tirto.id - Suzuki Thunder adalah sepeda motor dari masa lalu. Ia pertama kali diperkenalkan di pasar Indonesia pada akhir dekade 1990-an dan sudah tidak lagi diproduksi lebih dari satu dasawarsa silam. Akan tetapi, dalam beberapa hari terakhir, sepeda motor ini kembali "muncul" di jagat otomotif Tanah Air. Sejumlah SPBU secara terang-terangan melakukan "diskriminasi" terhadap para pemilik sepeda motor tersebut.
Sebelumnya harus dipahami bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Di sejumlah daerah, mulai dari Pulau Sumatra hingga Nusa Tenggara, antrean mengular tampak di sejumlah SPBU, yang mengindikasikan bahwa memang ada problem dalam urusan distribusi BBM.
Masalahnya dimulai dari keputusan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi, Pertamax dan Pertamax Turbo, dari yang sebelumnya berada di kisaran Rp12-13 ribu per liter menjadi Rp16 ribuan per liter. Kenaikan harga yang signifikan ini memaksa banyak konsumen Pertamax dan Pertamax Turbo beralih menggunakan Pertalite yang merupakan BBM subsidi dan harganya masih stabil di angka Rp10 ribu per liter.
Dari sana, jumlah pengguna Pertalite pun melonjak dan inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya antrean-antrean panjang di SPBU. Tak cuma itu, banyak pula SPBU yang akhirnya kehabisan stok Pertalite. Dengan kata lain, BBM jenis ini kini jadi barang yang langka di pasaran dan SPBU-SPBU pun lantas memberlakukan kebijakan khusus untuk memastikan lebih banyak pengguna bisa mendapatkan Pertalite. Salah satu kebijakan khusus tersebut adalah melarang pengguna Suzuki Thunder melakukan pengisian.
Pertamina Patra Niaga, unit usaha Pertamina yang mengurusi distribusi dan penjualan BBM, sudah buka suara terkait larangan tersebut. Menurut Corporate Secretary Roberth M.V. Dumatubun, dari pihaknya tidak ada larangan atau kebijakan apa pun. Namun, dia tak menampik adanya pihak yang memanfaatkan Suzuki Thunder untuk mengeruk keuntungan di tengah situasi sulit.
Pertanyaannya, memangnya ada apa dengan Suzuki Thunder hingga sepeda motor ini secara eksplisit disebut dalam larangan yang diberlakukan sejumlah SPBU?
Jawabannya ada di ukuran tangki. Suzuki mendesain sepeda motor ini supaya bisa digunakan untuk perjalanan jarak jauh, sehingga kapasitas tangkinya pun bisa empat hingga lima kali lebih besar dibanding, katakanlah, skuter matik biasa. Thunder di Indonesia punya dua varian, yaitu 250 cc dan 125 cc, dan keduanya sama-sama memiliki kapasitas tangki hingga 15 liter.
Besarnya kapasitas tangki Thunder itulah yang membuat SPBU-SPBU jadi "memusuhinya". Pertama, kapasitas tangki yang besar berarti waktu pengisian yang lebih lama, sehingga berpotensi membuat antrean makin panjang.

Namun, terlepas dari kontroversi tersebut, ada satu hal yang cukup menarik di sini. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Suzuki Thunder adalah sepeda motor dari masa lalu, tetapi keberadaannya masih cukup signifikan sampai-sampai SPBU harus memberlakukan aturan seperti di atas. Artinya, meski sudah bisa dibilang sepeda motor tua, kemungkinan besar masih ada banyak orang yang menggunakan Thunder.
Kendati mendapat "diskriminasi", ini adalah testamen bagi kualitas dan reliabilitas Suzuki Thunder sebagai sebuah tunggangan. Meski sebagian besarnya diproduksi pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, sepeda motor ini tetap jadi andalan banyak orang di saat putra dari Joko Widodo sudah menjadi wakil presiden.
Jadi, bagaimana sebenarnya kiprah Suzuki Thunder di Tanah Air?
Tangki Jumbo untuk Perjalanan Jauh
PT Indomobil Suzuki International yang belakangan berganti nama menjadi PT Suzuki Indomobil Motor (SIM), pertama kali memproduksi Thunder 250 pada 1999, dengan tujuan menjegal dominasi Honda Tiger, Yamaha Scorpio, dan Kawasaki Eliminator di segmen motor sport. Motor ini sejatinya adalah versi lokal dari Suzuki GSX250 yang dipasarkan secara global.
Sayangnya, momentum peluncurannya kurang tepat. Sebab, pada saat itu motor sport 250 cc masih dianggap barang mewah dengan harga yang cukup tinggi, sementara Indonesia baru saja keluar dari krisis moneter. Kombinasi harga tinggi dan daya beli masyarakat yang belum pulih membuat penjualan Thunder 250 selama dipasarkan di Indonesia tidak bisa dibilang baik.
Namun, Suzuki tak menyerah. Lima tahun berselang, pada 2004, mereka memperkenalkan Thunder "versi ekonomis". Dengan kapasitas mesin 125 cc, mereka bermain di segmen motor sport entry level yang terjangkau, sebuah ceruk pasar yang saat itu belum banyak pemainnya. Dan akhirnya, Thunder 125 pun lebih dikenal luas serta lebih laris dibanding kakaknya.
Desain generasi awal Thunder 125 cukup sederhana, dengan lampu depan bulat, tangki besar yang membulat, dan pelek palang sepuluh berdesain bintang. Sederhana, memang, tapi justru itulah yang membuatnya punya karakter khas motor retro yang mudah dikenali sampai sekarang.
