tirto.id - Automasi adalah masa depan medan perang, dan Eric Trump tampaknya sedang berusaha keras mengeruk untung sebanyak-banyaknya dari industri tersebut. Lewat Dominari, sebuah perusahaan investasi yang bermarkas di Trump Tower, Eric dan kakaknya, Donald Jr., kini terlibat dalam sejumlah perusahaan teknologi yang sebagian bergerak di bidang industri militer.
Dalam laporan Washington Post yang terbit 13 Juli 2026, dipetakan dengan jelas bagaimana keterlibatan dua putra Presiden Amerika Serikat tersebut di bidang teknologi militer. Bedanya, portofolio Donald Jr. lebih bervariasi lantaran dia juga terlibat di perusahaan-perusahaan non-militer macam Perplexity dan PsiQuantum. Sementara itu, Eric benar-benar fokus pada bidang militer.
Ada tiga perusahaan teknologi militer yang melibatkan Eric: PowerUS, Xtend, dan Foundation Future Industries. PowerUS dan Xtend sama-sama merupakan produsen drone militer. PowerUS berbasis di Palm Beach, Florida, sementara Xtend berasal dari Tel Aviv, Israel. Baik Xtend maupun PowerUS sama-sama telah berhasil mengamankan kontrak dari Pentagon.
Lalu, bagaimana dengan Foundation Future Industries atau Foundation?
Keterlibatan Eric di Foundation sedikit berbeda. Dia memang disebut sebagai investor di Foundation. Akan tetapi, berdasarkan laporan Washington Post, tidak ada perusahaan investasi seperti Dominari atau American Ventures yang menjembatani kedua pihak. Sepertinya, pria 42 tahun itu berinvestasi secara langsung di Foundation. Selain itu, Eric juga menjabat sebagai Chief Strategy Advisor di perusahaan yang dibentuk pada 2024 tersebut.
Segmen yang digeluti Foundation pun berbeda dengan PowerUS dan Xtend, meski sama-sama bergerak di bidang teknologi militer yang berfokus pada automasi peperangan. Jika PowerUS dan Xtend memproduksi drone, Foundation punya produk yang jauh lebih canggih dan lebih futuristik: robot tempur bernama Phantom.
Robot Humanoid Terkuat?
Phantom memiliki tinggi 5 kaki 11 inci (sekitar 1,8 meter) dan bobot 176 pon atau sekitar 80 kilogram. Robot ini digerakkan oleh aktuator cycloid buatan sendiri yang, menurut klaim perusahaan, mampu menghasilkan torsi hingga 160 Nm tanpa perlu sensor tambahan, sehingga gerakannya bisa senyap dan halus layaknya manusia.
Sejak Februari 2026, dua unit Phantom sudah dikirim ke Ukraina untuk mendukung pengintaian di garis depan. Menurut laporan Time pada Maret 2026, robot ini juga disiapkan untuk kemungkinan tugas tempur, meski Foundation menegaskan bahwa setidaknya untuk tahun ini fungsinya masih terbatas pada logistik dan pengintaian di wilayah berbahaya.
Dalam wawancara terpisah dengan Euronews, dia bahkan mengungkapkan rencana untuk mulai menguji coba kemampuan bersenjata Phantom di Ukraina paling cepat tahun depan. Kepada WIRED, dia menyebut "kinetic things" pada Phantom, istilah halus untuk sistem persenjataan, rencananya akan diperkenalkan dalam beberapa bulan ke depan.

Sama halnya dengan PowerUS dan Xtend, Foundation juga telah mengamankan kontrak dengan Pentagon, meski skalanya masih berupa kontrak riset bernilai 24 juta dolar AS. Dengan kontrak ini Foundation akan membantu Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara AS untuk memenuhi kebutuhan inspeksi, logistik, dan penanganan senjata.
Namun, laporan WIRED mengungkap detail yang agak mengganjal soal kontrak tersebut. Ketika ditanya lebih rinci, Foundation mengakui bahwa dua dari kontrak itu sebenarnya diwariskan dari akuisisi mereka atas Boardwalk Robotics, sementara tiga lainnya datang lewat kemitraan dengan Institute for Human and Machine Cognition (IHMC), sehingga tidak jelas apakah Foundation benar-benar berhasil mengamankan kontrak baru secara mandiri dari pemerintah.
Terlepas dari perdebatan soal asal-usul kontrak itu, yang pasti Eric benar-benar all in di Foundation. Dalam sebuah wawancara di program "Mornings with Maria" milik Fox Business, dia berkata dengan penuh semangat bahwa Amerika Serikat harus menang dalam perlombaan ini, dan menyebut kegunaan robot semacam Phantom "tidak terbatas".
Kepada WIRED, dia bahkan bercerita bahwa dirinya kerap ikut memberi masukan teknis untuk pengembangan robot itu, sambil menyebut dirinya "sebenarnya seorang insinyur di dalam hati" yang senang mengutak-atik mesin di rumahnya sendiri.
Kedekatan Eric dengan Foundation ini pula yang membuat keterlibatannya menuai kritik paling tajam dibandingkan investasinya di PowerUS atau Xtend. Anggota parlemen dari Partai Demokrat, termasuk Senator Elizabeth Warren, menyebut peran Eric di Foundation sebagai "korupsi terang-terangan".
Komite Oversight and Government Reform di DPR AS bahkan mencatat bahwa perusahaan-perusahaan yang melibatkan putra-putra Trump secara kolektif telah menerima lebih dari 725 juta dolar AS dalam bentuk pinjaman, hibah, dan kontrak sejak Trump kembali menjabat sebagai Presiden.
Angka itu masih kalah jauh dibanding total investasi kedua Eric dan Donald Jr. di seluruh sektor teknologi pertahanan. Menurut laporan Washington Post, perusahaan yang terkait dengan Donald Jr. dan Eric secara keseluruhan telah menghasilkan sedikitnya 3,2 miliar dolar AS dalam bentuk bisnis langsung dari pemerintah sejak keduanya berinvestasi, ditambah opsi kontrak masa depan senilai 3,1 miliar dolar AS lagi.
Sebagian besar dari angka itu memang berasal dari SpaceX dan Anduril, dua raksasa yang sudah mapan bahkan tanpa campur tangan Eric dan Donald Jr. sekalipun. Tapi, bila keduanya dikeluarkan dari hitungan, belasan perusahaan rintisan lain yang terafiliasi dengan keluarga Trump tetap berhasil mengantongi hampir 1,8 miliar dolar AS dalam komitmen jangka panjang dari pemerintah federal.
Risiko Etis dan Akuntabilitas
Terlepas dari kontroversi finansial itu, pertanyaan yang lebih besar sebenarnya menyangkut arah teknologi itu sendiri. Pathak punya cara pandang yang khas soal alasan dia membangun robot tempur macam Phantom. Kepada Fox News, dia berkata, "Anda tidak bisa membangun utopia lalu tidak mempertahankannya. Itu tidak masuk akal," sembari menambahkan bahwa banyak pihak yang ingin menghancurkan apa yang telah dibangun AS.
Bagi Pathak, ketakutan publik terhadap robot tempur sebagian besar berasal dari bayangan fiksi ilmiah semacam Terminator, bukan realitas teknis di lapangan. Kepada Euronews, dia berargumen bahwa justru tidak masuk akal mengirim sekumpulan robot humanoid bila tujuannya cuma membuat kekacauan, karena ada cara yang jauh lebih murah untuk melakukan itu, misalnya lewat bom.
Menurutnya, robot humanoid justru lebih masuk akal digunakan ketika misi membutuhkan presisi tinggi, semisal menghindari kerusakan infrastruktur atau korban sipil dalam pertempuran yang rumit.

Kekhawatiran semacam ini pula yang mendorong Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, angkat bicara secara terbuka. Lewat sebuah unggahan di LinkedIn, dia menyebut sistem senjata otonom mematikan sebagai "robot pembunuh", mesin yang memilih dan menyerang target lalu mengambil nyawa tanpa kendali dan penilaian manusia. Baginya, hal itu secara moral tidak bisa diterima dan harus dilarang lewat hukum internasional, karena beberapa keputusan harus selamanya berada di tangan manusia, terutama keputusan untuk mengambil nyawa orang lain.
Sejak 2023, PBB sebenarnya sudah merundingkan sebuah perjanjian khusus soal sistem senjata otonom mematikan lewat Convention on Certain Conventional Weapons, dengan target sebuah larangan mengikat atas senjata yang beroperasi tanpa kendali manusia.
Lebih dari 120 negara mendukung langkah ini, namun negara-negara dengan kekuatan militer besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Israel masih enggan mengikatkan diri. Pemerintahan Trump sendiri justru bergerak ke arah sebaliknya, dengan memerintahkan Departemen Pertahanan memperbarui kebijakan soal penggunaan senjata bertenaga AI yang bisa membunuh.
Di tengah dorongan itu, perusahaan AI paling berhati-hati soal keamanan, Anthropic, sampai mendapat tekanan dari pemerintahan Trump. CEO Anthropic, Dario Amodei, meminta jaminan dari Pentagon bahwa teknologi Claude buatan perusahaannya tidak akan digunakan untuk menggerakkan senjata yang sepenuhnya otonom, dengan alasan modelnya belum cukup andal untuk mengambil keputusan hidup dan mati. Alih-alih menerima syarat itu, pemerintahan Trump menuntut kebebasan untuk memakai Claude demi "tujuan sah apa pun", dan malah mencap Anthropic sebagai ancaman bagi keamanan nasional.
Pertarungan ide semacam ini pada akhirnya menunjukkan betapa rumitnya masa depan otomasi peperangan. Di satu sisi, ada Pathak yang yakin robot seperti Phantom justru bisa membuat perang lebih presisi dan mengurangi korban sipil dibanding senjata konvensional. Di sisi lain, ada Peter Asaro, filsuf sekaligus ketua International Committee for Robot Arms Control, yang menyebut ini soal martabat manusia, karena mesin bukanlah agen moral atau hukum dan tidak akan pernah benar-benar memahami implikasi etis dari tindakannya sendiri.
Yang jelas, Ukraina sudah menjadi laboratorium hidup bagi semua eksperimen ini. Negara yang kini meluncurkan hingga 9.000 drone setiap hari itu telah menjadi medan uji coba favorit bagi para produsen senjata, termasuk Foundation, yang ingin membangun apa yang mereka sebut sebagai "feedback loop" dari penggunaan nyata di medan perang.
Menilik tren, dengan berat hati kita mungkin mesti menerima kenyataan bahwa perang di masa depan tidak lagi semata soal siapa yang punya senjata paling canggih atau tentara yang paling hebat, melainkan juga soal siapa yang paling bersedia menyerahkan keputusan hidup dan mati kepada mesin dan akal imitasi.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































