Menuju konten utama
Horizon

Pengguna "Narkoba" Pertama di Dunia Berasal dari Sulawesi

Manusia di Sulawesi telah mengonsumsi biji pinang sebagai psikotropika sejak 25.000–16.000 tahun lalu, jauh sebelum peradaban berdiri.

Pengguna
HEADER MOZAIK Pengguna 'Narkoba' (biji buah pinang) Pertama di Dunia. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Percaya atau tidak, saat ini ada miliaran orang yang kecanduan psikotropika. Dan di sini kita tidak cuma bicara soal narkotika dan obat-obatan terlarang. Sebab, psikotropika mencakup zat apa pun yang memengaruhi cara otak bekerja sekaligus menyebabkan perubahan suasana hati, kesadaran, pikiran, perasaan, serta perbuatan. Dengan demikian, mengacu pada definisi ini, alkohol, kafein, dan nikotin pun sejatinya masuk dalam kategori yang sama dengan mariyuana, heroin, LSD, kokain, dan amfetamin.

Tidak semua psikotropika itu ilegal, tentu saja. Kafein dan nikotin bahkan dijual bebas. Sementara itu, alkohol, mariyuana, serta berbagai jenis obat-obatan dijual secara terbatas di tempat-tempat tertentu. Akan tetapi, sebenarnya ada satu lagi jenis psikotropika yang sebetulnya juga sangat populer. Bahkan, dengan jumlah pengguna rutin sekitar 200 s/d 600 juta orang, popularitasnya cuma kalah dari kafein, alkohol, dan nikotin. Tak sampai di situ, substansi ini juga merupakan "narkoba" pertama yang dikonsumsi oleh manusia.

Psikotropika yang dimaksud adalah biji buah pinang (betel nut), dan pengguna pertamanya berasal dari Indonesia, tepatnya di Pulau Sulawesi.

Temuan ini termaktub dalam sebuah artikel di jurnal Science Advances yang terbit pada September 2026. Dalam studi tersebut, dilaporkan bahwa manusia di Sulawesi sudah mengisap biji pinang sekitar 25.000 hingga 16.000 tahun yang lalu. Artinya, jauh sebelum pertanian ditemukan, jauh sebelum peradaban berdiri, manusia purba di Sulawesi sudah punya kebiasaan mengonsumsi zat yang mengubah cara kerja otak mereka.

Penelitian ini dipimpin oleh Adam Brumm, profesor arkeologi dari Griffith University di Australia, bersama kolega-koleganya dari Universitas Hasanuddin dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Mereka memeriksa sisa-sisa tulang dari dua individu pemburu-pengumpul yang ditemukan di gua-gua Sulawesi Selatan, yaitu Leang Bulu Bettue dan Leang Cappalombo.

Individu pertama, yang ditemukan di Leang Bulu Bettue, hidup antara 25.000 hingga 16.000 tahun lalu. Individu kedua, dari Leang Cappalombo, hidup antara 7.600 hingga 6.300 tahun lalu. Keduanya sudah berusia setidaknya 35 tahun saat meninggal, dan sama-sama punya alur-alur melingkar di giginya yang merupakan tanda keausan.

Pola keausan seperti itu tidak muncul hanya karena mengunyah makanan. Tim peneliti akhirnya menyimpulkan bahwa pola tersebut paling masuk akal diakibatkan oleh kebiasaan mengisap benda bulat dan keras seukuran 10 s/d 20 milimeter dalam jangka waktu panjang. Ciri-ciri itu cocok dengan biji pinang.

Untuk mengonfirmasi dugaan tersebut, tim peneliti juga melakukan analisis biokimia pada jaringan gigi kuno tersebut. Hasilnya, mereka menemukan jejak arecoline, yaitu senyawa psikoaktif utama yang terdapat dalam biji pinang. Temuan ini menjadi bukti kimiawi bahwa, memang, manusia-manusia tersebut sudah mengonsumsi psikotropika pada masa hidupnya dulu.

Sebelum kita beranjak lebih jauh, ada baiknya kita bicara dulu soal apa itu biji pinang dan mengapa hingga kini masih banyak orang yang mengonsumsinya.

Buah pinang

Buah pinang. FOTO/iStockphoto

Biji yang dikonsumsi sebagai psikotropika itu berasal dari buah yang dihasilkan pohon pinang (Areca catechu) yang bisa ditemukan dengan mudah di Indonesia. Biji pinang itu bisa dikonsumsi dalam kondisi segar atau sudah dikeringkan, biasanya bersama sirih dan kapur sirih, dalam bentuk yang disebut "quid" alias susur.Susur mengandung senyawa aktif bernama arecoline yang bekerja dengan mengaktifkan reseptor asetilkolin muskarinik di otak, sekaligus memengaruhi reseptor nikotinik seperti halnya nikotin untuk menciptakan ketergantungan. Efek yang dirasakan biasanya euforia ringan, tubuh terasa hangat, rasa waspada meningkat, dan munculnya dorongan energi.

Di Sulawesi, 25 ribu tahun silam, cara mengonsumsi biji pinang tidak sama seperti sekarang. Mereka tidak menggunakan kapur sirih yang menjadi komponen penting suruh. Kapur sirih sendiri berfungsi mengubah arecoline menjadi bentuk bebas yang lebih mudah diserap tubuh, sehingga memperkuat efek psikoaktifnya. Dengan kata lain, tanpa kapur sirih, efek "nge-fly" yang dihasilkan mestinya jadi lebih lemah.

Akan tetapi, menurut penelitian Brumm dkk., ternyata mengisap biji pinang utuh saja sudah cukup. Para peneliti itu merendam biji pinang utuh dalam larutan dengan kandungan serupa air liur manusia, lalu menguji cairan hasilnya pada reseptor manusia yang diekspresikan dalam sel telur katak. Ternyata, cara begitu pun sudah cukup untuk melepaskan arecoline dalam jumlah yang bisa memengaruhi fungsi otak.

Brumm sempat mencoba mengisap biji pinang secara langsung. Rasanya, kata Brumm, sih, "tidak menyenangkan". Namun, dia merasakan efek mati rasa di mulutnya dan, diduga, para pemburu-peramu dari Sulawesi itu menggunakan biji pinang sebagai pereda nyeri. Sayangnya, efek antinyeri itu akhirnya berbalik. Mengisap biji keras selama bertahun-tahun justru memperparah kerusakan gigi, sehingga menciptakan lingkaran setan yang membuat mereka semakin ketergantungan.

Buah pinang
Buah pinang. FOTO/iStockphoto

Temuan di Sulawesi ini mematahkan temuan sebelumnya di Thailand. Pada Agustus 2025, sejumlah peneliti Thailand menemukan bukti konsumsi biji pinang pada manusia yang dikubur di Nong Ratchawat, Suphanburi, berusia 4.000 tahun. Para peneliti itu menemukan jejak arecoline dalam plak gigi seorang perempuan lewat analisis biokimia terhadap kalkulus atau karang gigi. Dan ternyata, apa yang ditemukan di Sulawesi menunjukkan bahwa penggunaan psikotropika bernama biji pinang jauh lebih tua dari itu.Sulawesi, dalam dua tahun belakangan, menjadi arena yang menarik dalam dunia arkeologi. Awal tahun ini, pada Januari 2026, sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature melaporkan bahwa seni cadas di Gua Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, berusia setidaknya 67.800 tahun, menjadikannya seni gua tertua di dunia.

Studi lain yang terbit di Nature pada Agustus 2025 juga menunjukkan betapa tuanya jejak kehadiran manusia di Sulawesi. Dalam studi itu dilaporkan adanya temuan alat-alat batu di Calio, Sulawesi Selatan, yang diperkirakan berusia setidaknya 1,04 juta tahun. Itu artinya, hominin, nenek moyang manusia dalam pengertian yang lebih luas, sudah menyeberangi lautan untuk sampai ke Sulawesi jauh sebelum manusia modern seperti kita ada.

Sekadar catatan, semua temuan yang muncul dari Sulawesi ini berasal dari tim peneliti yang kurang lebih sama. Brumm, misalnya, selalu terlibat di dalam penggalian-penggalian tersebut. Selain itu, para peneliti Indonesia pun juga punya peranan. Dari hasil kerja mereka, Sulawesi kini menjadi salah satu lokasi paling penting dalam dunia arkeologi.

Bayangkan saja. Tiga temuan berbeda menunjukkan tiga "bidang" yang berbeda pula. Laporan dari Agustus 2025 menunjukkan teknologi dan migrasi. Laporan Januari 2026 menunjukkan aktivitas seni. Sementara itu, laporan terkini, dari September 2026, bisa dibilang berasal dari bidang kesehatan karena menyangkut penggunaan psikotropika serta upaya meredakan rasa sakit.

Dalam wawancara dengan BBC Science Focus usai melaporkan temuan di Calio, Brumm sendiri menyatakan bahwa dia dan para peneliti lainnya bakal terus menggali untuk menemukan bukti-bukti arkeologis menarik lainnya. Ucapan itu akhirnya terbukti lewat temuan terbarunya soal biji pinang tadi. Dan tentu saja, tidak menutup kemungkinan, temuan-temuan menarik lainnya bakal terus bermunculan dari Sulawesi.

Baca juga artikel terkait PSIKOTROPIKA atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Horizon
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi