Menuju konten utama
Byte

"Perang Bintang" Bukan Lagi Fiksi Ilmiah

Invasi AS ke Venezuela dan Iran menjadi bukti nyata penggunaan sistem antariksa dalam perang, sekaligus menandai bahwa "Perang Bintang" sungguh terjadi.

ilustrasi Perang Bintang. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perang luar angkasa bukan lagi cerita fiksi ilmiah yang latar waktunya jauh berada di masa depan. Percaya tidak percaya, perang ini sudah terjadi, dan Amerika Serikat (AS) telah melakukannya dalam dua operasi tempur terbaru di Venezuela dan Iran.

Sejak era Perang Dingin, militer AS dan Uni Soviet sudah berlomba-lomba menguasai orbit bumi. Pada 9 Juli 1962, AS meledakkan hulu ledak nuklir sejauh 400 kilometer di atas Samudra Pasifik dalam uji coba bernama Starfish Prime. Ledakan itu menghasilkan gelombang elektromagnetik yang memadamkan lampu jalanan di Hawaii sejauh 1.450 kilometer, serta merusak sekitar sepertiga dari 22 satelit yang ada di orbit saat itu, termasuk satelit komunikasi televisi pertama dunia, Telstar 1.

Dahsyatnya impak dari uji coba itu, syukurnya, dengan cepat disadari hingga akhirnya melahirkan Perjanjian Luar Angkasa 1967. Isi dari perjanjian tersebut, kurang lebihnya, melarang negara mana pun menempatkan senjata pemusnah massal di orbit atau benda langit lainnya.

Meski demikian, bukan berarti antariksa tidak dijamah begitu saja oleh kepentingan militer. Selama puluhan tahun, perang di luar angkasa terus berlangsung, meski dengan definisi yang disamarkan. Mereka melabelinya urusan intelijen dan komunikasi, alih-alih pertempuran langsung.

Itu semua mulai berubah ketika Cina, pada 2007, menghancurkan salah satu satelitnya sendiri di orbit rendah bumi untuk membuktikan kemampuannya menyerang infrastruktur antariksa musuh. Puing-puingnya masih berputar di orbit hingga hari ini. AS merespons dengan uji coba serupa, menembak jatuh satelitnya sendiri menggunakan rudal dari kapal perang Angkatan Laut. Begitu juga Rusia dan India.

Saat ini, menurut laporan Global Counterspace Capabilities 2025 dari Secure World Foundation, setidaknya empat negara telah membuktikan kemampuan menghancurkan satelit secara fisik: AS, Cina, Rusia, dan India.

Stasiun luar angkasa internasional

Stasiun luar angkasa internasional. foto/istockphoto

Akan tetapi, tren terbaru menunjukkan sesuatu yang jauh dari ledakan. Sebab, ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa menghancurkan satelit secara fisik dapat menciptakan puing-puing berbahaya bagi semua pihak, termasuk pihak penyerang. Maka, yang berkembang kini adalah senjata-senjata yang lebih halus: pemblokiran/pengacakan sinyal (signal jamming), laser untuk membutakan sensor optik, serangan siber, dan manuver satelit tak terduga.

Cina, misalnya, diperkirakan memiliki setidaknya lima lokasi uji coba senjata energi tinggi, seperti laser dan pemancar gelombang mikro yang mampu menyerang satelit musuh. Sementara itu, Rusia sudah menggelar sistem laser mobile bernama Peresvet untuk melindungi peluncur rudal balistiknya. Dan keduanya sedang membangun konstelasi satelit raksasa yang bisa memantau, melacak, dan membidik, pasukan di permukaan bumi.

Di tengah lanskap itulah AS memutuskan membentuk cabang militer baru, sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sejak 1947.

U.S. Space Force (Angkatan Luar Angkasa AS) resmi berdiri pada 20 Desember 2019 setelah Presiden Donald Trump menandatangani National Defense Authorization Act 2020.

