Menuju konten utama

Rangkuman Materi SMA TKA Bahasa Indonesia sebagai Bahan Belajar

Rangkuman materi TKA bahasa Indonesia jadi kebutuhan penting untuk pembelajaran siswa. Berikut ringkasan materi TKA bahasa Indonesia SMA dan kisi-kisinya.

Rangkuman Materi SMA TKA Bahasa Indonesia sebagai Bahan Belajar
Ilustrasi bahasa Indonesia. Adapun rangkuman materi TKA bahasa Indonesia SMA dapat menjadi bahan belajar murid. tirto.id/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rangkuman materi TKA bahasa Indonesia SMA menjadi salah satu bahan pembelajaran yang siswa butuhkan. Simak kisi-kisi dan ringkasan materi TKA bahasa Indonesia SMA selengkapnya di dalam artikel ini.

Tes Kemampuan Akademik atau TKA adalah asesmen terstandar nasional yang bertujuan untuk mengukur capaian akademik siswa di berbagai mata pelajaran. TKA tidak bersifat wajib dan bukan penentu kelulusan seorang siswa.

Setiap jenjang pendidikan akan mengikuti TKA berdasarkan mata pelajaran tertentu, salah satunya bahasa Indonesia. Khusus untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, TKA akan menitikberatkan pada keterampilan membaca. 

Kisi-Kisi Materi TKA SMA Bahasa Indonesia

Ilustrasi buku

Ilustrasi Materi Pelajaran. FOTO/iStockphoto

Kisi-kisi materi TKA bahasa Indonesia SMA dapat memudahkan siswa untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi tes. TKA Bahasa Indonesia jenjang SMA fokus kepada kemampuan berbahasa, khususnya perihal membaca.

Dalam tes, keterampilan membaca akan diuji melalui teks informasi (baik tunggal maupun jamak) serta teks fiksi. Berikut penjelasan mengenai kedua teks tersebut.

1. Teks Informasi

Mencakup bacaan yang berisi fakta, konsep, prosedur, maupun meta kognisi. Teks ini dapat berasal dari berbagai bidang atau topik, dengan variasi genre dan konteks yang mencakup lingkup lokal, nasional, hingga global.

2. Teks Fiksi

Teks fiksi bisa berupa cerita realis maupun absurd dengan latar yang konkret atau abstrak. Dalam teks fiksi, tokoh bisa memiliki karakter bulat, konflik yang dihadirkan dapat tunggal maupun jamak dengan alur serta sudut pandang campuran.

Sementara itu, teks dalam materi TKA Bahasa Indonesia SMA memiliki karakteristik khusus pada aspek kosakata, kalimat, dan wacana. Berikut penjelasannya:

  • Kosakata: kata umum, kata khusus, kata dengan imbuhan kompleks, istilah teknis, kata abstrak, serta makna denotatif dan konotatif dalam konteks luas.
  • Kalimat: setiap kalimat terdiri atas 8-12 kata, penggunaan kalimat kompleks dengan pola bervariasi serta kalimat inversi.
  • Wacana: pemakaian konjungsi antarparagraf (misalnya hubungan pertentangan dan sebab-akibat) serta tanda baca yang mendukung ekspresi makna. Panjang teks rata-rata berkisar 250–300 kata, kecuali untuk jenis puisi.
Dalam materi TKA Bahasa Indonesia SMA, terdapat 3 kompetensi utama yang akan diuji, yakni pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta evaluasi dan apresiasi.

Berikut kisi-kisi materi terkait kompetensi tersebut:

3. Pemahaman Tekstual

  • Mengidentifikasi penggunaan kata serapan dari bahasa daerah/asing dalam berbagai bidang.
  • Mengidentifikasi latar, karakter, dan/atau fenomena berdasarkan kosakata yang digunakan dalam teks fiksi atau nonfiksi.
  • Menyusun kerangka atau bagan berdasarkan bagian-bagian penting dalam teks.

4. Pemahaman Inferensial

  • Menyimpulkan ide pokok, gagasan pendukung, tokoh, peristiwa, latar, konflik, atau nilai-nilai dalam teks.
  • Menjelaskan hubungan makna antarkalimat dan/atau antarparagraf dalam teks.
  • Memprediksi lanjutan atau akhir uraian/cerita berdasarkan bagian tertentu dalam teks.

5. Evaluasi dan Apresiasi

  • Menilai relevansi peristiwa dalam teks dengan kehidupan sehari-hari.
  • Menilai keakuratan, kesesuaian, kecukupan, atau ketepatan informasi dalam teks.
  • Menilai ketepatan dan kesesuaian penggunaan bahasa dalam teks.
  • Menilai ketepatan bagian teks untuk menggambarkan karakter, peristiwa, atau latar dalam teks fiksi.
  • Menyimpulkan respons emosional terhadap unsur puisi, prosa, dan drama.

Rangkuman Materi SMA TKA Bahasa Indonesia Lengkap

ilustrasi pelajaran bahasa indonesia

Ilustrasi Pelajaran Bahasa Indonesia. FOTO/iStockphoto

Rangkuman materi TKA Bahasa Indonesia untuk jenjang SMA berguna untuk membantu siswa memahami inti pembelajaran secara lebih ringkas dan sistematis.

Dengan adanya rangkuman ini, siswa dapat lebih mudah mengulang pelajaran, mempersiapkan diri menghadapi TKA, serta melatih kemampuan berpikir kritis dalam memahami berbagai jenis bacaan.

Berikut ringkasan materi TKA Bahasa Indonesia SMA berdasarkan 3 kompetensi utama yang akan diujikan:

Pemahaman Tekstual

Pemahaman tekstual adalah kemampuan dalam memahami, menginterpretasikan, dan menemukan makna dari sebuah teks. Tujuannya adalah untuk memahami gagasan utama, informasi penting, serta hubungan antarbagian teks.

Dengan pemahaman tekstual, pembaca dapat mengetahui suatu informasi, menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah ada, dan menggunakannya secara tepat, misalnya menjawab pertanyaan seputar isi bacaan, menemukan ide pokok teks, dan semacamnya.

1. Kata Serapan

Kata serapan adalah kata dalam bahasa Indonesia yang aslinya berasal dari bahasa daerah atau bahasa asing, baik dengan penyesuaian ejaan, pelafalan, atau bahkan tanpa perubahan sama sekali.

Contoh:

  • Kata serapan dari bahasa Inggris: internet, komputer, kampus, dsb.
  • Kata serapan dari bahasa Arab: iman, dunia, sabar, dsb.
Cara penyerapan bahasa lain menjadi bahasa Indonesia dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  • Adopsi: digunakan langsung tanpa diubah (contoh: bus).
  • Adaptasi: disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku (contoh: camera menjadi kamera)
  • Terjemahan: Dialihbahasakan ke bahasa Indonesia (contoh: download menjadi unduh)

2. Analisis Latar dan Karakter/Watak

Latar merujuk pada latar belakang yang membantu menjelaskan sebuah cerita. Latar berfungsi memberikan gambaran yang lebih jelas sehingga pembaca mudah membayangkan jalan cerita di dalamnya.

Latar sendiri terbagi atas tiga jenis berikut:

  • Latar tempat: lokasi terjadinya peristiwa.
  • Latar waktu: menunjukkan kapan peristiwa terjadi.
  • Latar suasana: keadaan emosional atau suasana yang mengiringi suatu peristiwa.
Perwatakan adalah gambaran sifat, watak, atau karakter sebuah tokoh dalam cerita fiksi. Watak tokoh bisa diketahui lewat ungkapan langsung dari penulis, melalui tindakan sang tokoh, ucapan, pemikiran, perasaan, atau sikapnya, baik terhadap tokoh lain maupun situasi yang sedang dihadapinya.

Karakter/watak meliputi tiga jenis berikut:

  • Protagonis: tokoh dengan sifat baik, biasanya menjadi tokoh utama atau pusat cerita.
  • Antagonis: lawan dari protagonis, wataknya cenderung negatif atau jahat.
  • Tritagonis: tokoh penengah yang biasanya membantu menyelesaikan konflik.

3. Penyusunan Kerangka atau Bagan Teks Berdasarkan Bagian-Bagian Penting dalam Teks

Kerangka teks adalah sebuah rancangan atau garis besar isi teks. Kerangka teks disusun secara sistematis dari bagian-bagian penting. Sementara itu, bagan teks adalah penyajian bagian penting teks dalam bentuk visual, bisa dalam bentuk diagram, tabel, mind map, atau lainnya agar lebih mudah dipahami.

Tujuan dari kerangka atau bagan teks adalah untuk memahami isi teks secara ringkas, dapat menyusun ide utama sekaligus penjelas, serta memudahkan pembaca untuk menyampaikan kembali isi teks tersebut.

Pemahaman Inferensial

Pemahaman inferensial adalah kemampuan memahami bacaan dengan cara menarik kesimpulan atau makna tersirat yang tidak secara langsung tertulis dalam teks.

Dengan kata lain, pembaca tidak hanya mengandalkan informasi eksplisit, tapi juga menggunakan pengetahuan, pengalaman, serta petunjuk dalam teks untuk menafsirkan maksud penulis, menghubungkan ide hingga memperkirakan hal-hal yang tidak disebutkan secara jelas.

1. Ide Pokok, Gagasan Pendukung, Tokoh, Peristiwa, Latar, Konflik, atau Nilai-Nilai dalam Teks

Paragraf adalah kumpulan beberapa kalimat yang saling berkaitan sehingga membentuk satu kesatuan pikiran yang utuh dan padu. Setiap paragraf memiliki satu ide pokok yang dituangkan dalam kalimat utama, lalu diperjelas dengan kalimat penjelas.

Kalimat utama memiliki ciri-ciri:

  • Memuat ide pokok atau inti pembahasan.
  • Bersifat umum dan masih memerlukan penjelasan.
  • Menjadi dasar yang dapat dijabarkan lebih lanjut.
  • Pada paragraf induktif, biasanya ditandai kata kunci seperti jadi, akhirnya, akibatnya, oleh karena itu, maka dari itu, dengan demikian.
Kalimat penjelas atau pendukung memiliki ciri-ciri berikut:

  • Menjelaskan atau merinci kalimat utama.
  • Bersifat khusus/spesifik.
  • Sering menggunakan kata rujukan (ini, itu, tersebut, -nya) atau pengulangan kata dari kalimat utama.
A. Jenis Paragraf Berdasarkan Penempatan Ide Pokok
  • Deduktif: ide pokok di awal paragraf, lalu diikuti kalimat penjelas.
  • Induktif: ide pokok di akhir paragraf; diawali hal-hal khusus lalu disimpulkan.
  • Campuran: ide pokok di awal dan ditegaskan kembali di akhir paragraf.
B. Jenis Paragraf Berdasarkan Tujuan
  • Deskripsi: menggambarkan objek (tempat, benda, peristiwa) sejelas-jelasnya dengan panca indera.
  • Eksposisi: memaparkan atau menjelaskan informasi/fakta agar pengetahuan pembaca bertambah.
  • Persuasi: mengajak atau membujuk pembaca agar melakukan sesuatu; biasanya ada kata ayo, mari, -lah.
  • Argumentasi: meyakinkan pembaca dengan alasan, bukti, dan fakta.
  • Narasi: menceritakan rangkaian peristiwa secara kronologis, dengan unsur tokoh, peristiwa, dan konflik.
C. Fakta dan Opini dalam Paragraf
  • Fakta: hal yang benar-benar terjadi, bisa dibuktikan (apa, siapa, berapa, kapan, di mana). Ditandai penyebutan data, angka, waktu, dan tempat.
  • Opini: pendapat atau penilaian subjektif, sifatnya relatif. Ditandai kata menurut, diperkirakan, mungkin, jika, asalkan.
D. Nilai-Nilai Sastra
  • Moral: ajaran tentang baik-buruk perilaku (misalnya kejujuran, menolong, larangan curang).
  • Agama: nilai dari ajaran keagamaan (rajin berdoa, bersyukur, ibadah, sabar).
  • Budaya: tradisi, adat, bahasa, seni, kearifan lokal (misalnya upacara adat, bahasa daerah).
  • Edukasi (Pendidikan): memberi ilmu atau pelajaran hidup (rajin membaca, disiplin, kesehatan).
  • Sosial: menumbuhkan kebersamaan dan kepedulian (gotong royong, tolong-menolong, hidup rukun).

2. Hubungan Antarkalimat dan Antarparagraf dalam Teks

A. Hubungan Antarkalimat
Keterkaitan makna antar kalimat agar paragraf menjadi padu (koheren). Biasanya ditandai konjungsi (kata hubung) atau kata ganti (referensi).

Jenis hubungan antarkalimat:

  • Sebab – Akibat: “Hujan deras semalaman. Akibatnya, banjir melanda beberapa wilayah.”
  • Perbandingan: “Andi rajin belajar, sedangkan Budi suka bermain.”
  • Pertentangan: “Harga beras naik. Namun, daya beli masyarakat stabil.”
  • Penambahan/Perluasan: “Dia rajin membaca. Selain itu, ia aktif menulis.”
  • Tujuan: “Ia menabung setiap hari agar bisa membeli sepeda.”
  • Kronologis (urutan peristiwa): “Pertama, siswa dikumpulkan di lapangan, kemudian diarahkan ke kelas.”
  • Penegasan: “Semua siswa hadir dalam acara tersebut. Bahkan, beberapa guru ikut serta.”
B. Hubungan Antarparagraf
Jalinan makna antarparagraf agar teks menjadi utuh dan mengalir. Jenis hubungan antar-paragraf:

  • Sebab–Akibat: paragraf pertama memuat penyebab, paragraf berikutnya akibat.
  • Pertentangan: paragraf pertama menyampaikan gagasan, berikutnya menunjukkan kebalikan.
  • Perluasan/Penjelasan: paragraf berikutnya merinci gagasan sebelumnya.
  • Urutan Waktu/Peristiwa: paragraf memperlihatkan urutan kronologis.

3. Memprediksi Lanjutan atau Akhir Uraian/Cerita Berdasarkan Bagian Tertentu dalam Teks

Memprediksi berarti memperkirakan sesuatu yang akan terjadi berdasarkan data, petunjuk, atau pola. Dalam teks, artinya menebak kelanjutan cerita, uraian, atau akhir bacaan dengan dasar kosakata, alur, konflik, atau informasi sebelumnya. Hal ini akan melatih imajinasi, pemahaman bacaan, dan nalar logis.

A. Hal yang Diperhatikan dalam Memprediksi
  • Alur/Plot: alur maju biasanya berakhir dengan penyelesaian konflik, sedang alur mundur sering berisi pengungkapan sebab suatu peristiwa.
  • Tokoh & Watak: sifat tokoh memengaruhi tindakannya. Contoh, tokoh jujur tidak akan menipu.
  • Konflik: arah penyelesaian bisa ditebak, baik itu damai, tragis, atau bahagia.
  • Kosakata Kunci: kata “namun, akhirnya, ternyata” memberi isyarat kelanjutan peristiwa.
  • Jenis Teks: dalam fiksi, prediksi berupa kelanjutan alur/akhir cerita. Untuk nonfiksi, prediksi berupa kesimpulan, hasil penelitian, atau akibat dari uraian.
B. Cara Meningkatkan Kemampuan Memprediksi
  • Membaca teks awal dengan cermat.
  • Menandai kata kunci (tokoh, konflik, latar, kosakata penanda).
  • Menghubungkan informasi dengan pengetahuan sebelumnya.
  • Membuat dugaan logis sesuai konteks.
  • Membandingkan dugaan dengan kemungkinan lain (berpikir divergen).
Ilustrasi ujian tulis SMA
Ilustrasi TKA SMA. FOTO/iStockphoto

Evaluasi dan Apresiasi

1. Menilai Relevansi Peristiwa dalam Teks dengan Kehidupan Sehari-hari

A. Menilai Relevansi Peristiwa dalam Teks
  • Definisi: menghubungkan peristiwa dalam teks dengan realitas kehidupan sehari-hari.
  • Tujuan: agar pembaca tidak hanya memahami isi teks, tetapi juga memperoleh hikmah, pelajaran, atau inspirasi.
B. Langkah-Langkah Penilaian
  1. Membaca dan memahami isi teks secara keseluruhan.
  2. Menentukan peristiwa penting dalam teks.
  3. Menggali nilai/pesan dari peristiwa tersebut.
  4. Membandingkan dengan pengalaman nyata sehari-hari.
  5. Menilai kesesuaian: apakah bisa menjadi pelajaran, contoh, atau inspirasi hidup.

