Seberang".
Maria Josephine Catherine Maramis alias Maria Walanda Maramis adalah pahlawan nasional dari Minahasa. Ia menghendaki kaum perempuan dari daerahnya maju dalam hal pendidikan.

Maria mempunyai banyak anak asuh dalam organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) yang ia didirikan. Salah seorang anak asuhnya adalah putri dari Adriaan Thomas dan Nicolina Maramis yang bernama Marie Thomas.

Menurut Anna Pawlona Matuli-Walanda dalam Ibu Walanda-Maramis: Pejuang Wanita Minahasa (1983:37), Marie Thomas berasal dari Likupang, Minahasa Utara. ia lahir pada 17 Februari 1896. Orangtuanya adalah pegawai negeri di zaman kolonial. Pendidikannya lebih dari sekolah desa tiga tahun yang hanya paham baca tulis. Marie, menurut catatan Ensikopedia Umum (1973:1324) yang disusun AG Pringgodigdo dkk, merupakan lulusan Meisjesschool (sekolah gadis) di Yogyakarta pada 1912.

Setelah itu, ia melanjutkan ke School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) alias Sekolah Dokter Hindia atau yang lebih dikenal sebagai Sekolah Dokter Jawa di Batavia. Sekolah ini banyak melahirkan tokoh pergerakan nasional, seperti Soetomo, Cipto Mangunkusumo, Wahidin Sudirohusodo, dan lain-lain.


Sebelum Marie Thomas, orang Minahasa sudah ada yang lulus dari Sekolah Dokter Jawa, yaitu Israel Iroot, kelahiran Amongena, Langowan. Menurut HAR Tilaar dalam Pendidikan dalam Pembangunan Nasional Menyongsong Abad XXI (1990:338), Israel Iroot lulus pada tanggal 15 Nopember 1877.

35 tahun kemudian, berdasarkan catatan Moh. Ali Hanafiah Gelar Sutan Maharaja dkk dalam 125 Tahun Pendidikan Dokter di Indonesia 1851-1976 (1976), Marie Thomas masuk STOVIA bulan September 1912.

“Sesudah perjuangan berat dan sungguh-sungguh, maka tanggal 26 April 1922, ia (Marie Thomas) lulus ujian akhir,” tulis Ali Hanafiah.

Menurut Anna Pawlona Matuli-Walanda, keberhasilan Marie Thomas lulus sebagai dokter kemudian diikuti oleh orang-orang Minahasa lainnya, yakni Anna Karamoy Warouw dari Amurang dan Dee Weydemuller dari Manado.

Anna Karamoy Warouw adalah juga asuhan PIKAT. Ia masuk STOVIA dua tahun setelah Marie Thomas. Sementara Dee Weydemuller masuk Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya. Dokter Anna Karamoy Warouw kemudian memperoleh brevet (sertifikat) sebagai spesialis penyakit Telinga, Hidung, dan Kerongkongan (THK).

Kisah di Medan Tugas

Para dokter lulusan STOVIA wajib menjalani ikatan dinas sebagai dokter pemerintah setidaknya selama sepuluh tahun. Dalam Ensiklopedia Umum disebutkan bahwa dokter Marie Thomas pernah bertugas di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ) yang kini menjadi Rumah Sakit Tjipto Mangunkusumo.

Selain di Batavia, ia juga pernah ditugaskan di Cirebon, Manado, dan Bukittinggi. Di masa itu, termasuk untuk urusan kesehatan dan melahirkan, orang Indonesia masih banyak yang memilih dukun daripada dokter atau bidan.

“Dulu saya bekerja di Cirebon hanya dibantu oleh seorang bidan untuk satu kota,” kata Marie Thomas seperti diceritakan ulang oleh Siti Marjam dalam Kongres Perempuan Indonesia (2007:228).

Suatu malam, ia mendapat kabar dari seorang wedana bahwa seorang perempuan membutuhkan bantuannya. Ia pun bergegas berangkat ke desa tempat perempuan itu berada. Sesampainya di sana, si perempuan yang katanya butuh pertolongan itu ternyata dalam kondisi baik-baik saja.

“Saya tidak sedikitpun menyesal karena telah dipanggil sedemikian jauhnya,” ucap Marie Thomas.

Marie merasa orang desa di Cirebon sudah mulai percaya dokter yang disediakan oleh pemerintah kolonial. Itulah kenapa ia dipanggil untuk memberikan pertolongan yang sebetulnya hanya perkara kecil.

“Waktu saya bekerja di Cirebon, memang kerap kali orang desa itu meminta pertolongan saya melalui pemerintah,” ucapnya.



Tokoh dalam Novel Nh. Dini

Marie Thomas menikah dengan dokter mata bernama Moehammad Joesoef pada tahun 1929. Joesoef berasal Solok dan merupakan kawannya semasa belajar di STOVIA. Pasangan ini tinggal di Padang. Pada 1931, mereka sempat tinggal di Jakarta dan kemudian kembali lagi Sumatra.

Sebagai orang Minahasa, Marie Thomas ikut serta dalam Persatoean-Minahasa yang tersebar di banyak daerah di Indonesia. Di perantauan, sebagai ahli kebidanan, ia ikut mendidik para bidan di Sumatra. Kiprahnya itu membuat ia menjadi tokoh masyarakat yang dihormati.

Nama Marie Thomas menjadi karakter dirinya sendiri dalam novel Nh. Dini yang berjudul Amir Hamzah, Pangeran dari Seberang (1981:156). Hanya saja Marie Thomas dalam novel tersebut disebutkan sebagai lulusan NIAS Surabaya. Nh. Dini, seperti para penulis lain, menyebutnya sebagai dokter wanita pertama Indonesia.

Marie Thomas wafat pada tahun 1966, sementara suaminya lebih dulu mengembuskan napas terakhir yaitu pada tahun 1958.

Baca juga artikel terkait DOKTER PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight