tirto.id - Contoh latihan soal TKA SMA/SMK 2026 Bahasa Indonesia dapat jadi gambaran sekaligus tahap persiapan penting bagi para siswa agar bisa lebih siap dalam menghadapi pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik. Cek kumpulan contoh soal dan jawabannya berikut.
Tes Kemampuan Akademik atau TKA adalah penilaian terstandar yang diadakan pemerintah dengan tujuan mengetahui kemampuan akademik siswa peserta didik di jenjang menengah dan kejuruan secara nasional.
TKA mencakup asesmen yang terbagi ke dalam dua kategori, yakni mata pelajaran wajib yang memuat tiga mapel utama seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, serta 19 mata pelajaran pilihan yang dapat dipilih siswa sesuai program studi.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah merincikan kisi-kisi untuk mapel utama. Dalam gambaran yang diberikan, mata pelajaran Bahasa Indonesia akan berfokus pada kemampuan membaca yang diuji lewat dua jenis teks informasi dan fiksi.
Sebelum mengikuti tes, para siswa biasanya akan melaksanakan latihan soal terlebih dahulu untuk mengukur pemahaman serta mengenali materi yang perlu dipelajari lebih dalam.
Contoh Latihan Soal TKA SMA/SMK 2026 Bahasa Indonesia
Agar dapat jadi bahan pembelajaran, berikut kumpulan contoh latihan soal TKA SMA/SMK Bahasa Indonesia:
Bacalah kutipan cerpen berikut untuk menjawab soal nomor 1-5.
Rani berdiri termenung di depan pintu kelas. Hari ini adalah hari pertama ia bersekolah di kota, jauh dari kampung halamannya di pedalaman Kalimantan. Logat bicaranya yang berbeda membuatnya ragu untuk memperkenalkan diri di depan teman-teman baru.
"Kamu pasti anak baru itu, ya?" sapa seorang gadis berkacamata sambil tersenyum ramah. "Aku Dinda. Duduk di sebelahku saja, biar kamu nggak sendirian."
Rani tersenyum kikuk, namun rasa cemasnya perlahan mereda. Sepanjang hari itu, Dinda dengan sabar menjelaskan aturan sekolah dan memperkenalkannya kepada teman-teman lain. Meski sempat diejek beberapa anak karena logatnya, Rani mulai berani berbicara berkat dukungan Dinda.
Sebulan kemudian, Rani sudah mampu beradaptasi dengan baik. Ia bahkan mengajarkan teman-temannya beberapa kosakata bahasa daerahnya, yang justru membuat mereka terkesan dan semakin dekat dengannya.
1. Berdasarkan kutipan cerpen tersebut, apa yang dilakukan Dinda ketika pertama kali bertemu Rani?
A. Mengejek logat bicara Rani
B. Menyapa dan mengajak Rani duduk bersamanya agar tidak sendirian
C. Mengabaikan Rani sepenuhnya
D. Melaporkan Rani kepada guru
E. Menjauhi Rani karena berbeda daerah asal
Opsi jawaban: B
2. Latar belakang konflik yang dialami tokoh Rani pada awal cerita adalah...
A. Rani kehilangan buku pelajaran
B. Rani sedang sakit
C. Rani bertengkar dengan Dinda
D. Rani merasa cemas dan tidak percaya diri karena berbeda logat dan berasal dari lingkungan yang jauh berbeda dari teman-teman barunya
E. Rani tidak mengerjakan pekerjaan rumah
Opsi jawaban: D
3. Nilai/amanat yang paling tepat dapat dipetik dari kutipan cerpen tersebut adalah...
A. Sikap ramah dan mau berteman dengan siapa pun, tanpa memandang perbedaan latar belakang, dapat membantu seseorang beradaptasi dan tumbuh percaya diri
B. Sebaiknya menjauhi teman yang berbeda logat bicara
C. Perbedaan budaya selalu menimbulkan konflik yang tidak dapat diselesaikan
D. Anak baru sebaiknya tidak usah bersekolah di kota
E. Mengejek teman baru adalah hal yang wajar
Opsi jawaban: A
4. Berdasarkan alur cerita, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Rani dan teman-teman sekelasnya pada akhirnya...
A. Semakin renggang karena perbedaan budaya
B. Tidak pernah membaik hingga akhir cerita
C. Rani dikeluarkan dari sekolah
D. Rani memutuskan pindah sekolah lagi
E. Membaik seiring waktu, bahkan teman-temannya menjadi tertarik dan terkesan dengan latar belakang budaya Rani
Opsi jawaban: E
5. Tanggapan yang paling tepat terhadap sikap Dinda dalam cerita tersebut adalah...
A. Sikap Dinda merugikan dirinya sendiri
B. Sikap Dinda mencerminkan empati dan kepedulian sosial yang patut dicontoh dalam menyambut teman baru yang berbeda latar belakang
C. Sikap Dinda tidak memiliki dampak apapun terhadap Rani
D. Sikap Dinda sebaiknya tidak dilakukan karena membuang waktu
E. Sikap Dinda hanya untuk mencari perhatian guru
Opsi jawaban: B
Bacalah teks berikut untuk menjawab soal nomor 6–10.
Penggunaan gawai pada anak-anak usia sekolah dasar di Indonesia meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data yang dihimpun sejumlah lembaga riset, sebagian besar anak usia 6-12 tahun kini memiliki akses terhadap ponsel pintar, baik miliknya sendiri maupun milik orang tua.
Kemudahan akses ini membawa dampak positif, seperti mempermudah proses belajar melalui aplikasi edukasi dan memperluas wawasan anak terhadap informasi global. Meskipun demikian, penggunaan gawai yang berlebihan juga menimbulkan kekhawatiran.
Banyak orang tua melaporkan anak-anak mereka mengalami penurunan konsentrasi belajar, gangguan pola tidur, serta berkurangnya interaksi sosial secara langsung dengan teman sebaya. Sejumlah psikolog anak menyarankan agar orang tua menerapkan batasan waktu penggunaan gawai (screen time) dan mendampingi anak saat mengakses konten digital.
Beberapa sekolah di kota besar bahkan mulai menerapkan kebijakan larangan membawa ponsel ke sekolah, kecuali untuk keperluan darurat. Kebijakan ini diharapkan dapat mengembalikan fokus anak pada kegiatan belajar tatap muka dan interaksi sosial di lingkungan sekolah.
6. Berdasarkan teks tersebut, apa dampak positif dari penggunaan gawai bagi anak-anak?
A. Mengurangi interaksi sosial anak
B. Mempermudah proses belajar melalui aplikasi edukasi dan memperluas wawasan anak
C. Menurunkan konsentrasi belajar anak
D. Mengganggu pola tidur anak
E. Meningkatkan kebutuhan tidur anak
Opsi jawaban: B
7. Menurut teks, apa yang disarankan psikolog anak kepada orang tua terkait penggunaan gawai?
A. Melarang anak menggunakan gawai sepenuhnya
B. Menerapkan batasan waktu penggunaan gawai dan mendampingi anak saat mengakses konten digital
C. Membiarkan anak menggunakan gawai tanpa pengawasan
D. Membelikan gawai baru setiap tahun
E. Menghapus seluruh aplikasi edukasi dari gawai anak
Opsi jawaban: B
8. Berdasarkan isi teks, dapat disimpulkan bahwa kebijakan larangan membawa ponsel ke sekolah bertujuan untuk...
A. Mengurangi biaya operasional sekolah
B. Menghukum siswa yang nakal
C. Meningkatkan penjualan gawai
D. Menghapuskan seluruh mata pelajaran berbasis teknologi
E. Mengembalikan fokus anak pada kegiatan belajar dan interaksi sosial langsung di sekolah
Opsi jawaban: E
9. Apa kemungkinan kelanjutan yang paling logis jika kebijakan larangan membawa ponsel di sekolah terbukti efektif berdasarkan konteks teks tersebut?
A. Seluruh sekolah akan menghapus pelajaran teknologi
B. Anak-anak akan berhenti menggunakan gawai selamanya
C. Kebijakan tersebut mungkin akan diadopsi oleh lebih banyak sekolah lain
D. Orang tua akan melarang anak bersekolah
E. Penjualan gawai akan meningkat drastis
Opsi jawaban: C
10. Tanggapan kritis yang paling tepat terhadap isi teks tersebut adalah...
A. Teks ini sama sekali tidak berdasarkan data apapun
B. Teks ini hanya berisi opini penulis tanpa fakta pendukung
C. Teks ini menyajikan dampak positif dan negatif secara seimbang sehingga pembaca dapat mempertimbangkan kedua sisi sebelum mengambil sikap
D. Teks ini hanya membahas dampak negatif gawai
E. Teks ini tidak relevan dengan kondisi anak-anak saat ini
Opsi jawaban: C
Bacalah kutipan cerpen berikut untuk menjawab soal nomor 11-15
Malam itu hujan turun sangat deras. Pak Karto, seorang tukang becak tua, masih setia menunggu penumpang di pangkalan meski tubuhnya menggigil kedinginan. Sudah tiga hari ia belum mendapatkan penumpang yang cukup untuk membeli obat bagi istrinya yang sedang sakit.
Seorang anak muda berlari kecil menerobos hujan, lalu berhenti di depan becak Pak Karto. "Pak, bisa antar saya ke rumah sakit? Ibu saya mendadak sakit," ujarnya dengan napas terengah.
Tanpa berpikir panjang, Pak Karto segera mengayuh becaknya menembus derasnya hujan. Sesampainya di rumah sakit, anak muda itu memberikan uang jauh lebih besar dari tarif biasanya. "Terima kasih banyak, Pak. Ini untuk jasa Bapak," katanya sambil tersenyum.
Pak Karto terharu. Dengan uang tersebut, ia akhirnya bisa membeli obat untuk istrinya malam itu juga. Ia pulang dengan hati yang penuh syukur, meski tubuhnya basah kuyup oleh hujan.
11. Berdasarkan kutipan cerpen tersebut, mengapa Pak Karto tetap menunggu penumpang meski hujan deras?
A. Ia sedang berolahraga
B. Ia ingin pamer kepada tukang becak lain
C. Ia membutuhkan uang untuk membeli obat bagi istrinya yang sakit
D. Ia tidak memiliki rumah untuk berteduh
E. Ia sedang menghindari seseorang
Opsi jawaban: C
12. Apa yang dilakukan anak muda tersebut setelah sampai di rumah sakit?
A. Pergi tanpa membayar
B. Meminta diskon kepada Pak Karto
C. Memberikan uang jauh lebih besar dari tarif biasanya sebagai ucapan terima kasih
D. Mengajak Pak Karto masuk ke rumah sakit
E. Meminta Pak Karto menunggu untuk mengantarnya pulang
Opsi jawaban: C
13. Suasana yang paling tepat menggambarkan kutipan cerpen tersebut adalah...
A. Menegangkan dan penuh konflik
B. Lucu dan menghibur
C. Menakutkan dan mencekam
D. Mengharukan, menggambarkan kebaikan hati di tengah kesulitan hidup
E. Datar tanpa emosi tertentu
Opsi jawaban: D
14. Berdasarkan akhir cerita, dapat disimpulkan bahwa sikap baik yang ditunjukkan Pak Karto kepada penumpangnya...
A. Tidak membawa dampak apapun bagi dirinya
B. Justru berbalas kebaikan yang membantu memenuhi kebutuhan mendesaknya
C. Membuatnya semakin kesulitan secara finansial
D. Membuatnya kehilangan pekerjaan
E. Ditolak oleh penumpang tersebut
Opsi jawaban: B
15. Nilai kehidupan yang paling tepat dapat dipetik dari kutipan cerpen tersebut adalah...
A. Sebaiknya menolak menolong orang yang sedang kesulitan
B. Pekerjaan sebagai tukang becak tidak layak dihargai
C. Hujan selalu membawa kesialan
D. Kebaikan hati dan ketulusan dalam menolong sesama, meski dalam keterbatasan, seringkali membawa berkah yang tidak terduga
E. Uang adalah satu-satunya tujuan hidup
Opsi jawaban: D
Perhatikan bacaan berikut untuk menjawab soal nomor 16-19
Tradisi Buwuhan: Antara Gotong Royong dan Utang Piutang
Tradisi buwuhan merupakan bagian dari budaya masyarakat Jawa, khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya. Tradisi ini dilakukan ketika ada acara penting seperti pernikahan atau khitanan yang diadakan di daerah tersebut.
Buwuhan merujuk pada kegiatan memberi bantuan, baik berupa barang, uang, maupun tenaga kepada seseorang yang sedang mengadakan hajatan, atau bisa juga disebut sebagai kegiatan menyumbang. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong dan solidaritas sosial karena keluarga dan tetangga saling bahu-membahu dalam membantu sesama.
Namun, praktik buwuhan tidak lepas dari unsur pertukaran atau dipandang sebagai utang. Masyarakat meyakini bahwa segala bentuk bantuan yang diberikan akan kembali dalam bentuk yang setara ketika si pemberi mengadakan hajatan serupa.
Hal ini menyebabkan buwuhan tidak lagi dipandang murni sebagai hibah atau sedekah, tetapi sebagai bentuk "utang tidak tertulis" yang menimbulkan kewajiban moral untuk membalas.
Dalam praktiknya, buwuhan memang meringankan beban tuan rumah, tetapi dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi penerima bantuan. Rasa malu dan kekhawatiran kehilangan harga diri mendorong sebagian orang untuk berutang demi mengembalikan buwuhan.
Hal ini menyebabkan terbaginya cara pandang terhadap buwuhan. Ada yang melihatnya sebagai bentuk tolong-menolong, tetapi ada juga yang justru menganggapnya menjadi sistem utang piutang berbasis sosial.
Sebagian pihak berpendapat bahwa buwuhan adalah hibah karena tujuannya adalah untuk membantu. Namun, apabila ada keharusan pengembalian, maka secara hukum dan etika, buwuhan telah bergeser dari semangat gotong royong menjadi sebuah kewajiban ekonomi yang membebani.
Oleh karena itu, pemahaman masyarakat terhadap tradisi buwuhan perlu diluruskan agar nilai luhur tolong-menolong tetap terjaga tanpa menimbulkan beban yang tidak perlu.
Sumber:
Rachmawati, S. A., & Anwar, M. K. (2021). Budaya dan Tradisi Buwuh sebagai Utang Piutang dalam Adat Pernikahan di Kota Surabaya. Jurnal Ekonomika dan Bisnis Islam, 4(3), hl 69–83.
16. Apa makna kata hajatan pada teks tersebut?
A. Kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar.
B. Pertemuan rutin warga untuk membahas masalah lingkungan.
C. Diskusi keluarga besar untuk menentukan pembagian warisan.
D. Permohonan bantuan yang dilakukan tuan rumah kepada tetangga.
E. Acara atau pesta yang diadakan untuk memperingati hal penting.
Opsi jawaban: E
17. Manakah gagasan yang mendukung ide pokok bahwa buwuhan adalah bentuk utang?
A. Praktik buwuhan disertai dengan perjanjian utang piutang secara tertulis.
B. Buwuhan disertai kesepakatan untuk selalu memberi lebih dari yang diterima.
C. Bentuk buwuhan dapat berupa sedekah atau hibah yang harus dibayar kembali.
D. Buwuhan dilakukan oleh tetangga dan kerabat sebagai bentuk pertukaran solidaritas.
E. Penerima buwuhan merasa harus mengembalikan bantuan yang diterima di kemudian hari.
Opsi jawaban: E
18. Hubungan makna paragraf kedua dan ketiga adalah ….
A. perbedaan jenis buwuhan berdasarkan jenis acara yang dilangsungkan
B. penjelasan sebab dan akibat dari perbedaan pandangan mengenai buwuhan
C. penjelasan dampak buruk dari adanya pandangan buwuhan sebagai sedekah
D. perbedaan tata cara buwuhan pada beberapa kelurahan atau desa di Surabaya
E. penjelasan hubungan hukum agama dengan pengertian masyarakat terhadap buwuhan
Opsi jawaban: B
19. "Oleh karena itu, pemahaman masyarakat terhadap tradisi buwuhan perlu diluruskan agar nilai luhur tolong-menolong tetap terjaga tanpa menimbulkan beban yang tidak perlu."
Kalimat tersebut dapat menjadi kesimpulan yang sesuai teks argumentasi tersebut karena ….
A. merangkum sebab-akibat dari adanya tradisi buwuhan di wilayah Surabaya
B. menyimpulkan ketidaksetujuan masyarakat terhadap penghapusan tradisi buwuhan
C. menyangkal pandangan negatif yang ada di masyarakat untuk pelestarian buwuhan
D. menyimpulkan berbagai pandangan masyarakat terhadap konsep buwuhan
E. menggarisbawahi solusi untuk melestarikan tradisi buwuhan di seluruh wilayah Jawa
Opsi jawaban: D
Perhatikan bacaan berikut untuk menjawab soal nomor 20-22.
Pulihkan Ekosistem, Menjaga Planet Kita dari Generasi ke Generasi
Berdasarkan hasil riset LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) terjadi peningkatan sampah plastik selama pandemik. Hal ini disebabkan oleh penggunaan layanan delivery makanan lewat jasa transportasi online, 96 persen paket dibungkus dengan plastik yang tebal dan ditambah dengan bubble wrap.
Selain itu selotip, bungkus plastik, dan bubble wrap merupakan pembungkus berbahan plastik yang paling sering ditemukan. Sampah medis juga melonjak. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan bahwa selama pandemi, terjadi peningkatan timbunan sampah medis sebesar 30 persen hingga 50 persen.
Dari data tersebut, Indonesia merupakan negara ke-2 penyumbang polusi sampah di lautan (3,22 metrik ton per tahun).
Salah satu faktor penyebab dari permasalahan tersebut adalah dengan pertambahan jumlah penduduk akan terjadi peningkatan aktivitas manusia dan daya konsumsi yang melonjak.
Hal itu menyebabkan meningkatnya jumlah dan jenis limbah sehingga menyebabkan lingkungan menjadi tercemar. Selain sampah, penebangan pohon secara liar sampai pada kebakaran hutan menjadi penyumbang terbesar dalam kerusakan ekosistem.
Banyak aktivitas manusia yang mengancam pelestarian lingkungan sehingga menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Manusia punya peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem, bukan cuma untuk sekarang, tapi juga untuk generasi mendatang.
Tanggung jawab dalam menjaga lingkungan, tentunya bukan hanya dibebankan oleh pemerintah saja, tetapi seluruh elemen masyarakat harus bahu-membahu dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.
Bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang tidak hanya sebagai seremonial belaka, tentunya menjadi sebuah harapan dalam meningkatkan kesadaran menjaga dan melestarikan lingkungan.
Selain itu, memberikan semangat baru bagi kita semua untuk komitmen menjaga lingkungan. Dengan memulai dari diri sendiri dan hal paling kecil, yaitu tidak membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik karena merusak ekosistem laut, tidak menebang pohon dengan liar hingga membuat gundul hutan.
Mari bersama merobohkan jurang ekologi, memulihkan ekosistem bumi dengan pendekatan pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan.
20. Bagaimana hubungan makna antara paragraf 1 dan paragraf 2 dalam teks tersebut?
A. Paragraf 2 menjelaskan akibat dari fenomena sampah yang diuraikan di paragraf 1
B. Paragraf 2 menyajikan solusi awal untuk permasalahan yang diperkenalkan di paragraf 1
C. Paragraf 2 memberikan contoh spesifik dari jenis sampah yang disebutkan di paragraf 1
D. Paragraf 2 mengkritisi data yang rancu tentang sampah yang disajikan di paragraf 1
E. Paragraf 2 menguraikan penyebab dari permasalahan yang dijabarkan di paragraf 1
Opsi jawaban: E
21. Aktivitas manusia memberikan dampak besar terhadap pencemaran lingkungan di Indonesia.
Data apa saja yang mendukung opini penulis tersebut?
Klik pilihan Benar atau Salah untuk setiap pernyataan sesuai isi teks!
A. Peningkatan aktivitas manusia yang menyebabkan lingkungan tercemar didukung oleh data lonjakan timbunan sampah medis sebesar 30-50%. (Benar/Salah)
B. Tingginya jumlah dan jenis limbah didukung oleh data bahwa 96% paket dibungkus dengan plastik tebal dan bubble wrap. (Benar/Salah)
C. Kebakaran hutan yang merusak ekosistem didukung data bahwa Indonesia merupakan negara ke-2 penyumbang sampah. (Benar/Salah)
Opsi jawaban:
A (Benar)
B (Benar)
C (Salah)
22. Mengapa penulis memilih istilah 'bahu-membahu' untuk menggambarkan peran semua pihak dalam upaya pelestarian lingkungan?
A. Memperkuat makna pentingnya kolaborasi berbagai pihak untuk mencapai tujuan
B. Memberikan sedikit kesan informal yang mungkin kurang pas untuk teks opini
C. Mengindikasikan bahwa idiom lebih cocok digunakan untuk konteks fisik
D. Menyiratkan adanya paksaan atau tekanan dari satu pihak kepada pihak lain
E. Menunjukkan bahwa konteks ini terlalu ambigu dan tidak ada definisi yang jelas
Opsi jawaban: A
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id





































