tirto.id - Mobil listrik dianggap sebagai solusi untuk masa depan yang lebih sehat karena bisa mengurangi polusi udara. Di waktu yang sama, muncul kekhawatiran lain bahwa radiasi dari mobil listrik bisa memicu penyakit. Lantas, benarkah mobil listrik berbahaya bagi kesehatan?
Perlahan tapi pasti, mobil listrik kini semakin populer di Indonesia. Mobil listrik sendiri merupakan kendaraan yang dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan mobil konvensional yang menggunakan bahan bakar fosil.
Bedanya mobil listrik dan bensin yang paling utama terletak pada sumber energinya. Mobil listrik bekerja menggunakan baterai yang menyimpan energi dan berguna untuk menggerakkan motor listrik. Motor listrik inilah yang nantinya berperan memutar roda pada mobil.
Mobil listrik tentunya tidak membutuhkan bahan bakar fosil seperti bensin atau solar layaknya mobil biasa. Hal ini membuat mobil listrik tidak menghasilkan emisi gas buang saat digunakan dan tidak mencemari udara.
Jika dikaitkan dengan kesehatan, mobil listrik dianggap memberikan manfaat atau kontribusi secara tidak langsung melalui penurunan polusi udara, terutama di area perkotaan yang padat penduduk.
Namun, muncul pula pertanyaan mengenai keamanannya, salah satunya anggapan bahwa kendaraan ini dapat membahayakan kesehatan karena menghasilkan radiasi atau medan elektromagnetik dari baterai dan motor listriknya.
Lantas, benarkah mobil listrik berbahaya bagi kesehatan, ataukah hal tersebut hanya mitos yang belum didukung bukti ilmiah?
Hubungan Antara Mobil Listrik, EMF, dan Kesehatan

Kekhawatiran akan bahaya mobil listrik terhadap kesehatan dikaitkan dengan paparan medan elektromagnetik (electromagnetic field/EMF) yang dihasilkan selama kendaraan digunakan.
Untuk menjawab benarkah mobil listrik berbahaya bagi kesehatan, maka kita harus memahami EMF terlebih dahulu dan apakah medan elektromagnetik ini berdampak negatif pada tubuh.
Mengutip dari Healthline, EMF sebenarnya ada di mana-mana. Seiring perkembangan teknologi, para ilmuwan menemukan bahwa banyak peralatan listrik menghasilkan EMF. Selain peralatan rumah tangga, berbagai alat medis seperti mesin sinar-X dan CT scan juga memancarkan EMF saat digunakan.
Saat ini, hampir semua orang di dunia telah mendapatkan akses listrik dan menggunakan berbagai perangkat elektronik, termasuk ponsel, komputer, microwave, dan lain sebagainya. Jadi, paparan EMF sebenarnya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Meski radiasi dari peralatan elektronik kerap dikaitkan dengan risiko penyakit, termasuk kanker, sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa paparan EMF tingkat rendah dari perangkat sehari-hari bisa menimbulkan risiko kesehatan yang serius.
Healthline juga mencatat bahwa EMF yang paling berpotensi membahayakan kesehatan adalah EMF berfrekuensi tinggi atau radiasi pengion. Jenis EMF ini memiliki energi yang cukup besar untuk merusak DNA dan sel tubuh.
Contohnya meliputi sinar-X, sinar gamma, serta sebagian sinar ultraviolet (UV) berenergi tinggi. Paparan yang tinggi pada tubuh manusia bisa meningkatkan risiko mutasi genetik dan menyebabkan penyakit kanker.
Benarkah Mobil Listrik Berbahaya bagi Kesehatan?

Banyak orang khawatir terhadap dampak paparan medan elektromagnetik atau EMF yang dihasilkan mobil listrik terhadap kesehatan pengemudi dan penumpang.
Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, Uni Eropa pernah mendanai proyek EM-Safety (EM Safety and Hazards Mitigation by Proper EV Design) yang bertujuan mengukur tingkat paparan medan magnet pada mobil listrik sekaligus mengembangkan desain kendaraan yang lebih aman.
Dilansir dari laman CORDIS (Community Research and Development Information Service), peneliti di proyek EM-Safety telah mengukur medan magnet pada sembilan mobil listrik dan tiga mobil bermesin pembakaran internal (mobil bensin).
Pengukuran dilakukan menggunakan sensor yang ditempatkan di kepala, dada, dan kaki penumpang. Hasilnya menunjukkan bahwa intensitas medan magnet di dalam mobil listrik masih berada di bawah 20% dari batas paparan yang direkomendasikan oleh International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection (ICNIRP).
Sementara itu, mobil berbahan bakar bensin atau gas juga menghasilkan paparan sekitar 10% dari batas yang sama.
Kaitan Mobil Listrik dengan Risiko Kanker dan Penyakit Kardiovaskular

Hasil penelitian pada proyek EM-Safety tidak menemukan bukti bahwa paparan EMF bersifat karsinogenik maupun merangsang pertumbuhan sel kanker. Temuan ini tentunya sudah bisa menjawab pertanyaan benarkah mobil listrik berbahaya bagi kesehatan.
Proyek EM-Safety menunjukkan bahwa penggunaan mobil listrik tidak menimbulkan risiko kesehatan akibat EMF, termasuk risiko kanker, karena tingkat paparannya masih berada jauh di bawah standar keselamatan.
Sementra itu, ada juga studi lain yang menunjukkan hasil serupa, yaitu jurnal berjudul High Voltage, High Stakes: Assessing Cardiovascular Effects of Electromagnetic Fields From Electric Vehicles.
Studi ini bertujuan meneliti apakah medan elektromagnetik atau EMF dari mobil listrik bisa memengaruhi sistem kardiovaskular pada tubuh penggunanya dan apakah EMF dapat mengganggu alat implan jantung.
Hasilnya, peneliti menyimpulkan bahwa paparan EMF mobil listrik masih berada di bawah batas keselamatan internasional seperti pedoman ICNIRP. Dengan kata lain, penggunaan mobil listrik sehari-hari tidak membahayakan kesehatan.
Studi ini juga menunjukkan bahwa belum ada bukti adanya risiko langsung terhadap kesehatan jantung akibat penggunaan mobil listrik. Tidak ditemukan peningkatan kejadian aritmia, serangan jantung, atau gangguan kardiovaskular lain yang dapat dikaitkan secara langsung dengan EMF dari kendaraan listrik.
Sementara itu, salah satu kekhawatiran terbesar adalah adanya kemungkinan EMF dapat mengganggu kerja alat pacu jantung seperti pacemaker atau ICD. Namun, studi ini juga menyimpulkan bahwa tidak ditemukan gangguan elektromagnetik yang signifikan pada pasien yang menggunakan perangkat tersebut saat berada di mobil listrik.
Akan tetapi, jurnal ini mencatat bahwa beberapa penelitian laboratorium dan penelitian pada hewan menunjukkan kemungkinan adanya peningkatan stres oksidatif, perubahan fungsi endotel pembuluh darah, serta perubahan kecil pada sinyal elektrokardiogram (EKG).
Meski demikian, temuan tersebut belum dapat dianggap sebagai bukti kuat bahwa mobil listrik membahayakan kesehatan. Alasannya, sebagian besar penelitian berasal dari paparan EMF yang berbeda dengan kondisi penggunaan mobil listrik sehari-hari serta penelitian baru dilakukan pada hewan.
Demikian penjelasan tentang benarkah mobil listrik berbahaya bagi kesehatan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa paparan EMF dari mobil listrik dalam penggunaan normal membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu, pengguna mobil listrik tidak perlu khawatir berlebihan saat menggunakan kendaraan.
Temukan berbagai tips, rekomendasi, info spesifikasi, hingga berita terkini seputar dunia otomotif melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id
