Dari sisi dapur pacu, Thunder 125 mengusung mesin 4-tak SOHC 2 katup berpendingin udara dengan transmisi manual 5 percepatan. Tenaga yang dihasilkan berada di kisaran 11,4 sampai 11,8 PS pada 9.000 rpm, dengan torsi maksimum 9,4 Nm pada 7.500 rpm.
Angka ini memang tidak istimewa untuk ukuran motor sport, tetapi Thunder 125 tetap punya daya tarik tersendiri. Sales & Marketing 2W Department Head PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Teuku Agha, menjelaskan bahwa motor ini memang sengaja dibekali tangki bahan bakar besar untuk mengakomodasi pengendara yang kerap melakukan perjalanan jauh, misalnya para penggemar touring. Bahkan, pada brosur resminya, Suzuki sampai mencantumkan estimasi jarak tempuh Thunder 125 dari Jakarta hingga Tuban, Jawa Timur, hanya dengan satu kali pengisian bahan bakar.
Soal konsumsi bahan bakar, Thunder 125 juga tergolong irit untuk ukuran motor sport, dengan klaim rata-rata konsumsi bisa mencapai 45 kilometer per liter berkat karburator tipe vakum yang digunakannya. Tim redaksi Otomotif pernah menjajal langsung motor ini saat awal peluncurannya dan mencatat konsumsi bahan bakar di kisaran 43 kilometer per liter dalam kondisi jalan campuran, sementara kecepatan maksimumnya mentok di angka 100 kilometer per jam.
Dari sisi ergonomi, Thunder 125 dirancang cukup ramah untuk postur tubuh rata-rata orang Indonesia. Motor ini punya panjang 1.945 mm, lebar 735 mm, dan tinggi 1.110 mm, dengan bobot kosong sekitar 130 kilogram. Posisi berkendaranya juga didesain nyaman, dengan setang lebar dan tinggi, jok empuk dengan posisi duduk rendah, serta pijakan kaki yang diletakkan lebih maju dari titik duduk pengendara, sehingga tubuh tidak cepat lelah meski menempuh perjalanan jauh.
Sepanjang masa produksinya, Thunder 125 mengalami beberapa kali pembaruan. Generasi pertama pada 2004 hadir tanpa kick starter dan hanya mengandalkan starter elektrik, sebuah kekurangan yang cukup terasa ketika aki motor mulai soak. Baru pada 2006, Suzuki menambahkan kick starter sebagai respons atas kebutuhan konsumen, sekaligus melakukan pembaruan pada desain striping dan panel speedometer.
Pembaruan berikutnya datang pada 2008, ketika Thunder 125 mendapat sentuhan undercowl dan striping baru yang membuat tampilannya terkesan lebih modern. Di generasi ini pula Suzuki menyematkan teknologi PAIR atau Pulse Secondary Air Injection System, yang membuat emisi gas buangnya menjadi lebih bersih dan sudah menyesuaikan standar Euro II.

Perubahan paling signifikan terjadi pada 2011, saat Thunder 125 tampil dengan wajah yang lebih sporty tanpa meninggalkan sepenuhnya kesan klasiknya. Pelek baru, spion krom, tutup tangki yang kini rata alih-alih menonjol, desain knalpot baru, serta panel instrumen yang memadukan tampilan analog dan digital menjadi beberapa pembaruan di generasi terakhir ini. Dari sisi mesin, generasi ini juga sudah dilengkapi engine balancer sehingga getaran mesin terasa lebih halus, baik saat langsam maupun saat digeber.
Secara resmi, kisah Thunder 125 di Indonesia berakhir pada 2015 ketika PT SIS menghentikan produksinya. Namun, motor ini sejak lama sudah dikenal bandel, sehingga meski dulu kerap diisi bensin Premium beroktan rendah sekalipun, ia tetap awet. Oleh karena itu, tak heran bila sampai sekarang masih banyak Thunder 125 yang berkeliaran di jalanan. Ditambah lagi, harga pasaran sekennya sangat terjangkau, di kisaran Rp5-8 juta.
Pemerintah memberlakukan larangan tersebut supaya semua masyarakat bisa mendapatkan harga BBM dengan harga setara. Namun, praktik di lapangan tidak sesederhana itu, mengingat masih banyak wilayah yang sulit menjangkau SPBU dan akhirnya mengandalkan Pertamini sebagai penyuplai BBM.
Pada akhirnya, lubang dalam distribusi itu pun terus dimanfaatkan para pemilik kios bensin eceran hingga kini. Tak ada jerigen, Thunder pun jadi. Dan tak jarang, para bos Pertamini itu juga memodifikasi tangki motor menjadi "tangki hamil" untuk mendapatkan BBM dengan jumlah yang lebih banyak lagi. Inilah yang akhirnya membuat diskriminasi terhadap Thunder terjadi. Apa yang dulu jadi keuntungan dan daya tarik, kini justru jadi kerugian bagi para pengguna reguler.
Namun, tentu saja, menilai Thunder khususnya yang versi 125 hanya dari reputasinya sebagai "penguras SPBU" tidaklah adil, karena tentu saja tidak semua pengguna Thunder adalah pedagang bensin eceran. Ada pula yang memang sudah memakainya sejak dulu. Ada yang menggunakannya karena menyukai motor dengan desain klasik. Ada pula yang memburunya untuk keperluan modifikasi.
Apa pun itu, Thunder, khususnya yang versi 125, bukan sekadar penguras SPBU. Lebih dari itu, ia adalah kendaraan yang awet, bandel, dan diluncurkan dengan strategi yang tepat. Thunder 125 adalah bukti bahwa dulu Suzuki pernah membuat keputusan jitu dalam menyikapi pasar Indonesia. Dan hingga kini, gebrakan yang sama masih terus dinanti.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id






























