tirto.id - Nama Toyota Tercel mungkin bakal terdengar asing di telinga orang Indonesia. Padahal, mobil ini sempat diproduksi dalam waktu cukup lama, dari 1978 hingga 1999. Tak cuma itu, Tercel juga tercatat memiliki lima generasi berbeda. Awalnya ia berbentuk sedan kompak, lalu berubah menjadi hatchback di dua generasi berikutnya, sampai akhirnya kembali menjadi sedan kompak pada dua generasi terakhir.
Toyota merancang Tercel sebagai jembatan dua produk andalannya, Starlet dan Corolla. Ukurannya persis berada di tengah-tengah dua model tersebut. Bagi yang merasa Starlet terlalu kecil dan Corolla terlalu besar, ada Tercel sebagai opsi alternatif. Akan tetapi, Tercel memang tidak pernah dipasarkan sampai ke Indonesia. Setidaknya tidak dengan nama tersebut. Di Indonesia, sedan ini punya nama lain: Toyota Soluna.
Tercel generasi kelima dirilis Toyota pada 1997 dan pada waktu itu pulalah Soluna lahir. Bentuk Soluna dan Tercel memang berbeda, karena Soluna memang dirancang khusus untuk pasar Asia Tenggara. Perbedaan yang paling mencolok adalah Tercel hanya memiliki dua pintu, sementara Soluna punya empat pintu. Namun, sasis dan mesin yang digunakan sama persis. Bisa dibilang, Soluna adalah hasil modifikasi dari Tercel yang kemudian dipasarkan secara khusus ke wilayah ini.
Maka, pada Desember 1996, Toyota Motor Corporation mengumumkan sedan baru yang dikembangkan khusus di Thailand bersama Toyota Motor Thailand. Mereka menyebutnya Affordable Family Car, atau AFC. Konsepnya, satu mobil untuk satu keluarga, dengan harga yang bisa dijangkau kelas pekerja perkotaan yang baru mulai melek otomotif. Nama yang dipilih untuk sedan ini adalah Soluna, gabungan dua kata dari bahasa Spanyol: sol yang berarti matahari, dan luna yang berarti bulan.
Soluna diproduksi di pabrik Gateway milik Toyota Motor Thailand, dengan kandungan lokal mencapai 70 persen dan menggunakan hampir 700 komponen buatan Thailand. Angka ini adalah bagian dari strategi Toyota untuk menekan harga jual agar bisa bersaing ketat dengan Honda City yang kala itu dibanderol sekitar 380.000 baht di Thailand.
Mesin yang dipilih adalah 5A-FE berkapasitas 1.498 cc, twin-cam 16 katup dengan sistem injeksi bahan bakar elektronik. Mesin ini mampu menghasilkan tenaga 95 hp pada 5.600 rpm dan torsi 124 Nm pada 4.800 rpm yang disalurkan lewat transmisi manual lima percepatan atau otomatis tiga percepatan. Tidak istimewa, memang, tetapi mobil ini memang tidak didesain untuk menampilkan performa menawan.
Alih-alih performa, tujuan utama Soluna adalah efisiensi dan ketangguhan. Sedan ini dirancang untuk menghadapi kondisi jalan Asia Tenggara, termasuk banjir yang kerap menggenangi jalan saat musim hujan di Thailand. Toyota secara khusus memperkuat ketahanan Soluna terhadap air dan korosi untuk alasan ini. Suspensinya menggunakan McPherson strut di roda depan dan torsion beam di belakang, sama dengan Toyota Starlet yang terkenal tangguh meski bantingannya agak keras.
Dihantam Krisis, Jadi Armada Taksi
Pada 31 Januari 1997, Soluna resmi dijual di Thailand. Toyota Motor Thailand menargetkan penjualan 40.000 unit pada tahun pertama, dan 60.000 unit pada tahun 2000. Ekspor dalam jumlah terbatas juga dikirim ke Singapura dan Brunei Darussalam, dua negara Asia Tenggara yang tidak memiliki industri otomotif lokal. Rencananya, Soluna akan menyusul masuk ke lebih banyak negara di kawasan ini.
Namun, rencana tinggal rencana.
Hanya beberapa bulan setelah Soluna diluncurkan, pada pertengahan 1997, krisis moneter melanda Asia. Nilai tukar mata uang di Thailand, Indonesia, Malaysia, dan negara-negara tetangga rontok dalam hitungan bulan. Daya beli masyarakat anjlok, pasar otomotif terguncang, dan rencana ekspansi Soluna yang ambisius terpaksa direvisi. Indonesia, yang awalnya masuk dalam daftar target pasar berikutnya, harus menunggu lebih lama.
Baru pada 20 April 2000, PT Toyota Astra Motor resmi meluncurkan Soluna di Indonesia. Saat itu, pasar sedan kompak 1.500 cc sudah dihuni Suzuki Baleno Milenium dan Honda City Type Z, dua rival yang sudah lebih dulu membangun basis pelanggannya.
Toyota datang terlambat, tapi itu tidak mengurangi kepercayaan diri mereka. Dan hasilnya, pada malam peluncurannya saja, 50 unit Soluna langsung laku terjual. Sepanjang April 2000, daftar inden bahkan telah mencapai 3.600 unit, jauh melebihi kapasitas pabrik Toyota di Karawang, Jawa Barat, yang waktu itu cuma mampu menghasilkan 600 unit per bulan. Toyota pun sempat kewalahan memenuhi permintaan.
Di Indonesia, Soluna hadir dalam tiga varian. Yang paling dasar adalah XLi bertransmisi manual, disusul GLi manual, dan di puncaknya ada GLi otomatis. Perbedaan antara XLi dan GLi ada pada soal kelengkapan. Varian GLi sudah dilengkapi power window, spion elektrik, indikator RPM, defogger kaca belakang, central lock, lis krom pada bingkai kaca, dan jok berbahan beludru.

Pada 2002, Toyota melakukan penyegaran tampilan. Soluna facelift hadir dengan lampu depan model diamond cut yang menggantikan kaca buram dengan mika, lampu mundur yang kini dipisahkan ke pintu bagasi, setir tiga palang, serta corak jok dan door trim yang diperbarui.
Pada masa ini pulalah babak paling menarik dari kisah Soluna di Indonesia dimulai. Permintaan terhadap Soluna memang sempat jauh melebihi kapasitas. Namun, lambat laun, kurvanya mulau melandai.
Soluna langsung menjadi hits di armada taksi. Para pengusaha taksi terpikat oleh kombinasi mesin bandel, konsumsi bahan bakar yang irit, harga suku cadang yang murah, dan jaringan bengkel Toyota yang tersebar luas. Stok di gudang segera habis dan Soluna berubah menjadi komoditas yang diperebutkan.
Namun, popularitas Soluna sebagai taksi akhirnya menjadi pedang bermata dua. Soal ketangguhan, jangan ditanya. Namun, para calon pembeli pribadi merasa gengsi kalau punya mobil yang sama dengan taksi. Dan inilah yang akhirnya mematikan Soluna di Indonesia.
Produksi Soluna akhirnya disetop pada 2003 dan Toyota segera memperkenalkan penggantinya: Vios, yang lebih modern dan lengkap secara fitur—meski kemudian berakhir pula jadi armada taksi. Secara resmi, Toyota mengakui bahwa krisis keuangan Asia membuat Soluna tidak bisa memainkan peran yang sudah dicanangkan untuknya sebagai ujung tombak perusahaan di pasar Asia, sehingga penghentian seri ini menjadi keputusan yang tak terhindarkan.
Akan tetapi, penghentian produksi bukan akhir dari cerita Soluna.
Harga Bekas dan Komunitas
Dua dekade lebih setelah unit terakhir keluar dari pabrik Karawang, Soluna masih hidup di jalanan Indonesia. Di pasar mobil bekas, harganya berkisar dari Rp30 juta hingga Rp60 juta tergantung kondisi dan varian. GLi otomatis dalam kondisi prima bisa menyentuh ujung atas kisaran itu, sementara XLi bekas taksi ada di ujung bawah.
Di Jatiasih, Bekasi, ada sebuah bengkel bernama Kandang Soluna yang menjadi bukti nyata bahwa loyalitas terhadap mobil ini bukan sekadar nostalgia. Bengkel ini didirikan oleh Dedi Wahyudi, mantan karyawan divisi lelang Blue Bird. Kini, Dedi tidak lagi mendatangi pelanggan. Pelangganlah yang mendatanginya, dari seluruh penjuru Jabodetabek maupun luar kota.
Selain bengkel tersebut, loyalitas pengguna Soluna juga tercermin dari maraknya kehadiran komunitas macam Toyota Soluna Community, Soluna Vios Club, Soluna Brother Community, Soluna Solnation Indonesia, dan beberapa komunitas lain yang masih aktif hingga sekarang.
Ya, perjalanan Soluna memang singkat di Indonesia. Namun, hanya dalam tiga tahun, model ini mengalami dinamika nasib yang begitu kaya. Ia sempat menjadi sedan terlaris, menjadi armada taksi paling andal, dan menjadi korban stigma, sebelum akhirnya menjadi legenda kecil yang masih dibicarakan sampai hari ini.
Mobil ini tidak sempurna. Namun, ia punya dua keunggulan yang sulit ditandingi mobil mana pun: mesin yang luar biasa bandel dan harga yang super miring. Dua modal ini cukup untuk membuatnya masih relevan seperempat abad kemudian.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