2. Menilai Keakuratan, Kesesuaian, Kecukupan, atau Ketepatan Informasi dalam Teks

Kemampuan menilai keakuratan, kesesuaian, kecukupan, atau ketepatan informasi dalam teks adalah keterampilan membaca kritis. Pembaca tidak hanya menerima dan memahami informasi, tetapi juga mengecek kebenarannya.

Aspek penilaiannya sebagai berikut.

  • Keakuratan: kebenaran fakta.
  • Kesesuaian: relevansi dengan topik.
  • Kecukupan: informasi lengkap dan memadai.
  • Ketepatan: sesuai tujuan dan jenis teks.

3. Menilai Ketepatan dan Kesesuaian Penggunaan Bahasa dalam Teks

A. Penggunaan bahasa harus sesuai kaidah:
  • Ejaan (EYD/PUEBI).
  • Tanda baca.
  • Diksi (pemilihan kata).
  • Struktur kalimat (efektif, SPOK).
Contoh:

  • “Perpustakaan itu sangat sepi sekali.” (salah)
  • “Perpustakaan itu sangat sepi.” (benar)
B. Bahasa harus cocok dengan jenis teks, tujuan, dan pembaca:
  • Teks berita: faktual, lugas, tanpa opini.
  • Teks cerita: imajinatif, ekspresif.
  • Teks prosedur: pakai kata kerja perintah.
Contoh:

  • “Gunung itu meletus dengan wajah marah penuh amarah.” (tidak sesuai untuk berita).
  • “Gunung Merapi meletus pada pukul 07.00 WIB dan disertai hujan abu.” (sesuai untuk berita)

4. Menyimpulkan Respons Emosional terhadap Unsur Puisi, Prosa, dan Drama

Respons emosional adalah reaksi perasaan pembaca/penonton setelah menikmati karya sastra (puisi, prosa, drama). Perasaan bisa berupa sedih, haru, bahagia, marah, takut, kagum, tenang.

A. Unsur Pemicu Emosi
  • Puisi: diksi puitis, citraan, majas, tema/pesan.
  • Prosa (cerpen/novel): tokoh, karakter, alur konflik, akhir cerita, dan latar suasana.
  • Drama: dialog, ekspresi & gerak, konflik tokoh, pementasan (intonasi, musik, cahaya).
B. Jenis Respons Emosional
  • Bahagia: tokoh berhasil mencapai cita-cita.
  • Sedih/haru: penderitaan, perpisahan, dan tragedi.
  • Marah/geram: ketidakadilan dan penindasan.
  • Takut/cemas: cerita tegang dan misteri.
  • Kagum: keberanian, keteguhan, dan keindahan bahasa.
  • Tenang/damai: puisi religius, dan deskripsi alam.
C. Langkah Menyimpulkan Respons Emosional
  • Baca teks/kutipan dengan cermat.
  • Identifikasi unsur dominan (tema, tokoh, diksi, konflik, dan suasana).
  • Rasakan emosi yang muncul.
  • Menyimpulkan, misalnya “Kutipan ini menimbulkan perasaan … karena …”
Demikian rangkuman materi TKA SMA Bahasa Indonesia. Semua rangkuman ini dapat memudahkan para siswa untuk belajar sekaligus membantu memahami mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Butuh informasi lain terkait TKA? Cek info tentang jadwal, materi, hingga contoh soal TKA di tautan berikut ini:

Kumpulan Artikel Tes Kemampuan Akademik

Baca juga artikel terkait TES KEMAMPUAN AKADEMIK atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Penyelaras: Yuda Prinada