Menuju konten utama

BMKG Prediksi NTB Bisa Alami Kemarau Sampai 9 Bulan

Mayoritas wilayah NTB akan mulai masuk kemarau pada April 2026 dan puncak musim kemarau diprediksi pada Agustus 2026.

BMKG Prediksi NTB Bisa Alami Kemarau Sampai 9 Bulan
Sejumlah bocah bermain di area persawahan yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau di Desa Pajukukang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (25/6/2023). ANTARA FOTO/Arnas Padda/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Nusa Tenggara Barat (NTB) berlangsung lebih panjang dari kondisi normal. Mereka memperkirakan durasi kemarau berkisar antara delapan sampai sembilan bulan.

"Kami perkirakan durasi dominan berkisar antara 25 sampai 27 dasarian atau sekitar delapan hingga sembilan bulan. Durasi kemarau cukup panjang, sehingga perlu diantisipasi bersama," kata Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB Nuga Putrantijo dalam konferensi pers di Mataram, Senin (9/3/2026), seperti diberitakan Antara.

Nuga mengatakan sebanyak 84 persen wilayah NTB mulai memasuki periode musim kemarau pada April 2026.

Puncak musim kemarau berlangsung pada Agustus 2026 dan diprediksi terjadi di hampir seluruh wilayah dengan persentase sekitar 89 sampai 90 persen.

Nuga menjelaskan ada tiga faktor utama yang memicu kondisi kemarau lebih kering dan berdurasi panjang, yaitu fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO), yang saat ini berada pada fase netral dan diperkirakan bertahan hingga pertengahan 2026.

Faktor pertama tersebut yang muncul pada semester kedua 2026 dapat memperkuat kondisi kemarau di Nusa Tenggara Barat.

"Faktor pemicu kedua adalah muson Australia yang didominasi angin timuran yang membawa udara kering dari Australia. Kami prediksi muson aktif di wilayah Indonesia pada April 2026," papar dia.

Kemudian, faktor pemicu ketiga berupa kondisi suhu muka laut yang juga turut mempengaruhi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia terkhusus Nusa Tenggara Barat.

Nuga mengungkapkan bahwa anomali suhu permukaan laut di sekitar wilayah Indonesia bagian barat dan selatan saat ini terpantau normal hingga lebih dingin, sehingga membatasi pertumbuhan awan hujan.

"Inilah tiga faktor utama yang menyebabkan NTB lebih kering dan durasi musim kemarau lebih panjang," pungkas dia.

Baca juga artikel terkait KEMARAU PANJANG

tirto.id - Sosial Budaya
Sumber: Antara
Editor: Alfons Yoshio Hartanto