Perang Dunia I Diakhiri Keruntuhan Imperium Besar dan Flu Spanyol

Tentara Jerman menggunakan artileri berat di Lodz, Polandia, selama Perang Dunia I. Tanggal tidak diketahui. FOTO/AP
Oleh: Tyson Tirta - 11 November 2020
Dibaca Normal 3 menit
Perang Dunia I menggiring beberapa imperium besar di Eropa ke jurang kehancuran. Ditutup dengan mewabahnya flu Spanyol.
Tensi politik di Eropa menghangat pada tahun-tahun pertama abad ke-20. Wilayah Balkan—terutama di Bosnia, Serbia, dan Herzegovina—sangat tidak stabil. Gesekan politik kecil di antara tiga daerah itu sangat rentan menimbulkan konflik besar. Benar saja, saat seorang nasionalis Serbia-Yugoslavia membunuh putra mahkota Kerajaan Austro-Hungaria Archduke Franz Ferdinand pada 28 Juni 1914, perang dengan cepat meledak.

Sebulan kemudian, pembunuhan itu merangsang kekuatan-kekuatan politik-militer utama Eropa bersitegang. Austro-Hungaria menuduh Serbia bersalah karena membiarkan pembunuhan itu terjadi. Gerakan nasionalis mereka dipertanyakan. Meski begitu, Serbia tidak sendirian karena negara ini berkubu dengan Rusia, Prancis, dan Inggris.

Sementara itu, Austro-Hungaria mendapat dukungan dari pemimpin Jerman Kaiser Wilhelm II. Austro-Hungaria dan Jerman lalu mengultimatum Serbia. Dengan dukungan militer dari Rusia, Serbia pun menyambut ancaman itu dengan memobilisasi pasukannya.

Sejak itu, kedamaian di Eropa runtuh. Dalam seminggu, Rusia, Belgia, Prancis, Inggris Raya, dan Serbia merapatkan barisan untuk melawan pasukan gabungan Austro-Hungaria dan Jerman. Apa yang oleh sejarawan disebut sebagai Perang Dunia I pun dimulai.

Catatan resmi menunjukkan lebih dari 16 juta jiwa—terdiri dari tentara dan masyarakat sipil—terbunuh selama empat tahun durasi peperangan.

Jatuhnya Tsar Rusia

Jenderal perang Jerman Alfred von Schlieffen menjalankan strategi perang yang mengandalkan kekuatan angatan daratnya. Strategi ini belakangan dikenal dengan istilah Schlieffen Plan. Pasukan Jenderal von Schlieffen menyerbu Belgia dan Prancis di sisi barat. Bersamaan dengan serangan itu, dia juga berkonfrontasi langsung dengan Rusia di sisi timur.

Jerman berhasil menduduki wilayah Liege di Belgia dalam sehari. Militer Jerman bahkan menangkap para pastor Belgia dengan tuduhan memprovokasi perlawanan di antara masyarakat sipil.

Sementara itu, tentara gabungan Inggris dan Prancis melakukan serangan balik terhadap Jerman dari di sisi timur laut. Serangan balik ini berhasil memaksa pasukan Jerman mundur kembali ke utara. Strategi pertama Jerman untuk menduduki Prancis pun gagal.

Di front timur, Rusia menyerang Prussia Timur dan Polandia yang saat itu merupakan wilayah pendudukan Jerman. Rusia harus gigit jari karena pasukan gabungan Jerman-Austria berhasil menggagalkan serangan itu. Meski begitu, efek serangan Rusia itu sangat krusial karena Jerman jadi terpaksa menarik dua korps pasukan di front barat untuk mempertahankan front timur. Keputusan ini berujung pada kekalahan Jerman dalam Battle of Marne pada September 1914.

Rusia memang unggul selangkah dari Jerman, tapi kekuatan militernya babak belur. Dalam berbagai usaha selama dua tahun setelahnya, pasukan Rusia bahkan gagal menembus pertahanan Jerman. Rusia justru kehabisan sumber daya di dalam negerinya.

Perang berkepanjangan pada akhirnya berimbas pada perekonomian dalam negeri yang semrawut. Di beberapa wilayah, rakyatnya kesulitan mendapatkan bahan makanan pokok. Keadaan ini lalu membangkitkan ketidakpuasan terhadap kekaisaran di kalangan pekerja dan petani miskin.

Wibawa Tsar Nicholas II dan keluarga kerajaan semakin jatuh di mata rakyat Rusia. Pada Oktober 1917 alias tahun ketiga keikutsertaan Rusia di Perang Dunia I, kekuasaan Tsar Nicholas II tumpas oleh revolusi yang digalang kaum Bolshevik pimpinan Vladimir Lenin. Pemerintahan baru Lenin pun memutuskan untuk berhenti berperang.


Runtuhnya Kekhalifahan Turki Usmani

Kekaisaran Rusia bukan satu-satunya imperium yang runtuh pada pengujung Perang Dunia I. Kekhalifahan Turki Usmani yang menjadi lawannya juga mengalami nasib serupa.

Kekhalifahan Usmani terlibat perang dengan merapat ke kubu Jerman. Keterlibatan Kekahalifahan Usmani ditandai dengan serangannya ke pelabuhan Rusia di Laut Hitam pada 29 Oktober 1914.

Menanggapi serangan itu, Rusia lantas mendeklarasikan perang terhadap Turki Usmani pada 2 November, lalu diikuti Inggris dan Prancis pada 5 November. Kekhalifahan Usmani sekaligus membuka front di Kaukasus, Mesopotamia, dan Semenanjung Sinai. Keterlibatan Turki Usmani juga membuat perkubuan politik dalam Perang Dunia I semakin jelas. Kerajaan Austro-Hungaria, Jerman, dan Turki Usmani membentuk aliansi Central Powers. Di kubu seberang berkumpullah Inggris, Prancis, Rusia, dan pendukung lainnya yang disebut Allied Powers.

Khalifah Usmani saat itu Sultan Mehmed V secara formal menyerukan jihad terhadap Allied Powers pada 14 November 1914. Meski begitu, motif keterlibatan Turki Usmani dalam peperangan ini sebenarnya tidak jelas.

Sejarawan Inggris David Nicolle dalam The Ottomans: Empire of Faith (2008, hlm. 167) menyebutkan bahwa, “Imperium Usmani adalah negeri agrikultur di tengah masa peperangan industrial. Alasan politik Sultan Usmani untuk ikut-ikutan berperang menjadi sebuah pertanyaan besar.”

Keputusan Sultan Mehmed V semakin dipertanyakan karena pada masa itu Turki Usmani baru mulai bangkit dari kerugian besar akibat Perang Balkan (1912-1913). Beberapa sejarawan menilai bahwa Sultan berharap mendapatkan bantuan militer dari Jerman. Meski masuk akal, keuntungan militer itu terlalu kecil jika dibandingkan dengan kerugian akibat perang.

Kekhalifahan Usmani mengakhiri keterlibatannya dalam Perang Dunia I usai menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Inggris pada 30 Oktober 1918. Penandatanganan perjanjian gencatan senjata itu dilakukan di Port Mudros, Yunani.

Tidak berselang lama, situasi dalam negeri Turki Usmani pun bergejolak. Banyak kelompok rakyat yang jengah dengan Kekhalifahan dan menuntut kemerdekaan. Kekhalifahan Turki Usmani benar-benar terpuruk setelah pendeklarasian Republik Turki pada 29 Oktober 1923.



Ditutup Pandemi Flu Spanyol

Nasib imperium Austro-Hungaria juga setali tiga uang dengan Rusia dan Turki Usmani. Kekuatan militer Austro-Hungaria babak belur hanya untuk bertahan dari gempuran Rusia. Di sisi lain, sejak 1916, Jerman semakin agresif mengontrol aliansi Central Powers untuk mendahulukan kepentingan-kepentingannya.

Pada tahun berikutnya, Austro-Hungaria tidak bisa lagi mempertahankan benteng-bentengnya di front timur. Kondisi perekonomiannya yang morat-marit juga semakin membuatnya terpuruk.

Sejarawan Inggris Alexander Watson dalam Ring of Steel: Germany and Austria-Hungary in World War I (2014, hlm. 536) menulis bahwa rakyat Austro-Hungaria banar-benar hidup dalam penderitaan di masa akhir perang.

“Di dalam wilayahnya sendiri, pemerintah Austro-Hungaria telah gagal. Sebagian besar masyarakat hidup menderita menjelang musim semi 1918. Keadaan semakin buruk pada musim panas karena kelangkaan bahan pangan,” tulis Watson.

Dalam kondisi imperium yang terpuruk itu, rakyat Cekoslovakia memutuskan memisahkan diri dari Austro-Hungaria dan memproklamasikan kemerdekaannya pada 31 Oktober 1918. Langkah itu lalu diikuti pula oleh Hungaria yang memerdekakan diri pada 16 November 1918. Sejak itu, Kekaisaran Austro-Hungaria bubar. Pasukan kekaisaran lalu tercerai berai di medan perang tanpa instruksi dari otoritas militer yang resmi.

Surutnya perang dan runtuhnya tatanan lama di Eropa rupanya tidak serta merta membawa dampak positif. Pada 1918, seluruh daratan Eropa tiba-tiba dihadapkan pada persoalan baru: pandemi flu Spanyol.


Pandemi ini juga menjalar ke Amerika Serikat dan kemudian ke hampir seluruh dunia dalam dua tahun. Virus H1N1, musabab penyakit itu, tidak pernah diketahui dari mana asal mulanya. Menurut perkiraan para ahli, virus ini menginfeksi setidaknya 500 juta orang di seluruh dunia alias sepertiga dari total populasi dunia.

Perkiraan kematian yang disebabkan oleh flu Spanyol mencapai 50 juta jiwa. Hingga kini, vaksin untuk menangkal virus H1N1 belum ditemukan. Sebagaimana hari ini, masyarakat global pada 1918 terpaksa melakukan karantina, pakai masker ke mana-mana, dan membatasi kerumunan.

Baca juga artikel terkait PERANG DUNIA I atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight