Menuju konten utama
Horizon

Ayoreo, Masyarakat Adat yang Tak Ingin Ditemukan

Kelompok Ayoreo di Gran Chaco memilih hidup dalam isolasi. Jejak di hutan bagi mereka bukan ajakan mendekat, melainkan alasan menjaga jarak dari dunia luar.

Ayoreo, Masyarakat Adat yang Tak Ingin Ditemukan
Suku Ayoreo. Foto/Dok. snappygoat
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebuah kamera jebak di hutan Gran Chaco dapat merekam apa saja yang melintas di depannya. Kawasan kering di bagian tengah Amerika Selatan itu menjadi habitat berbagai satwa, mulai dari jaguar, tapir, hingga burung. Sesekali, yang terekam bisa saja manusia.

Pada Agustus 2026, pembuat konten asal Amerika Serikat, Nathan Seastrand, dipersoalkan karena memasang kamera jebak di kawasan itu. Seastrand mengatakan kameranya digunakan untuk merekam satwa liar, terutama jaguar. Ia juga membantah berusaha melacak atau melakukan kontak dengan kelompok Ayoreo yang masih hidup dalam isolasi sukarela di luar kawasan Amazon.

Tagüide Picanerai, pengacara dari komunitas Ayoreo Totobiegosode, menuduh Seastrand berusaha menemukan dan mendekati kelompok Ayoreo yang hidup dalam isolasi sukarela. Menurut Picanerai, kontak dengan orang luar dapat membawa penyakit yang berbahaya bagi masyarakat yang tidak memiliki kekebalan terhadapnya. Picanerai menceritakan pengalaman keluarganya sendiri ketika pamannya menderita tuberkulosis setelah kontak dengan dunia luar.

Di sini persoalannya menjadi lebih besar daripada kamera dan niat orang yang memasangnya. Bagaimana jika manusia yang ingin kita temukan justru tidak ingin ditemukan?

Jejak yang Berbicara

Gran Chaco merupakan ekosistem hutan kering yang membentang di Paraguay, Bolivia, dan Argentina. Di kawasan ini masih terdapat kelompok Ayoreo yang hidup dalam isolasi. Bagi mereka, hutan adalah tempat berburu, mencari madu dan buah-buahan, mengambil air, serta berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Keberadaan mereka tidak diketahui melalui kontak langsung. Para pemantau justru membaca tanda-tanda yang tertinggal di hutan. Sumber Lembaga Internasional untuk Urusan Adat (IWGIA) menyebut adanya jejak kaki di sekitar sumber air, lubang pada batang pohon bekas mengambil madu, sisa perkemahan, benda yang ditinggalkan, serta tanda pada pohon dapat menjadi petunjuk keberadaan kelompok tersebut.

Pendekatan seperti ini punya hubungan dengan etnoarkeologi, bidang yang menggunakan pengamatan terhadap masyarakat yang masih hidup untuk membantu menafsirkan jejak material masyarakat masa lalu. Santiago David Domínguez Solera, misalnya, melakukan penelitian etnoarkeologi terhadap kelompok pemburu-peramu yang masih hidup, termasuk Ayoreo, untuk memahami bagaimana aktivitas berburu dan mengolah hewan menghasilkan jejak yang kemudian dapat ditemukan dalam catatan arkeologis.

Dalam tesisnya, ia menggunakan pendekatan yang membuat benda atau sisa aktivitas tidak dipandang sebagai bukti yang berdiri sendiri. Cara hewan itu diburu, diproses, dibagikan, atau digunakan dapat dipengaruhi oleh kebiasaan, pengetahuan, hubungan sosial, bahkan keyakinan masyarakat yang melakukannya.

Suku Ayoreo

Suku Ayoreo. Foto/Dok. snappygoat

Penelitian Domínguez Solera menunjukkan mengapa masyarakat yang masih menjalankan sebagian tradisi berburu dan meramu dapat menjadi sumber penting untuk memahami masa lalu. Namun dalam kasus Ayoreo yang hidup dalam isolasi, hubungan antara manusia dan jejak menjadi lebih dekat. Mereka masih berjalan di antara pepohonan yang sama, berburu, mencari air, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bedanya, orang yang meninggalkan jejak itu masih hidup.

Pemantauan tersebut juga tidak hanya dilakukan oleh peneliti atau petugas dari luar. Orang Ayoreo yang telah mengalami kontak dengan masyarakat luar ikut membantu membaca tanda-tanda yang ditinggalkan kerabat mereka. Sumber 2009 menyebut bahwa sejak 2005 para pemimpin dan terutama tetua Ayoreo yang sudah mengalami kontak ikut dalam pemantauan. Mereka melakukan perjalanan berkala di sekitar wilayah yang diduga digunakan kelompok terisolasi, mengunjungi titik-titik yang dapat diakses, dan berbicara dengan orang-orang di kawasan tersebut.

Mereka mengenali jejak, jalur, lubang bekas mengambil madu, tanda pada pohon, serta benda yang ditinggalkan. Pemantauan dilakukan tanpa mengejar kelompok tersebut atau memaksakan kontak.

Informasi itu penting untuk mengetahui wilayah yang mereka gunakan dan melindunginya. Jejak keberadaan menjadi salah satu dasar untuk memahami ruang hidup kelompok yang tidak melakukan kontak dengan masyarakat luar.

Ketika sebuah jejak kaki ditemukan di dekat mata air, itu bukan undangan untuk mendekat. Jejak itu justru menjadi alasan untuk menjaga jarak.

Mereka Bukan Manusia dari Masa Lalu

Ayoreo adalah masyarakat adat yang wilayah historisnya membentang di kawasan Gran Chaco, terutama Paraguay dan Bolivia. Mereka termasuk keluarga bahasa Zamuco dan secara tradisional hidup sebagai pemburu-peramu dengan mobilitas tinggi. Dalam masyarakat Ayoreo terdapat sejumlah kelompok lokal, salah satunya Totobiegosode. Kelompok inilah yang kemudian dikenal luas karena sebagian anggotanya mengalami kontak paksa dengan masyarakat luar pada akhir 1970-an dan 1980-an.

Jumlah orang Ayoreo yang hidup dalam masyarakat menetap jauh lebih mudah dihitung daripada mereka yang masih berada dalam isolasi. Sensus Paraguay 2022 mencatat 935 orang Ayoreo, tetapi angka itu tidak mencakup kelompok yang hidup dalam isolasi sukarela. Keberadaan mereka justru diketahui melalui tanda-tanda yang ditinggalkan di hutan dan informasi dari Ayoreo yang telah melakukan kontak.

Hubungan dengan masyarakat luar sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum abad ke-20. Catatan IWGIA menyebut perjumpaan dengan misi Jesuit pada awal abad ke-18, sementara kontak yang lebih intensif terjadi pada abad ke-20.

Sejak 1960-an, pencarian dan kontak terhadap kelompok Ayoreo berlangsung secara sistematis dan mendorong banyak dari mereka masuk ke permukiman misionaris. Mereka menjalani kehidupan menetap dan berhadapan dengan sistem ekonomi serta masyarakat yang berbeda dari kehidupan mereka sebelumnya.

Namun, di antara populasi tersebut masih terdapat kelompok-kelompok kecil yang memilih tetap hidup berpindah di hutan dan menghindari kontak langsung dengan masyarakat luar. Mereka dikenal sebagai kelompok Ayoreo dalam isolasi sukarela.

Pilihan itu lahir dari sejarah hubungan masyarakat adat Chaco dengan dunia luar yang dipenuhi pengalaman pahit. Ekspansi peternakan, perebutan lahan, aktivitas misionaris, serta penyebaran penyakit telah mengubah kehidupan banyak kelompok Ayoreo sepanjang abad ke-20.

Kontak paksa terjadi pada akhir 1970-an dan 1980-an. Riset antropologi Gladys Casaccia (2009) memberi kronologi lebih rinci. Pada akhir 1978, kelompok pertama Ayoreo Totobiegosode ditangkap dan kemudian dibawa ke misi Faro Moro. Pada 1979, Misi New Tribes berpindah ke Campo Loro.

Tujuh tahun kemudian, pada Desember 1986, kelompok Ayoreo dari Campo Loro dibawa ke tepi hutan untuk dipertemukan dengan kelompok Totobiegosode. Bentrokan keduanya terjadi. Lima orang tewas dan empat lainnya terluka.

Para kritikus mengecam peristiwa itu, yang oleh Lucas Bessire dalam Behold the Black Caiman: a Chronicle of Ayoreo Life (2014:86), digambarkan sebagai etnosida, yakni penghancuran kehidupan dan kebudayaan suatu kelompok tanpa harus memusnahkan anggotanya secara fisik.

Kontak tersebut tidak hanya memindahkan mereka dari hutan ke permukiman. Ia juga memutus sebagian hubungan mereka dengan wilayah, cara hidup, dan sistem sosial yang selama ini menopang kehidupan mereka. Misalnya membawa risiko penyakit bagi orang-orang yang sebelumnya hidup terpisah dari masyarakat luar. Sejumlah orang yang dibawa keluar dari hutan kemudian meninggal karena penyakit.

"Mereka berpikir bahwa dengan memaksa kita keluar dari hutan kita bisa diselamatkan," kenang Chagabi Etacore kepada BBC.

Ancaman terhadap kelompok yang masih bertahan di hutan tidak berhenti setelah itu. Data WWF pada 2021 menempatkan Gran Chaco sebagai salah satu kawasan dengan laju deforestasi tertinggi di dunia. Hutan dibuka untuk peternakan sapi dan kegiatan ekonomi lainnya, sehingga ruang hidup kelompok Ayoreo yang masih nomaden terus menyusut. Bagi mereka, ancaman tidak hanya datang dari kontak langsung. Hilangnya hutan juga mempersempit ruang hidup dan jalur perpindahan mereka.

Kelompok Ayoreo yang hidup dalam isolasi tidak tinggal di dunia yang terpisah dari abad ke-21. Sementara itu, jalan, peternakan, pekerja, kamera, dan kendaraan semakin mendekati wilayah yang mereka gunakan.

Pengalaman tersebut membuat keputusan untuk menghindari kontak tidak bisa dipisahkan dari sejarah mereka sendiri. Bagi kelompok yang masih bertahan di hutan, menjaga jarak bukan berarti hidup di masa lalu. Itu adalah cara untuk mempertahankan kehidupan yang masih mereka jalani.

Peta Perbatasan Bolivia dan Paraguay

Peta Perbatasan Bolivia dan Paraguay. wikimedia/UNAP

Saat Jejak Menjadi Konten

Pada Agustus 2026, perselisihan kelompok Ayoreo dan Nathan Seastrand kemudian masuk ke ranah hukum. Atas permohonan Instituto Paraguayo del Indígena (INDI), pengadilan Paraguay mengeluarkan tindakan perlindungan bagi kelompok Ayoreo yang hidup dalam isolasi. Perintah tersebut mencakup pencabutan perangkat pemantauan tertentu serta pembatasan aktivitas yang dapat memicu kontak atau mengungkap keberadaan kelompok tersebut.

Keputusan itu memperlihatkan prinsip penting dalam perlindungan masyarakat yang hidup dalam isolasi bahwa ketidaktahuan publik terhadap lokasi mereka bukan kegagalan yang harus diperbaiki. Dalam kondisi tertentu, justru itulah bentuk perlindungan.

Kamera dapat menghasilkan pengetahuan tentang satwa. Tetapi ketika kamera diarahkan ke wilayah yang digunakan manusia yang menghindari kontak, informasi yang dihasilkannya memiliki konsekuensi berbeda.

Persoalan semacam ini sebenarnya sudah muncul jauh sebelum kamera jebak dan media sosial menjadi bagian dari pencarian kehidupan di hutan. Pada 2010, The Guardian melaporkan sebuah ekspedisi Natural History Museum di Inggris ke kawasan Chaco juga dihentikan sementara setelah muncul kekhawatiran bahwa puluhan ilmuwan dan anggota tim pendukung dapat tanpa sengaja bertemu dengan kelompok Ayoreo yang hidup dalam isolasi.

Sejumlah pemimpin Ayoreo yang telah mengalami kontak khawatir para peneliti tersebut membawa penyakit yang dapat berbahaya bagi kelompok yang tidak memiliki kekebalan terhadap penyakit dari luar. Pemerintah Paraguay kemudian meminta konsultasi lebih lanjut sebelum ekspedisi dilanjutkan.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa masalahnya bukan semata-mata siapa yang membawa kamera atau apa tujuan seseorang datang ke hutan. Bahkan penelitian ilmiah dengan tujuan yang sah dapat menimbulkan risiko jika kehadirannya membuat kontak tidak disengaja menjadi mungkin.

Pada Maret 2025, Youtuber Mykhailo Viktorovych Polyakov memasuki North Sentinel Island, pulau di India yang dihuni masyarakat Sentinelese dan selama puluhan tahun dilindungi dari kunjungan orang luar. Polyakov membawa kelapa, sekaleng Diet Coke, dan kamera. Ia merekam kedatangannya sebelum meninggalkan pulau dan kemudian ditangkap aparat India.

Perbedaannya, Polyakov memang memasuki pulau tersebut untuk merekam kunjungannya ke wilayah yang dihuni masyarakat Sentinelese, sedangkan Seastrand membantah berusaha merekam aktivitas kelompok Ayoreo.

Keinginan untuk mengetahui keberadaan suatu kelompok dapat dengan mudah berubah menjadi tindakan yang justru mengganggu hak mereka untuk menentukan jarak dengan dunia luar. Karena itu, perlindungan kelompok dalam isolasi tidak hanya mengatur tindakan orang yang ingin menemui mereka, tetapi juga menentukan batas tentang seberapa jauh keberadaan mereka boleh dicari dan dipelajari.

Baca juga artikel terkait SUKU PEDALAMAN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi