tirto.id - Palang perlintasan kereta api kembali diturunkan. Sejumlah kendaraan berhenti menunggu di belakang palang. Tak lama kemudian, rangkaian kereta melintas dan suara roda kereta terdengar memenuhi sekitar perlintasan.
Begitu kereta terakhir melewati perlintasan, penjaga kembali membuka palang pintu perlintasan. Kendaraan yang sejak tadi menunggu mulai bergerak. Beberapa menit kemudian, rutinitas yang sama kembali terjadi ketika kereta berikutnya akan melintas.
Begitulah keseharian penjaga palang pintu kereta api. Dalam satu hari, mereka harus berulang kali memastikan perlintasan aman sebelum kereta melintas.
Pekerjaan yang terlihat sederhana itu menuntut kewaspadaan karena kesalahan atau keterlambatan beberapa detik dapat berisiko bagi pengguna jalan maupun perjalanan kereta.
Di tengah hingar-bingar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kereta Api Indonesia (KAI), rutinitas tersebut tetap berjalan. Ketika berbagai kegiatan digelar untuk memperingati perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia, para penjaga palang pintu tetap berada di pos masing-masing.
Salah satu penjaga palang pintu kereta api adalah Muhammad Fidiansyah. Dia bertugas di Jalur Perlintasan Langsung (JPL) Krucuk, Kecamatan Kejaksaan, Kota Cirebon, Jawa Barat (Jabar).
Setiap kereta akan melintas, Fidiansyah harus memastikan palang telah tertutup dan kondisi perlintasan aman, sebelum kembali membukanya setelah rangkaian kereta benar-benar berlalu.
Kepada Tirto, Fidiansyah bercerita sudah melaksanakan tugas untuk menjaga palang pintu kereta api sejak tahun 2024 lalu. Berbagai tantangan sudah ia lewati selama kurun waktu 2 tahun masa baktinya.
Setiap hari, dirinya bertugas selama 8 jam untuk mengamankan palang pintu kereta api, ia juga harus menahan rasa jenuh dan kantuk ketika bertugas baik siang maupun malam hari.
“Tantangan utama itu jenuh, karena kita itu selama bertugas handphone harus dimatikan, jadi untuk menghilangkannya kita paling jalan keluar tapi tidak meninggalkan pos dan mengobrol ketika ada teman di sini,” ujarnya lirih, Senin (28/9/2026).
Menantang Maut Melawan Pengendara Egois

Musuh terbesar Fidiansyah bukan sekadar kantuk, melainkan ego dan keliaran para pengguna jalan. Ia mengaku kesal dengan ulah pengendara yang tidak sabaran ketika kereta akan melintas.
Seringkali para pengendara menerobos bahkan sampai menabrak palang pintu kereta api yang sudah tertutup.
“Kadang itu dini hari jam 1 sampai jam 3 pagi ada saja yang nabrak terus palangnya patah, biasanya mereka habis mabuk, biasanya kalau sudah sampai patah itu kita foto pelat nomornya dan laporkan ke atasan kalau bisa kita kejar ya kita kejar,” tuturnya.
Terlebih JPL Krucuk sendiri merupakan perlintasan sebidang, dan dahulu belum dilengkapi palang pintu kereta yang ditempatkan di dua jalur.
Tindakan tersebut memicu banyaknya pengendara sepeda motor yang menerobos dari lawan arah atau crossing saat palang pintu perlintasan sudah tertutup.
Secara teknis, ia mengungkapkan sebelum kedatangan kereta api akan ada simbol rute terlebih dahulu, dan disitulah petugas harus menutup palang pintu kereta api.
“Jadi biasanya 3 menit sebelum kereta datang itu ada genta, yaitu tanda kereta akan datang, dilanjut dengan bunyi rute nah di situ harus kita tutup sesegera mungkin,” paparnya.
Pada HUT ke 81 KAI, Fidiansyah menginginkan KAI dapat memperhatikan kesejahteraan para petugas PJL.
“Kalau gaji memang kita UMR, tapi saya harap lebih diperhatikan lagi, soalnya kita kan sebagai petugas garda terdepan yang mengamankan perjalanan kereta dan masyarakat,” jelasnya.
Potret Buram Penjaga Swadaya Tanpa Sinyal
Jika Fidiansyah masih dinaungi upah minimum, nasib lebih getir harus ditelan oleh Afandi. Ia adalah potret penjaga palang pintu swadaya di Perlintasan Desa Suci, Kabupaten Cirebon.
Afandi bertaruh waktu secara bergilir dengan rekannya setiap dua jam sekali demi menjaga keselamatan warga sekitar. Upahnya? Cuma recehan sukarela dari belas kasihan para pengendara.
“Saya jaga di sini sejak tahun 2020 lalu, jadi setiap hari paling saya jaga itu dia jam, misal dari jam 9 sampai jam 11, nanti ada lagi teman lainnya yang berjaga,” paparnya.
Bukan petugas resmi, Afandi pun tidak memiliki perangkat komunikasi khusus untuk memperoleh informasi kedatangan kereta. Modal utamanya hanyalah secarik kertas jadwal lama dan kepekaan intuisi membaca sinyal visual di rel.
Tak hanya perlintasan kereta api berpalang pintu saja, perlintasan tanpa palang pintu juga tak luput dari pengendara nakal yang nekat menerobos.
“Paling kalau motor-motor diberhentikan itu susah, kalau mobil itu memang rada-rada nurut. Paling kalau kereta masih jauh [pengendara motor] dibiarkan [lewat] kalau sudah dekat ya kita tarik,” jelasnya.
Kendati demikian, pekerjaan Afandi kini mengalami ketidakpastian dikarenakan KAI saat ini sedang membangun 27 gardu perlintasan sebidang baru yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api sesuai dengan perintah Presiden Republik Indonesia.
Pembangunan tersebut berpotensi mengubah sistem penjagaan di sejumlah perlintasan, termasuk keberadaan penjaga swadaya seperti Afandi.
Ia pun meminta KAI memberikan solusi agar pekerjaan yang selama ini dilakukannya tetap dapat dilaksanakan atau memberikan kompensasi apabila nantinya keberadaan penjaga swadaya tidak lagi dibutuhkan.
Ironi Angka Kecelakaan di Jalur Sebidang

Kewaspadaan para penjaga tersebut berhadapan dengan risiko kecelakaan yang masih terjadi di perlintasan sebidang.
Berdasarkan data KAI Daop 3 Cirebon, jumlah kecelakaan kereta api yang ada di perlintasan sebidang sendiri yakni 12 kecelakaan, 9 kasus melibatkan roda dua, dan 3 kasus melibatkan roda empat.
Manager Humas Daop 3 Cirebon, Muhibbudin, mengatakan penjaga pintu perlintasan kereta api merupakan frontliner yang sangat penting bagi perusahaan.
“Karena penjaga pintu perlintasan itu bisa disebut pahlawan keselamatan, tanpa adanya penjaga pintu perlintasan mustahil kecelakaan atau kejadian di perlintasan dapat dihindari,” katanya.
KAI Daop 3 Cirebon sendiri memiliki setidaknya 217 orang penjaga pintu perlintasan kereta api. Sementara untuk jumlah perlintasan sebidang sendiri sebanyak 178 titik, dengan rincian 55 titik yang dijaga oleh petugas KAI, 20 titik yang dijaga oleh petugas dinas perhubungan, 58 titik yang dijaga oleh masyarakat secara swadaya, dan 45 titik yang tidak dilakukan penjagaan.
Jumlah tersebut menunjukkan, tidak seluruh perlintasan sebidang berada dalam sistem penjagaan yang sama. Sebagian dijaga petugas KAI, sebagian lainnya melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat, sementara puluhan titik tidak memiliki penjaga.
KAI juga terus meningkatkan keselamatan dan standar operasional prosedur (SOP) untuk meningkatkan kompetensi para penjaga pintu perlintasan kereta api.
“Wajib sertifikasi, jadi kalau yang belum disertifikasi tidak diperbolehkan bekerja ya, dan sertifikasi itu berlaku selama 5 tahun, setelah 5 tahun akan ada refreshing jadi Diklat ulang,” jelasnya.
Ia memaparkan untuk memastikan kemampuan petugas palang pintu kereta api, sebelum bekerja terdapat on job training terlebih dahulu, setelah itu akan dilakukan diklat oleh DJKA.
Selain itu petugas juga harus menguasai teknik saat dalam keadaan darurat, contohnya adalah adanya kendaraan mogok di pintu perlintasan kereta api.
“Mereka harus cakap untuk menangani hal tersebut, dan mereka sudah dilatih saat diklat,” paparnya.
Bagi para penjaga, bunyi genta, kedatangan kereta, kendaraan yang harus dihentikan, hingga palang yang kembali dibuka merupakan rutinitas yang terus berulang. Namun, dibalik rutinitas tersebut terdapat tanggung jawab untuk memastikan perjalanan kereta dan pengguna jalan tetap berada dalam kondisi aman.
==============
Cirebon Banget adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Cirebon Banget
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































