tirto.id - Hari itu C.J. Cregg terlambat masuk ke ruang pertemuan. Di sana sudah menunggu tim kartografer yang dipimpin Dr. John Fallow. Mereka meminta Pemerintah Amerika Serikat mengganti peta dunia yang digunakan di sekolah-sekolah umum, dari Proyeksi Mercator ke Proyeksi Peters.
"Tidak. Mengapa kita mengubah peta?" tanya Cregg.
Dr. Cynthia Sayles menjawab bahwa Proyeksi Mercator telah memupuk sikap imperialisme Eropa selama berabad-abad. Fallow kemudian menunjuk daratan Greenland dan Afrika pada peta. Keduanya tampak hampir sama besar.
"Apakah Anda akan terkejut jika saya mengatakan bahwa Afrika sebenarnya empat belas kali lebih luas?" tanyanya.
Cregg terdiam. Tim itu kemudian menunjukkan sejumlah perbedaan lain, termasuk bagaimana Alaska tampak jauh lebih besar daripada Meksiko dan Eropa lebih besar daripada Amerika Selatan.
Josh Lyman lalu bertanya tentang Jerman yang tampak berada di tengah peta.
"Jadi, Anda mengatakan Jerman sebenarnya tidak berada di tempat yang kita kira?"
Fallow menjawab singkat, "Nothing's where you think it is."
Adegan itu muncul dalam serial televisi The West Wing dalam episode Somebody's Going to Emergency, Somebody's Going to Jail, yang pertama tayang pada 28 Februari 2001.
Sebanyak 164 negara mendukung resolusi itu, enam abstain, dan hanya Amerika Serikat yang menolak.
Mengapa Tak Ada Peta yang Sempurna?
Persoalannya bermula dari geometri. Bumi berbentuk hampir bulat, sedangkan peta dibuat pada bidang datar. Keduanya tidak bisa disatukan tanpa distorsi--istilah kartografi untuk perubahan yang tak terhindarkan dalam sebuah peta.
Matematikawan Carl Friedrich Gauss memberikan dasar matematis untuk memahami persoalan itu melalui Theorema Egregium pada abad ke-19. Menurutnya, kelengkungan merupakan sifat yang melekat pada permukaan itu sendiri. Karena bidang datar dan permukaan bola memiliki kelengkungan berbeda, permukaan Bumi tidak mungkin dibentangkan menjadi peta datar tanpa mengubah sebagian ukuran, bentuk, jarak, atau arah. Bayangkan mengupas kulit jeruk lalu mencoba meratakannya di atas meja. Kulit itu harus diregangkan, diremas, atau disobek. Peta dunia menghadapi persoalan serupa.
Karena itu, kartografer harus menentukan sifat apa yang ingin dipertahankan. Ada proyeksi yang mengutamakan luas, ada yang mempertahankan bentuk dan sudut, ada pula yang dirancang untuk menjaga arah atau jarak tertentu. Menurut USGS (United States Geological Survey), tidak ada peta datar yang dapat mempertahankan semuanya sekaligus.
Gerardus Mercator memilih sifat yang sangat berguna bagi pelaut. Kartografer asal Flandria itu memperkenalkan proyeksinya pada 1569 untuk kebutuhan navigasi. Dalam proyeksi tersebut, garis bujur digambarkan sebagai garis lurus yang sejajar, sementara garis lintang semakin renggang ketika menjauh dari khatulistiwa. Hasilnya, garis loksodrom—rute dengan arah kompas konstan—dapat digambarkan sebagai garis lurus.
Semakin jauh dari khatulistiwa, semakin besar wilayah tampak pada peta. Distorsi ini sangat kuat di wilayah lintang tinggi, sementara wilayah dekat khatulistiwa mengalami jauh lebih sedikit perubahan skala.
Greenland menjadi contoh paling mudah. Pada peta Mercator, pulau itu tampak hampir sebesar Afrika. Kenyataannya jauh berbeda. Afrika memiliki luas sekitar 30,3 juta kilometer persegi, sedangkan Greenland sekitar 2,16 juta kilometer persegi. Dengan demikian, Afrika kira-kira 14 kali lebih luas daripada Greenland.
Perbedaan itu merupakan konsekuensi dari cara Mercator mempertahankan sudut lokal dan menggambarkan garis dengan arah kompas konstan sebagai garis lurus.

Peta yang Mana yang Lebih "Benar"?
Tidak ada peta dunia yang benar-benar akurat untuk semua keperluan. Setiap proyeksi dibuat dengan mempertahankan sifat tertentu dan mengorbankan sifat lainnya.
Pada Maret 2017, Boston Public Schools menjadi distrik sekolah umum pertama di Amerika Serikat yang secara resmi memasukkan peta proyeksi Gall-Peters ke dalam kurikulumnya. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari gerakan decolonize the curriculum (mendekolonisasi kurikulum) guna mengoreksi apa yang mereka anggap sebagai bias Eurosentris dalam penggunaan Proyeksi Mercator, yang membuat wilayah seperti Afrika dan Amerika Selatan tampak lebih kecil.
Dengan Gall-Peters, Afrika tampil sesuai proporsi luas sebenarnya terhadap benua lain. Namun, peta ini mendapat kritik karena di sekitar khatulistiwa terlihat memanjang secara vertikal sehingga bentuk benua terasa tidak lazim. Kartografer Arthur H. Robinson bahkan menyindir bentuk proyeksi Peters yang, menurutnya, mengingatkan pada pakaian dalam musim dingin yang basah dan dijemur di Lingkar Arktik.
Gall-Peters menunjukkan persoalan yang selalu dihadapi kartografer. Mempertahankan luas berarti harus menerima distorsi pada sifat geografis lainnya. Para pembuat peta kemudian terus mencari proyeksi yang bisa menjaga luas tanpa membuat bentuk benua terlalu janggal.
Pada 2018, Bojan Šavrič, Tom Patterson, dan Bernhard Jenny memperkenalkan Equal Earth. Proyeksi ini mempertahankan proporsi luas wilayah, tetapi dirancang agar bentuk benua tetap terlihat lebih alami dibandingkan sejumlah proyeksi equal-area sebelumnya.
Pada Mercator, lingkaran kecil tetap berbentuk lingkaran karena proyeksi ini mempertahankan sudut lokal. Namun, ukurannya semakin membesar ketika menjauh dari khatulistiwa. Artinya, bentuk lokal relatif terjaga, sementara luas mengalami perubahan yang semakin besar.
Pada Equal Earth, luas lingkaran tersebut tetap terjaga meskipun bentuknya berubah menjadi elips di berbagai bagian peta. Proyeksi ini mengorbankan sebagian ketepatan bentuk demi mempertahankan perbandingan luas.
Indonesia relatif sedikit mengalami distorsi skala pada peta Mercator. Letaknya yang dekat khatulistiwa membuat perubahan ukuran relatif kecil. Pembesaran itu jauh lebih terasa pada wilayah lintang tinggi. Karena itu, perbedaan ukuran lebih mudah terlihat pada Greenland dan Afrika daripada pada Indonesia.
Peta yang Mengandung Kepentingan
Selama berabad-abad, peta ikut membentuk cara manusia membayangkan dunia. Karena itu, Togo membawa persoalan proyeksi peta itu ke Majelis Umum PBB. Negara tersebut berpendapat bahwa cara sebuah wilayah digambarkan ikut memengaruhi cara orang melihat posisinya di dunia.
Gagasan itu menjadi dasar kampanye Correct the Map yang didorong Togo dengan dukungan Uni Afrika. Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, berulang kali menekankan bahwa peta membentuk persepsi, termasuk sejak seseorang mengenal geografi di sekolah. Dalam dokumen yang disiapkan untuk sidang PBB, ia menyebut penggunaan proyeksi yang tidak mencerminkan perbandingan luas secara proporsional dapat memengaruhi cara orang memahami posisi Afrika di dunia.
Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi. Wakil AS, Yaryna Ferencevych, menyebut resolusi itu sebagai bagian dari agenda ideologis yang lebih besar. Menurutnya, sidang PBB seharusnya memusatkan perhatian pada persoalan perdamaian dan hubungan internasional yang lebih mendesak.
Prancis mengambil posisi berbeda. Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Jean-Noël Barrot mengumumkan bahwa kementeriannya akan meninggalkan Mercator untuk penggunaan diplomatik dan beralih ke proyeksi yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Prancis memilih Eckert IV, bukan Equal Earth. Barrot mengakui bahwa mengganti peta tidak akan mengubah dunia. Namun, menurutnya, memperbaiki gambaran yang menyimpangkan kenyataan tetap merupakan langkah menuju representasi yang lebih benar.
Ukraina menjadi salah satu negara yang memilih abstain. Delegasinya mempersoalkan cara peta Equal Earth menggambarkan sebagian wilayah Ukraina yang diduduki Rusia. Dalam sidang Majelis Umum, perwakilan Ukraina menilai peta itu tidak sejalan dengan prinsip kedaulatan serta integritas wilayah Ukraina.
Meski demikian, resolusi PBB ini tidak melarang Mercator dan tidak menetapkan satu peta sebagai satu-satunya standar dunia. Resolusi tersebut mendorong negara, lembaga pendidikan, organisasi internasional dan pihak terkait untuk menggunakan Equal Earth atau proyeksi equal-area lainnya ketika perbandingan luas wilayah menjadi hal penting. Navigasi laut tetap dapat menggunakan Mercator karena fungsi proyeksinya memang berbeda.
Tidak ada peta yang dapat menghilangkan seluruh distorsi Bumi. Persoalannya adalah apakah kita tahu mengapa sebuah peta dibuat, apa yang dipertahankannya, dan apa yang berubah karenanya.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































