tirto.id - Kementerian Pertahanan Inggris merilis kompetisi TF RAID Avengers: AI Swarming pada Jumat, 25 September 2026. Sebanyak 12 perusahaan teknologi pertahanan Inggris bakal mendapat akses eksklusif ke Avengers AI Labs, basis data milik Kementerian Pertahanan Ukraina yang sudah menyimpan lebih dari 5 juta frame rekaman video serta jutaan deteksi objek.
Kompetisi ini terbuka bagi industri Inggris untuk mengajukan gagasan pemanfaatan dataset Avengers Labs, guna mengembangkan kemampuan operasi drone secara otonom, termasuk teknologi drone swarm, atau kawanan drone yang bergerak sekaligus mengambil keputusan bersama tanpa arahan satu per satu dari operator manusia.
Akses dataset tersebut berakar dari kesepakatan bilateral antara Perdana Menteri Inggris Andy Burnham dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di Kyiv pada 24 Agustus 2026. Lewat kesepakatan itu, Inggris jadi mitra internasional pertama yang memegang hak akses ke basis data digital milik militer Ukraina.
"Kemitraan inovatif ini akan memadu pengalaman operasional Ukraina dengan ekosistem kecerdasan buatan (AI) Inggris yang berkelas dunia, sehingga memberi kita kesempatan untuk mengembangkan teknologi masa depan yang mampu mengubah kehidupan di Inggris, serta menyelamatkan nyawa di medan perang Ukraina," ujar Andy Burnham.
Rentetan program seputar AI, drone swarm, dan sistem pertahanan anti-drone memang sedang ramai sepanjang periode Agustus hingga September 2026. Berikut linimasa peristiwa pentingnya:
| 10 Agustus 2026 | ● │ | Akses Avengers AI Labs untuk perusahaan Ukraina. Kementerian Pertahanan Ukraina membuka platform Avengers AI Labs berisi 5 juta frame medan tempur. Perusahaan lokal memakainya untuk melatih model AI bagi sistem unmanned, termasuk deteksi target secara real-time dari feed video drone. |
| 24 Agustus 2026 | ● │ | Perjanjian bilateral Kyiv. PM Andy Burnham dan Presiden Zelenskyy menandatangani kemitraan AI. Inggris menjadi mitra pertama yang mengantongi akses Avengers AI Labs untuk mengembangkan teknologi AI militer bersama Ukraina. |
| 2 September 2026 | ● │ | Peluncuran Project PANOPTES. UKDI membuka kompetisi sistem C-UAS otonom untuk melindungi pasukan dari serangan drone massal, dengan fokus pada laser directed energy weapons, arsitektur terbuka, dan integrasi dengan UGV. |
| 9 September 2026 | ● │ | Demonstrasi Lockheed Martin CARI. Lockheed Martin menguji sistem defensive swarm CARI dalam latihan T-REX. Kawanan drone otonom membentuk dinding tiga dimensi untuk memblokir serangan swarm musuh, dikendalikan hanya oleh satu operator. |
| 11-17 September 2026 | ● │ | Latihan Scarlet Dragon 26-3. XVIII Airborne Corps AS menguji kawanan 25-100 drone di Fort Bragg, AS, berfokus pada integrasi sensor, AI, dan sistem counter-UAS menghadapi serangan drone dalam jumlah besar. |
| 16 September 2026 | ● │ | Uji Software Defined Swarms Dstl. Dstl dan British Army menguji kawanan delapan UAV dengan sistem kontrol kolektif. Dua opsi industri, BlueBear dan Disruptor Group, diadu menjalankan tugas ISR dalam lingkungan operasional realistis. |
| 25 September 2026 | ● | Peluncuran TF RAID Avengers. Kementerian Pertahanan Inggris membuka kompetisi AI Swarming, memberi hingga 12 perusahaan akses eksklusif ke Avengers AI Labs untuk mengembangkan model AI bagi kawanan drone otonom. |
Apa Itu Drone Swarm dan Mengapa Data Ukraina Unggul?
Istilah drone swarm merujuk pada kemampuan sekelompok drone untuk terbang, bermanuver, dan berkoordinasi secara otonom sebagai satu kesatuan, dalam bahasa Indonesia lazim diterjemahkan sebagai "kawanan drone". Setiap unit di dalamnya bisa merespons perubahan situasi di lapangan tanpa menunggu instruksi terpisah dari operator manusia.
Oleksandra Molloy, dalam Drones in Modern Warfare (2024-2026) mendefinisikan drone swarm sebagai kelompok drone yang bekerja sama mengejar satu tujuan. Berbeda dari operasional drone tunggal, sebuah kawanan bisa terdiri dari ribuan unit drone yang bergerak terkoordinasi di medan tempur.
Koordinasi itu berjalan dua arah. Informasi tentang kondisi lingkungan yang ditangkap satu drone diteruskan ke drone lain di dalam kawanan, sehingga seluruh kelompok bisa menyesuaikan respons terhadap perubahan situasi secara cepat.
Tugas pun terbagi otomatis: sebagian mengintai, sebagian mengawasi, sebagian lain menyerang langsung. Ketika beberapa unit dihancurkan lawan, sisa kawanan tetap melanjutkan misi, sesuatu yang sulit terjadi jika setiap drone bergantung hanya pada satu operator manusia saja.

"Dari sisi logistik dan teknis, tidak praktis jika harus menyiagakan 600 operator drone untuk mengendalikan 600 drone, karena kompleksitas dan besarnya biaya untuk mengoordinasi banyak transmisi radio dan perintah. Alih-alih mengarahkan setiap drone secara terpisah, pilot atau pemrogram cukup memberi tugas kepada drone swarm, lalu membiarkan algoritma operasinya mengambil alih," tulis Molloy pada Bagian 3, subbagian Drone Swarming.
Pola kerja algoritmik semacam itu sudah teruji di lapangan jauh sebelum Avengers AI Labs eksis. The Wall Street Journal (WSJ) pada September 2025 melaporkan bagaimana tiga drone Ukraina berperangkat lunak buatan Swarmer, perusahaan rintisan AS, terbang menuju posisi Rusia di malam hari, lalu menentukan sendiri urutan penyerangan tanpa menunggu perintah operator untuk setiap keputusan.
Skenarionya sederhana, satu drone pengintai memetakan rute menuju sasaran, dua drone lain membawa bom menuju posisi musuh. Operator cukup menetapkan zona sasaran lalu memberi perintah menyerang begitu posisi lawan ditemukan; drone-drone itu sendiri yang memutuskan kapan dan siapa yang bakal menjatuhkan bom.
"Kau tentukan sasarannya, dan drone-drone itu yang mengurus sisanya," ujar Kupriienko, CEO Swarmer.
Efeknya terasa pada kebutuhan personel. Seorang perwira Ukraina yang diwawancarai WSJ menyebut operasi semacam itu biasanya cukup melibatkan tiga orang saja, yakni perencana, operator drone, dan navigator. Adapun jika setiap drone dikendalikan terpisah, operasi ini butuh sembilan orang. Perbedaan itu penting bagi Ukraina yang kalah telak jika hanya mengandalkan kuantitas personel tentara saja.
Akan tetapi, teknologi swarm tetap punya batas. WSJ mencatat drone-drone Ukraina sempat bertukar informasi secara berlebihan sampai membebani jaringan komunikasi mereka sendiri. Zak Kallenborn, peneliti drone warfare dari King's College London, menilai stabilitas komunikasi antar-drone sudah menjadi tantangan yang melekat pada seluruh sistem drone swarm, bukan hanya milik Ukraina.
Persoalan komunikasi itulah yang mengarah pada kebutuhan data berskala besar. Kallenborn melalui opininya di MIT Technology Review menjelaskan, tiap penerbangan drone menghasilkan ribuan titik data, seperti gambar dan video, yang merekam bagaimana mesin tempur dan manusia merespons perubahan situasi.
"Data paling berharga untuk melatih model AI berasal dari pengecualian: saat visibilitas hilang, sinyal terganggu, atau operator manusia berimprovisasi. Perusahaan AI menghabiskan waktu bertahun-tahun, juga membakar uang untuk mencoba menangkap momen-momen ini agar model mereka menjadi lebih tangguh, tetapi perang (Ukraina) menghasilkan momen-momen itu dengan frekuensi yang tidak bisa dibandingkan dengan uji terkontrol di situasi normal," tulis Kallenborn.
Kebutuhan akan data terverifikasi juga terlihat dari langkah Swarmer pada Juni 2026. Perusahaan itu menggandeng Molfar Intelligence, perusahaan intelijen Ukraina yang mengkhususkan diri pada open-source intelligence (OSINT).
Molfar memasok dataset OSINT terstruktur untuk Swarmer, termasuk citra dan video dengan info lokasi serta pengamatan berbasis satelit, mengenai peralatan militer dan aktivitas di medan perang. Data itu diperiksa melalui beberapa sumber, lalu dikorelasikan berdasar waktu dan lokasi sebelum dipakai untuk mengidentifikasi peralatan dan aktivitas.
Swarmer memakai data terverifikasi tersebut untuk melatih dan menyempurnakan model AI Militer. Targetnya mencakup peningkatan akurasi pengenalan objek, pemahaman situasi, serta keandalan pengambilan keputusan oleh sistem otonom.
"Kemitraan penting dengan Molfar Intelligence ini memberi Swarmer aliran data terverifikasi dari medan perang yang tidak dapat ditiru oleh dataset sintetis mana pun," kata Kupriienko.

CEO Molfar Intelligence Artem Starosiek menilai pengalaman konflik Ukraina telah menghasilkan jenis data yang sulit diperoleh dalam kondisi damai.
"Ukraina menghasilkan sesuatu yang tidak dapat dihasilkan oleh militer mana pun pada masa damai, intelijen yang sudah terverifikasi di bawah tekanan pertempuran nyata, setiap hari, selama lebih dari empat tahun," kata Starosiek.
Di Amerika Serikat, latihan militer Scarlet Dragon pada September 2026 digeber untuk menguji kemampuan mereka menghadapi drone swarm hingga 100 drone di lapangan. Latihan tersebut menggabungkan sensor, radar, AI, perang elektronik, jaringan data, sistem otonom, dan pertahanan, untuk mendeteksi serta menghadapi ancaman drone.
"Seiring sistem nirawak terus mengubah medan perang di seluruh dunia, latihan seperti Scarlet Dragon memberi korps kesempatan untuk belajar, beradaptasi, dan mengembangkan skill yang dibutuhkan prajurit untuk mempertahankan keunggulan dalam konflik di masa depan," demikian keterangan di laman resmi Departemen Perang AS.
Dari Ukraina ke Uji Coba Drone Swarm di Berbagai Negara
Selain Ukraina, Inggris, dan Amerika Serikat, sejumlah negara lain juga menguji drone swarm dengan tingkat otonomi, skala, dan fungsi berbeda-beda sepanjang 2025-2026. Berikut detailnya:
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id































