Menuju konten utama

Update Dugaan Keracunan MBG di Batang: 674 Siswa Terdampak

Sebanyak 674 orang terdampak dugaan keracunan MBG di Batang. Sebanyak 34 pasien masih dirawat, sementara penyebab kejadian masih diselidiki.

Update Dugaan Keracunan MBG di Batang: 674 Siswa Terdampak
Wakil Bupati Batang Suyono (kedua kanan) meninjau korban diduga keracunan di RSUD Kalisari, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (23/9/2026). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada Kamis (24/9/2026).

Ratusan pelajar dari jenjang TK hingga SMA/MA, dilaporkan mengalami sejumlah keluhan setelah menyantap makanan MBG. Laporan terbaru menyebut total akumulasi kasus dugaan keracunan di wilayah tersebut mencapai 674 orang.

Penanganan terhadap para korban dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Batang. Sebagian pasien telah diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan, sedangkan 34 pasien masih menjalani rawat inap.

Update Dugaan Keracunan MBG di Batang

Berdasarkan laporan resmi Tim Surveilans Imunisasi dan KLB Dinas Kesehatan Kabupaten Batang per Senin, 28 September 2026 pukul 07.00 WIB, total akumulasi kasus dugaan keracunan makanan di wilayah Bawang mencapai 674 orang.

Para korban mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan. Di RSUD Limpung tercatat total 78 kasus, terdiri dari 73 kasus rawat inap dan 5 kasus rawat jalan. Dari pasien yang sebelumnya menjalani rawat inap tersebut, 10 orang masih dirawat sedangkan 63 lainnya telah diperbolehkan pulang.

Di RSUD Batang, tercatat 96 kasus yang seluruhnya sempat menjalani rawat inap. Dari jumlah tersebut, 16 pasien masih menjalani perawatan dan 80 pasien telah diperbolehkan pulang.

Puskesmas Bawang mencatat total 611 kasus, dengan 393 pasien mendapatkan penanganan rawat jalan dan 182 pasien dirujuk. Dari total 36 pasien yang sempat menjalani rawat inap, sebanyak 8 orang masih dirawat.

Penanganan juga dilakukan di fasilitas kesehatan lainnya, yakni Puskesmas Subah yang menangani 26 kasus dan seluruh pasien telah sembuh atau pulang, Puskesmas Gringsing 1 dengan 10 kasus, sembilan di antaranya telah pulang atau menjalani rawat jalan dan satu dirujuk, serta Puskesmas Bandar 1 dengan 20 kasus yang seluruhnya telah pulang atau menjalani rawat jalan. Selain itu, terdapat 63 pasien yang mendapatkan pengobatan di fasilitas kesehatan lainnya.

Dari keseluruhan kasus tersebut, pemerintah daerah menyebut masih terdapat 34 pasien yang menjalani perawatan intensif rawat inap di berbagai fasilitas kesehatan di Kabupaten Batang.

Pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan terus melakukan koordinasi untuk memantau proses pemulihan para korban. Pada saat yang sama, evaluasi dan pengawasan terhadap penyedia layanan pangan dalam program MBG juga terus dilakukan menyusul kejadian tersebut.

Apa Penyebab Dugaan Keracunan MBG di Kab. Batang, Jawa Tengah?

Dari hasil investigasi awal ditemukan sejumlah persoalan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bela Batang Sejahtera yang berpotensi berkaitan dengan kejadian keracunan tersebut.

Salah satu petunjuknya berasal dari keluhan korban. Sejumlah siswa mengaku mengalami mual setelah menyantap menu telur bolognese. Cita, siswi MTs Sunan Kalijaga, misalnya, mengatakan dirinya mengalami mual, sakit perut, pusing, dan diare beberapa jam setelah makan lauk telur.

Kasubbag Tata Usaha Kantor Kemenag Batang Sodikin juga menyebut mayoritas santri yang ditemuinya mengalami mual setelah mengonsumsi menu telur. Namun, keluhan tersebut belum membuktikan bahwa telur merupakan penyebab keracunan karena masih diperlukan pemeriksaan laboratorium.

Dugaan lain berkaitan dengan proses pengolahan makanan yang tidak sesuai dengan SOP. Dari pemeriksaan rekaman CCTV, BGN menemukan proses pengolahan makanan telah dimulai sekitar pukul 19.30 WIB, sedangkan berdasarkan SOP pengolahan seharusnya dilakukan setelah pukul 02.00 WIB.

Wakil Kepala BGN Mayor Jenderal TNI Trenggono juga menyoroti pengolahan telur dan menyebut terdapat ketidaksesuaian waktu dalam proses memasaknya.

Selain proses pengolahan, kondisi bangunan dan dapur SPPG juga menjadi perhatian. Dalam sidak, ditemukan sejumlah standar yang belum terpenuhi, antara lain kondisi dinding yang belum solid serta beberapa bagian area dapur yang belum sesuai standar.

Distribusi dan waktu konsumsi makanan juga menjadi persoalan yang didalami. Trenggono menegaskan makanan MBG seharusnya dikonsumsi oleh penerima manfaat sesuai batas waktu yang telah dicantumkan pada label dan tidak dibawa pulang untuk dikonsumsi anggota keluarga.

“Misalkan di labeling itu sebelum pukul 11.00 WIB, berarti pukul 11.00 WIB petugas dapur harus datang ke situ mengambil tempat makannya selesai makan. Jadi tidak boleh lagi didistribusikan untuk pihak lain karena sangat berbahaya sudah keluar dari waktu,” tegasnya dilansir laman resmi Pemkab Batang (26/9/2026).

Ia menjelaskan bahwa setelah batas waktu konsumsi berakhir, petugas dapur seharusnya mengambil kembali wadah makanan dan makanan tersebut tidak lagi didistribusikan kepada pihak lain.

Faktor lain yang ditemukan adalah kekurangan personel di dapur SPPG. Trenggono mengatakan kepala dapur sebelumnya telah menyampaikan kepada mitra dan yayasan mengenai kekurangan tenaga, tetapi belum mendapatkan tindak lanjut.

Atas kejadian tersebut, SPPG Bela Batang Sejahtera dihentikan sementara atau disuspend selama 30 hari. SPPG ini masih berpotensi ditutup permanen apabila hasil investigasi menunjukkan adanya pelanggaran.

Baca juga artikel terkait KERACUNAN MASSAL atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra