Menuju konten utama
Byte

Orbit Bumi Penuh Sesak, Siapa yang Harus Tanggung Jawab?

Satelit telah memenuhi atmosfer Bumi, hingga puluhan ribu jumlahnya. Dampaknya begitu dekat dengan kehidupan kita, termasuk soal krisis polusi dan iklim.

Orbit Bumi Penuh Sesak, Siapa yang Harus Tanggung Jawab?
Ilustrasi satelit. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada Maret 2012, enam astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) terpaksa bangun lebih awal. Sebenarnya, tidak ada agenda apa pun hari itu. Tidak ada pula kebakaran atau kegagalan sistem di stasiun. Namun, ada ancaman yang jauh lebih serius. Saat para astronaut terlelap, sepotong sampah antariksa sedang meluncur ke arah mereka dengan kecepatan ribuan kilometer per jam.

Peringatan datang terlambat untuk memindahkan stasiun ke orbit yang lebih aman, sehingga satu-satunya pilihan bagi para astronaut adalah berlari ke kapsul evakuasi dan bersiap meninggalkan stasiun jika diperlukan. Pada akhirnya, serpihan dari satelit militer yang sudah mati itu meleset sejauh sekitar 12 kilometer. Mereka semua pun selamat.

Jauh sebelum kejadian itu, seorang ilmuwan NASA bernama Donald Kessler sudah memperingatkan. Pada 1978, ia memublikasikan makalah yang menyebut bahwa jumlah objek buatan manusia yang bisa dilacak di orbit Bumi meningkat 13 persen per tahun selama 1966 hingga 1976. Ia menyimpulkan, cepat atau lambat, kepadatan objek di orbit rendah Bumi akan mencapai titik kritis. Satu tabrakan akan menghasilkan ratusan serpihan baru, serpihan itu menabrak satelit lain, dan seterusnya, dalam reaksi berantai tak terkendali. Hipotesis tersebut kemudian dikenal sebagai Kessler Syndrome.

Per Februari 2026, ada sekitar 14.000 satelit aktif yang mengorbit Bumi. Tak cuma itu, lebih dari 1,23 juta proyek satelit tambahan sedang dalam berbagai tahap pengembangan. Sebagai perbandingan, pada awal 2000-an hanya ada sekitar 700 satelit aktif di seluruh orbit Bumi. Dalam waktu kurang lebih dua dasawarsa, jumlah satelit itu berarti sudah meningkat hingga 1.900 persen!

Biang keladi ledakan itu adalah SpaceX dengan jaringan Starlink-nya. Ketika Starlink meluncurkan satelit pertamanya pada Mei 2019, ada sekitar 2.000 satelit aktif di orbit. Kini, Starlink saja sudah mengoperasikan lebih dari 10.000 satelit, atau sekitar dua per tiga dari seluruh satelit aktif di Bumi. Saingan terdekatnya, OneWeb, memiliki 650 unit.

Jika dirata-rata, ada 11 satelit yang diluncurkan setiap harinya sepanjang 2026, dan itu baru permulaan.

Amazon berencana meluncurkan 60.000 satelit untuk layanan internet Leo-nya. Perusahaan-perusahaan Cina berambisi menerbangkan hampir 60.000 satelit. Rwanda bahkan sudah mengajukan permohonan untuk 337.320 satelit. Puncaknya, pada 30 Januari 2026, SpaceX mengajukan permohonan ke Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) untuk meluncurkan satu juta satelit yang akan berfungsi sebagai pusat data kecerdasan buatan di orbit.

Apa Dampaknya bagi Bumi jika Satelit Buatan Kian Tak Terkendali?

Untuk memahami betapa seriusnya situasi tersebut, kita perlu kembali ke Kessler Syndrome. Bayangkan orbit rendah Bumi (wilayah berjarak 160 hingga 2.000 kilometer di atas permukaan Bumi) sebagai sebuah jalan tol yang sangat sibuk. Setiap kendaraan melaju dengan kecepatan sekitar 27.000 kilometer per jam. Di sana tidak ada rambu, tidak ada marka, tidak ada polisi, dan setiap hari jumlah kendaraan makin bertambah.

Secara otomatis, kans terjadinya kecelakaan pun meningkat. Jika kita mengacu pada teori Kessler, satu kecelakaan kecil saja bisa menghancurkan segalanya.

Pada 2009, satelit komunikasi AS, Iridium 33 yang masih aktif, bertabrakan dengan Kosmos 2251, satelit militer Rusia yang sudah tidak berfungsi sejak 1995. Tabrakan itu menghasilkan lebih dari 1.800 serpihan berukuran lebih dari 10 sentimeter, ditambah ratusan ribu serpihan lebih kecil. Itu adalah contoh terwujudnya "ramalan" Kessler meski hanya berskala kecil.

