tirto.id - Risiko korsleting pada mobil listrik sedang menjadi perhatian industri otomotif global setelah sejumlah insiden memperlihatkan bagaimana gangguan sistem kelistrikan berisiko menyebabkan kendaraan macet, rem terkunci, hingga kebakaran.
Perkembangan mobil listrik yang kian masif memang menghadirkan efisiensi energi dan rendah emisi, tetapi pada saat bersamaan menuntut standar keselamatan yang lebih kompleks dibanding kendaraan konvensional.
Jika mobil konvensional umumnya menghadapi ancaman kebocoran bahan bakar, mobil listrik mengandalkan integrasi ribuan sel baterai, kabel tegangan tinggi, serta perangkat lunak pengatur distribusi daya. Ketika salah satu sistem mengalami gangguan, efeknya bisa menjalar dalam waktu singkat.
Penyebab Korsleting Mobil Listrik
Dalam standar internasional ISO 6469-3 tentang keselamatan kendaraan listrik, sistem kelistrikan EV atau kendaraan listrik dibagi menjadi dua domain utama.
Pertama, Voltage Class B atau sistem tegangan tinggi yang mencakup baterai traksi, inverter, dan motor penggerak dengan tegangan di atas 60V DC. Kedua, Voltage Class A atau sistem tegangan rendah 12V/24V yang menopang fungsi sekunder seperti lampu, sistem hiburan, sensor, hingga unit kontrol keselamatan.
Dalam praktiknya, gangguan korsleting paling berbahaya terjadi di sistem tegangan tinggi berbasis Voltage Class B, terutama di dalam modul baterai.
Salah satu komponen vital pada baterai lithium-ion ialah separator, lapisan isolator tipis yang memisahkan anoda dan katoda agar tidak saling bersentuhan langsung.
Penelitian Feng dan kolega yang dipublikasikan dalam Jurnal Energy Storage Materials menjelaskan, kerusakan separator akibat cacat produksi, tekanan mekanis, atau penetrasi benda asing bisa memicu internal short circuit atau korsleting internal. Ketika itu terjadi, suhu di dalam sel baterai meningkat secara ekstrem dan memicu fenomena thermal runaway.
Fenomena tersebut menyebabkan reaksi panas berantai yang sulit dihentikan. Bahkan pada jenis baterai dengan katoda berbasis nikel mangan kobalt (NMC), suhu berlebih bisa melepaskan oksigen dari struktur material baterai. Karena itu, api pada mobil listrik tetap bisa menyala meski tidak memperoleh suplai oksigen dari udara luar.
Di samping risiko kebakaran, gangguan pada sistem kontrol daya berbasis Voltage Class A juga bisa membuat kendaraan kehilangan fungsi dasar pengendalian. Salah satu komponen yang kerap disorot yakni Integrated Charging Control Unit atau ICCU, perangkat yang berfungsi sebagai penghubung antara baterai tegangan tinggi dan sistem 12V kendaraan.
Investigasi National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) di Amerika Serikat menemukan gangguan pada ICCU berisiko menghentikan suplai daya ke baterai 12V secara tiba-tiba. Padahal, sistem 12V merupakan sumber daya utama bagi komputer pusat kendaraan.
Saat sistem tersebut kehilangan daya, sejumlah fitur keselamatan bekerja, salah satunya Electronic Parking Brake (EPB) atau sistem rem terkunci. Dalam kondisi tertentu, kendaraan jadi tidak bisa digerakkan sama sekali, meski motor penggerak utama masih memiliki energi.
Fenomena tersebut terjadi ketika mobil listrik macet total di tengah jalan dan sulit dipindah secara manual. Risikonya dinilai sangat berbahaya apabila terjadi di jalan tol, tanjakan, atau perlintasan kereta api.
Di luar faktor desain dan perangkat lunak, lingkungan juga memengaruhi integritas sistem kelistrikan kendaraan listrik. Produsen memang menerapkan standar perlindungan IP67 sesuai IEC 60529 agar komponen tahan air dan debu. Namun, paparan banjir berkepanjangan maupun korosi akibat air tetap bisa merusak segel pelindung kabel tegangan tinggi.
Senada dengan itu, peneliti dari Stanford University menemukan bahwa hambatan utama baterai lithium berasal dari tekanan mekanis. "Hanya lekukan sederhana, pembengkokan, atau puntiran baterai bisa menyebabkan celah nanoskopis pada material terbuka... menyusup ke dalam elektrolit padat, sehingga memicu korsleting," jelas William Chueh, profesor ilmu material di Stanford.
Ia menambahkan, "Bahkan debu atau kotoran lain yang masuk saat proses manufaktur berisiko menimbulkan tekanan (stress mekanis pada elektrolit padat), sehingga bisa menyebabkan kegagalan (korsleting internal akibat lithium menembus separator.)"
Berbagai masalah keamanan mobil listrik tersebut mendorong sejumlah produsen otomotif global, termasuk Hyundai, menarik kembali kendaraan listrik mereka dari pasaran sepanjang 2026. Langkah ini dilakukan untuk memperbaiki perangkat lunak maupun komponen yang dinilai berisiko memicu kegagalan kelistrikan.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Mobil Listrik Korsleting?
Mengingat kompleksitas interaksi antara material kimia baterai dan sistem tegangan tinggi, penanganan darurat pada korsleting mobil listrik memerlukan protokol spesifik dan berbeda dari kendaraan konvensional.
Berikut langkah-langkah mitigasi jika terjadi gangguan sistem kelistrikan atau indikasi korsleting pada mobil listrik, disarikan dari berbagai sumber:
- Identifikasi Gejala DiniJika muncul peringatan "Check Electric System" pada dasbor, bau logam terbakar (sangit), atau muncul asap dari arah kolong mobil, segera tepikan kendaraan.
- Prioritaskan EvakuasiJika sistem mati total dan muncul indikasi panas ekstrem, segera keluar dari kendaraan. Jangan membuang waktu untuk menyelamatkan barang berharga karena fenomena thermal runaway bisa menyebar dalam hitungan detik.
- Waspadai Re-Ignition (Api Susulan)Baterai korslet yang sudah padam masih memiliki risiko menyala kembali secara spontan beberapa jam kemudian akibat sisa energi kimia. Pastikan mobil diderek ke area terbuka yang jauh dari benda mudah terbakar untuk observasi pasca-kejadian.
- Penyelamatan di Lokasi KritisApabila mobil macet dan rem terkunci di lokasi berbahaya (seperti perlintasan kereta api), segera tinggalkan kendaraan. Jangan mencoba mendorong mobil secara manual karena Electronic Parking Brake (EPB) yang terkunci tanpa daya sulit dilepas tanpa alat khusus.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id






































