Menuju konten utama

Gas Melon Masuk Sawah: Siasat Petani Aceh Akali Krisis Air

Siasat cerdik petani sawah tadah hujan di Aceh Besar, menyulap gas melon jadi bahan bakar pompa air demi hemat biaya produksi.

Gas Melon Masuk Sawah: Siasat Petani Aceh Akali Krisis Air
Mainizar (51) meletakkan mesin pompa air di area persawahan desa Lampanah Tunong, Indrapuri, Aceh Besar. Foto : Firhan Farabi/tirto.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Deru mesin pompa air semakin keras terdengar saat mulai memasuki area persawahan di desa Lampanah Tunong, kecamatan Indrapuri, Aceh Besar. Puluhan mesin pompa air tersusun hampir di sepanjang bantaran aliran irigasi yang membelah area persawahan.

Di samping mesin-mesin itu bukan jeriken bensin yang terlihat, melainkan tabung gas melon bersubsidi 3 kilogram yang disambungkan dengan selang ke mesin pompa air. Bagi sebagian petani disitu, tabung hijau bukan hanya kebutuhan dapur semata, tapi sudah menjadi alternatif pengganti bensin untuk menghemat biaya operasional mesin pompa.

Bagi petani di Lampanah Tunong, kekurangan air saat memasuki musim tanam sudah biasa terjadi. Persawahan di kawasan tersebut bersifat tadah hujan, semata-mata bergantung pada air hujan untuk kesuburan tanah.

“Sawah di Lampanah Tunong adalah sawah tadah hujan. Tiap tahun ada kekeringan,” kata Fajri, kepala desa Lampanah Tunong kepada tirto.id, Sabtu (1/8/2026).

Petani di desa tersebut harus bekerja lebih ekstra dibanding petani yang menggarap lahan sawah irigasi. Mereka harus memompa air dari saluran irigasi untuk mengairi sawah sejak tabur benih sampai padi itu dipanen. Terkadang, ongkos untuk mengoperasikan mesin pompa air lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh dari hasil panen.

Mainizar (51) sedang berjongkok di dekat mesin pompa miliknya, tangannya lihai mengotak-atik saklar tekanan dan aliran sebelum menyalakannya. Tak lama kemudian, tali engkol ditarik, dan mesin menderu kencang, tanda sudah menyala.

Rutinitas tersebut ia lakukan setiap hari selama musim tanam. Ibu rumah tangga itu adalah salah seorang petani yang menggunakan gas melon sebagai bahan bakar mesin pompa air. Sepertiga petani di desa tersebut sudah beralih dari bensin ke gas melon untuk bahan bakar.

Mainizar mengatakan, semua itu berawal dari rasa penasaran saat melihat tetangganya yang mulai beralih menggunakan gas melon. Ia sempat ragu akan resiko keamanan yang lebih rentan, namun ia memberanikan diri untuk mencobanya sampai terbiasa hingga sekarang.

Sejak beberapa tahun terakhir, Mainizar telah untuk menggunakan gas bersubsidi tersebut lantaran lebih murah biaya yang dikeluarkan dibanding menggunakan bensin. Perbandingannya bisa 2 kali lipat lebih murah.

Sebagai perbandingan, jika bensin diisi penuh seharga Rp50.000 ke dalam tangki, mesin hanya mampu beroperasi selama 2,5 jam. Jika mesin pompa menggunakan gas Lpg sebagai bahan bakar mampu beroperasi selama 5 jam lamanya. Gas melon biasanya dibeli seharga Rp22.000 di pangkalan.

Sawah Mainizar yang luasnya 7.500 meter persegi berjarak 750 meter dari sumber aliran irigasi.

“Sudah 4 tahun pakai lpg, sebelumnya menggunakan minyak. Karena membeli minyak itu sulit. Kalau kita beli ke SPBU antri, kalau eceran mahal,” kata Mainizar kepada tirto.id, Sabtu (1/7/2026).

Mainizar menceritakan, jika sebelumnya dalam satu kali masa tanam ia bisa merogoh kocek hingga Rp5.000.000 untuk biaya bensin saja. Saat beralih ke lpg ia hanya mengeluarkan biaya Rp1.500.000 untuk ongkos, jauh lebih murah.

Risiko Gagal Panen Menghantui Petani Sawah Tadah Hujan

Gas Subsidi untuk persawahan

LPG subsidi 3kg menjadi bahan bakar mesin pompa air di area persawahan desa Lampanah Tunong, Indrapuri, Aceh Besar. Foto : Firhan Farabi/tirto.id

Musim kemarau selalu menjadi tantangan tersendiri bagi petani sawah tadah hujan di desa Lampanah Tunong. Setiap tahun, masyarakat tetap mempertahankan tradisi menanam padi dua kali, yakni pada awal Mei dan awal November.

Namun, masa tanam pada periode Mei hingga Agustus menjadi yang paling berisiko karena ketersediaan air sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Ancaman gagal panen selalu menghantui para petani.

Kepala Desa Lampanah Tunong, Fajri, mengatakan sawah di desanya merupakan sawah tadah hujan yang hampir setiap tahun mengalami kekeringan. Meski begitu, semangat warga untuk tetap menanam padi tidak pernah surut. Bagi sebagian besar petani, keberhasilan panen tidak selalu diukur dari besarnya keuntungan.

"Walaupun kadang modal yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil panen, yang penting sudah ada padi untuk kebutuhan keluarga," ujarnya.

Menurutnya, kepuasan petani terletak pada tersedianya beras di lumbung, meski secara hitungan ekonomi mereka bisa saja merugi.

