tirto.id - Hilangnya rombongan lima jurnalis dan tiga kru kapal saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau masih menyisakan pilu bagi keluarga. Terlebih, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) resmi ditutup setelah 10 hari penyisiran tak kunjung membuahkan hasil.
Dalam perspektif SAR, penutupan operasi adalah prosedur formal. Namun, bagi keluarga korban, perjalanan emosional dan asa untuk bertemu kembali tidak pernah benar-benar selesai.
Di balik riuh serta simpang siurnya kabar selama 10 hari operasi pencarian, ada keluarga yang setia menunggu, berdoa, menggantungkan harapan bahwa kepala keluarganya akan kembali dalam kondisi apa pun. Maka lumrah, ketika pengumuman penghentian proses pencarian, hanya isak tangis yang mengiringi.
Saat berupaya menjangkau keluarga Hariyanto Bonsai (salah satu kru kapal), reporter Tirto mendapat kabar bahwa istrinya yang bernama Evi Alviani dalam kondisi tidak sehat. Dia menunggu sang suami dalam keadaan selang dan infus terpasang pada tangannya.
Sementara itu, sejumlah keluarga korban yang masih berada di Carita, Banten, melakukan tabur bunga di dermaga awal keberangkatan rombongan jurnalis dan ABK itu. Bukan sebuah perpisahan, namun bentuk penghormatan dan doa dengan harapan yang tetap terselip.
Hingga Jumat (18/9/2026) pagi, dua keluarga korban masih bertahan di sekitar posko pencarian. Salah satunya keluarga Arie Basuki alias Arbas, jurnalis Merdeka.com, yang didampingi Wisnoe Moerti selaku Pemimpin Redaksi perusahaan media tersebut.
Sejak kabar duka pertama kali berembus pada Selasa (8/9/2026) malam usai Maghrib, Wisnoe memutuskan untuk mendampingi langsung istri dan anak Arbas.
"Mulai hari Selasa itu, setelah berita simpang siur, saya langsung telepon istrinya Mas Arbas. Kewajiban kami untuk mendampingi keluarga. Saya sampaikan, karena informasi masih simpang siur, keluarga nanti hanya tahu informasi yang terverifikasi dari kami," ujar Wisnoe saat dihubungi Tirto, Jumat (18/9/2026).

Demi menjaga kondisi psikologis istri dan anak Arbas, Wisnoe meminta mereka untuk tetap tinggal di penginapan dan tidak sering berada di Posko SAR yang dipenuhi kerumunan serta ketegangan.
"Secara psikologis, kalau tidak kuat, pikiran bisa campur aduk. Jadi, saya memang meminta istri dan anaknya Mas Arbas untuk tetap di penginapan. Kami yang selalu cari informasi dan memasok informasinya," tutur Wisnoe.
Posko informasi memang sering kali dipenuhi kabar-kabar yang belum pasti. Dari penemuan jaket pelampung (life jacket) hingga kabar ditemukannya jenazah di Pulau Enggano.
Ketika temuan life jacket berwarna jingga ramai dibicarakan, Wisnoe pun memastikan kembali pada foto terakhir Arbas yang mengenakan pelampung berwarna kuning. Begitu pula saat ada laporan penemuan jenazah di Enggano, dia langsung berkoordinasi dengan wartawan di Lampung dan Bengkulu untuk memverifikasi secara kasat mata sebelum informasi tersebut memukul mental keluarga.
Tak hanya mengurus hal-hal informatif, Wisnoe juga berupaya menjaga kondisi jiwa anak sahabatnya itu. Di tengah ketidakpastian yang panjang, dia kerap mengajak anak Arbas keluar sejenak untuk sekadar membeli pakaian ganti hingga mencari buah durian bersama.
"Supaya si anak ini secara mental dan psikologis tidak terganggu dengan proses pencarian ini," ungkap dia.
Hari Ke-10, Momen Terberat dan Langkah Ikhlas
Wisnoe mengakui tantangan terberat baginya adalah ketika tiba pada hari ke-10 pencarian. Saat itu, tim SAR memberikan sinyal bahwa operasi pencarian lapangan akan dihentikan secara resmi jika tim lapangan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan para korban.
Wisnoe memilih menemui keluarga Arbas sebelum Basarnas mengumumkan penghentian operasi SAR secara resmi. Dalam percakapan yang berlangsung hangat dan emosional selama dua jam, dia menyampaikan kondisi tersebut dengan sangat berhati-hati.
"Dalam proses penyampaian itu, memang buat saya pribadi sangat berat karena kami tidak ingin keluarga menyerah. Di wilayah yang abu-abu ini, kami sampaikan bahwa operasi dihentikan, tapi proses pencarian tidak berhenti karena statusnya berganti menjadi monitoring," kata Wisnoe.
Hari itu, kata Wisnoe, keluarga Arbas menunjukkan ketegaran yang luar biasa. Mereka menyatakan ikhlas menerima keputusan penghentian operasi SAR dan bersiap untuk kembali ke rumah.
Sebelum bertolak meninggalkan lokasi pencarian, keluarga bersama perwakilan rekan sejawat menggelar prosesi tabur bunga di Dermaga Pagedongan. Itulah titik awal keberangkatan rombongan jurnalis dan kru kapal saat hendak menuju Gunung Anak Krakatau.
"Kami tabur bunga di situ sekaligus keluarganya pamit untuk pulang. Tapi, bukan berarti kami melupakan. Ini sekadar pamit, nanti suatu saat kami akan kembali ke sini kalau ada informasi terbaru," tutur Wisnoe.

