tirto.id - Adakalanya perjalanan hidup seseorang dapat berubah begitu saja. Tiga tahun lalu, Fayyadh Fadhal Ramlan, sekadar berniat mengabadikan setiap kereta yang melintas di Jalur Perlintasan Langsung (JPL) 165 Cikudapateuh, Jalan Ahmad Yani, tak jauh dari Stasiun Cikudapateuh, Kota Bandung.
Ia amat menyukai kereta. Hampir setiap hari sepulang sekolah dari arah Taman Makam Pahlawan Cikutra, ia mengayuh sepeda menuju perlintasan sebidang tersebut. Saat itu, usia Fayyadh masih 15 tahun, seorang remaja asal Depok yang disarankan orang tuanya melanjutkan sekolah kejuruan di Bandung.
Ia kerap datang pada sore hari untuk mengagumi setiap kereta yang melintas, lalu merekam dan memotretnya. Ketika langit mulai gelap, Fayyadh kembali mengayuh sepeda menuju kawasan Katamso, tempat ia tinggal sementara di rumah saudaranya, beberapa kilometer dari perlintasan Cikudapateuh.

Hari demi hari, sepulang sekolah, ia terus mengulang kegiatan tersebut. Hingga suatu ketika, hujan turun dan ia berteduh di pos penjaga jalur lintasan (PJL).
“Saya disuruh masuk ke sini. Disuguhi minum dan beramah tamah,” ucapnya kepada Tirto saat bertemu di Pos PJL Cikudapateuh, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa (5/5/2026).
Seiring waktu, hubungan Fayyadh dengan para penjaga perlintasan semakin akrab. Ia memang kerap bertemu sejumlah petugas kereta, bukan hanya di perlintasan Cikudapateuh. Setelah hari demi hari berlalu, muncul keinginan dalam dirinya untuk ikut membantu.
“Muncul inisiatif turun ke jalan. Dahulu belum pakai tali. Masih pakai lampu oren buat parkir, buat menghalangi orang yang mau menerobos jalur. Tapi orang KAI menyarankan pakai tali yang lebih kuat. Saya nggak pakai rapia lagi, tapi tali tambang,” sambungnya.
Di sisi lain, ia juga merasa resah dengan perilaku pengendara motor yang melanggar aturan lalu lintas. Banyak pengendara tak sabar lalu nekat memutar arah kendaraan secara sembarangan. Kondisi itu terjadi karena tidak adanya palang pintu yang menutup arus lalu lintas dari jalur berlawanan.
Saat Tirto berada di JPL 165 Ahmad Yani, arus lalu lintas menuju Pasar Kosambi maupun arah sebaliknya tampak selalu ramai. Masing-masing jalur hanya memiliki satu palang pintu rel kereta, sementara jalur dari arah berlawanan tidak memiliki palang sama sekali.
Akibat perlintasan yang hanya tertutup setengah, pengendara yang tidak sabar kerap nekat melawan arah dan menerobos rel kereta.
Sambutan dan Cemoohan
Bunyi bel penanda kereta melintas terdengar nyaring dari dalam pos. Tirto mempersilakan Fayyadh menjalankan tugasnya di tengah sesi wawancara. Ia mengangguk lalu bersiap memasang penghalang bagi para pengendara bandel tersebut.
Namun sebelum itu, ia mengambil topi pet yang menggantung di dekat pintu pos. “Pakai aja ini topi. Buat kenang-kenangan, sekaligus penghargaan juga,” ucapnya menirukan perkataan seorang petugas saat memberinya topi ala masinis tersebut.
Dari pos penjaga, ia berjalan perlahan menuju area perlintasan sambil membawa sebatang bambu dengan tali tambang yang telah terpasang pada sebuah tiang. Tali itu kemudian dibentangkan. Para pelanggar lalu lintas pun langsung terhalang.
“Pernah ditanya petugas, ‘mau ngapain?’ Saya jawab, ‘enggak apa-apa, cuma ingin bantu.’ Petugas bilang supaya berhati-hati,” cerita Fayyadh saat memutuskan menjadi relawan penjaga perlintasan rel kereta.

Berbeda dengan sambutan hangat dari para petugas penjaga perlintasan, para pengendara bandel justru lebih banyak mencemooh tindakan Fayyadh. Bahkan beberapa kali ia nyaris tertabrak akibat pengendara yang nekat menerobos rel kereta. Namun hal itu tidak membuatnya kapok. Baginya, ini soal keselamatan.
Meski demikian, ada pula sejumlah pengendara yang menaruh hormat kepadanya. Tak jarang mereka memberinya uang jajan atau makanan.
“Pengendara lawan arah banyak yang bandel. Waktu saya tutup juga sudah beberapa kali dikasarin. Saya bodo amat. Yang penting demi keselamatan,” tegas pemuda yang kini berusia 18 tahun itu.
Tiga tahun telah berlalu, dan ia masih bertahan dengan kecintaannya terhadap kereta api serta aktivitas sukarela yang dijalaninya. “Besok hari kelulusan saya, kang,” ungkapnya sumringah.
Bekerja Dahulu, Kuliah Perkeretaapian Kemudian
Sejak kecil, Fayyadh bercita-cita menjadi seorang masinis. Seolah ada sesuatu yang istimewa ketika ia membayangkan dirinya bisa mengendarai transportasi yang sangat disukainya itu. Kecintaannya terhadap kereta bahkan sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Asli, kang. Enggak bisa ngejelasin kenapa bisa suka kereta. Kendaraan yang lebih keren juga banyak, ya? Tapi enggak tahu, soal cinta memang susah dijelasin,” celetuknya sebelum kembali berjalan untuk menutup perlintasan dengan tali tambang.
Pada momen itu, ia berdiri di tengah median jalan sambil memegang bambu dan melambaikan tangan kepada masinis yang melintas. Setelah selesai, ia kembali ke pos penjaga perlintasan.
“Lumayan banyak [kereta yang melintas], kang. Sekitar 90-an. Itu udah seharian dari pagi sampai ketemu pagi lagi,” jawabnya saat ditanya jumlah kereta yang melintas setiap hari.
Kini, Fayyadh telah lulus dari SMK jurusan mesin. Namun, ia masih menahan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ia memilih bekerja terlebih dahulu, mengumpulkan uang, lalu mencoba mendaftar kuliah dengan hasil jerih payahnya sendiri.
“Lanjut kuliah mah pengen. Kuliah ke Politeknik Perkeretaapian Indonesia. Pengen ke sana karena kalau masuk bisa langsung jadi pegawai, enggak perlu nunggu rekrutmen,” ucap Fayyadh.
“Tapi balik lagi soal kemampuan orang tua. Nanti insyaallah kalau sudah kerja dan punya uang, mungkin bakal kepikiran daftar kuliah ke sana. Kalau ada beasiswa juga, insyaallah saya ambil,” lanjutnya sambil bersiap memasang tali tambang.

Rawan Perlintasan Sebidang di Bandung
Komunitas Edan Sepur Indonesia Daerah 2 Bandung mencatat terdapat 34.210 pelanggaran selama kegiatan Disiplin Perlintasan di Kota Bandung sepanjang 2025.
Dibandingkan tahun 2024, angka tersebut memang menurun dari sebelumnya 38.735 pelanggaran. Namun, Koordinator Daerah Edan Sepur Bandung, Abdullah Putra Gandhara, menyebut angkanya cenderung stabil meski terjadi penurunan.
“Potensi insiden temperan masih tetap terjadi,” ujar Aghaa, sapaan akrabnya, saat dihubungi Tirto, Senin (4/5/2026).
Sementara itu, data pelanggaran di perlintasan sebidang kereta api di Bandung menunjukkan pola yang konsisten. Tahun 2023 menjadi periode dengan lonjakan pelanggaran paling mencolok dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Temuan komunitas Edan Sepur Bandung sepanjang 2018–2025 memperlihatkan adanya peningkatan pelanggaran di sejumlah titik pemantauan, mulai dari Andir hingga Kiaracondong.
Lonjakan tertinggi tercatat di JPL 169 Stasiun Kiaracondong. Pada 2018, jumlah pelanggaran berada di kisaran 21 ribu kasus, lalu menurun hingga sekitar 10 ribu kasus pada 2020–2021.
Namun angka itu kembali meningkat pada 2022 dan mencapai hampir 20 ribu kasus pada 2023. Setelahnya, tren kembali menurun menjadi sekitar 18 ribu kasus pada 2024 dan 13 ribu kasus pada 2025.
Adapun kondisi di JPL 165 Stasiun Cikudapateuh menunjukkan pola yang lebih landai. Setelah berada di kisaran 3 ribu kasus pada 2020, jumlah pelanggaran meningkat hingga sekitar 6.800 kasus pada 2023, lalu kembali turun ke sekitar 5 ribu kasus pada 2024–2025.
“Sebenernya lebih ke pemerintah dan aparat penegak hukum seperti kepolisian. Dari sisi pemerintah, perlengkapan jalan seperti rambu, marka jalan, juga alat keselamatan seperti palang pintu harus dilengkapi,” kata Aghaa.
Menurutnya, secara ideal JPL 165 Stasiun Cikudapateuh seharusnya memiliki empat palang pintu untuk menutup arus kendaraan dari arah berlawanan, seperti yang telah diterapkan di kota lain.
“Iya, harusnya kayak di Cirebon sudah empat palang. Itu salah satu faktornya. Sebenarnya palang pintu itu alat bantu untuk mengamankan perjalanan kereta api,” imbuhnya.

Ia juga meminta aparat kepolisian lebih rutin memantau lokasi PJL guna menertibkan arus lalu lintas dan melakukan penegakan hukum, baik melalui tilang manual maupun ETLE yang saat ini diterapkan Korlantas Polri.
Meski demikian, ia menilai Pemerintah Kota Bandung sejauh ini sudah berupaya melengkapi fasilitas perlengkapan jalan di seluruh perlintasan sebidang. Walau masih ada kekurangan, menurutnya, hal itu bisa dipengaruhi keterbatasan anggaran maupun kendala birokrasi daerah.
“Dan memang ada perlintasan yang dijaga KAI, ada juga yang dijaga Dishub. Persoalan birokrasi seperti itu terjadi di banyak daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Tirto sempat menghubungi Humas Daop 2 Bandung, Kuswardojo, untuk meminta wawancara terkait persoalan perlintasan sebidang kereta di Kota Bandung. Namun hingga berita ini selesai ditulis, Tirto belum menerima tanggapan.
Penutupan dan Jumlah Perlintasan Sebidang Saat Ini
Berdasarkan keterangan KAI Daop 2 Bandung, saat ini terdapat 342 perlintasan sebidang. Sebanyak 115 di antaranya memiliki palang pintu resmi dan dijaga petugas, sementara sisanya merupakan perlintasan tidak dijaga yang tersebar di berbagai wilayah.
“Perlintasan yang memiliki palang pintu resmi adalah perlintasan yang telah dilengkapi palang pintu, rambu-rambu, pos penjagaan, serta dioperasikan oleh petugas penjaga perlintasan bersertifikat,” demikian keterangan resmi yang diterima Tirto.
KAI Daop 2 Bandung juga mengklaim telah menutup 29 perlintasan sebidang tidak terjaga sepanjang 2025 sebagai langkah meminimalkan potensi kecelakaan di jalur kereta api.
“Sedangkan pada tahun 2026 sampai April, KAI Daop 2 Bandung telah melakukan penutupan sebanyak sembilan perlintasan tidak terjaga di seluruh wilayah Daop 2 Bandung,” tulis keterangan tersebut.
Data terbaru menunjukkan, wilayah Daop 2 Bandung memiliki total 342 perlintasan sebidang. Sebanyak 115 perlintasan memiliki palang pintu resmi, sedangkan 227 lainnya belum dijaga secara resmi, meski sebagian dijaga secara swadaya oleh masyarakat setempat.
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id
































