Menuju konten utama
GWS

Daun Kemuning Berpotensi Jadi Bahan Obat Diabetes

Daun kemuning, yang sebenarnya sudah lama dimanfaatkan oleh nenek moyang kita, terbukti menyimpan potensi manfaat spesifik untuk pasien diabetes.

Daun Kemuning Berpotensi Jadi Bahan Obat Diabetes
ilustrasi daun kemuning. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Banyak orang mengenal kemuning dari aromanya. Harum bunga putihnya kerap tercium, terutama ketika sore mulai turun. Pohon perdu dengan daun hijau mengilap dan bunga-bunga putih kecil tersebut mudah dijumpai di pekarangan rumah, tepi jalan, atau tumbuh liar di semak-semak. Di banyak daerah di Indonesia, kemuning lebih dikenal sebagai tanaman pagar atau penghias halaman daripada tanaman obat.

Padahal, sejak lama daun kemuning telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia. Daunnya digunakan sebagai bahan jamu untuk membantu mengatasi beragam keluhan, mulai dari peradangan hingga gangguan pencernaan.

Pengalaman yang diwariskan turun-temurun itu kemudian mengundang rasa ingin tahu para ilmuwan. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa senyawa alami di dalam kemuning bekerja pada mekanisme biologis yang berkaitan dengan diabetes tipe 2.

Mengapa Kemuning Sudah Lama Menjadi Tanaman Obat?

Meski lebih dikenal sebagai tanaman pagar, kemuning (Murraya paniculata) sebenarnya masih satu keluarga dengan berbagai jenis jeruk. Ia termasuk dalam famili Rutaceae yang juga dihuni jeruk manis, jeruk nipis, limau, hingga daun kari. Kekerabatan itu menjelaskan alasan kemuning menghasilkan aroma khas yang menjadi ciri kelompok jeruk-jerukan.

Kemuning termasuk spesies tropis yang mampu beradaptasi di beragam kondisi lingkungan. Seturut ulasan terbitan Journal of Pharmacopuncture (2023), bagian dari tanaman kemuning yang dimanfaatkan untuk obat tradisional mencakup daun, bunga, buah, akar, serta kulit batang. Keragaman penggunaan tersebut kemudian mendorong para peneliti menelusuri kandungan senyawa bioaktif di dalam kemuning.

Di Tiongkok, daun dan ranting mudanya tercatat dalam farmakope tradisional untuk meredakan nyeri dan gangguan pencernaan. Di India dan Sri Lanka, akar serta kulit batangnya dimanfaatkan sebagai pereda nyeri. Di Indonesia dan Malaysia, rebusan daun kemuning digunakan untuk mengatasi peradangan, diare, infeksi saluran kemih, serta perawatan luka dan pembengkakan.

Pemanfaatan secara turun-temurun lintas budaya tersebut menjadi petunjuk awal bagi penelitian modern. Laporan riset menunjukkan, kemuning mengandung beragam senyawa bioaktif, seperti flavonoid, alkaloid indol, kumarin, tanin, fenolik, saponin, dan minyak atsiri.

Sejumlah senyawa kumarin diketahui memiliki aktivitas antimikroba, sedangkan alkaloid indol dikaitkan dengan efek antiinflamasi dan sedatif. Selain itu, yang paling menarik perhatian peneliti adalah avonoid, yang terbukti membantu menekan stres oksidatif, salah satu mekanisme biologis yang berhubungan dengan diabetes, obesitas, dan aneka penyakit degeneratif.

Keragaman senyawa bioaktif itulah yang mendorong para peneliti menelusuri cara kerja molekul-molekul tersebut terhadap target biologis tertentu. Salah satu upaya itu dilakukan melalui penelitian BRIN yang menguji potensi senyawa daun kemuning sebagai penghambat enzim DPP-4, salah satu target penting dalam terapi diabetes tipe 2.

Ilustrasi Diabetes

Ilustrasi Diabetes. foto/istockphoto

Ketika Peneliti BRIN Menguji Daun Kemuning di Komputer

Minat ilmuwan terhadap kemuning berhubungan dengan meningkatnya kasus diabetes melitus tipe 2 di berbagai negara. Diabetes tipe itu menyumbang sekitar 90-95 persen dari total kasus diabetes di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat peningkatan kasus diabetes tipe 2, terutama seiring perubahan gaya hidup. Penyakit itu timbul ketika tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal sehingga kadar gula darah terus meningkat.