Sosok Arbas Panutan dengan Deretan Prestasi
Wisnoe mengungkapkan, bagi Merdeka.com dan para sejawat jurnalis yang mengenal Arbas, ini adalah momen mereka kehilangan sosok panutan yang luar biasa. Selama lebih dari dua dekade berkarier sebagai fotografer jurnalistik, Arbas dikenal sangat mencintai pekerjaannya dan tidak pernah membeda-bedakan rekan kerja, baik senior maupun junior.
Bicara soal rekam jejak, Arbas adalah salah satu fotografer dengan prestasi paling gemilang di Indonesia. Berbagai penghargaan bergengsi telah dia sabet, mulai dari Anugerah Adinegoro di tingkat nasional, Asia Press Photo di tingkat regional, hingga kasta tertinggi fotografi dunia, World Press Photo (Juara 3).
"Buat kami, Arbas adalah sebuah kebanggaan. Rekan kerja yang sangat membanggakan dan jadi panutan untuk kami belajar bagaimana menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas dan diakui dunia," ucap Wisnoe.
Oleh karenanya, meski operasi SAR di laut telah ditutup, harapan tidak pernah padam. Jejak dedikasi Arbas dan kenangan indah bersama keluarga serta sahabat akan terus terpatri, sembari menanti kepastian yang dibawa oleh waktu.
Pemerintah melalui Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengatakan dan dedikasi dan keberanian lima jurnalis yang hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau patut dihormati. Di mengatakan para jurnalis tersebut menjalankan tanggung jawab untuk menghadirkan informasi akurat dan penting bagi masyarakat, termasuk di tengah situasi bencana yang berisiko tinggi.
"Dedikasi, keberanian, dan pengabdian mereka patut kita hormati. Dalam situasi bencana, kerja jurnalistik menjadi jembatan informasi yang sangat dibutuhkan masyarakat," kata Hasan kepada Antara di Jakarta.
Dia pun menyampaikan duka mendalam kepada keluarga lima jurnalis bersama tiga ABK yang hingga kini belum ditemukan. Hasan Nasbi menghaturkan doa dan harapan terus menyertai para jurnalis, keluarga serta rekan-rekan redaksi yang hingga kini masih menanti kepastian mengenai keberadaan mereka.

"Kita semua turut merasakan duka dan kecemasan mendalam keluarga lima jurnalis bersama tiga anggota rombongan lainnya yang hilang saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau,” ujar dia.
Menurut Hasan, seluruh unsur SAR, relawan, aparat, masyarakat, dan insan pers yang telah terlibat dalam upaya pencarian patut diapresiasi. Dia tetap berharap setiap petunjuk baru yang kredibel dapat terus ditindaklanjuti guna menemukan keberadaan para jurnalis dan kru kapal.
Tak jauh berbeda, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, menyampaikan rasa empati yang mendalam bagi keluarga jurnalis dan tiga kru kapal. Dia mengatakan keputusan penghentian pencarian setelah 10 hari bukan suatu keputusan yang mudah bagi siapa pun, terutama bagi keluarga yang sejak awal terus menunggu kabar dan berharap mereka dapat kembali.
Erick menerangkan, penghentian operasi pencarian bukan berarti perhatian terhadap keberadaan para jurnalis dan awak kapal tersebut ikut berhenti. Pemantauan di wilayah perairan Selat Sunda tetap dapat memberikan peluang munculnya informasi baru yang dapat ditindaklanjuti.
"Kita semua masih berharap ada kabar baik dan petunjuk yang dapat membawa mereka kembali kepada keluarga. Keselamatan mereka juga menjadi tanggung jawab dan perhatian kita bersama," kata Erick sebagaimana dikutip dari Antara.
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































