tirto.id - Roket SpaceX dilaporkan bakal menghantam permukaan Bulan pada Rabu, 5 Agustus 2026. Namun, objek itu bukan roket dengan misi aktif, melainkan tahap atas (upper stage) roket Falcon 9 yang sudah menyelesaikan penerbangan menuju Bulan pada Januari 2025.
Berdasar prediksi ahli pelacakan orbit Bill Gray, roket tersebut akan menghantam kawasan dekat Einstein Crater dengan kecepatan sekitar 8.700 kilometer per jam. Benturan diprediksi membentuk kawah baru sekaligus melontarkan debu dan batuan dari permukaan Bulan.
Kendati terdengar dramatis, para ilmuwan menegaskan bahwa peristiwa ini tidak membahayakan Bumi, justru menjadi kesempatan langka untuk mempelajari bagaimana permukaan Bulan bereaksi terhadap benturan benda buatan manusia.
"Antariksa di atas sana mulai padat," ujar Gray. Dia berencana mengamati dampak tabrakan roket SpaceX tersebut dari wilayah New Brunswick, Kanada.
Mengapa Roket SpaceX Menghantam Bulan?
Benturan kali ini sebenarnya bukan bagian dari rencana SpaceX. Menurut para pakar, tabrakan kemungkinan bisa dicegah apabila tahap roket lebih dulu dipindah ke orbit Matahari setelah misi berakhir.
Hanya saja, pada misi tersebut, tahap atas roket Space X tetap dibiarkan berada di ruang angkasa, sehingga perlahan bergerak mengikuti pengaruh gravitasi Bumi, Bulan, dan Matahari, sampai akhirnya diprediksi menghantam Bulan.
Sebagaimana dilaporkan Associated Press, bagian roket yang diprediksi menabrak Bulan berasal dari peluncuran Falcon 9 pada 15 Januari 2025. Saat itu, pihak SpaceX mengirim dua wahana pendarat komersial menuju Bulan.
Muatan pertama, Blue Ghost milik Firefly Aerospace, sukses mendarat dengan mulus di permukaan Bulan. Muatan kedua, wahana milik perusahaan Jepang ispace, misi gagal usai mengalami kecelakaan saat hendak mendarat.
Setelah mengantar dua wahana itu, bagian roket tahap atas Falcon 9 tak lagi memiliki tugas. Dalam banyak misi antariksa, bagian roket seperti ini bisa diarahkan kembali ke atmosfer Bumi, dipindah ke orbit yang lebih aman, atau bahkan diarahkan mengelilingi Matahari.
Sebelumnya, insiden roket menabrak bulan pernah terjadi pada 2022 ketika bagian roket asal Cina menghantam sisi jauh Bulan sampai membentuk dua kawah.
Apa yang Akan Terjadi Saat Roket Menabrak Bulan?
Ahli pelacakan orbit Bill Gray memperkirakan tahap atas Falcon 9 bakal menghantam wilayah di sekitar Einstein Crater. Saat menyentuh permukaan Bulan, roket diprediksi melaju dengan kecepatan sekitar 8.700 kilometer per jam atau nyaris tujuh kali kecepatan suara. Energi yang dilepaskan disebut setara dengan sekitar tiga ton TNT.
Benturan nanti diprediksi membentuk kawah baru berdiameter sekitar 27 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter. Ukuran itu memang terlalu kecil untuk diamati langsung dari Bumi tanpa teleskop, tapi cukup besar untuk direkam wahana antariksa yang sedang mengorbit Bulan.
"Gravitasi di bulan rendah dan tidak ada angin yang meniup debu,” kata Benjamin Fernando dari Laboratorium Nasional Los Alamos
"Sebagian alasan kami tertarik dengan peristiwa ini adalah untuk mencari tahu seberapa besar bahaya yang ditimbulkan oleh dampak puing-puing terhadap para astronaut di masa depan," imbuhnya.
Selain pengamatan dari Bumi, sejumlah wahana antariksa juga akan mendokumentasi peristiwa tersebut. Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) milik NASA dijadwalkan mengambil gambar lokasi sebelum dan sesudah tumbukan, demi membandingkan perubahan permukaan Bulan.
Sementara itu, wahana pengorbit Bulan milik Korea Selatan, Danuri, diperkirakan melintas dekat dengan jalur roket hanya beberapa menit sebelum tabrakan terjadi.
Data dari kedua wahana itu diharapkan bisa membantu ilmuwan memahami dampak tumbukan secara lebih rinci.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id







































