tirto.id - Malam itu, rumah keluarga Kasdullah yang terletak di Karang Tengah, Jakarta Selatan, dihebohkan oleh teriakan Kong Ali yang memanggil-manggil nama kecil Kasdullah. Doel, begitu Kasdullah biasa disapa, baik oleh keluarga maupun kawan-kawannya.
Kong Ali biasanya mampir ke rumah itu untuk sekadar meminta dipijat oleh putrinya, Lela, atau mampir bersama istri barunya, Rodiah. Akan tetapi, dalam sinema elektronik Si Doel Anak Sekolahan, Kong Ali juga digambarkan sebagai sosok yang amat royal dan menyayangi cucu-cucunya. Selain Kasdullah, ada pula Zaitun alias Atun yang sempat diberinya modal untuk membuka salon.
Ya, untuk urusan-urusan produktif seperti ini, Kong Ali memang cekatan. Itulah mengapa dia selalu slek dengan putra bungsunya, Mandra, yang biasanya cuma meminta uang untuk kencan atau modal kawin. Dan malam itu, Kong Ali lagi-lagi menunjukkan dukungannya supaya Doel, si tukang insinyur agar bisa segera mendapat pekerjaan.
Maka, datanglah sang kakek bersama sebuah unit sepeda motor Honda Win 100. Dan benar saja, berkat sepeda motor sakti ini, Kasdullah alias Doel akhirnya mampu mendapatkan pekerjaan. Meski begitu, tak jarang, sepeda motor ini juga menjadi sumber pertengkaran antara Doel dengan Mandra yang menganggap sang ayah pilih kasih.
Perannya yang krusial membuat Honda Win 100 milik Doel jadi salah satu kendaraan paling ikonik dari sinetron Si Doel Anak Sekolahan, selain tentu saja oplet Morris biru kesayangan Sabeni (ayah Doel) dan sedan Mitsubishi Lancer tunggangan Sarah van Heus (istri pertama Doel). Berkat sinetron tersebut, Honda Win 100 pun mengalami sedikit pergeseran citra: dari motor camat, jadi motor Si Doel.
Kok, Motor Camat?
Honda Win 100 pertama kali diperkenalkan pada tahun 1984. Kehadirannya langsung menarik perhatian pemerintah. Ribuan unit diborong untuk dijadikan armada dinas camat, kepala desa, hingga penyuluh pertanian. Menurut GridOto, langkah ini membuat Honda Win cepat dikenal luas meskipun awalnya tidak ditujukan untuk pasar komersial biasa.
Motor ini dibekali mesin 97,2 cc dengan tenaga sekitar 9,2 dk. Konfigurasinya sederhana, masih berpendingin udara, serta masih menggunakan karburator. Namun, justru kesederhanaan inilah yang membuatnya istimewa. Berkat itu, Honda Win jadi dikenal irit, mudah dirawat, dan sanggup diajak menempuh jarak jauh di medan sulit.
Desainnya pun khas. Bodinya ramping, joknya lurus panjang, dengan posisi berkendara tegak. Kombinasi ini membuat Win nyaman dipakai seharian penuh di jalanan desa yang belum mulus. Di mata masyarakat, motor ini identik dengan aparat berseragam yang berkeliling lapangan. Tidak heran bila kemudian masyarakat menjulukinya “motor camat”, karena keberadaannya begitu lekat dengan birokrasi di tingkat desa.
Popularitasnya kian mengakar sepanjang dekade 1980–1990-an. Suku cadangnya murah dan tersedia di mana-mana. Sudah begitu, mekanik-mekanik pinggir jalan pun dapat dengan mudah menyervis atau memperbaikinya. Dengan biaya operasional rendah, motor ini pun sungguh-sungguh dapat diandalkan hingga ke pelosok.
Dari popularitas ini, citra yang terbentuk pun jadi demikian mengakar. Bahkan setelah masa dinasnya usai, Honda Win tetap dikenang sebagai motor kerja yang bisa diandalkan. Dari sinilah citra Honda Win terbentuk: motor bapak-bapak, motor kerja, motor yang setia menemani para pejabat lapangan menunaikan tugas mereka.
Dari Motor Camat ke Motor Si Doel
Citra Honda Win 100 perlahan berubah ketika memasuki era 1990-an. Dari motor dinas yang identik dengan pejabat kecamatan, motor ini masuk ke ruang keluarga Indonesia di perkotaan lewat layar kaca.
Serial Si Doel Anak Sekolahan menempatkan Honda Win sebagai bagian penting kehidupan Kasdullah alias Doel. Motor itu dipakai untuk mencari kerja, pergi bekerja, dan mengantar tokoh-tokoh lain—terkadang juga dipinjam Mandra untuk kencan. Ia tampil bukan sebagai simbol status pejabat, melainkan kendaraan sederhana anak Betawi yang berusaha meraih mimpi.

Dampaknya terasa nyata. Masyarakat mulai melihat Win bukan hanya sebagai “motor camat,” tetapi juga “motor Si Doel.” Dari sinetron itu, motor ini mendapat makna baru: motor rakyat kelas pekerja. Ia melambangkan kerja keras, kesederhanaan, dan ketangguhan.
Nilai historisnya semakin kuat ketika terungkap bahwa motor yang dipakai dalam sinetron itu masih ada hingga sekarang. Kompas melaporkan bahwa Honda Win 100 milik Doel masih eksis hingga kini. Bahkan, pelat nomornya masih sama seperti yang tampil di layar televisi tiga dekade lalu.
Berkat sinetron besutan Karnos Film itu, citra Honda Win 100 pun mengalami transformasi. Dari kendaraan dinas yang kaku, menjadi ikon budaya populer yang aksesibel.
Dari Jalan Kotor ke Garasi Kolektor
Produksi Honda Win 100 memang tidak berlangsung selamanya. Setelah menemani masyarakat selama lebih dari dua dekade, motor ini akhirnya dihentikan pada awal 2000-an. Keputusan itu membuat populasinya semakin terbatas.
Namun, bukannya hilang dari peredaran, Honda Win justru masuk ke fase baru: menjadi buruan kolektor. Motor yang dulu dianggap biasa saja kini dicari karena kelangkaan dan nilai historisnya. Otoseken mencatat, permintaan terhadap unit bekas Honda Win 100 meningkat drastis, terutama untuk kondisi orisinil yang masih terjaga.
Harga pasarnya pun melonjak. Saat ini, kisaran harga Honda Win 100 bekas bervariasi tergantung tahun dan kondisi. Untuk model keluaran 1986, harganya berada di antara Rp15 juta hingga Rp16,5 juta. Model 1991 bisa menyentuh Rp18,5 juta, sementara versi awal 2000-an berada di kisaran Rp12,5 juta sampai Rp17 juta. Beberapa model akhir seperti tahun 2004–2005 dipatok antara Rp7,5 juta hingga Rp18 juta. Iklan di OLX juga menunjukkan harga jual antara Rp10 juta hingga Rp25 juta, terutama untuk unit full restorasi dengan surat-surat lengkap.
Tidak berhenti di situ, ada pula kasus ekstrem. GridOto melaporkan bahwa unit New Old Stock (NOS) dengan faktur asli pernah dipatok hingga Rp50 juta. Nilai ini memang tidak masuk akal untuk ukuran motor kerja sederhana, tetapi sahih untuk barang langka dengan nilai kolektibel tinggi.
Salah satu alasan lonjakan harga adalah karena restorasi Win 100 tidak mudah. Seiring waktu, suku cadang orisinil makin sulit ditemukan. Proses mengembalikan motor ke kondisi semula pun menjadi semakin rumit dan mahal. Inilah yang membuat harga Honda Win 100 bekas bisa setara, bahkan melampaui harga motor baru.
Modifikasi Semi-Trail dan Restorasi Orisinil
Kelangkaan Honda Win 100 memunculkan dua arus besar di kalangan pecinta motor klasik: jalur modifikasi dan jalur restorasi.
Di jalur pertama, ada bengkel-bengkel spesialis yang menghidupkan kembali spirit Win dalam bentuk baru. Salah satunya adalah Mosaic Garage, yang dikenal sebagai spesialis konversi Honda Win semi-trail. Basis motor yang dipakai bisa beragam. Umumnya, yang dipakai adalah Honda Verza, tetapi ada pula yang "nekat" menggunakan Honda Karisma.
Hasil ubahanmua tidak sekadar gaya, tapi juga legal untuk dipakai di jalan raya karena Mosaic menyediakan unit lengkap dengan surat-surat resmi. Harga satu unit konversi siap jalan dipatok sekitar Rp22,5 juta. Bagi banyak orang, ini cara modern menikmati aura Honda Win tanpa harus mencari unit orisinil yang langka.
Di jalur lain, ada pencinta orisinalitas yang memilih untuk merestorasi Win ke kondisi semula. Koswara Garage jadi salah satu nama yang menonjol di bidang ini. Mereka fokus memburu suku cadang asli, memperbaiki detail kecil seperti emblem, lampu, hingga cat sesuai standar pabrikan. Prosesnya tidak sederhana. Restorasi bisa memakan waktu berbulan-bulan dan biaya belasan juta rupiah. Namun, hasilnya adalah Honda Win yang tampil seperti baru keluar dari dealer puluhan tahun silam.
Dua arus ini memperlihatkan transformasi Honda Win 100 yang unik. Di satu sisi, ia jadi kanvas kreativitas bagi modifikator yang ingin menghidupkan kembali gayanya dalam format semi-trail modern. Di sisi lain, ia tetap jadi pusaka yang harus dijaga, dengan detail pabrikan yang dilestarikan lewat restorasi. Dan justru karena ada dua jalur berbeda inilah, Honda Win 100 berhasil menembus generasi: dari kendaraan kerja sederhana menjadi simbol budaya otomotif yang terus berevolusi.
Perjalanan itu menunjukkan satu hal. Yakni, nilai sebuah kendaraan tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau peruntukan aslinya, tetapi juga oleh kisah yang menempel padanya. Dan Honda Win 100 telah menjadi bagian dari kisah itu.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





