Itu adalah cabang militer keenam AS, sekaligus yang terkecil. Per 2026, Space Force hanya memiliki sekitar 15.000 personel aktif, jauh di bawah Angkatan Laut yang punya lebih dari 300.000 orang.

Tugas utama Space Force adalah menjaga jaringan GPS global, memantau peluncuran rudal musuh melalui satelit inframerah, melindungi komunikasi militer dari gangguan, dan mengembangkan kemampuan ofensif di orbit. Letnan Jenderal Gregory Gagnon, komandan Combat Forces Command Space Force, menyebut orbit sebagai "garis depan yang tak terlihat". Tanpa Space Force, katanya, rantai serangan (kill chain) AS bakal bocor dan keunggulan strategisnya akan menguap.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Pada Januari 2026, Space Force membuktikannya dalam aksi militer pertamanya. Mereka diterjunkan dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Operasi bernama Absolute Resolve itu mengirimkan lebih dari 100 pesawat tempur, pengebom, dan drone, yang berujung pada penangkapan Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, atas dakwaan narkoterorisme. Tidak ada satu pun tentara AS yang tewas.

Ketua Gabungan Kepala Staf, Jenderal Dan Caine, mengungkapkan bahwa Space Command dan Cyber Command menyediakan efek non-kinetik yang "menciptakan jalur di atas" bagi pesawat-pesawat AS untuk maju.

Apa maksud efek non-kinetik itu? Senjata non-kinetik, menurut laporan Geneva Academy, adalah senjata yang menggunakan radiasi, suara, zat kimia, zat biologis, serta transmisi listrik. Ia berbeda dari senjata kinetik, yang menggunakan energi kinetik dari peluru atau proyektil.

Jika melihat deskripsinya, senjata non-kinetik AS itu sesuai dengan senjata rahasia yang disebut oleh Trump dalam wawancara eksklusifnya dengan New York Post. Ia menyebut senjata itu dengan nama tak resmi: "The Discombobulator" alias “Senjata yang Membuat Lawan Linglung”. Sesuai namanya, senjata misterius itu membuat peralatan musuh tidak berfungsi sama sekali.

"Mereka tidak bisa meluncurkan satu pun roket. Mereka punya roket Rusia dan Tiongkok, tapi tidak satu pun yang berhasil diluncurkan. Mereka menekan tombol dan tidak ada yang bekerja," kata Trump, dengan bangga.

Kesaksian dari pihak Venezuela menyebut, radar mereka tiba-tiba mati tanpa penjelasan, diikuti gelombang kedatangan drone dan helikopter yang membawa sekitar 20 tentara AS. Salah satu anggota pasukan pengawal Maduro mengaku merasakan "gelombang suara yang sangat intens" yang membuat mimisan dan muntah, lalu tidak bisa bergerak.

Setelah menginvasi Venezuela, Space Force secara resmi mengaktifkan elemen baru, khusus Amerika Latin, bernama Space Force Southern pada 21 Januari 2026, yang bermarkas di Davis-Monthan Air Force Base, Arizona. Kepala Space Operations, Jenderal Chance Saltzman, menegaskan bahwa, tanpa kendali atas luar angkasa, misi gabungan tidak bisa diselesaikan.

Serangan AS Israel Ke Iran

Dampak setelah serangan AS dan Israel terhadap Teheran. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, memicu kekhawatiran akan perang regional dengan ledakan yang dilaporkan di seluruh Timur Tengah ketika republik Islam itu membalas dengan rentetan rudal. (Photo by various sources / AFP)

Belum reda euforia Venezuela, Space Force sudah kembali beraksi dalam skala yang jauh lebih besar. Pada 28 Februari 2026, AS melancarkan Operation Epic Fury terhadap Iran, kampanye militer besar yang dalam 72 jam pertamanya saja berhasil menghantam lebih dari 1.700 target, termasuk fasilitas nuklir dan pusat komando.

Seperti di Venezuela, Space Force bergerak lebih dulu, bahkan sebelum pesawat tempur F-35 pertama memasuki wilayah udara Iran. Jenderal Caine menyebut Space Command dan Cyber Command sebagai "first movers" yang melapis efek non-kinetik untuk melumpuhkan kemampuan Iran melihat, berkomunikasi, dan merespons.

Satelit perang elektronik memacetkan radar, memutus jaringan komando, dan mengacak sinyal pemandu drone serta rudal Iran. Hasilnya, 90 persen serangan rudal balistik Iran berhasil dinetralisir. Setidaknya begitulah klaim militer AS.

Space Force juga mengoperasikan satelit inframerah di ketinggian orbit yang disebut OPIR (Overhead Persistent Infrared). Ia mampu mendeteksi panas dari peluncuran rudal dalam hitungan milidetik, lalu meneruskan datanya ke baterai rudal pencegat Patriot dan THAAD di lapangan dalam hitungan detik. Sederhananya: Space Force melihat rudal Iran seketika diluncurkan, lalu memberi tahu pasukan AS mengenai tempat berlindung yang aman atau cara menjatuhkannya.

Selain kapabilitas satelit, aksi U.S. Space Force dibekali senjata mutakhir. Sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS di lepas pantai Jepang kini telah dilengkapi sistem senjata laser bernama HELIOS (High-Energy Laser with Integrated Optical Dazzler and Surveillance) yang mampu menembak objek dengan sinar energi terfokus. Meski begitu, sistem persenjataan ini belum pernah dipakai. Sempat ada pemberitaan yang bilang bahwa HELIOS digunakan untuk menyetop misil Iran, tetapi kemudian dibantah oleh media lain.

Bicara soal kemampuan militer di luar angkasa, sebenarnya bukan cuma AS yang punya bekal. Iran pun memiliki satuan bernama Aerospace Force yang merupakan bagian dari Garda Revolusi (IRGC).

Namun, komando milik matra antariksa Iran tersebut, menurut klaim Laksamana Brad Cooper, kepala CENTCOM, telah dihancurkan oleh AS. Akibatnya, kemampuannya mengkoordinasi serangan balasan pun sudah menurun.

Bahkan, menurut Todd Harrison dari American Enterprise Institute, "Iran hampir tidak memiliki aset luar angkasa yang berarti." Mereka memang telah meluncurkan 26 satelit sejak 2005, dengan 13 unit masih beroperasi dan tiga di antaranya milik Korps Garda Revolusi Islam. Namun, kemampuan anti-satelitnya masih sangat terbatas. Yang paling mungkin mereka miliki hanyalah kemampuan jamming dan spoofing sinyal komersial.

Terlepas dari itu, bagi Space Force, operasi di Venezuela dan Iran jadi pembuktian paling nyata sejak pembentukannya. Apalagi, saat itu banyak pihak mengkritiknya. Ada yang mempertanyakan urgensi pembentukannya, mencapnya sebagai kelahiran yang prematur, ketidakjelasan doktrin dan landasan teoretis jelas, hingga sebutan "kludge" (tambal sulam politik) sebab dekat dengan kepentingan elektoral Trump.

Namun, dari sudut pandang militer AS, serangan sepihak yang mereka lancarkan ke Venezuela dan Iran menjadi bukti nyata untuk mementahkan penilaian tersebut.

Dari situ sudah terlihat betapa mengerikannya teknologi milik Space Force pada 2026. Kita belum tahu pula teknologi macam apa yang telah dikembangkan oleh Tiongkok, Rusia, India, atau mungkin negara-negara lainnya, termasuk anggota-anggota Uni Eropa.

Menilik krusialnya peran Space Force dalam operasi penyerangan Venezuela dan Iran, kemungkinan terjadinya Space Race jilid kedua amatlah besar. Bedanya, kali ini mereka tidak berlomba mencapai bulan, melainkan menciptakan senjata paling mematikan untuk diluncurkan ke luar angkasa.

Baca juga artikel terkait IRAN-AS atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin