Menuju konten utama

Alasan KA Argo Bromo Anggrek Ganti Nama Jadi KA Anggrek

PT KAI mengubah nama KA Argo Bromo Anggrek menjadi KA Anggrek. Hal ini dilakukan dalam rangka "rebranding" (perbaruan identitas merek).

Alasan KA Argo Bromo Anggrek Ganti Nama Jadi KA Anggrek
Peluncuran Kereta Sleeper pada KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Gambir. FOTO/kai.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengumumkan jika mulai 9 Mei 2026, layanan kereta api yang sebelumnya dikenal sebagai KA Argo Bromo Anggrek resmi berganti nama menjadi KA Anggrek. Simak sejarah kereta api ini mulai awal beroperasi hingga tragedi kecelakaan maut.

Menurut PT KAI, perubahan ini bukan hanya sekadar pergantian nama, namun juga menjadi bagian dari pembaruan citra layanan yang menekankan semangat baru dalam menghadirkan perjalanan yang lebih modern, nyaman, dan tetap andal bagi para penumpang.

KA Anggrek tetap mempertahankan rute andalan yang menghubungkan kota-kota penting, sehingga perannya sebagai salah satu layanan kereta jarak jauh tetap tidak berubah.

Meski terjadi rebranding, jadwal keberangkatan, kelas layanan, serta fasilitas yang sudah dipilih oleh penumpang tidak mengalami perubahan, sehingga tiket yang sudah dibeli untuk KA Argo Bromo Anggrek tetap dapat digunakan pada KA Anggrek sesuai ketentuan sebelumnya.

Sejarah KA Argo Bromo Anggrek Sebelum Berganti Nama Menjadi KA Anggrek

KA Argo Bromo Anggrek merupakan salah satu layanan kereta api eksekutif unggulan di Indonesia yang dioperasikan oleh Kereta Api Indonesia dengan relasi Surabaya Pasarturi–Gambir melalui lintas utara Pulau Jawa.

Mengutip Wikipedia dan laman resmi PT INKA, KA Argo Bromo Anggrek resmi diluncurkan pada 24 September 1997 sebagai pengembangan dari layanan sebelumnya, yaitu KA Argo Bromo. Hal ini dilakukan dalam rangka peningkatan kecepatan dan kenyamanan perjalanan antarkota jarak jauh.

Nama “Argo Bromo Anggrek” berasal dari dua unsur simbolik, yaitu Gunung Bromo yang merepresentasikan kekuatan alam dan ikon wisata Jawa Timur, serta bunga anggrek (Orchidaceae) yang melambangkan keindahan dan keanggunan khas Indonesia.

Sejak awal pengoperasiannya, kereta ini menjadi simbol modernisasi transportasi perkeretaapian karena menggunakan rangkaian eksekutif buatan PT INKA dengan teknologi bogie CL243 bolsterless (K9) hasil kerja sama dengan Alstom yang memungkinkan kecepatan hingga 120 km/jam dengan kenyamanan lebih stabil.

Gagasan awal pengembangan kereta cepat eksekutif di Indonesia berawal dari konsep yang diperkenalkan pada awal 1990-an untuk menghadirkan perjalanan Jakarta–Surabaya dalam waktu sekitar 9 jam sebagai bagian dari visi “JS950”, yang kemudian menjadi dasar pengembangan layanan Argo Bromo.

Dalam prosesnya, Perumka (cikal bakal KAI) bersama PT INKA dan Balai Yasa Manggarai mengembangkan sarana kereta dengan teknologi yang lebih maju, termasuk tempat duduk ergonomis, pintu elektrik, dan sistem suspensi modern yang terinspirasi dari sistem kereta cepat dunia seperti Shinkansen dan TGV.

Sebelum lahirnya Argo Bromo Anggrek, sempat dioperasikan KA Argo Bromo JS950 pada tahun 1995 yang kemudian dihentikan pada awal 2000-an dan dialihkan ke layanan lain seperti KA Bima akibat kebijakan rasionalisasi operasional.

Seiring waktu, KA Argo Bromo Anggrek mengalami berbagai perkembangan signifikan, mulai dari peningkatan fasilitas hingga modernisasi rangkaian. Pada awal 2000-an, kereta ini sempat mengalami berbagai insiden operasional dan kendala teknis yang berkaitan dengan bogie K9 yang sensitif terhadap kondisi rel, sehingga dilakukan perbaikan dan re-engineering oleh INKA.

Modernisasi besar kembali dilakukan pada dekade 2010-an dengan peningkatan interior, sistem pintu, serta penambahan kelas layanan seperti Luxury dan kemudian Compartment Suite yang diperkenalkan pada 2025.

Selain itu, sejak 2019 kereta ini mulai menggunakan rangkaian stainless steel generasi baru buatan INKA, menjadikannya salah satu layanan premium di lintas utara Jawa.

Dalam operasionalnya, KA Argo Bromo Anggrek melayani rute utama stasiun Gambir–Cirebon–Semarang Tawang–Surabaya Pasarturi dengan waktu tempuh sekitar 7 jam 45 menit setelah berbagai peningkatan kecepatan dan pengurangan pemberhentian.

Kereta ini juga mengalami sejumlah perubahan pola operasi, termasuk penghapusan beberapa pemberhentian untuk mempercepat waktu tempuh serta peningkatan kecepatan maksimum hingga 120 km/jam.

Namun demikian, perjalanan panjangnya juga diwarnai berbagai insiden seperti tabrakan, anjlokan, dan kecelakaan.

Pada 27 April 2026 pukul 20.57 WIB di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, ketika rangkaian KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasarturi terlibat tabrakan dengan Commuter Line Cikarang. Peristiwa ini menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka.

Kejadian lain terjadi beberapa hari setelahnya, yakni pada 1 Mei 2026 pukul 02.52 WIB di perlintasan sebidang tanpa rambu di Desa Tuko, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Dalam kejadian ini, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju arah Surabaya menabrak sebuah minibus Toyota Avanza yang mengangkut rombongan pengantar jemaah haji. Benturan keras menyebabkan kendaraan ringsek parah dan mengakibatkan empat orang meninggal dunia di tempat, sedangkan lima lainnya mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis.

Seolah ingin memulai lembaran baru, pada 5 Mei 2026, PT KAI melalui unggahan di IG @kai121_ mengumumkan pergantian nama KA Argo Bromo Anggrek menjadi KA Anggrek per 9 Mei 2026.

Baca juga artikel terkait KERETA API atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra