tirto.id - Kapal induk menunjukkan taringnya melalui Perang Dunia 1 dan 2. Armada Angkatan Laut ini terjun dalam serangan Pearl Harbor dan pertempuran Midway di Pasifik antara Jepang kontra Amerika Serikat. Kendati demikian, Inggris adalah sang pelopor kapal induk hingga menjalankan misi perebutan Kepulauan Falkland melawan Argentina.
Kapal induk memiliki peran penting dalam sejarah perang dunia. Armada ini dilengkapi dengan hanggar yang luas untuk menyimpan pesawat tempur, mengisi bahan bakar, dan menyediakan berbagai peralatan tempur lainnya.
Dalam sejarah, Inggris dikenal sebagai negara dengan kekuatan maritim terkemuka selama era Perang Dunia I. Kapal HMS Argus adalah tonggak penting evolusi kekuatan militer, khususnya pembuatan kapal induk seri berikutnya.
Beberapa serangan bersejarah lain juga turut melibatkan kapal induk. Di antaranya serangan Pearl Harbor di Hawaii, pertempuran Midway, hingga perebuatan Kepulauan Falkland alias Malvinas.

Uji Coba Kapal Induk HMS Argus dan Perang Dunia 1
HMS Argus awalnya diciptakan sebagai kapal kargo penumpang oleh sebuah galangan kapal William Beardmore pada tahun 1914. Kapal ini memiliki nama asli Conte Rosso
Royal Navy, Angkatan Laut Kerajaan Inggris, membelinya pada tahun 1916. Mengutip laman Britannica,kemudian dilakukan modifikasi menjadi kapal induk. Modifikasi butuh waktu selama dua tahun dan selesai September 1918.
HMS Argus lantas keluar galangan sebagai kapal induk bergeladak rata penuh pertama dalam sejarah Angkatan Laut, sekaligus bagian dari rencana serangan udara ambisius Royal Navy menjelang akhir Perang Dunia 1.
Dalam masa tugas bersama Grand Fleet (armada tempur utama Royal Navy selama Perang Dunia I) pada 16 September 1918, kapal ini membawa delapan belas pesawat, termasuk pesawat pengebom torpedo Sopwith Cuckoo. Sayangnya, HMS Argus tidak sempat terlibat dalam pertempuran aktif, karena perang berakhir pada November 1918.
Selain beroperasi sebagai kapal induk, Argus juga digunakan untuk keperluan uji coba dan pelatihan Royal Navy. Secara struktur, HMS Argus dirancang dengan geladak terbang yang lapang dan bersih dari haluan hingga buritan sepanjang sekitar 560 kaki (170,7 meter).
Gas asap tungku dialirkan keluar menggunakan kipas melalui saluran asap horizontal besar yang bermuara di bagian belakang kapal.

Sebagaimana dikutip dari iwm.org.uk,HMS Argus dilengkapi dengan lift untuk memudahkan mobilisasi pesawat. Belum lagi dua tiang antena nirkabel yang dirancang dengan engsel, agar dapat direbahkan hingga rata dengan permukaan geladak.
Hanggar milik HMS Argus mampu menampung 20 pesawat, yang terbagi menjadi empat bagian oleh sekat tahan api dan terhubung ke geladak terbang melalui dua unit lift.
Di bagian tengah kapal terdapat penghalang angin yang dapat ditegakkan untuk melindungi pesawat yang berada di geladak, serta dilengkapi dengan dua derek tiang (derrick) dan dua derek mekanis (crane) untuk mengangkat pesawat dari permukaan air.
Bagian lambung kapal induk HMS Argus memuat bengkel tukang kayu dan teknisi yang dilengkapi peralatan untuk pemeliharaan serta perbaikan pesawat. Kapal dipersenjatai enam meriam berkaliber empat inci dan mampu mencapai kecepatan 20,2 knot.
Meski hadir di titik akhir Perang Dunia 1, HMS Argus tetap beroperasi pada tahun 1919, namun bukan untuk melawan Jerman. Kapal ini digunakan untuk mengangkut pesawat selama intervensi Inggris dalam Perang Saudara Rusia yang terjadi setelah Perang Dunia I.
Kapal HMS Argus juga terus bertugas sebagai kapal induk armada sepanjang tahun 1920-an dan melanjutkan pengabdian selama Perang Dunia II. Melansir laman resmi militaryfactory.com, HMS Argus diaktifkan kembali menjelang Perang Dunia II (1939–1945), tepatnya pada 30 Juli 1938.
Meski terkesan lambat, ruang penyimpanan pesawat terbatas, dan karakter yang berat di bagian atas (top-heavy), Angkatan Laut Kerajaan Inggris kembali menggunakan HMS Argus untuk keperluan mendesak karena tengah membutuhkan kapal perang.
Selama Perang Dunia II, Argus berperan dalam mengangkut pesawat tempur menuju Gibraltar, Malta, dan Takoradi (Ghana), serta bertugas dalam konvoi Arktik yang terkenal sangat berbahaya saat mengirimkan pesawat untuk membantu upaya perang Uni Soviet. Kapal ini juga berpartisipasi dalam Operasi Torch, yaitu invasi Sekutu ke Afrika Utara.
Sejak pertengahan 1943, Argus kembali ke pesisir Inggris untuk perbaikan. HMS Argus akhirnya berstatus pensiun tiga tahun berselang. Argus dikenang sebagai kapal induk acuan bagi desain masa depan.

Serangan Pearl Harbor & Pertempuran Midway
Amerika Serikat (AS) sepertinya bakal bersikap netral di tengah panasnya situasi Perang Dunia II. Di lain sisi, Jepang malah berupaya keras menguasai China. Ekspansi militer Jepang lalu dinilai sebagai ancaman terhadap kepentingan AS.
Sebab itu, AS mulai memasok sejumlah amunisi militer untuk negara-negara sekutu yang tengah bersitegang dengan Jepang, termasuk China. Tak hanya itu, AS juga menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Jepang hingga melarang ekspor berbagai komoditas negara tersebut. Pertempuran secara langsung antara Jepang dan AS tak terhindarkan.
Salah satu tujuan utama Jepang selama Perang Dunia II adalah menyingkirkan Amerika Serikat sebagai kekuatan dominan di Pasifik, demi menguasai wilayah di Asia Timur dan kepulauan Pasifik barat daya.
Serangan Pearl Harbor di Hawaii lalu terjadi pada 7 Desember 1941. Hal ini dilakukan oleh pasukan Kido Butai yang menyasar jantung armada Angkatan Laut AS. Melansir laman resmi pearl-harbor.info, pasukan Kido Butai berbasis kapal induk dan memiliki kemampuan melintasi Samudra Pasifik tanpa terdeteksi radar musuh.
Kido Butai berhasil tiba di posisi 230 mil di utara Oahu dan tidak diketahui pasukan AS. Pasukan yang dipimpin oleh Laksamana Madya Chuichi Nagumo ini membawa setengah lusin kapal induk: Akagi, Kaga, Sōryū, Hiryū, Shōkaku, dan Zuikaku.
Armada yang sama tidak berangkat sendirian, akan tetapi disertai rombongan besar berupa dua kapal tempur, dua kapal penjelajah berat, sembilan kapal perusak, delapan kapal tanker minyak, dan 23 kapal selam. Beberapa kapal selam turut membawa kapal selam mini berawak dua orang yang dirancang untuk menyusup ke kawasan Pearl Harbor.
Pasukan semakin dekat, tiba di posisi 230 mil di utara Oahu, tanpa terdeteksi pasukan AS. Jepang berkekuatan 414 pesawat yang ditempatkan di kapal-kapal induk tersebut. Rangkaiannya meliputi pesawat tempur Mitsubishi A6M "Zero", pesawat pengebom torpedo Nakajima B5N "Kate", dan pesawat pengebom tukik Aichi D3A "Val".

Kapal induk memang menjadi armada utama Jepang untuk menyimpan pesawat yang mengincar sasaran utama. Selain serangan Pearl Harbor, Jepang juga pernah menyerang pangkalan AS di Midway (Juni 1942). Serangan ini tak lepas dari peran vital kapal induk.
Empat kapal induk Jepang (Akagi, Kaga, Hiryu, dan Soryu) menjadi tempat untuk menyimpan pesawat tempur sekaligus mengisi ulang persenjataan dan bahan bakar. Kabar ini dituliskan melalui situs web nationalww2museum.org.
Dalam pertempuran di Midway, kapal induk Jepang Akagi, Kaga, dan Soryu terkena serangan, terbakar hebat dalam kurun waktu satu hari, dan akhirnya ditinggalkan. Tersisa satu kapal induk Hiryu yang berhasil melancarkan dua gelombang serangan dan menargetkan kapal induk milik AS, USS Yorktown.
Pada sore hari tanggal 4 Juni 1942, pesawat pengintai yang dilepaskan dari USS Yorktown berhasil menemukan posisi Hiryu. Kapal induk AS lainnya, Enterprise, merespon dengan mengerahkan pesawat pengebom tukik untuk melakukan serangan. Kapal induk Jepang Hiryu terbakar, kehilangan kemampuan meluncurkan pesawat, dan akhirnya tenggelam.
Pada 7 Juni 1942, Jepang membalas melalui kapal selam yang berhasil menenggelamkan Yorktown. Dalam pertempuran tersebut, laman history.navy.mil menyebut AS mengerahkan tiga kapal induk sekaligus: USS Enterprise (CV-6), USS Hornet (CV-8), dan USS Yorktown (CV-5). Ketiga kapal induk diperkuat pesawat apung dan diluncurkan dari kapal penjelajah, dengan mengerahkan total 234 pesawat.
Kekuatan AS didukung penuh oleh 110 pesawat tempur, pesawat pengebom, dan pesawat patroli yang berpangkalan di Midway. Sebagai bagian dari penempatan pasukan sebelum pertempuran, 25 kapal selam armada AS turut dikerahkan dan berjaga di sekitar Midway.

Perebutan Kepulauan Falkland dari Argentina
Perang perebutan Kepulauan Falkland antara Argentina dan Inggris Raya pada tahun 1982 tak lepas dari peran armada kapal induk. Britannicamenuliskan bahwa Inggris menggunakan kapal induk HMS Hermes dan HMS Invincible. Belum lagi dua kapal pesiar yang dialihfungsikan menjadi kapal pengangkut pasukan: Queen Elizabeth 2 dan Canberra.
Rangkaian kapal induk Inggris berlayar dari Portsmouth dan menerima bala bantuan di tengah perjalanan. Perlindungan udara Inggris terbatas pada sekitar 20 jet Angkatan Laut Sea Harrier jarak pendek yang dipersenjatai rudal udara-ke-udara.
Di lain kubu, kapal penjelajah Argentina, General Belgrano, dilaporkan miring tajam sebelum tenggelam di Atlantik Selatan pada 2 Mei 1982, akibat hantaman torpedo kapal induk Inggris.

Pada tanggal 4 Mei, pihak Argentina berhasil menenggelamkan kapal perusak HMS Sheffield menggunakan rudal Exocet. Mengutip laman historyextra.com, HMS Sheffield menjadi kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy) pertama yang tenggelam dalam sebuah pertempuran sejak berakhirnya Perang Dunia II. Beberapa kapal Inggris lainnya juga disebutkan turut tenggelam selama Perang Falkland berlangsung, termasuk HMS Ardent, HMS Antelope, dan SS Atlantic Conveyor.
Di sisi lain, Argentina kehilangan sekitar 20–30 persen dari armada pesawat mereka. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Inggris yang jumlahnya lebih kecil berhasil merebut kembali Pulau Georgia Selatan, sekaligus menangkap salah satu kapal selam diesel-elektrik era lama milik Argentina buatan AS.
Inggris menawan sekitar 11.400 tentara Argentina selama perang berlangsung. Semuanya dibebaskan setelah perang usai. Sedangkan Argentina mengumumkan bahwa setidaknya 650 nyawa menjadi korban, separuhnya akibat kapal General Belgrano yang tenggelam. Inggris mengklaim kehilangan 255 personel.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id





