Untuk mengurangi dampak kekeringan, pemerintah desa berupaya membantu petani dengan menyediakan mesin pompa air. Setiap lima kepala keluarga mendapat satu unit pompa beserta selang sepanjang 200 meter. Bantuan itu menjadi andalan warga untuk mengalirkan air ke lahan persawahan ketika hujan tak kunjung turun.

Namun, tantangan di lapangan tidak mudah. Sebagian petani harus menarik selang hingga 700 sampai 800 meter dari sumber air terdekat agar sawah mereka tetap mendapatkan pasokan air.

Dengan luas area persawahan sekitar 120 hektare, hampir seluruh lahan di Lampanah Tunong bergantung pada pompa air saat musim kemarau. Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat, sementara hasil panen belum tentu mampu menutup modal yang telah dikeluarkan.

Di tengah keterbatasan itu, para petani tetap bertahan. Bagi mereka, menanam padi bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan menjaga tradisi, memenuhi kebutuhan pangan keluarga, dan mempertahankan kehidupan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Harapan di Balik Siasat Mempertahankan Tradisi

Gas Subsidi untuk persawahan

Katup irigasi pertanian di area persawahan desa Lampanah Tunong, Indrapuri, Aceh Besar. Foto : Firhan Farabi/tirto.id

Di balik semangat petani mempertahankan dua musim tanam, ada harapan agar sawah tadah hujan mendapat perhatian yang sama seperti sawah beririgasi. Fajri mengatakan bantuan pertanian selama ini lebih banyak diarahkan ke kawasan irigasi, sementara sawah tadah hujan kerap luput dari prioritas.

Padahal, menurutnya, luas sawah tadah hujan di Aceh Besar lebih besar dibandingkan sawah beririgasi, bahkan produktivitasnya dalam kondisi tertentu mampu menyaingi, bahkan melampaui, sawah irigasi. Karena itu, ia berharap pemerintah lebih serius memperhatikan kebutuhan petani sawah tadah hujan sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan.

Setiap musim kemarau, petani berpacu dengan waktu agar tanaman tetap bertahan hidup. Ketika debit air di waduk mulai menyusut, sebagian petani terpaksa membeli air menggunakan mobil tangki dengan biaya sekitar Rp300 ribu per tangki. Untuk mengairi satu petak sawah dibutuhkan sedikitnya tiga mobil tangki.

Meski berbagai upaya telah dilakukan, ancaman gagal panen tetap sulit dihindari. Dalam lima tahun terakhir, sekitar 20 persen lahan sawah mengalami gagal panen, terutama yang lokasinya jauh dari sumber air.

Siaga Darurat Hidrometeorologi Kering di Aceh Besar

Gas Subsidi untuk persawahan

Mainizar (51) menarik tali engkol pada mesin pompa air di area persawahan desa Lampanah Tunong, Indrapuri, Aceh Besar. Foto : Firhan Farabi/tirto.id

Pemerintah Kabupaten Aceh Besar saat ini mulai memprioritaskan penanganan lahan pertanian yang terdampak kekeringan setelah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi kering.

Upaya tersebut dilakukan melalui pendistribusian pompa air, penyusunan skala prioritas lahan yang akan dibantu, hingga koordinasi lintas instansi untuk menjaga produksi pertanian.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar, Imam Munandar, mengatakan luas sawah yang terdampak kekeringan saat ini mencapai sekitar 2.090 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 670 hektare merupakan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan.

Menurutnya, pemerintah daerah memfokuskan bantuan pada lahan yang telah memasuki fase pembentukan bulir padi agar hasil panen tidak mengalami penurunan. Penentuan lokasi bantuan dilakukan berdasarkan skala prioritas hasil pemantauan di lapangan dan dikoordinasikan bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk pendistribusian air.

Sebagai bagian dari penanganan darurat, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar juga telah menginstruksikan pelaksanaan salat istisqa di setiap kecamatan sebagai ikhtiar menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan.

“Untuk menghadapi kekeringan, kita sudah mengambil status darurat kekeringan di Aceh Besar dan bupati sudah mengisyaratkan shalat istisqa di setiap kecamatan,” katanya saat dikonfirmasi via pesan seluler, Senin (3/8/2026).

Untuk mendukung pengairan sawah, Dinas Pertanian bekerja sama dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I yang menyediakan 20 unit pompa air. Hingga saat ini baru lima unit yang telah disalurkan, sementara sisanya akan didistribusikan secara bertahap ke lokasi yang telah diajukan.

Meski demikian, operasional pompa masih menghadapi kendala karena belum tersedia anggaran khusus untuk bahan bakar. Saat ini kebutuhan BBM masih dipenuhi secara swadaya oleh para kepala dinas, sedangkan usulan subsidi operasional tengah diajukan melalui mekanisme status kedaruratan.

Imam juga menanggapi penggunaan tabung gas bersubsidi sebagai bahan bakar mesin pompa air yang mulai dilakukan sebagian petani. Menurutnya, meski cara tersebut dapat menjadi alternatif di tengah keterbatasan, penggunaan gas pada mesin pompa memiliki risiko mempercepat kerusakan mesin sehingga perlu dipertimbangkan dari sisi teknis.

Pemerintah Kabupaten Aceh Besar berharap berbagai langkah penanganan yang dilakukan dapat menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian dan meminimalkan potensi gagal panen selama musim kemarau berlangsung.

Baca juga artikel terkait INOVASI PERTANIAN atau tulisan lainnya dari Firhan Farabi

tirto.id - News Plus
Reporter: Firhan Farabi
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Siti Fatimah