Menuju konten utama
Gearbox

VW Kombi: Dulu Mobil Sejuta Umat, Kini Tak Lagi Merakyat

Di awal kelahirannya, VW Kombi sukses besar. Kini, karena harganya kian tinggi, yang mobil listrik mencapai Rp1,3-1,5 miliar, penjualannya pun makin seret. 

VW Kombi: Dulu Mobil Sejuta Umat, Kini Tak Lagi Merakyat
Volkswagen VW Type 2 T1 microbus bus. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tidak semua hal yang berbau Jerman menjadi barang haram usai Perang Dunia II. Jerman memang jadi pecundang dalam peperangan enam tahun tersebut. Rezim Nazi yang mendorong mereka pada aksi ekspansionis hancur berkeping-keping. Para petingginya ditangkap, diadili, lalu dihukum mati. Pemimpinnya mengakhiri hidup dalam sebuah bunker. Sesuatu yang sebelumnya begitu ditakuti, seketika jadi tak berarti.

Namun, Nazi dan Jerman tidak serta-merta bisa disamakan. Maka, kendati negerinya jadi pesakitan, banyak sosok dan produk dari Jerman yang "kebal" dari ekses Perang Dunia II. Salah satunya adalah Volkswagen, mobil impian Adolf Hitler.

Singkat cerita, Hitler menginginkan mobil rakyat supaya Autobahnen, jalan-jalan bebas hambatan yang dibangunnya sebagai salah satu proyek raksasa pertamanya, bisa terisi. Pada 1934, Ferdinand Porsche, yang waktu itu belum punya pabrikan sendiri, dipilih oleh Asosiasi Industri Otomotif (RDA) untuk mendesain Volkswagen yang disubsidi oleh negara.

Setelah melalui berbagai produksi purwarupa dan penyempurnaan, lahirlah apa yang kemudian disebut sebagai VW Beetle, atau VW Kodok di Indonesia. Ketika itu mobil tersebut bernama KDF-Wagen. Meski sudah disubsidi sehingga harganya tinggal 990 mark, warga Jerman pada paruh kedua dekade 1930-an belum juga mampu membeli mobil itu secara kontan.

Akhirnya, diciptakanlah semacam skema kredit bernama KDF-Wagen Sparkarte (Buklet Tabungan KDF-Wagen) yang diikuti oleh ratusan ribu orang sejak 1938. Program mobil rakyat ini akhirnya jadi salah satu sumber dana Nazi Jerman dalam melakukan aksi ekspansionis yang berujung pada meletusnya Perang Dunia II.

VW Beetle akhirnya terus diproduksi meskipun perang sudah berakhir. Total jenderal, termasuk varian New Beetle, mobil ini terjual hingga 23 juta unit di seluruh dunia. Beetle versi asli diproduksi dari 1938 sampai 2003, sementara New Beetle diproduksi dari 1997 hingga 2010.

Mulanya Kendaraan Niaga

Dalam etimologi Volkswagen, Beetle disebut sebagai Type 1, merujuk pada fakta bahwa mobil itulah model pertama yang mereka ciptakan. Dari Type 1 ini kemudian lahir sebuah mobil dari Volkswagen yang tak kalah legendaris.

Mulanya ia disebut Type 2 karena, ya, inilah model kedua bikinan mereka. Namun, seiring waktu, ia dikenal dengan berbagai macam nama, mulai dari Transporter, Bus, Bulli, Samba, hingga Microbus. Orang Indonesia mengenalnya sebagai VW Kombi (dari kata Kombinationskraftwagen atau mobil kombinasi).

Kelahiran Kombi tak bisa dilepaskan dari Beetle karena, awalnya, model ini terinspirasi dari sebuah pengangkut spare part yang ada di pabrik Beetle di Wolfsburg. Pada 1946, seorang importir Belanda bernama Bernardus Marinus Pon alias Ben Pon sedang berkunjung ke pabrik Volkswagen di Wolfsburg, Jerman. Ben Pon melihat pengangkut spare part tersebut dan terinspirasi untuk membuat sketsa untuk sebuah kendaraan niaga.

VW Combi

VW Combi. FOTO/iStockphoto

Sketsa Kombi pertama lahir pada 1947. Ben Pon menempatkan pengemudi tepat di depan kendaraan dan mesin diletakkan di belakang persis seperti Beetle. Untuk desain bentuk, bantuan terowongan angin (wind tunnel) diperlukan untuk mengukur aerodinamika yang nantinya berpengaruh pada ongkos operasional karena ini adalah kendaraan niaga.

Setelah melalui berbagai proses dan penciptaan purwarupa, Kombi pertama, alias Transporter 1 atau T1, akhirnya lahir pada 1950. Mesin dan girboks yang dipakai sama persis dengan Beetle. Akan tetapi, sasisnya sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sanggup menahan beban hingga 750 kg. Versi pertama dari Kombi ini diluncurkan dalam tiga varian yaitu panel van, mobil penumpang, dan minibus delapan kursi. Setelah itu, menyusul dua varian lain, yaitu versi dengan jendela banyak (Samba) dan pickup.

VW Kombi edisi pertama diproduksi dari 1950 sampai 1967 dan langsung sukses besar. Bahkan, sejak 1956, pabrik asli Volkswagen di Wolfsburg sudah tidak bisa lagi menangani seluruh produksi sehingga proses produksi dipindahkan ke pabrik khusus Kombi di Hanover. Selain itu, mobil ini juga mulai diproduksi di negara-negara lain seperti Brasil, Meksiko, serta Australia.

Mobil Kaum Hippies

Pada dekade 1960-an, muncullah sebuah gerakan anti-Perang Vietnam yang digerakkan oleh anak-anak muda yang menamai dirinya Generasi Bunga (Flower Generation). Mereka menolak perang dan memilih cinta kasih. Mereka menolak peluru dan memilih bunga. Mereka menolak wajib militer dan memilih festival musik. Dan segala aktivitas mereka, yang kemudian disebut hippie itu, kerap kali dilakukan dengan bantuan VW Kombi yang dicat warna-warni.

Ukurannya yang besar membuat VW Kombi bisa mengangkut tak cuma banyak orang, tetapi juga barang-barang seperti alat musik dan perlengkapan demonstrasi. Prominennya keberadaan Kombi pada era tersebut juga lantas diabadikan lewat berbagai produk budaya pop seperti lagu Magic Bus milik The Who serta kover album The Freewheelin' dari Bob Dylan.

Pada titik ini, VW Kombi mengalami pergeseran fungsi dan makna. Awalnya, sangat jelas ia didesain dan diproduksi untuk menjadi mobil niaga. Akan tetapi, mobil ini kemudian dikooptasi oleh para hippie dan dijadikan simbol kebebasan, bahkan pemberontakan. Citra ini pun bertahan sampai saat ini. VW Kombi lawas, terutama generasi pertama, adalah mobilnya orang-orang berjiwa bebas.

Pada 1968, Volkswagen memperkenalkan T2 sebagai kelanjutan dari T1. Sepintas, bentuknya tidak banyak berubah, tetapi sebenarnya ada banyak peningkatan signifikan dibanding model pertama. Bodi T2 lebih besar dan bisa mengangkut lebih banyak muatan (hingga 900 kg). Selain itu kaca depan juga tidak lagi dipisah kanan dan kiri sehingga visibilitas optimal bisa didapat.

Pada T2 pula Volkswagen pertama kali mematenkan pintu geser sebagai kelengkapan wajib Kombi. Ditambah lagi, lewat T2, konsep campervan untuk Kombi juga untuk kali pertama diperkenalkan. Berbagai inovasi ini membuat T2 jadi model Kombi tersukses. Pabrik-pabrik baru di Brasil, Argentina, dan Yugoslavia dibangun. Bahkan, T2 masih diproduksi sampai 2013 di pabrik Sao Paulo sebelum akhirnya disuntik mati setelah munculnya regulasi anyar soal keselamatan.

VW Combi

VW Camper Van klasik hijau. FOTO/iStockphoto

Boleh dibilang, T2 adalah Volkswagen Type 2 atau Transporter terakhir yang bisa disebut Kombi. Sebab, setelah T3 diperkenalkan pada 1979, bentuknya mengalami perubahan besar-besaran. Perlu dicatat bahwa semua tipe Transporter memiliki versi angkut barang serta angkut penumpang. Nah, jika pada T1 dan T2 fungsi tersebut bisa dibolak-balik, tidak demikian dengan T3 dan seterusnya.

Dari T3 sampai T7 yang dirilis sejak 2022, ada distingsi yang jelas antara mobil barang dan mobil penumpang, sehingga peruntukannya jadi terkesan terbatas. "Parahnya" lagi, semakin lama, mobil penumpang seri Transporter terus-menerus naik kelas dan tidak lagi inklusif. Jika dulu, pada versi T1 dan T2, semua orang seperti bisa punya dan naik Transporter, seiring berkembangnya zaman ia berubah menjadi mobil yang bisa dibilang eksklusif.

Rasa eksklusif itu juga terlihat pada mobil yang disebut-sebut sebagai reinkarnasi dari Kombi klasik, yaitu Volkswagen ID.Buzz. Mobil listrik satu ini memang, dari sisi desain, sangat terinspirasi dari Kombi klasik, T1 dan T2. Akan tetapi, dengan harga satu unitnya yang bisa mencapai Rp1,3 sampai 1,5 miliar, jelas pangsa pasarnya bukan anak-anak muda pencinta kebebasan seperti dulu.

ID.Buzz cukup diminati, setidaknya di Indonesia. Setelah diperkenalkan di GIIAS 2024, distributor Volkswagen Indonesia langsung menerima 300 pesanan yang mereka antarkan ke pembeli mulai Mei 2025 lalu. Meski demikian, secara keseluruhan, model ini masih jauh dari kata sukses, khususnya di kancah global dan apabila dibandingkan dengan T1 dan T2 yang laku sampai lebih dari 2 juta unit.

Menurut laporan CarBuzz, hanya sekitar 30.000 ID.Buzz yang terjual sepanjang 2024 dan, itulah mengapa, produksi model ini sempat dihentikan, begitu pula dengan Multivan yang merupakan anggota dari seri T7. Harga yang terlalu mahal disebut jadi salah satu alasan mengapa model ini tidak lagi laris bak kacang goreng.

Masa sulit "Kombi" modern itu seakan-akan menjadi gaung dari persoalan finansial yang dalam beberapa tahun terakhir melanda Volkswagen. Meskipun masih jadi konglomerasi otomotif terbesar kedua di dunia pada 2024 di bawah Toyota, Volkswagen saat ini sedang mengalami pendarahan uang yang membuat mereka berencana melakukan PHK dan penutupan sejumlah pabrik.

Salah satu alasannya? Mereka telat terjun ke kancah mobil listrik dan sudah kadung tertinggal dari perusahaan-perusahaan Tiongkok. Selain itu, sekalinya punya mobil listrik seperti ID.Buzz, harganya pun selalu jauh lebih mahal dibanding opsi-opsi lainnya. Ini agak ironis, memang, mengingat arti dari Volkswagen, yakni mobil rakyat.

Kurang lebih, begitulah realitasnya sekarang. Apa yang terjadi pada Volkswagen turut tecermin pada seri Transporter yang merupakan seri dengan produksi terpanjang. Baik Volkswagen maupun Transporter bermula dari sebuah kesederhanaan yang membuat mereka begitu digandrungi. Kini, mereka terjebak pada situasi tak diinginkan.

Mereka sebetulnya bukan produsen mobil mewah tetapi menjual produk dengan harga yang kelewat tinggi, sementara daya beli global tengah melemah akibat inflasi dan berbagai ketidakpastian ekonomi.

Baca juga artikel terkait VOLKSWAGEN atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi