Menuju konten utama
Mozaik

Elegi Nirmal Purja di Mausoleum Awan

Nims tak cuma mendaki gunung dan mencetak rekor pribadi. Ia memanusiakan para pemandu lokal, membantu yang terjebak, dan menginspirasi jutaan orang.

Elegi Nirmal Purja di Mausoleum Awan
Nirmal Purja MBE. instagram/nimsdai
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hanya ada 14 gunung di bumi yang bertinggi lebih dari 8.000 meter. Sejauh riwayat membentang, boleh jadi tak ada yang lebih dihormati daripada Reinhold Messner. Dialah sosok awal yang menggapai semua puncak tertinggi di bumi itu.

Ekspedisi Messner bermula sejak Juni 1970 dan berakhir pada 16 Oktober 1986. Artinya, butuh waktu 16 tahun menyelesaikan misinya. Pencapaian itulah yang membuatnya namanya dibukukan oleh Guinnes World Records (GWR).

Namun, pada 18 September 2023, GWR mencabut rekor Messner, lantas mengalihkannya kepada Ed Viesturs. Pencabutan dilakukan setelah menimbang reklasifikasi Eberhard Jurgalski, konsultan gunung yang mengevaluasi beberapa “titik puncak sebenarnya”, yang selama ini kurang diteliti dengan baik. Identifikasi terbaru itu menyatakan, Messner belum benar-benar mencapai salah satu puncak, yakni Annapurna.

Pencapaian Messner tetap layak dihargai. Toh, namanya tak dihapus sepenuhnya, hanya berganti ke kategori khusus "legacy".

Tiga dekade setelahnya, seorang pendaki berkewarganegaraan Britania Raya dan Nepal berhasil memecahkan rekor baru. Namanya Nirmal Purja. Sapaan akrabnya Nims atau Nims Dai.

Jika Reinhold Messner butuh waktu 16 tahun, Nims hanya butuh waktu enam bulan enam hari, antara 23 April hingga 29 Oktober 2019. Bahkan, rekor tercepat sebelumnya adalah 7 tahun, 10 bulan, dan 6 hari, milik Kim Chang-Ho pada 2013.

Bisa dianggap, pencapaian Nirmal Purja itu nyaris musykil ditempuh "manusia biasa". Maklum, sebelum merintis karier sebagai pendaki elite, Nims sempat bertugas di Angkatan Darat Inggris sebagai serdadu gurkha (2003-2009), lalu sembilan tahun berdinas di Special Boat Service (SBS), unit pasukan khusus Angkatan Laut UK.

Si Miskin yang Kuat dan Tukang Kelahi

Nims lahir pada 25 Juli 1983 di Desa Dana, Distrik Myagdi, Nepal bagian barat. Dia merupakan putra bungsu dari lima bersaudara, hasil perkawinan Nanda Bahadur Purja dan Purna Kumari Purja.

Setiap urat nadi anak Nanda mengalir darah tentara, yang juga jebolan gurkha. Karena barak dan perang pula mereka bertahan hidup. Bahkan tiga kakak laki-laki Nims tak pernah absen menyisihkan sebagian upah militernya, agar sang putra bungsu dapat bersekolah di asrama berbahasa Inggris dan berkarier lebih cerlang dibanding pendahulunya. Sementara itu, putri bontot Nanda, Anita Purja, sehari-hari membantu ibunya menggarap ladang.

Purna berlatar belakang petani di kaki gunung Dhaulagiri. Kastanya lebih rendah ketimbang Nanda. Perbedaan kasta orang tuanya menyebabkan Nims dan saudara-saudaranya mengalami penolakan sosial dan terputus dari dukungan keluarga besar.

“Waktu kecil, aku ingat bahkan tidak punya sandal jepit,” kenang Nims, lewat film dokumenter 14 Peaks: Nothing Is Impossible (2021) garapan Netflix.

Bakat Nims soal fisik dan keberanian patut diacungi jempol. Nims adalah jagoan kickboxing, dan karena itu, guru acap kali memanggil orang tua Nims ke sekolah buntut urusan kelahi.

Klaim itu bukan sepihak. Sang kakak, Kamal Bahadur Purja juga mengakuinya. “Dia adalah seorang pejuang. Jika ada tantangan, dia ingin menghadapi, dan kemudian ingin menang,” tuturnya.

Ketika beranjak dewasa, Nims menonjol di bidang atletik sehingga tubuhnya sangat bugar. Sebab itu pula ia tak kesulitan menjalani seleksi gurkha beberapa waktu kemudian.

Tinggalkan Barak Demi Mendaki

Di puncak kariernya, setelah sembilan tahun mengabdi, Nims memilih meninggalkan SBS. Alasannya di luar nalar saudaranya: ingin menjadi pendaki penuh waktu.

