tirto.id - Bagi Kalle Rovanperä, ajang Rallylegend di San Marino beberapa bulan lalu punya arti spesial. Juara dunia termuda sepanjang masa World Rally Championship (WRC) itu tidak hanya ikut menjajal trek sebagai salah satu bintang tamu, tetapi juga mendapat kesempatan reuni dengan mobil yang menemani awal kariernya sebagai seorang pebalap.
Rovanperä selama ini berlaga di level teratas WRC dengan menggeber Toyota Yaris WRC milik Toyota Gazoo Racing. Hasilnya luar biasa. Hanya dalam lima musim dia telah sukses menggondol dua titel juara dunia, sekaligus status sebagai juara dunia termuda. Musim ini pun dia masih punya kans merengkuh gelar ketiga sebelum resmi pensiun dari WRC dan beralih ke ajang balap single seater.
Jika di ajang resmi Yaris menjadi andalan Rovanperä, di Rallylegend lalu sosok 25 tahun tersebut dipercaya menggeber mobil pendahulu Yaris, yaitu Toyota Starlet keluaran 1984. Kebetulan, Starlet pula mobil pertama yang bisa dia kendarai saat mulai berlatih balap reli pada usia 8 tahun. Mobil Starlet itu dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa dikendalikan oleh seorang bocah.
Pada 2015, pada usia 15 tahun, Rovanperä juga pernah menunggangi Starlet pada sebuah ajang reli di negara asalnya, Finlandia, bernama Keuruu Miniralli. Lalu, pada ajang Rallylegend yang digelar pada September, Rovanperä memang tidak benar-benar ikut dalam ajang balapan. Dia hanya terlibat dalam sebuah special stage di mana dia memamerkan kebolehannya dalam melakukan berbagai stunt, lompatan, dan donut.
Starlet dan ajang reli memang punya kedekatan khusus. Meskipun tak pernah benar-benar jadi andalan Toyota di kelas premier, mobil ini senantiasa dan bahkan masih jadi andalan di kelas reli domestik dan regional. Bahkan, pada 2022 lalu, Toyota "resmi" membangkitkan Starlet dari kubur hanya demi sebuah ajang reli di Afrika Selatan dan rencananya mobil ini akan comeback sepenuhnya mulai tahun depan.
Bagaimana di Indonesia? Ternyata sama saja. Dalam sebuah unggahan di Instagram, akun @otorally pernah mengunggah foto satu unit Toyota Starlet yang ikut serta dalam ajang Rally of Indonesia APRC (Asia-Pacific Rally Championship) tahun 1990. Kemudian, dalam laporan Liputan6 tahun 2021 ini, terlihat bagaimana Starlet (sebagaimana mobil-mobil klasik lain) masih digunakan dalam ajang Indonesia Sprint Rally.
Meski begitu, di Indonesia, Starlet tidak cuma tangguh di trek reli. Mobil hatchback ini pernah jadi mobil populer di kalangan anak muda 1990-an lantaran desainnya yang keren, kemudahannya untuk dimodifikasi, dan (yang tak kalah penting) biaya perawatan serta konsumsi bahan bakarnya irit.

Pesaing Daihatsu Charade dan Suzuki Forsa
Starlet pertama kali diproduksi pada 1973. Namun, kala itu ia masih bernama Starlet Publica. Bentuknya mirip sekali dengan Corolla generasi ketiga (sebelum Corolla DX), hanya saja ukurannya lebih kecil.
Diproduksi dari 1973 sampai 1977, Starlet Publica hadir dalam bentuk coupe 2 pintu dengan dua pilihan kubikasi mesin: 1.000cc dan 1.200cc. Starlet Publica mulanya merupakan versi upgrade dari sebuah kei car (mobil mini yang khusus dipasarkan di Jepang) bernama Toyota Publica. Seiring dengan hadirnya Starlet Publica, produksi Publica pun resmi dihentikan.
Pada generasi kedua, Starlet tak lagi menggunakan embel-embel Publica. Bentuknya pun berubah dari coupe menjadi hatchback, pilihan mesinnya juga bertambah. Selain 1.000cc dan 1.200cc, Starlet generasi kedua juga menawarkan mesin berkapasitas 1.300c. Inilah Starlet yang digunakan oleh Rovanperä pada ajang Rallylegend 2025. Bentuknya sudah sangat menyerupai Starlet yang kita kenal selama ini di Indonesia, tetapi Starlet generasi ini sejatinya belum diekspor ke Tanah Air.
Barulah saat memasuki generasi ketiga Starlet resmi masuk ke Indonesia. Inilah Starlet yang dikenal luas dengan sebutan Starlet kotak. Starlet ini pula yang turut serta dalam Rally of Indonesia edisi 1990. Pada generasi ini, kapasitas mesin 1.200cc resmi dihapuskan. Toyota hanya menyediakan dua varian mesin: 1.000cc dan 1.300cc. Starlet generasi ketiga ini diproduksi dari 1985 s/d 1989.
Starlet generasi ini sudah diproduksi di Indonesia dan kehadirannya kala itu langsung meramaikan persaingan pasar hatchback yang sebelumnya sudah dikuasai oleh Daihatsu Charade dan Suzuki Forsa. Fiturnya masih sangat sederhana. Belum ada power steering, belum ada power window, dan pengapiannya pun masih menggunakan platina.
Kesederhanaan fitur Starlet itu masih dipertahankan bahkan ketika mobil sudah memasuki generasi keempat alias Starlet Kapsul. Pertama kali dirilis pada 1989, mobil ini tampak jauh lebih sporty dan modern ketimbang pendahulunya berkat berbagai lekukan bodinya. Sama seperti Starlet Kotak, Starlet Kapsul juga tersedia dalam varian mesin 1.000cc dan 1.300cc.
Akan tetapi, Starlet Kapsul sempat mendapatkan sejumlah upgrade. Misalnya, pada 1992, Toyota meluncurkan Starlet SEG. Mobil ini sudah dilengkapi power window, foglamp, tilt steering, dll. Fitur power steering pun akhirnya muncul sejak 1995.

Selain versi SEG, ada pula Starlet GT Turbo. Secara resmi, Starlet ini tidak dipasarkan di Indonesia. Varian tersebut didatangkan secara impor langsung dari Jepang atau Malaysia. Jika Starlet Kapsul saja sudah terlihat sporty, berbagai sentuhan di seri GT Turbo membuatnya benar-benar tampak seperti mobil balap. Air scoop di bagian kap, grille yang berbeda dari Starlet biasa, serta desain lampunya memberikan sentuhan garang pada mobil ini.
Starlet GT Turbo pun tidak mengenal versi mesin 1.000cc. Ia hanya hadir dalam versi mesin 1.300cc dan 1.500cc. Tentu saja, kedua varian mesin tersebut sudah dilengkapi dengan turbo, sehingga memang diperlukan air scoop di bagian kap untuk memperlancar sirkulasi udara. Dengan kata lain, fitur itu bukan hanya gaya-gayaan, melainkan sungguh-sungguh memiliki fungsi.
Perjalanan Starlet di Indonesia memang agak berbeda dengan di negara lain. Di Jepang, pada 1996, sebenarnya Toyota sudah memperkenalkan Starlet generasi kelima yang, kalau boleh jujur, sebetulnya kalah keren dibanding generasi keempat. Untungnya, Starlet di Indonesia masih dikembangkan serius pada tahun-tahun tersebut, walau akhirnya disuntik mati juga selepas tahun 1998.
Pada 1998, Toyota mengeluarkan varian terakhir dari Starlet Kapsul yang diberi nama Fantastic Starlet. Wujudnya memiliki kemiripan dengan Starlet GT meskipun tanpa air scoop dan desain lampunya masih sama seperti Starlet Kapsul. Kemiripan inilah yang akhirnya membuat edisi pamungkas Starlet itu kerap pula disebut Starlet "Turbo Look".
Dengan dirilisnya Fantastic Starlet, berakhir pula perjalanan Starlet di Indonesia. Di Jepang, Starlet generasi kelima sebenarnya dipertahankan sampai 2006 sebelum akhirnya Toyota meluncurkan Yaris sebagai suksesor. Namun, di Indonesia, praktis dalam kurun 1999 sampai 2006, Toyota tidak memasarkan Starlet apa pun sebelum meluncurkan Yaris yang awalnya diimpor dari Thailand.
Kendati sudah lama dihentikan produksi dan pemasarannya, Starlet sejatinya masih bisa dengan mudah ditemukan di jalan raya. Alasannya, tak lain, karena mobil ini sampai sekarang masih jadi idaman banyak orang. Di forum jual beli media sosial, Anda akan dapat dengan mudah Starlet-Starlet yang dijual di berbagai kota. Biasanya, harganya berkisar di angka Rp50 s/d 60 jutaan.
Selain itu, ada pula Starlet-Starlet spesial yang dijual jauh di atas harga normal. Salah satunya adalah Starlet yang dimodifikasi secara penuh menjadi Starlet GT Turbo ini. Dengan berbagai modifikasi, mulai dari mesin sampai interior, mobil ini dijual dengan harga mencapai Rp235 juta.
Tingginya minat, ditambah lagi dengan ikatan komunitas yang kuat, khususnya melalui Indonesia Starlet Club (ISC) yang punya "bengkel resmi" di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Toyota Starlet masih bersinar terang meski usianya sudah tidak lagi muda.
Perlu dicatat pula bahwa saingan Starlet pada masa lalu, entah itu Suzuki Forsa, Daihatsu Charade, ataupun Mazda Astina, tidak ada yang punya staying power selama Starlet. Ini artinya, Starlet tidak cuma sukses memenangi persaingan, tetapi ia juga telah menulis ulang sejarah perjalanan mobil hatchback di Tanah Air, terlepas dari apakah Starlet edisi 2026 mendatang bakal ikut hadir di sini atau tidak.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id






























