Menuju konten utama

Profil Syahganda Nainggolan Kepala Bakom yang Baru

Syahganda Nainggolan resmi dilantik Prabowo sebagai Kepala Bakom RI. Simak profil, pendidikan, karier politik, hingga rekam jejaknya.

Profil Syahganda Nainggolan Kepala Bakom yang Baru
Presiden Prabowo Subianto melantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). /Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto melantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Pengangkatan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 106P Tahun 2026. Dalam pelantikan yang dipimpin langsung Prabowo tersebut, Fadli Tri Hartono juga dilantik sebagai Wakil Kepala Bakom untuk mendampingi Syahganda.

Nama Syahganda bukan sosok baru dalam dunia politik dan aktivisme Indonesia. Ia dikenal sebagai Ketua GREAT Institute dan kerap tampil dalam berbagai forum diskusi politik. Syahganda mendapat penugasan baru sebagai Kepala Bakom RI menggantikan Muhammad Qodari.

Profil Syahganda Nainggolan

Syahganda Nainggolan, M.T. lahir di Medan, Sumatra Utara, pada 27 November 1965. Ia telah terlibat dalam berbagai dinamika politik Indonesia sejak era Orde Baru hingga pemerintahan Prabowo Subianto.

Kiprahnya di ruang publik bermula ketika menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1984. Saat itu, ia mengambil bidang Geodesi dan aktif dalam forum kelompok diskusi MSC (Mahasiswa Student Center) ITB.

Aktivitas politiknya yang menentang pemerintahan Orde Baru membuatnya dikeluarkan dari ITB dan kemudian sempat menjalani hukuman penjara selama 10 bulan. Setelah itu, Syahganda melanjutkan pendidikan sarjananya di perguruan tinggi swasta, sebelum kembali ke ITB untuk menempuh pendidikan magister Program Studi Pembangunan yang diselesaikannya pada 2005.

Pendidikan Syahganda berlanjut hingga jenjang doktoral di Universitas Indonesia. Pada 2015, ia meraih gelar doktor dari Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI.

Selain aktif dalam kegiatan politik dan kajian kebijakan, Syahganda juga tercatat aktif di dunia akademik. Sejak 2016, ia menjadi dosen pada Jurusan Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta.

Syahganda telah terlibat dalam sejumlah organisasi dan partai. Pada era Reformasi, ia menjadi salah satu motor Partai Daulat Rakyat (PDR) bersama Adi Sasono. Ia kemudian keluar dari PDR dan mendirikan Partai Merdeka untuk mengikuti Pemilu 1999.

Syahganda juga pernah menjadi calon anggota legislatif dari Partai Merdeka untuk daerah pemilihan Tangerang. Dalam perjalanan berikutnya, ia bergabung dengan Partai Golkar dan menjadi calon anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Barat V pada Pemilu 2009, meskipun tidak berhasil memperoleh kursi di parlemen.

Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Syahganda juga disebut menjadi salah satu anggota tim sukses pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dan kemudian pernah menduduki posisi Komisaris PT Pelindo II.

Selain politik praktis, Syahganda membangun kiprah melalui lembaga kajian kebijakan publik. Pada 2010, ia mendirikan Sabang Merauke Circle (SMC), yang bergerak dalam kajian kebijakan publik.

Ia juga pernah menjadi Executive Director Center for Information and Development Studies (CIDES) serta terlibat sebagai staf khusus di sejumlah lembaga.

Pada 2020 ia menjadi salah satu tokoh dalam Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang dideklarasikan pada Agustus tahun tersebut. Bersama sejumlah tokoh seperti Din Syamsuddin dan Gatot Nurmantyo, ia aktif dalam koalisi tersebut dan didapuk sebagai bagian dari Komite Kerja (Komja).

KAMI saat itu menyuarakan berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah, termasuk penolakan terhadap Omnibus Law atau UU Cipta Kerja. Pada tahun yang sama, Syahganda ditangkap setelah unggahannya di media sosial dinilai menimbulkan keonaran dan ia bersama sejumlah orang lainnya disebut menghasut hingga terjadi kericuhan dalam demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja.

Pengadilan Negeri Depok kemudian menjatuhkan hukuman 10 bulan kurungan penjara kepadanya. Syahganda menjalani masa penahanan dan kemudian bebas dari Rumah Tahanan Bareskrim Polri pada Agustus 2021.

Setelah itu, Syahganda tetap aktif di ruang publik melalui kegiatan kajian, diskusi, media berita, dan platform media sosial. Ia dikenal sebagai Ketua GREAT Institute dan kerap tampil dalam berbagai forum untuk membahas persoalan ekonomi, teknologi, politik, serta kebijakan publik.

Pada Jumat, 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI di Istana Negara, Jakarta.

Syahganda menggantikan Muhammad Qodari yang kemudian ditunjuk Prabowo sebagai Sekretaris sekaligus anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Baca juga artikel terkait RESHUFFLE KABINET atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra