tirto.id - Dunia otomotif adalah dunia yang kelewat maskulin. Ini bukan sekadar asumsi, melainkan fakta tak terelakkan yang bisa didukung lewat data.
Meskipun separuh tenaga kerja di muka Bumi ini merupakan perempuan, mereka masih jadi minoritas di industri otomotif. Per survei Deloitte pada 2023, persentase pekerja perempuan di industri tersebut hanyalah 24 persen.
Di level eksekutif, angkanya lebih kecil lagi. Meski ada sosok-sosok seperti Karin Radstrom yang memimpin Daimler Truck serta Mary Barra yang memegang kendali atas General Motors, menurut survei itu, persentase eksekutif perempuan di dunia otomotif hanya mencapai 16 persen. Sudah begitu, berdasarkan temuan Deloitte pada 2025, upaya inklusi perempuan juga dinilai mengalami stagnasi.
Selain soal tenaga kerja, soal bagaimana mobil dipasarkan juga dinilai bias gender. Survei Autotrader di Inggris Raya menemukan bahwa 73 persen responden merasa iklan mobil terjebak pada stereotipe gender, khususnya mobil sport mewah, SUV, dan merek-merek premium.
Ini belum termasuk soal desain mobil. New York Times melaporkan bahwa di Amerika Serikat (AS) kemungkinan perempuan mengalami cedera parah pada kecelakaan mobil 73 persen lebih tinggi dibanding laki-laki. Risiko kematian mereka juga lebih besar 17 persen. Alasan utamanya? Uji keselamatan mobil tidak mempertimbangkan perempuan lantaran dummy yang digunakan, secara anatomis, berbentuk seperti laki-laki.
Rentetan bias gender ini bisa dibilang sangat "aneh" karena, faktanya, mobil adalah barang yang seharusnya tidak mengenal gender atau jenis kelamin. Bahkan, di AS, jumlah pengendara mobil perempuan yang memiliki SIM sudah lebih banyak dibanding laki-laki. Perempuan juga punya pengaruh besar dalam pembelian mobil, di mana 89 persen keputusan pembelian mobil dalam sebuah rumah tangga ditentukan oleh perempuan.
Dari sini, bisa disimpulkan bahwa ada disproporsi yang cukup kentara. Dari sisi konsumen, perempuan sudah punya kekuatan yang sangat besar, bahkan dalam hal tertentu bisa dianggap sebagai kekuatan dominan. Akan tetapi, di sisi lain, produk yang mereka pakai sehari-hari masih amat laki-laki-sentris.
General Motors Berusaha Menyudahi Kekonyolan
Sejatinya, kesadaran akan ketimpangan ini bukan barang baru. Sudah lebih dari seabad lamanya, industri otomotif sesekali "ingat" bahwa perempuan itu ada. Mereka juga sudah berusaha merespons dengan caranya sendiri. Sayangnya, upaya-upaya itu acap kali gagal karena, sekali lagi, yang membuat keputusan kebanyakan adalah laki-laki.
Ambil contoh mobil listrik era awal abad ke-20. Ya, ketika itu sebenarnya mobil listrik sudah sangat populer, sebelum akhirnya kalah bersaing dan akhirnya bangkit lagi belakangan ini. Mobil listrik pada era itu sempat dipasarkan sebagai "mobil perempuan". Akan tetapi, awalnya tidak seperti ini. Bahkan, pergeseran mobil listrik jadi "mobil perempuan" itu lebih pas disebut sebagai afterthought.
Menurut temuan sejarawan Universitas Lund, Josef Taalbi, mobil listrik mulanya dipasarkan sebagai mobilnya kepala keluarga, yang tak lain adalah laki-laki. Sementara itu, mobil dengan mesin pembakaran dalam waktu itu lebih lekat dengan citra petualang, yang tidak cocok dengan kebutuhan para kepala keluarga.
Akan tetapi, kemudian lahirlah Ford Model T, mobil dengan mesin berpembakaran dalam yang murah, tahan banting, dan diproduksi dalam jumlah besar. Lahirnya mobil ini menjadi titik balik krusial dalam perjalanan industri otomotif karena mulai dari sinilah mobil listrik mengalami kemunduran.
Nah, ketika mobil listrik sudah mulai tidak laku, barulah mereka dipasarkan secara masif sebagai "mobil perempuan". Persentasenya, ketika mobil listrik masih populer, hanya 22 persen yang dipasarkan kepada perempuan. Lalu, ketika mobil listrik mulai kalah saing, angka penawarannya melonjak jadi 77 persen.
Alasannya sama dengan mengapa sebelum itu, kurang lebih antara 1900 dan 1904, mobil listrik dipasarkan untuk kepala keluarga atau pebisnis. Yakni, karena mobil listrik lebih minim perawatan dan tidak rewel. Hanya saja, promosinya sedikit berbeda. Jika untuk laki-laki mobil itu disebut "bisa diandalkan" dan "cocok untuk keperluan bisnis", untuk perempuan mereka dipasarkan dengan kata-kata "aman" dan "mudah digunakan". Mati surinya mobil listrik setelah itu menunjukkan bahwa upaya menjual "mobil perempuan" tadi jauh dari kata berhasil.
Hampir enam dasawarsa berselang, FIAT menjajal cara serupa lewat Panda Mamy, sementara Honda punya Fit She's Edition untuk pasar domestik Jepang. Keduanya melakukan kesalahan yang persis sama dengan Dodge, yaitu mengecat mobil dengan warna yang dianggap "feminin", menambahkan motif-motif cantik, lalu menganggap tugas mereka sudah selesai. Langkah kedua pabrikan ini bisa dibilang konyol karena sebelum itu sudah ada dua jenama yang berusaha melakukan pendekatan "untuk perempuan" dengan tepat.
Yang pertama adalah General Motors (GM). Pada 2002, ketika riset pasar GM menunjukkan bahwa perempuan menguasai 50 persen segmen truk full-size dan memengaruhi 85 persen keputusan pembelian, direktur lini kendaraan GM, Mary Sipes, merancang sesi bernama "Mr. Mom".
Seratus insinyur laki-laki dibawa ke Milford Proving Grounds mengenakan sepatu hak tinggi ukuran 12, rok dari kantong sampah, sarung tangan dengan kuku palsu, sembari membawa tas tangan, bayi-bayian, dan stroller (kereta dorong bayi). Mereka diharuskan memasukkan bayi ke kursi mobil, melipat stroller, membuka liftgate, memasukkan belanjaan, lalu berjalan mengelilingi mobil dan masuk ke kabin tanpa memakai running board, semua sambil menjaga kuku palsu mereka tidak patah.
Hasilnya, setelah sesi itu, running board yang bisa ditarik masuk kini jadi fitur standar di semua SUV besar GM. Konsol tengah yang cukup besar untuk menampung tas tangan juga merupakan hasil langsung dari eksperimen ini. Sesi yang dipimpin seorang perempuan akhirnya membuahkan hasil yang konkret untuk perempuan pula.
Langkah Volvo yang Mengagumkan
Jika langkah GM itu sudah bisa dibilang baik, apa yang dilakukan Volvo lebih mengagumkan lagi. Pada 2004, pabrikan asal Swedia itu pernah merilis sebuah mobil konsep yang sepenuhnya didesain oleh perempuan. Namanya Volvo YCC, alias Your Concept Car.
Semua bermula pada musim gugur 2001, ketika Marti Barletta, pakar pola konsumsi perempuan asal Amerika Serikat, berkunjung ke markas Volvo di Gothenburg, Swedia, untuk memberi serangkaian lokakarya. Barletta melontarkan satu tesis yang kelak jadi pegangan proyek ini: Jika Anda mampu memenuhi ekspektasi perempuan, Anda otomatis akan melampaui ekspektasi laki-laki.
Camilla Palmertz, salah satu insinyur biomekanik Volvo yang hadir dalam lokakarya itu, bersama beberapa koleganya, kepincut dengan gagasan tersebut. Mereka lantas menggodok ide sederhana namun radikal. Bagaimana jika sebuah tim yang seluruhnya terdiri dari perempuan merancang sebuah mobil dari nol?
Pada Juni 2002, Palmertz dkk. membawa gagasan itu ke hadapan Hans-Olov Olsson, Presiden sekaligus CEO Volvo Car Corporation kala itu. Alih-alih skeptis, Olsson menyambutnya dengan antusias. Alasannya masuk akal secara bisnis. Di Amerika Serikat, 54 persen pembeli Volvo adalah perempuan, dan angka serupa di Eropa terus merangkak naik.
Proyek ini resmi mendapat lampu hijau dari Tim Manajemen Volvo Cars pada Desember 2002. Sembilan perempuan Volvo, dengan latar belakang yang beragam mulai dari teknik biomekanik, aerodinamika, hingga desain warna dan tekstil, membentuk tim inti proyek ini.

Palmertz dan Eva-Lisa Andersson menjabat sebagai manajer proyek, Elna Holmberg mengepalai pengembangan teknis, Maria Widell Christiansen memimpin desain, sementara Anna Rosén (desain eksterior), Cynthia Charwick (desain interior), dan Maria Uggla (warna dan trim) menjadi tiga kepala desainer proyek.
Brief yang diberikan kepada tim ini sangat jelas, yaitu merancang mobil yang mampu memuaskan kategori konsumen Volvo paling menuntut, yaitu perempuan profesional yang mandiri di segmen premium.
Dari daftar tuntutan itu, tim YCC menerjemahkannya jadi solusi-solusi yang, kalau dipikir-pikir, sebenarnya masuk akal untuk siapa saja, bukan cuma perempuan. Soal penyimpanan misalnya. Charwick, desainer interior YCC, memindahkan tuas transmisi ke kolom setir dan mengganti rem tangan dengan versi elektronik terintegrasi, sehingga ruang di antara kedua kursi depan yang biasanya dipenuhi tuas dan rem tangan jadi bebas dipakai untuk kompartemen penyimpanan.
Di situ ada kompartemen dangkal untuk kunci, ponsel, dan uang receh yang bisa digeser untuk membuka kompartemen lebih dalam seukuran tas tangan, plus ruang untuk laptop, kotak pendingin, dan tempat sampah kecil. Kursi belakang pun didesain ulang menyerupai kursi bioskop, yang bisa dilipat untuk memaksimalkan ruang bagasi karena tim menemukan bahwa target pasar mereka lebih sering menaruh barang di kursi belakang ketimbang mengangkut penumpang.
Soal kemudahan akses keluar-masuk, YCC memakai pintu gull-wing dengan bentang sayap yang sengaja dibuat pendek, hanya menjulur sekitar 60 sentimeter dari badan mobil ketika terbuka. Ini lebih pendek dari bentang pintu konvensional kebanyakan. Ambang pintu bagian bawah ikut terbuka dan turun ke bawah saat pintu dibuka, sehingga penumpang tidak perlu memanjat naik. Fitur Auto-Open bahkan memungkinkan pintu terbuka otomatis begitu pemilik mobil mendekat sambil membawa banyak barang bawaan.
Dari sisi eksterior, Rosén merancang bagian depan mobil yang lebih rendah dengan fender yang sengaja dibuat terlihat jelas, sementara kaca belakang memanjang hingga ke ujung mobil, sehingga pengemudi bisa mengetahui persis di mana keempat sudut mobilnya berada.
Rangkaian solusi ini akhirnya dipamerkan ke dunia pada Geneva Motor Show, Maret 2004. YCC jadi konsep mobil pertama yang dirancang dari awal hingga akhir oleh tim yang seluruhnya perempuan. Hasilnya, dalam kurun dua tahun pasca-peluncuran, YCC menyedot lebih dari 2,3 juta kolom-kilometer liputan media, sebuah bukti bahwa mobil tersebut memang menyita perhatian publik. YCC juga berkeliling ke lebih dari 20 kota di dunia.
Sepanjang perjalanannya, YCC mampu mengumpulkan banyak penghargaan, mulai dari "The Golden Spark Plug" dari Swedish Automobile Association pada 2003, "Woman of the Year" dari majalah Damernas Värld pada 2004, hingga Swedish Design Award pada 2006. Pada Mei 2005, sembilan perempuan di balik YCC bahkan membawa pulang Torsten och Wanja Söderbergs Pris, salah satu penghargaan desain terbesar di dunia, dengan hadiah 600.000 SEK atau setara 65 ribu dolar AS yang dibagi rata di antara mereka.
Namun, yang membuat YCC benar-benar berbeda dari deretan kegagalan sebelumnya bukan cuma soal siapa yang merancangnya, melainkan bagaimana hasilnya diterima. Dalam polling yang dilakukan Volvo sepanjang dua tahun masa tur YCC, ternyata laki-laki dan perempuan sama-sama menyukai fitur yang sama persis, mulai dari ban run-flat sampai cat yang mudah dibersihkan. Hanya urutan prioritasnya saja yang berbeda. "Yang kami hasilkan adalah mobil untuk semua orang," kata Palmertz.
Kritik dan Tantangan
Tentu saja, tidak semua orang bertepuk tangan. Beberapa fitur YCC, terutama kap mesin yang tidak bisa dibuka manual dan sistem parkir otomatis, sempat dikritik justru oleh sejumlah perempuan sendiri. Menurut para pengkritik, fitur-fitur semacam ini terkesan meremehkan kemampuan mengemudi dan urusan mekanik perempuan.
Keputusan memakai fitur park assist juga sempat jadi perdebatan internal di tim YCC. Christiansen mengaku awalnya ragu justru karena khawatir memperkuat stereotipe "perempuan tidak bisa parkir". Namun, riset yang mereka lakukan sendiri menemukan fakta yang berbeda.

Ternyata, perempuan rata-rata lebih sering parkir dibanding laki-laki, dan lebih sering pula parkir di tempat yang tidak familiar. Kemampuan parkir laki-laki dan perempuan pada dasarnya setara, hanya saja perempuan cenderung kurang percaya diri. Di sisi lain, rasa percaya diri berlebih pada laki-laki justru lebih sering berujung pada mobil penyok.
YCC pada akhirnya tidak pernah diproduksi secara massal karena sedari awal rencananya memang demikian. Volvo menjadikannya sebagai sebuah etalase ide untuk dimasukkan ke mobil-mobil produksi massalnya. Dan ternyata, hasil kerja para pengembang YCC ini amat bermanfaat. Setidaknya 22 fitur dari YCC pada akhirnya diadopsi ke berbagai model produksi Volvo, termasuk Park Assist Pilot.
Selain itu, sebagian besar dari anggota tim pengembang masih menekuni karier di industri otomotif. Ada yang menduduki posisi penting di Volvo dan Polestar, ada pula yang menjadi kepala desainer di Lynk & Co. Singkat kata, YCC adalah bukti absolut kompetensi perempuan di industri otomotif.
Sayangnya, kembali ke temuan terbaru dari Deloitte di awal, persentase pekerja perempuan di industri otomotif saat ini terbilang kecil, bahkan upaya inklusi pun mengalami stagnasi. Rupanya, masih ada banyak penghalang bagi perempuan untuk terlibat langsung di dunia tersebut, mulai dari minimnya fleksibilitas untuk perempuan yang sudah menjadi ibu, kurangnya kesempatan promosi, perbedaan gaji dengan laki-laki, hingga ketidakjelasan metriks keberhasilan program inklusi itu sendiri.
Ini adalah pekerjaan rumah besar yang dimiliki industri otomotif. Keberhasilan Volvo YCC mestinya jadi indikator bahwa perempuan tidak kalah kompeten ketimbang laki-laki. Mobil konsep tersebut mampu memenuhi ekspektasi perempuan sekaligus memenuhi keinginan para laki-laki. Artinya, input dari para perempuan semestinya sudah jadi barang wajib dalam proses produksi mobil. Sekarang, tinggal bagaimana industri memberikan ruang yang aman, nyaman, dan layak bagi perempuan.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





