Kini, NASA memperkirakan ada lebih dari 25.000 objek berukuran lebih dari 10 sentimeter yang mengorbit Bumi, 500 ribu objek berukuran 1 hingga 10 sentimeter, dan 100 juta partikel berukuran 1 milimeter. Sepintas, benda-benda kecil itu terdengar sepele. Akan tetapi, satu hal yang perlu dipahami adalah betapa cepatnya mereka bergerak di orbit. Benda sekecil baut sekalipun, apabila bergerak dengan kecepatan orbital, daya rusaknya bisa menyerupai peluru.

Bahkan, saking parahnya situasi sekarang, ada zona orbit tertentu yang kini sudah ditinggalkan. Menurut Luc Piguet, CEO perusahaan pembersih sampah antariksa ClearSpace, orbit di rentang 800 hingga 1.000 kilometer kini terlalu berisiko untuk dijadikan lokasi peluncuran konstelasi satelit baru.

Yang lebih mengkhawatirkan, situasi tersebut terus memburuk. Laporan jurnal Earth and Planetary Astrophysics terbitan Desember 2025 memperkirakan, jika semua manuver penghindaran tabrakan dihentikan, tabrakan besar pertama akan terjadi dalam 2,5 hari. Sebagai perbandingan, pada 2018, sebelum Starlink mulai diluncurkan, angka itu adalah 164 hari.

Sepanjang 2025 saja, Starlink sudah melakukan sekitar 300.000 manuver penghindaran tabrakan. Bayangkan jika SpaceX benar-benar mewujudkan rencana satu juta satelitnya. Para ahli memperkirakan SpaceX akan membutuhkan 272 juta manuver per tahun, atau sembilan manuver setiap detik.

Masalah kepadatan orbit tidak hanya berdampak pada satelit-satelit. Bagi para astronom, ledakan jumlah satelit adalah mimpi buruk yang sudah jadi kenyataan.

Satelit-satelit di orbit rendah memantulkan cahaya matahari selama sekitar dua jam setelah matahari terbenam dan sebelum matahari terbit, sehingga menciptakan titik-titik cahaya bergerak di langit malam. Bagi teleskop darat, jejak cahaya itu merusak gambar dan data ilmiah.

Studi terbitan Januari 2026 menemukan, satelit-satelit internet Amazon Leo, yang beroperasi di ketinggian 630 kilometer, memiliki kecerlangan rata-rata melampaui batas yang direkomendasikan oleh Persatuan Astronomi Internasional (IAU). Bahkan, dalam sekitar 25 persen pengamatan, satelit Amazon cukup terang untuk dilihat dengan mata telanjang.

Pada 2021, para astronom memperkirakan, dalam kurang dari satu dekade, satu dari setiap 15 titik cahaya di langit malam akan menjadi satelit bergerak. Prediksi itu hanya berdasarkan 65.000 satelit megakonstelasi yang direncanakan saat itu. Kini, angka yang direncanakan telah jauh lebih besar. Itu berarti langit malam yang sudah ditatap manusia selama puluhan ribuan tahun akan berubah secara permanen dalam satu generasi.

Starlink

Peluncuran satelit Starlink. (FOTO/starlink.com)

Di samping itu semua, ada satu ancaman lain yang tidak terlihat oleh mata tapi bisa berdampak pada seluruh planet, yakin dampak atmosferik dari ledakan peluncuran dan pembuangan satelit.

Setiap kali roket diluncurkan atau satelit yang sudah habis masa pakainya terbakar saat masuk kembali ke atmosfer, mereka melepaskan berbagai bahan kimia dan partikel ke lapisan-lapisan atmosfer yang mengatur suhu Bumi dan melindungi kehidupan dari radiasi berbahaya. Studi terbitan jurnal Earth's Future pada Mei 2026 menemukan, pada 2024, roket-roket yang meluncurkan megakonstelasi satelit sudah membakar lebih banyak bahan bakar dibanding gabungan semua jenis misi roket lainnya.

Bahan bakar utama yang digunakan adalah kerosin, sama seperti bahan bakar mesin jet, tetapi jauh lebih murni. Pembakarannya menghasilkan jelaga hitam atau black carbon.

Jelaga di permukaan Bumi sudah lama menjadi masalah iklim, tapi jelaga yang dilepaskan di atmosfer atas berperilaku jauh berbeda. Ia menyerap sinar matahari dengan efek pemanasan ratusan kali lebih besar per satuan massa dibanding jelaga di permukaan Bumi, dan bisa bertahan bertahun-tahun di stratosfer tanpa tersapu hujan.

