Menuju konten utama

Prediksi BMKG: Hilal Ramadhan Baru Teramati di Bandung pada Rabu

Berdasarkan perhitungan hisab BMKG, waktu atau konjungsi (ijtima') terjadi pada Selasa 17 Februari 2026 pukul 19:01:07 WIB.

Prediksi BMKG: Hilal Ramadhan Baru Teramati di Bandung pada Rabu
Pemantauan hilal dilakukan untuk menentukan tanggal 1 Zulhijah 1446 Hijriyah. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

tirto.id - BMKG Stasiun Geofisika Bandung melaksanakan pengamatan (rukyat) hilal penentu awal Ramadhan 1447 Hijriah dua hari berturut-turut di Kota Bandung dan, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Kepala Kepala Stasiun BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menuturkan kegiatan ini merupakan bagian dari pelayanan data tanda waktu dan informasi astronomi untuk mendukung penentuan awal bulan Hijriah sebagaimana amanat UU Nomor 31 Tahun 2009.

Ia menjelaskan, hari pertama Selasa (17/2/2026) dilakukan di Observatorium Albiruni Universitas Islam Bandung, Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, serta Badan Hisab Rukyat Daerah Jabar. Sementara pada Rabu (18/2/2026), pengamatan dilakukan di Observatorium Bosscha, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, bersama tim observatorium setempat. Secara nasional, BMKG melakukan rukyat serentak di 37 lokasi di Indonesia.

Teguh juga mengatakan, berdasarkan perhitungan hisab BMKG, waktu atau konjungsi (ijtima') terjadi pada Selasa 17 Februari 2026 pukul 19:01:07 WIB.

"Konjungsi atau ijtima' merupakan peristiwa ketika bujur ekliptika bulan sama dengan bujur ekliptika matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat bumi. Waktu tersebut berlangsung setelah Matahari terbenam, termasuk di Kota Bandung yang mengalami sunset pada pukul 18:12:49 WIB," kata Teguh dalam keterangannya, Selasa (17/2/2026).

Ia menuturkan, pada Selasa (17/2/2026) ketinggian hilal di Kota Bandung bernilai negatif, yakni -1° 3,10’, dengan elongasi 1° 3,03’ serta fraksi iluminasi bulan 0,01 persen. Umur bulan tercatat -0,86 jam. Kondisi ini menandakan hilal berada di bawah horizon saat Matahari terbenam.

Sementara, Rabu (18/2/2026), parameter hilal mengalami peningkatan signifikan. Di wilayah Kabupaten Bandung Barat, ketinggian hilal tercatat 8° 41,8’, elongasi 11° 52,31’, fraksi iluminasi 0,93 persen, dan umur bulan 23,2 jam.

Teguh menjelaskan, secara astronomis, kondisi itu menunjukkan hilal berada di atas horizon dan berpotensi teramati.

"Hilal untuk pengamat di Indonesia saat Matahari terbenam. Tinggi Hilal adalah besar sudut yang dinyatakan dari posisi proyeksi Bulan di Horizon-teramati hingga ke posisi pusat piringan Bulan berada. Tinggi Hilal positif berarti Hilal berada di atas horizon pada saat Matahari terbenam. Adapun tinggi Hilal negatif berarti Hilal berada di bawah horizon pada saat Matahari terbenam," bebernya.

Dari sisi prakirakan cuaca, Teguh memprakirakan hujan ringan di Kecamatan Bandung Wetan pada Selasa (17/2/2026) sekitar pukul 13.00–19.00 WIB. Sementara Rabu (18/2/2026) wilayah Lembang diperkirakan berawan pada rentang waktu yang sama.

BMKG Stasiun Geofisika Bandung menyebut hilal awal Ramadhan 1447 H tidak akan teramati pada hari Selasa, berpotensi terlihat pada hari Rabu.

"Berdasarkan data hilal awal Ramadhan 1447 H pada 17 dan 18 Februari 2026 M tersebut, dan data rekor Hilal oleh BMKG, keilmuan astronomi, serta data prakiraan Cuaca, maka hilal awal Ramadhan 1447 H di Kota Bandung tidak akan teramati pada 17 Februari 2026 M, namun berpotensi teramati pada 18 Februari 2026 M," jelas Teguh.

Ia menjelaskan, penetapan awal Ramadhan tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan diumumkan pemerintah. Teguh mengimbau juga masyarakat yang ingin menyaksikan rukyat hilal agar mengakses siaran langsung melalui laman resmi hilal BMKG.

"Untuk mengawali bulan Ramadhan 1447 dimohon umat islam menunggu hasil keputusan sidang isbat yang akan diumumkan pada malam hari tanggal 17 Februari 2026," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Akmal Firmansyah

tirto.id - Flash News
Kontributor: Akmal Firmansyah
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Anggun P Situmorang