Menuju konten utama

Benarkah Motor Baru Tidak Boleh Boncengan? Ini Penjelasannya

Benarkah motor baru tidak boleh boncengan? Simak penjelasannya di sini, lengkap dengan cara inreyen motor yang benar agar umur pakai mesinnya bisa optimal.

Benarkah Motor Baru Tidak Boleh Boncengan? Ini Penjelasannya
Ilustrasi Boncengan. foto/Gemini ai
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Banyak yang meyakini bahwa motor baru harus diperlakukan dengan lembut karena masih dalam masa penyesuaian. Hal ini memunculkan larangan untuk berboncengan karena dikhawatirkan dapat merusak mesin. Lalu, benarkah motor baru tidak boleh boncengan?

Motor baru umumnya menjalani masa inreyen (break-in), yaitu proses penyesuaian komponen mesin serta sistem penggerak pada kendaraan baru. Proses ini biasanya dilakukan dengan berkendara secara hati-hati dengan tujuan agar umur pakai motor bisa lebih panjang.

Dari sinilah akhirnya muncul mitos bahwa motor baru tidak boleh digunakan untuk berboncengan. Alasannya, bobot yang harus ditanggung motor akan bertambah sehingga mesin akan bekerja lebih keras dibandingkan penggunaan normal.

Akan tetapi, benarkah motor baru tidak boleh boncengan? Apakah menambah satu penumpang di jok belakang bisa benar-benar merusak komponen mesin pada motor baru?

Benarkah Motor Baru Tidak Boleh Boncengan?

Ilustrasi Helm

Ilustrasi Naik Motor Boncengan. Getty Images/iStockphoto

Anggapan bahwa motor baru sama sekali tidak boleh digunakan untuk berboncengan adalah mitos. Meskipun motor masih dalam masa inreyen atau penyesuaian, tidak ada larangan untuk membawa penumpang atau berboncengan.

Pabrikan sudah merancang suspensi, rangka, dan mesin motor sedemikian rupa sehingga mampu menahan beban harian sejak hari pertama keluar dari dealer. Membawa satu penumpang tentunya tidak akan langsung merusak komponen di dalam motor.

Jadi, jika ada pertanyaan benarkah motor baru tidak boleh boncengan, maka jawabannya tidak benar. Motor baru boleh dipakai berboncengan asalkan total bobotnya tidak melebihi kapasitas beban maksimal yang tertera pada buku panduan kendaraan.

Yang perlu diperhatikan bukanlah aktivitas berboncengannya, melainkan beban atau berat totalnya. Beban berlebih sangat tidak disarankan, baik untuk motor baru maupun lama. Kelebihan muatan hanya akan membuat mesin bekerja lebih keras.

Beban berlebih juga dapat memberikan tekanan ekstra pada beberapa komponen, termasuk suspensi dan ban. Dalam jangka panjang, hal ini bisa mempercepat keausan ban, merusak suspensi, bahkan mengurangi umur pakai komponen mesin karena dipaksa bekerja lebih berat.

Panduan untuk Motor Baru, Perlukah Inreyen?

Ilustrasi Ergonomi Berkendara

Ilustrasi Naik Motor. Getty Images/iStockphoto

Teknologi motor modern sudah jauh berbeda dengan motor-motor yang diproduksi di zaman dulu. Tidak seperti motor jadul, motor modern sudah dibekali komponen mesin yang bisa langsung presisi sehingga sudah siap pakai.

Hal ini membuat motor-motor keluaran terbaru tidak perlu inreyen lagi seperti dulu. Akan tetapi, inreyen atau masa penyesuaian tetap memiliki manfaat tersendiri bagi motor baru.

Mengutip dari situs Bell Performance, meskipun mesin modern saat ini sudah jauh lebih baik dibanding beberapa dekade lalu, komponen di dalamnya belum sepenuhnya selesai beradaptasi di tingkat mikroskopis.

Selama periode awal pemakaian, terjadi proses-proses penting seperti penyesuaian cincin piston pada dinding silinder untuk membentuk kerapatan kompresi yang sempurna, serta pembentukan pola gesekan pada bantalan (bearings) dan roda gigi saat menahan beban.

Meskipun motor baru sudah diuji terlebih dahulu di dalam pabrik sebelum dipasarkan, proses tersebut hanya untuk memastikan mesin berfungsi dengan baik sekaligus memulai tahap awal inreyen. Pengujian ini bukan berarti proses break-in sudah selesai sepenuhnya.

Penyesuaian komponen internal mesin tetap berlangsung saat motor digunakan dalam kondisi berkendara nyata. Oleh karena itu, cara berkendara selama beberapa ratus kilometer pertama tetap memiliki pengaruh besar terhadap performa dan daya tahan jangka panjang kendaraan.

Cara Inreyen Motor Baru

Ilustrasi Mengendarai motor
Ilustrasi Mengendarai Motor. FOTO/iStockphoto

  • Variasikan Kecepatan Mesin
Selama masa inreyen, hindari mengendarai motor dengan putaran mesin (RPM) yang konstan dalam waktu lama. Sebaiknya gunakan kombinasi kecepatan dan perpindahan gigi yang bervariasi agar mesin mengalami akselerasi dan deselerasi secara alami.

Cara ini membantu ring piston menyesuaikan diri dengan dinding silinder secara merata sehingga proses break-in berlangsung optimal dan mencegah pola keausan yang tidak merata.

  • Batasi Bukaan Gas pada Awal Pemakaian
Pada sekitar 500–1.000 km pertama (atau sesuai rekomendasi pabrikan), hindari membuka gas secara penuh (full throttle) dalam waktu lama. Usahakan menjaga bukaan gas hingga sekitar tiga perempat saja dan lakukan akselerasi secara bertahap.

Sesekali memberikan akselerasi sedang masih diperbolehkan, tapi jangan memaksa mesin bekerja pada beban tinggi secara terus-menerus karena dapat menghambat proses penyesuaian komponen internal.

  • Hindari RPM Terlalu Tinggi atau Terlalu Rendah
Kesalahan yang sering terjadi saat inreyen adalah mengendarai motor terlalu agresif hingga mendekati batas maksimal RPM (redline) atau justru terlalu hati-hati sehingga mesin tidak pernah diberi beban. Keduanya sama-sama kurang ideal.

Praktik terbaik adalah menggunakan rentang RPM secara bertahap, sesekali mencapai putaran yang tinggi, tapi tidak dalam waktu lama. Dengan begitu, seluruh komponen mesin dapat beradaptasi pada berbagai kondisi.

  • Jangan Biarkan Mesin "Ngeden"
Selain menghindari RPM tinggi, jangan pula membiarkan mesin bekerja pada putaran yang terlalu rendah ketika membawa beban atau melewati tanjakan. Kondisi yang dikenal sebagai lugging ini membuat mesin terasa "ngeden" dan memberikan tekanan besar pada komponen internal.

Jika tenaga mulai terasa kurang, sebaiknya turunkan gigi agar putaran mesin kembali ke rentang yang responsif dan beban kerja mesin tetap ideal.

  • Gunakan Rem dan Sistem Penggerak dengan Halus
Masa inreyen tidak hanya berlaku untuk mesin, tapi juga komponen lain seperti kampas rem, cakram, kopling, hingga suspensi. Oleh karena itu, hindari pengereman mendadak, jangan start dengan akselerasi agresif, maupun pengereman keras berulang kali.

Penggunaan yang halus memberi waktu bagi permukaan komponen untuk saling menyesuaikan sehingga performa dan daya tahannya menjadi lebih optimal.

  • Manfaatkan Siklus Panas dan Dingin Mesin
Pada awal penggunaan, lebih baik melakukan perjalanan dengan durasi yang tidak terlalu panjang. Biarkan mesin mencapai suhu kerja normal, kemudian matikan dan biarkan hingga dingin sebelum digunakan kembali.

Siklus pemanasan dan pendinginan ini membantu material mesin menjadi lebih stabil serta mendukung proses penyegelan komponen internal agar bekerja secara optimal.

  • Ganti Oli Sesuai Jadwal Servis Pertama
Jangan melewatkan penggantian oli pada servis pertama sesuai jadwal yang ditentukan pabrikan, umumnya sekitar 500–1.000 km. Selama masa inreyen, proses penyesuaian komponen mesin menghasilkan partikel logam berukuran sangat halus.

Meskipun sebagian besar akan disaring oleh filter oli, penggantian oli tetap diperlukan untuk membuang sisa partikel tersebut sehingga pelumasan mesin tetap berlangsung dengan baik.

Demikian penjelasan mengenai benarkah motor baru tidak boleh boncengan, lengkap dengan tips memperlakukan motor baru selama masa inreyen. Pada dasarnya, motor baru tetap boleh digunakan untuk membawa penumpang, tapi sebaiknya jangan melebihi kapasitas yang dianjurkan dan dikendarai dengan wajar.

Temukan berbagai tips, rekomendasi, info spesifikasi, hingga berita terkini seputar dunia otomotif melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Otomotif

Baca juga artikel terkait MOTOR atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani