Jejak Sejarah Perang Dunia II di Pulau Biak

Tengkorak tentara jepang yang tewas saat Perang Dunia II di Biak Numfor, Papua. tirto.id/Andrey Gromico
17 Agustus 2017
Tujuh puluh tahun silam, Pulau Biak menjadi tempat medan pertempuran Perang Dunia II antara kubu Jepang dengan Sekutu. Pulau ini menjadi saksi bisu konflik terbesar dan paling destruktif sepanjang sejarah.

Tak heran banyak peninggalan Perang Dunia II di Biak. Salah satunya adalah Situs Gua Binsari atau Gua Jepang yang menjadi medan pertempuran serdadu Jepang dan Sekutu. Gua alami ini dipakai sebagai tempat persembunyian, pusat logistik, dan pertahanan bagi tentara Jepang saat Perang Dunia II tahun 1943-1945.

Pasukan sekutu dibawah komando Jenderal McArthur menjatuhkan bom dan drum-drum bahan bakar pada 7 Juni 1944 di Gua Binsari. Sebanyak 3.000 prajurit Jepang tewas dan terkubur hidup-hidup di gua tersebut. Banyak sisa -sisa mortir, peluru, senjata, bangkai mobil, yang menjadi bukti dahsyatnya penyerangan di gua yang memiliki kedalaman sekitar 45 meter dan panjang 180 meter tersebut.

Selain itu terdapat tulang-belulang tentara Jepang yang tewas pada saat peristiwa pemboman. Tulang-tulang tersebut disimpan di dalam bangunan seluas 2 meter persegi. Tengkorak, tulang kaki tangan masih utuh.

Untuk mengenang peristiwa tersebut dibangun Monumen Perang Dunia II yang resmi berdiri pada tahun 1994. Monumen ini dibangun di pantai di Desa Paray yang terletak antara Mokmer dan Bosnik, tujuh kilometer dari Biak Kota.

Foto dan teks: Andrey Gromico
a