Ketika masuk kembali ke atmosfer lalu terbakar, satelit tua melepaskan partikel aluminium oksida berjumlah besar. Studi yang didanai NASA dan diterbitkan dalam Geophysical Research Letters (2024) menemukan, satu satelit seberat 250 kilogram melepaskan sekitar 30 kilogram nanopartikel aluminium oksida saat dibuang. Berdasarkan sampel yang diambil pada 2023 oleh ilmuwan NOAA, aluminium dan logam-logam eksotis sudah tersebar di sekitar 10 persen stratosfer. Persebaran itu diperkirakan bisa mencapai 50 persen seiring bertambahnya jumlah satelit yang diluncurkan ke orbit rendah Bumi.

Para peneliti menggambarkan situasi tersebut sebagai eksperimen geoengineering surya skala kecil yang tidak terencana, tidak diawasi, dan tidak diuji.

Dampak besarnya terhadap lapisan ozon dan sistem iklim Bumi masih belum dipahami sepenuhnya. Namun, yang jelas, emisi dari seluruh misi roket diperkirakan akan mendeplesi lapisan ozon global sebesar 0,02 persen pada 2029. Angka itu memang masih terbilang kecil dibanding kerusakan 2 persen dari zat-zat kimia yang diatur oleh Protokol Montreal. Akan tetapi, trennya terus meningkat. Dan celakanya, sampai saat ini, belum ada regulasi internasional yang mewajibkan perusahaan untuk mengukur atau membatasi emisi atmosfer atas.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Selain tidak ada regulasi internasional, pihak yang sepenuhnya bertanggung jawab pun praktis tidak ada.

Aktivitas satelit dikoordinasikan secara global melalui Persatuan Telekomunikasi Internasional PBB, yang mengatur alokasi spektrum frekuensi dan posisi orbital. Akan tetapi, lembaga tersebut tidak mengoordinasikan lalu lintas luar angkasa dan tidak menetapkan panduan lingkungan. Adapun di tingkat nasional, regulator hanya berfokus pada keselamatan peluncuran dan akan bertanggung jawab jika ada kesalahan.

Kekosongan regulasi menciptakan sesuatu yang oleh para ahli digambarkan sebagai situasi "Wild West" di luar angkasa. Tidak ada kesepahaman tentang hak jalan di orbit. Tidak ada pula badan pengatur yang berwenang jelas. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan swasta, yang tidak terikat oleh perjanjian antarnegara secara langsung, berlomba-lomba menempatkan sebanyak mungkin satelit sebelum aturan baru mungkin diberlakukan.

Pada Juni 2025, Uni Eropa mengusulkan Space Act baru yang akan mewajibkan operator satelit menangani isu sampah antariksa dan penghindaran tabrakan. Namun, implementasinya diperkirakan baru berjalan pada 2028.

Masalahnya, AS telah menyatakan keberatan atas undang-undang itu. Sebab, berdasarkan Perjanjian Luar Angkasa yang ditandatangani pada 1967, ketika objek buatan manusia di orbit masih bisa dihitung dengan jari, yang bertanggung jawab atas objek-objek antariksa adalah negara, bukan perusahaan. Artinya, jika satelit SpaceX menabrak sesuatu, Amerika Serikat-lah yang secara hukum menanggung akibatnya.

Ilustrasi satelit

Ilustrasi satelit. FOTO/iStockphoto

Ahli hukum antariksa, Gregory Radisic dan Natalie Gillespie, sebenarnya telah mengusulkan mekanisme yang mereka sebut "Dark Skies Impact Assessment", yakni penilaian dampak terstruktur yang harus dilakukan sebelum konstelasi satelit baru mendapat izin operasi. Semacam AMDAL untuk benda antariksa, kira-kira.

Penilaian itu tidak dirancang untuk mematikan perkembangan luar angkasa, melainkan untuk memastikan bahwa semua dilakukan dengan menimbang segala konsekuensi.

Teknologi pembersih sampah antariksa juga sedang berkembang. Astroscale sedang mengembangkan sistem penangkapan satelit mati dengan pelat magnetik, sementara ClearSpace mengerjakan teknologi tentakel untuk menjangkau dan membuang satelit usang.

Akan tetapi, yang terpenting sebenarnya adalah kemauan politik dan kesepakatan internasional. Selagi semua berjalan sendiri-sendiri, tidak akan ada progres berarti.

Pada 1987, negara-negara di seluruh dunia bersatu, melalui Protokol Montreal, untuk menghentikan bahan kimia rumah tangga yang merusak lapisan ozon. Hampir 40 tahun kemudian, perjanjian itu masih menjadi satu-satunya perjanjian PBB yang diratifikasi oleh setiap negara di Bumi. Kini, di saat pemulihan lapisan ozon terancam oleh ledakan jumlah satelit, kesadaran yang sama dibutuhkan kembali demi menyelamatkan masa depan manusia serta Bumi dan segala isinya.

Baca juga artikel terkait PROYEK SATELIT atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin