Menuju konten utama
Naskah Round Up

Benarkah Asbes dan Seng Picu Kanker Paru? Ini Penjelasan Medis

WHO menetapkan asbes sebagai karsinogenik pemicu mesothelioma. Namun, bagaimana dengan seng?

Benarkah Asbes dan Seng Picu Kanker Paru? Ini Penjelasan Medis
Ilustrasi penggunaan atap asbes dan seng. foto/iStock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dalam peresmian revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, pada Kamis (30/7/2026), perhatian Presiden Prabowo Subianto terusik oleh Kesehatan lingkungan. Ia menyoroti bagaimana material akrab seperti asbes dan seng berkarat di atap rumah warga diam-diam menyimpan risiko kanker paru-paru bagi kelompok non-perokok.

"Orang-orang muda sudah terkena kanker paru-paru padahal dia tidak merokok. Dari mana? Ya dari karat, dari asbes, dari macam-macam bahan kimia," lontar Prabowo.

Prabowo lantas meminta agar para kepala daerah lebih memperhatikan standar material bangunan di tempatnya masing-masing. Dia juga mendorong menggunakan material tradisional yang terbukti aman, seperti genteng, ijuk, atau rumbai

"Seng ini cepat berkarat. Karat ini tidak baik untuk kesehatan. Begitu banyak nanti penyakit paru-paru tanpa kita sadari," katanya.

Ucapan Prabowo tersebut langsung memantik perhatian publik sekaligus menguji sejauh mana fakta medis mendukung klaim tersebut.

Mengintip Bahaya Laten Serat Halus Asbes

Ilustrasi Asbes

Ilustrasi Asbes. foto/Istockphoto

Melansir laman Kementerian Kesehatan, asbes adalah kelompok mineral alami yang tersusun atas serat-serat sangat halus dan kuat. Sifatnya yang tahan panas, api, dan bahan kimia membuat asbes dahulu banyak digunakan pada atap, plafon, pipa, bahan isolasi, serta berbagai produk industri.

Di Indonesia, bahan ini masih dapat ditemukan pada atap, plafon, pipa, sekolah, rumah, gudang, dan bangunan industri. Karena penggunaannya begitu umum, sebagian masyarakat menganggap asbes aman.

Adapun definisi seng seperti pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah unsur logam dengan nomor atom 30, berlambang Zn, dan bobot atom 65,38. Seng juga didefinisikan sebagai besi tipis berlapis timah (supaya tidak berkarat) untuk atap dan sebagainya.

Bahan yang mengandung asbes pada dasarnya dapat melepaskan serat ketika rusak, lapuk, dipotong, dibor, diamplas, dipecahkan, atau dibongkar. Serat tersebut sangat kecil sehingga tidak terlihat oleh mata dan dapat melayang di udara lalu terhirup.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memperkirakan lebih dari 200.000 kematian setiap tahun berkaitan dengan pajanan asbes di tempat kerja.

Jejak Karsinogenik dan Ancaman Kanker Langka

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa asbes telah diklasifikasikan WHO sebagai bahan karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker.

Menurut dia, paparan serat asbes merupakan faktor utama penyebab mesothelioma, yakni kanker yang menyerang mesothelium atau lapisan tipis yang membungkus organ-organ dalam tubuh. Mesothelioma paling sering terjadi pada pleura, selaput yang melapisi paru-paru.

"Asbes ini adalah faktor penyebab utama dari kanker yang disebut dengan mesothelioma," katanya saat dihubungi Tirto, Jumat (31/7/2026).

Lebih jauhnya, paparan asbes dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru. Karena itu, dunia kedokteran mengenal istilah asbestos-related lung cancer (ARLC) untuk menggambarkan kanker paru yang berkaitan dengan paparan asbes.

Meskipun demikian, Tjandra menyebut faktor risiko utama kanker paru tetap kebiasaan merokok, sehingga upaya pencegahan paling penting adalah menghindari rokok.

Tjandra juga merujuk pada publikasi ilmiah Asbestos-Related Lung Cancer: An Underappreciated Oncological Issue yang terbit di jurnal internasional Lung Cancer pada 2024. Kajian tersebut mengemukakan hipotesis bahwa sebagian peningkatan kasus kanker paru pada orang yang tidak merokok kemungkinan berkaitan dengan paparan asbes, baik yang terjadi saat ini maupun di masa lalu.

"Atau mungkin juga kombinasi paparan berbagai jenis polusi udara seperti PM2.5, asbestos dan silika," katanya.

Sejalan dengan itu, Dokter Spesialis Paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Erlina Burhan, juga sepakat apabila asbes menjadi salah satu faktor risiko yang memicu kanker paru.

Namun lagi-lagi, asap rokok, polusi udara, faktor genetik, hingga paparan zat berbahaya seperti asbes dan radon juga punya pengaruh besar.

Paparan asbes memang dinilai Erlina perlu menjadi perhatian karena dapat menyebabkan asbestosis, yakni penyakit paru akibat serat asbes yang dalam jangka panjang diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kanker paru. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa paparan asbes dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya kanker paru, biasanya diawali dengan kerusakan jaringan paru akibat asbestosis.

"Kalau asbestosis sih emang faktor risiko yang perlu dipertimbangkan ya, dan itu berasal dari asbes kan," ujar Erlina dihubungi Tirto, Jumat.

Namun, ia menilai kondisi tersebut berbeda dengan seng. Menurutnya, seng pada bahan bangunan tidak secara langsung memiliki hubungan kuat dengan kanker paru.

Seng Berkarat: Memicu Iritasi, Bukan Kanker Paru

Ilustrasi rumah seng berkarat

Ilustrasi rumah seng berkarat. foto/iStock

Seng baru mungkin menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan apabila material tersebut mengalami karat karena dapat menyebabkan iritasi saluran napas dan berpotensi memicu gangguan seperti bronkitis. Meski demikian, ia menekankan bahwa risiko seng terhadap kanker paru sangat kecil dibandingkan dengan risiko akibat paparan asbes.

Perhatian terhadap bahaya asbes dinilainya memang memiliki dasar medis yang kuat, sedangkan kaitan seng dengan kanker paru tidak dapat disamakan dengan risiko yang ditimbulkan oleh asbes.

"Kalau asbestosis sih iya, tapi kalau seng nggak signifikan. Itu satu hal. Tetapi perlu diingat oleh masyarakat bahwa pemicu atau faktor risiko kanker paru itu banyak sekali, bukan hanya faktor asbes saja. Yang terutama sebenarnya adalah rokok. Ya, orang justru harusnya dilarang merokok begitu ya," kata dia.

Baca juga artikel terkait BAHAYA ASBES atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - GWS
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Siti Fatimah