Ketika keputusan itu diambil, Kamal menilai Nims sangat egois. Apalagi, enam tahun lagi dinas wajibnya di SBS rampung. Maka itu, sang kakak sempat menahannya.

Akan tetapi Nims tak pernah berubah. Dia bebal dan tak mendengarkan nasihat saudara-saudaranya. Padahal, Nims adalah tumpuan utama yang diandalkan untuk menafkahi keluarga, sepeninggal ayah mereka.

Nims tetap keukeuh dan cabut dari SBS pada 2018. Lalu memantapkan mimpinya untuk mendaki gunung. Tak cukup satu, tetapi 14 puncak, yang tertinggi di bumi.

Rencana pendakian itu dinamainya "Project Possible". Nims tak pernah main-main. Kegigihannya menggapai 14 puncak tertinggi terpatri dalam tato di punggungnya, yang tintanya bercampur DNA rambut ibu, saudara-saudari, dan istri tercintanya.

"Alasan saya memiliki itu adalah agar saya bisa membawa keluarga saya dalam perjalanan spiritual yang tidak akan pernah bisa mereka pergi," katanya kepada National Geographic.

Tato itu menjadi semacam azimat. Bahwasanya segala yang menempel pada tubuhnya adalah berkat, doa, dan pengingat yang menjadi suar semangat. Tato itu serupa amanah, bahwa Nims boleh-boleh saja mendaki seluruh gunung berketinggian 8.000 mdpl lebih, tetapi dia mesti berjanji harus pulang dengan selamat demi keluarganya.

Namun, lantaran keterbatasan dana, Nims meminta izin kepada Suchi, istrinya, untuk menggadaikan rumah mereka. Dia juga mondar-mandir mengais sponsor. 14 Peaks, yang berhasil memvisualisasikan ketegangan selama proses itu, menampilkan sisi miris bahwa Nims hanya mampu mendapat 15 persen dari total dana yang dibutuhkan.

Itulah alasan rencana Nims dinamai "Project Possible". Ia ingin menepis segala ketidakmungkinan yang bisa menghantamnya, mulai dari urusan uang, beban sebagai ayah, hingga kekhawatiran pada masalah kesehatan sang ibu.

Untuk Sherpa, Nepal, Seluruh Umat Manusia

Keberlangsungan proses "Project Possible" tak semulus rencana awal. Selain karena urusan keluarga, termasuk masalah kesehatan ibunya yang memburuk, proses pendakian Nims penuh lika-liku.

Nims tak mendaki seorang diri. Dia ditemani para pemandu lokal, yang sering disebut sherpa oleh para pendaki internasional. Mingma David, orang kepercayaan sekaligus dianggapnya sebagai pendaki terkuat di bumi; Geljen, pendaki jenaka yang kerap mengundang gelak tawa lewat jogetannya; Lakpa Dendi, pria yang disebut-sebut mampu memikul keril seukuran rumah, ahlinya pemandu medan Himalaya; Gesman, pemandu paling disayang oleh Nims.

Bukan tanpa alasan Nims memperkenalkan pemandunya. Ia membawa misi kemanusiaan yang mulia demi menjunjung tinggi martabat mereka.

Sherpa sebenarnya adalah kelompok etnis dari wilayah pegunungan Himalaya, terutama di Nepal dan Tibet. Namun, karena kebanyakan mereka bekerja sebagai pemandu dan porter pendakian gunung, para pendaki internasional menyebut—dan mengartikan—sherpa sebagai profesi.

Mereka sering dianggap sebelah mata oleh dunia. Nims mencontohkan, dalam perdebatan mengenai orang pertama yang mencapai puncak Everest, antara Edmund Hillary atau Tenzing Norgay, media Barat terlalu sibuk menyoraki kesuksesan Hillary. Media-media itu “menganaktirikan” Tenzing.

Nims keberatan karena Tenzing hanya digambarkan serupa bayang-bayang keberhasilan Hillary.

“Begitu banyak pendaki Barat yang naik dengan bantuan besar dari sherpa [pemandu]. Apa yang paling sering saya dengar adalah, ‘sherpa [pemandu] saya membantu saya’, dan hanya itu,” ungkap Nims.

Bagi Nims itu merupakan kesalahan, sebab para pemandu itu memiliki nama. Mereka harus disebut berdasarkan identitas yang melekat sebagai hak asasi, bukan hanya dicap atas nama profesi.

Pendaki Nirmal Purja

Pendaki Nirmal Purja. Instagram/nimsdai

Kepedulian sosial Nims juga ditunjukkannya ketika pertama kali memulai ekspedisi "Project Possible": mendaki Annapurna.

Sesaat setelah rombongan Nims turun dan tiba di base camp Annapurna, sebuah helikopter menghubungi radio pos komando, mengabarkan adanya pendaki melambaikan tangan isyarat meminta tolong di altitudo lebih dari 7.500 meter .

Nims bersama Mingma, Gesman, dan Geljen, memutuskan membantu pendaki tersebut.

Bayangkan. Nims baru saja turun dari salah satu gunung paling berbahaya di dunia, tetapi memaksa kembali naik demi menyelamatkan pendaki itu.

Itu adalah penyelamatan dengan taruhan nyawa, “Seperti bermain dadu,” ungkap Geljen, yang dilaporkan telah melakukan penyelamatan lebih dari 100 kali semasa hidupnya.

Nims berprinsip tidak pernah meninggalkan siapa pun. Maka ketika mendapati fenomena serupa di Kangchenjunga, Nims juga mencoba melakukan penyelamatan kepada seorang pendaki lain yang sedang cedera.

Sayangnya, di altitudo 8.450 mdpl, hampir mustahil manusia bisa bernapas tanpa bantuan oksigen. Sementara itu, perbekalan oksigen yang diberikan Nims habis sehingga tersebut meninggal di tempat.

Peristiwa itu benar-benar memukul Nims. Saat itu juga Nims menghubungi Suchi, menceritakan semuanya dengan suara terbata-bata, “Tidak ada yang datang untuk membantu kami.”

Lika-liku Nims tak berhenti di situ. Menjelang targetnya tercapai, ketika ia hendak menyelesaikan puncak terakhir, yakni Shishapangma, masalah datang. Otoritas Cina, administrator resmi Shishapangma secara mendadak mencabut izin pendakian Nims. Tak ada alasan khusus. Hanya saja memang, gunung tersebut terkenal “sulit didaki” oleh para pendaki Barat pada musim gugur.

Ada dugaan itu berkaitan dengan insiden kontroversi meninggalnya Sebastian Haag dan Andrea Zambaldi pada 24 September 2014. Longsoran salju pada ketinggian sekitar 7.900 merenggut nyawa keduanya.

Namun, Nims tak kehabisan akal. Dia memutar otak, lalu menggunakan celah politik lewat pemerintah Nepal.

Nims menghubungi kedutaan Nepal di Cina, melobi mantan Perdana Menteri Nepal sepanjang waktu dan tokoh politik lainnya. Dia mengatasnamakan rencananya sebagai bagian dari upaya negara “menjunjung tinggi impian Nepal dan manusia”.

Tak hanya itu, Nims memanfaatkan popularitasnya untuk menggalang dukungan publik lewat media sosial. Dia mengunggah keresahannya lewat Instagram. Maka, dengan cepat penggemar militan Nims di seluruh dunia memberikan beragam dukungan moral dan teknis untuk menembus barier pemerintah Cina.

Pemerintah Cina yang mulanya tak bergeming akhirnya membuka mata, bahwa banyak umat manusia yang mendukung kampanye Nims. Dawa Sherpa, Direktur Utama Climbalaya Treks mengatakan kepada The Himalayan Times bahwa ekspedisi "Project Possible" diberikan izin khusus mendaki Shishangpama atas permintaan pemerintah Nepal.

Petaka di Broad Peak

Dunia pendakian meyakini bahwa "Project Possible" pimpinan Nirmal Purja merupakan bukti bahwa manusia bisa melampaui batas.

Kesuksesannya mencetak berbagai rekor dunia. Bahkan, pada Mei 2026, Nims memecahkan rekor dunia miliknya sendiri kategori perjalanan tercepat di Everest dan Lhotse tanpa oksigen tambahan. Beberapa hari selanjutnya, ia mencapai puncak Makalu, menandai pendakian ke-56 di puncak berketinggan 8.000 mdpl lebih.

Tak berlebihan jika mesti menyebut Nirmal Purja sebagai salah satu pendaki legendaris sepanjang sejarah. Prestasinya mentereng, setinggi gunung-gunung yang pernah dia jajaki.

Pendakian Nims menyiratkan seolah gunung adalah teman lama yang harus sering dikunjungi.

Begitu kiranya suratan takdir berbunyi nestapa. Teman lama tak ingin berjauhan dengan Nims sampai ajal menjemputnya. Kamis (30/7/2026) lalu, dalam perjalanan menuju puncak Broad Peak dalam Elite Exped, sebuah longsoran salju menyapu rombongan berisi 10 pendaki hingga menewaskan seluruhnya, termasuk Nims.

Ajal Nims bertabur bunga-bunga. Pangeran Wales, William, menggambarkan Nims sebagai “salah satu pendaki gunung terbesar di dunia".. Perdana Menteri Nepal Balen Shah mengenang Nims sebagai sosok yang berani, inspiratif, dan berkontribusi besar untuk segenap pendakian gunung di dunia.

Nims memang telah tiada, tetapi namanya akan selalu abadi.

Baca juga artikel terkait OBITUARI atau tulisan lainnya dari Abi Mu'ammar Dzikri

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Abi Mu'ammar Dzikri
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin