Kenali Gaya Belajar Anak dan Cara Menyesuaikannya

Kontributor: Abdul Hadi, tirto.id - 15 Jun 2020 11:55 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Gaya belajar ini dikembangkan oleh Walter Burke Barbe. Menurutnya, setiap orang memiliki kombinasi VAK yang berbeda-beda.
tirto.id - Menyambut kebijakan kelaziman baru atau new normal, sektor pendidikan diupayakan untuk kembali dipulihkan.

Namun, pembelajaran jarak jauh (remote learning) dari rumah menggunakan aplikasi pembelajaran masih menjadi alternatif pendidikan selama pandemi COVID-19.

Oleh karena itu, orang tua diharapkan mendampingi buah hatinya belajar di rumah untuk mencegah transmisi COVID-19.

Guna mengefektifkan hal tersebut, orang tua mesti mengenali gaya-gaya pembelajaran anak. Bagaimanapun juga, tiap pembelajar memiliki gaya belajar masing-masing.

Ada banyak cara untuk mengetahui gaya belajar seseorang. Cara paling akurat tentu dengan tes khusus.

Peserta akan menjawab sejumlah pertanyaan, hasil dari jawaban itu kemudian menunjukkan cara belajarnya. Hasil tes tersebut biasanya berbentuk persentase.

Misalnya, tes Learning Style Scale of The Elementary School Students untuk anak Sekolah Dasar (SD) yang dikembangkan Ika Maryani dan koleganya dari Universitas Ahmad Dahlan.

Demikian juga tes Assessment and Learning Styles yang dikembangkan oleh Steve Holtrop dari Dordt College.

Klasifikasi gaya belajar yang diukur berdasarkan tes di atas adalah cara belajar visual, auditorial, dan kinestetik (VAK).

Gaya belajar ini dikembangkan oleh Walter Burke Barbe. Menurutnya, setiap orang memiliki kombinasi VAK yang berbeda-beda. Ada yang satu atau dua gaya lebih menonjol, ada pula yang porsi ketiganya sama besar.

Berikut jenis gaya-gaya pembelajaran visual, auditorial, dan kinestetik (VAK) sebagaimana dilansir dari laman Kumon:

Gaya Belajar Visual


Anak yang memiliki gaya belajar visual akan berkembang jika diberi kesempatan memperhatikan yang ia lihat. Oleh sebab itu, pembelajar visual akan lebih mudah menangkap pelajaran dengan gambar, grafik, simbol, atau hal-hal yang mengandalkan visualisasi.

Anak dengan gaya belajar visual biasanya mudah memahami dengan melihat langsung. Mereka suka membuat catatan, diagram, atau menggambar untuk membantu mereka mengingat apa yang sedang pelajari.

Sebagai contoh, ia dapat menggunakan mind map untuk mendalami yang ia pelajari tentang suatu topik di mata pelajarannya.

Kadang kala, anak dengan gaya belajar ini suka melihat instruksi tertulis atau diperlihatkan cara melakukan sesuatu secara gamblang.

Ia mungkin kesulitan mengingat apa yang sedang ia dengar, kecuali dapat melihat langsung untuk membantunya memahami materi yang ia pelajari.

Gaya Belajar Auditori


Pelajar tipe ini akan paling senang mengomunikasikan ide-ide mereka secara lisan. Di kelas atau di rumah, mereka lebih mudah mencerna ide dengan diskusi dengan sebaya atau orang tua, baik dalam kelompok kecil atau diskusi lazimnya.

Umumnya, anak dengan gaya belajar ini biasanya perlu mendengar penjelasan tentang apa yang mereka pelajari dan akan lakukan.

Pelajar auditori mungkin juga merasa lebih nyaman mengekspresikan ide-ide mereka ke dalam perekam suara atau tape recorder.

Bagi guru atau pendidik dapat mencoba merekam pembelajaran melalui podcast atau rekaman suara untuk memudahkan anak dengan gaya belajar auditori.

Anak dengan gaya belajar auditori mungkin tidak begitu mudah untuk mengetahui apa yang harus dilakukan ketika pembelajaran ditulis di kertas atau papan tulis, dan ia ingin seseorang menjelaskan apa yang harus dilakukan. Kadang kala, ia mungkin berbicara kepada diri sendiri ketika sedang belajar belajar.

Biasanya, anak dengan gaya auditori mampu mengulang informasi yang didengarnya secara lengkap, suka bercerita ataupun mendengarkan cerita dari orang lain.

Gaya Belajar Kinestetik


Anak-anak dengan gaya belajar ini akan senang bekerja dalam kelompok dan juga akan menikmati serangkaian kegiatan praktis.

Sebagai contoh, mereka dapat menikmati memerankan sebuah cerita sebelum memulai proses penulisan cerita mereka atau materi tertentu.

Pembelajar kinestetik juga dapat didukung dengan mengajak mereka belajar menggunakan model dan objek tententu untuk menggambarkan ide-ide mereka.

Dalam berhitung, misalnya, anak mungkin ingin memegang bentuk media pembelajaran 3D atau 2D saat belajar materi tersebut. Untuk materi lainnya, anak juga dapat diajak melakukan eksperimen untuk memudahkan pemahamannya.

Anak dengan gaya belajar kinestetik biasanya cenderung suka melakukan sesuatu langsung praktiknya, bukan hanya dijelaskan secara teoritis.

Mereka juga suka bergerak ketika sedang belajar. Ketika menjelaskan, mereka lebih mudah menggunakan tangan atau alat bantu lainnya untuk deskripsi suatu hal.

Anak dengan gaya belajar ini juga suka menyentuh benda, membuat kreasi tertentu, atau bereksperimen bebas dengan suatu benda untuk mengetahui cara kerjanya.


Baca juga artikel terkait ANAK BELAJAR atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari

DarkLight