Besarnya proporsi tersebut membuat pencarian terapi baru, termasuk dari bahan alam, terus menjadi perhatian para peneliti.

Salah satu mekanisme yang menjadi sasaran terapi modern melibatkan hormon glucagon-like peptide-1 (GLP-1), yang membantu merangsang pelepasan insulin setelah makan. Tinjauan ilmiah bertajuk “Terapi Diabetes dengan GLP-1 Receptor Agonist” (2018) memvalidasi fakta bahwa GLP-1 endogen sangat rentan terhadap deaktivasi cepat oleh enzim dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4). Karena itu, menghambat kerja DPP-4 menjadi salah satu strategi penting pengobatan diabetes tipe 2.

Selama dua dekade terakhir, sejumlah obat golongan gliptin, seperti sitagliptin, saxagliptin, linagliptin, dan vildagliptin, telah digunakan untuk membantu mengendalikan kadar gula darah penderita diabetes tipe 2.

Obat-obatan tersebut berfungsi memperpanjang aktivitas hormon inkretin sehingga produksi insulin berlangsung lebih efektif. Keberhasilan pendekatan tersebut membuat para peneliti terus mencari penghambat DPP-4 baru, termasuk yang berasal dari tumbuhan, dengan harapan memperoleh senyawa efektif dengan profil keamanan yang baik.

Itulah yang menjadi titik tolak penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), terbitan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2025. Tim peneliti menggunakan pendekatan in silico (simulasi komputer) untuk menilai potensi senyawa bioaktif daun kemuning sebagai penghambat DPP-4.

Dalam pendahuluan artikelnya, tim BRIN menilai bahwa berbagai kajian terdahulu memang telah melaporkan aktivitas antidiabetes kemuning. Namun, sebagian besar masih berfokus pada pengamatan biologis, sementara mekanisme molekuler sebagai penghambat DPP-4 belum banyak dieksplorasi.

Dengan bantuan perangkat lunak AutoDock Vina, mereka melakukan penambatan molekuler (molecular docking), yaitu simulasi yang menggambarkan situasi ketika suatu molekul berikatan dengan protein target. Sederhananya, proses itu dapat dianalogikan sebagai upaya mencari “anak kunci” yang paling sesuai untuk masuk ke “gembok” enzim DPP-4. Makin kuat ikatannya, makin besar peluang senyawa tersebut menghambat kerja enzim.

Hasil simulasi menunjukkan, sebagian besar senyawa aktif kemuning memiliki afinitas pengikatan yang baik terhadap DPP-4. Salah satu senyawa yang paling menonjol adalah 1-aminoindan-1,5-dicarboxylic acid.

Dalam simulasi molecular docking, makin rendah (lebih negatif) nilai energi ikatan, makin stabil interaksi antara molekul dan protein target.

Analisis menunjukkan, sebagian besar senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak kemuning memiliki daya ikat (binding affinity) berkisar antara -6,8 hingga -7,9 kilokalori per mol (kcal/mol). Dalam uji virtual yang sama, sitagliptin—obat penghambat DPP-4 yang telah digunakan secara klinis—memiliki daya ikat -8,2 kcal/mol.

Meski afinitas pengikatannya masih lebih lemah dibanding sitagliptin, hasil tersebut menunjukkan bahwa senyawa alami dalam kemuning layak dipertimbangkan sebagai kandidat penghambat DPP-4 untuk penelitian lebih lanjut.

Simulasi dinamika molekuler juga memperlihatkan bahwa ikatan antara senyawa kemuning dan enzim DPP-4 tetap stabil selama pengujian.

Para peneliti juga mengevaluasi kemampuan penyerapan dan toksisitas senyawa tersebut melalui analisis ADMET (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, Ekskresi, dan Toksisitas). Hasilnya menunjukkan karakteristik yang mendukung pengembangan lebih lanjut, termasuk potensi penyerapan serta rendahnya risiko toksisitas dalam simulasi komputasi.

Meski seluruh temuan itu masih diperoleh melalui simulasi komputer, penelitian BRIN memberikan dasar ilmiah penting. Riset tersebut tidak menyimpulkan bahwa daun kemuning telah menjadi obat diabetes, melainkan menunjukkan adanya senyawa alami yang berpeluang menjadi titik awal pengembangan terapi antidiabetes berbasis biodiversitas Indonesia.

Potensinya Menjanjikan, tetapi Jalannya Masih Panjang

Laporan ilmiah BRIN menunjukkan, daun kemuning mengandung sejumlah senyawa yang berpotensi menghambat enzim DPP-4. Namun, temuan tersebut masih di tahap in silico.

Kenapa baru dicoba di komputer? Dalam pengembangan obat modern, ribuan senyawa alami biasanya memang disaring terlebih dahulu menggunakan simulasi komputer, sebelum diuji di laboratorium yang jauh lebih mahal dan memakan waktu.

Simulasi komputer hanya memperlihatkan kemungkinan interaksi antara molekul dan protein target. Senyawa yang menunjukkan hasil baik pada tahap ini belum tentu berefek sama ketika berada dalam tubuh manusia. Sebab, prosesnya masih panjang, dari penyerapan, distribusi, metabolisme, hingga pembuangan yang jauh lebih kompleks.

Meski demikian, penelitian terhadap kemuning tidak berhenti pada simulasi komputasi. Salah satu studi Biomedicine & Pharmacotherapy Journal (2017) pada manusia dilakukan oleh peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, yang melibatkan 15 pria obesitas berusia 25–50 tahun. Selama 15 hari, para peserta mengonsumsi infusa daun kemuning sebanyak 250 mililiter dua kali sehari.

Peneliti menjelaskan, SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) merupakan biomarker yang lazim digunakan untuk mengevaluasi fungsi hati. Pada penderita gangguan metabolik, peningkatan kedua enzim tersebut sering dikaitkan dengan kerusakan sel hati akibat stres oksidatif. Karena itu, perubahan kadar SGOT dan SGPT dapat menjadi indikator awal ada-tidaknya efek biologis terhadap organ tersebut. Temuan menunjukkan adanya respons biologis terhadap pemberian infusa daun kemuning, meskipun tidak secara langsung menguji efeknya terhadap diabetes.

 ilustrasi daun kemuning

ilustrasi daun kemuning. foto/istockphoto

Studi tersebut menjadi pelengkap bagi hasil penelitian BRIN. Jika riset BRIN mengidentifikasi potensi molekul kemuning sebagai kandidat penghambat DPP-4 melalui simulasi komputasi, penelitian Universitas Lampung menunjukkan bahwa tanaman ini juga memiliki aktivitas biologis yang dapat diamati pada manusia. Keduanya belum cukup untuk menyimpulkan kemuning sebagai terapi diabetes, tetapi memberikan dasar ilmiah kuat untuk penelitian lanjutan.

Tantangan berikutnya adalah standardisasi. Kandungan senyawa bioaktif daun kemuning dapat berbeda bergantung pada lokasi tumbuh, kondisi lingkungan, umur tanaman, hingga metode ekstraksi.

Metode pengolahan seperti suhu pengeringan, jenis pelarut ethanol/air, hingga lama perendaman, sangat menentukan kualitas senyawa. Riset dari American Chemical Society (2024) mengonfirmasi hal itu.

Bahwasanya variabilitas kimiawi tersebut membuat ekstrak kasar (crude extract) tumbuhan memiliki efektivitas bervariasi dan nirkonsisten jika langsung digunakan sebagai obat.

Perjalanan kemuning dari tanaman pagar menuju pengembangan terapi antidiabetes masih panjang. Namun, rangkaian penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pengetahuan pengobatan tradisional dapat menjadi titik awal bagi penemuan terapi modern. Bagi Indonesia, yang memiliki kekayaan hayati melimpah, riset seperti itu sekaligus mengingatkan bahwa sejumlah tanaman yang tumbuh di sekitar kita masih menyimpan potensi ilmiah yang belum sepenuhnya terungkap.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN ILMIAH atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - GWS
Kontributor: Ali Zaenal & Fadli Nasrudin
Penulis: Ali Zaenal