Menuju konten utama

BMKG: Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat & Lebih Panjang

Puncak musim kemarau di Indonesia diprediksi terjadi pada Agustus 2026, yang mencakup sekitar 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah Indonesia.

BMKG: Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat & Lebih Panjang
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menunjukkan peta wilayah prediksi sifat musim kemarau terhadap normalnya saat konferensi pers prakiraan awal musim kemarau 2026 di Gedung D BMKG, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Berdasarkan pemantauan dan analisis BMKG sebanyak 325 zona musim (ZOM) atau 46,5 persen dari keseluruhan ZOM di Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal dibanding normalnya yang diprediksi pada bulan April serta tahun ini diprediksi lebih kering. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau pada 2026 akan datang lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologinya. Berdasarkan hasil analisis, sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau sejak April 2026 dan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi oleh berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026. Saat ini, kondisi iklim global berada pada fase netral dan berpotensi beralih menuju El Niño pada pertengahan tahun.

"Berdasarkan hasil analisis BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026," ujar Faisal dikutip dalam keterangannya, Minggu (15/3/2026).

Teuku menjelaskan bahwa peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi penanda dimulainya musim kemarau.

BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, serta beberapa wilayah di Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan merinci bahwa 184 ZOM (26,3 persen) diprediksi memasuki musim kemarau pada Mei 2026, dan 163 ZOM (23,3 persen) pada Juni 2026. Wilayah yang diprediksi mengalami kemarau lebih awal mencakup sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.

Lebih jauh, puncak musim kemarau di Indonesia diprediksi terjadi pada Agustus 2026, yang mencakup sekitar 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah Indonesia.

Sebagian wilayah lain diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Juli (12,6 persen) dan September (14,3 persen).

Pada Agustus, kondisi kering diperkirakan mendominasi wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Papua.

BMKG juga memproyeksikan sifat musim kemarau 2026 secara umum akan lebih kering dari biasanya. Sebanyak 451 ZOM (64,5 persen) diprediksi mengalami kemarau bawah normal, sementara 245 ZOM (35,1 persen) berada pada kondisi normal.

Hanya tiga ZOM (0,4 persen) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang diperkirakan mengalami kemarau atas normal atau lebih basah.

"Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2% wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya," tambahnya.

BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi terhadap dampak musim kemarau, terutama di sektor pertanian, sumber daya air, dan lingkungan.

Selain itu, pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan serta penurunan kualitas udara selama periode kemarau.

“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” kata dia.

Baca juga artikel terkait BMKG atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Abdul Aziz