Menuju konten utama

Nakes Bully Pasien di Medsos, DPR: Beri Sanksi jika Langgar Etik

Charles menilai kasus Yurizal bukti pemerintah masih menghadapi tantangan dalam pemberian layanan kesehatan secara nasional.

Nakes Bully Pasien di Medsos, DPR: Beri Sanksi jika Langgar Etik
Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (23/9/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, meminta organisasi profesi dan institusi tempat tenaga kesehatan (nakes) bekerja menjatuhkan sanksi apabila terbukti terjadi pelanggaran etik dalam kasus dugaan perundungan terhadap seorang pasien di media sosial yang belakangan viral.

“Saya berharap organisasi profesi dan institusi tempat yang bersangkutan bekerja melakukan pemeriksaan secara objektif dan memberikan sanksi apabila memang terbukti terjadi pelanggaran etik,” tutur Charles kepada Tirto, Rabu (5/8/2026).

Charles pun menyampaikan keprihatinan atas beredarnya unggahan yang diduga memperlihatkan sejumlah tenaga kesehatan membahas hingga mengolok-olok seorang pasien di ruang digital. Pasien tersebut diketahui telah meninggal dunia.

“Saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya almarhum. Apa pun penyebab akhirnya, setiap pasien berhak diperlakukan dengan hormat, bermartabat, dan penuh empati ketika sedang berjuang menghadapi sakit,” kata Charles.

Menurut politikus PDIP ini, tenaga kesehatan merupakan profesi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan sehingga etika dan profesionalisme harus tetap dijaga, termasuk ketika menggunakan media sosial.

“Saya sangat prihatin jika benar ada tenaga kesehatan yang memberikan komentar yang tidak berempati kepada pasien. Profesi tenaga kesehatan adalah profesi yang mulia, sehingga standar etik dan profesionalismenya juga harus dijaga, termasuk di ruang digital. Kritik atau keluhan pasien tidak boleh dibalas dengan ejekan atau penghinaan,” ujarnya.

Pernyataan Charles muncul di tengah ramainya perbincangan di media sosial mengenai unggahan sejumlah akun yang diduga merupakan tenaga kesehatan. Mereka dituding melontarkan komentar bernada merendahkan terhadap seorang pasien yang sebelumnya mengeluhkan lamanya menunggu ruang rawat inap. Terkini, pasien tersebut dinyatakan meninggal dunia.

Menanggapi polemik itu, Guru Besar Kedokteran sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menilai dokter semestinya mengedepankan empati kepada pasien dalam kondisi apa pun. Ia pun menekankan pentingnya konsep einfühlung, yakni kemampuan untuk ikut merasakan kondisi dan sudut pandang orang lain.

“Seorang dokter tentu harus memberi empati pada pasien, bagaimanapun keadaannya karena pasien memang sedang sakit yang bukan hanya fisik tetapi juga mungkin ada tekanan pemikiran menghadapi situasi yang ada,” kata Tjandra dalam keterangan tertulis.

Menurut Tjandra, konsep einfühlung memiliki makna yang lebih mendalam dibanding sekadar empati. Dokter, kata dia, tidak hanya bertugas memeriksa dan mengobati pasien, tetapi juga memahami beban yang dirasakan pasien selama menjalani pengobatan.

“Dokter bukan hanya memeriksa dan mengobati pasien, tetapi juga merabarasakan apa yang dialami dan dikeluhkan pasiennya dan memberikan empati sesuai keadaan yang dialami pasiennya. Tentu memprihatinkan kalau ada dokter yang tidak berempati pada keadaan pasiennya, dan tidak einfuhlung tentang apa yang dirasakan pasiennya,” ujar dia.

Selain menyoroti pentingnya empati, Tjandra mengingatkan agar tenaga kesehatan maupun masyarakat bijak dalam menggunakan media sosial. Di sisi lain, ia menilai kabar mengenai pasien yang harus menunggu hingga delapan jam untuk memperoleh ruang rawat juga perlu mendapat perhatian.

Menurutnya, apabila benar terjadi keterlambatan memperoleh ruang rawat, hal itu menunjukkan masih adanya tantangan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di lapangan.

“Perlu ada manajemen pelayanan kesehatan yang baik di negara kita agar jangan sampai ada pasien yang terlantar dalam pelayanan di Rumah Sakit,” kata Tjandra.

Di sisi lain, Charles juga mengaitkan kasus tersebut dengan persoalan yang lebih luas dalam sistem kesehatan nasional. Menurutnya, pemerintah masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan fasilitas kesehatan, ketersediaan tempat tidur, hingga jumlah tenaga kesehatan di berbagai daerah.

“Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa kita masih menghadapi persoalan mendasar dalam sistem pelayanan kesehatan. Ketersediaan fasilitas kesehatan, tempat tidur, maupun tenaga kesehatan di banyak daerah masih belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah,” ucap Charles.

Ia menambahkan, anggaran negara perlu diprioritaskan untuk memperkuat layanan kesehatan yang langsung dirasakan masyarakat, mulai dari peningkatan fasilitas kesehatan, pemenuhan tenaga kesehatan, hingga perbaikan sistem rujukan.

“Tujuan akhirnya sederhana: memastikan setiap warga negara dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat, layak, dan manusiawi ketika membutuhkannya,” pungkas Charles.

Diberitakan sebelumnya, seorang pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan dikabarkan meninggal setelah diduga terlambat ditangani ketika berobat ke sebuah rumah sakit. Ia telah menanti 8 jam untuk bisa mendapatkan ruangan. Namun, sebelum meninggal dunia, Yurizal mendapat banyak komentar nirempati dari dokter dan tenaga kesehatan (nakes) saat menyampaikan keluhannya di media sosial

Kabar meninggalnya Yurizal sebelumnya diumumkan sepupunya, Hilda Aprianti Perdana, melalui akun media sosial miliknya pada Sabtu (1/8/2026). Dalam kabar duka yang diunggah Hilda, Yurizal disebut meninggal dunia pada 31 Juli lalu.

Kabar duka ini kemudian menjadi perhatian warganet secara luas. Pasalnya, Yurizal sempat menceritakan pengalamannya tak kunjung dapat ruangan untuk berobat di rumah sakit beberapa hari sebelum meninggal.

Melalui akun Threads miliknya, @yurizaltrich, Yurizal mengunggah pengalamannya pada 22 Juli. Dalam unggahan itu, Yurizal menuliskan telah menunggu 8 jam untuk menjalani perawatan dan tak kunjung mendapatkan ruangan.

“8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs,” tulis Yurizal yang tak mau mengungkap nama rumah sakit tempat ia berobat karena mendaftar lewat program jaminan kesehatan milik negara, BPJS Kesehatan.

Akan tetapi, unggahan itu rupanya menjadi sumber duka yang berlapis bagi keluarga Yurizal. Sebelum wafat, curhatan Yurizal itu telah ditanggapi dengan sinis dan nirempati oleh berbagai akun.

Komentar nirempati yang menjadi muara duka berlapis bagi keluarga dan teman Yurizal itu sebelumnya telah dilontarkan melalui media sosial Threads. Akun-akun yang diduga milik dokter dan nakes berkomentar pada unggahan Yurizal sebelum wafat dan mengutarakan kalimat tak pantas.

Beberapa di antaranya memberikan penjelasan dengan nada menghakimi. Sementara yang lain mengejek Yurizal dan mengoloknya agar cepat meninggal jika ingin cepat ditangani.

Salah satu akun yang memberi penjelasan dengan nada menghakimi itu adalah pemilik akun @bennychrstn. Ia memberikan penjelasan tentang prosedur pemberian ruangan bagi pasien di rumah sakit, namun ia menulis dengan nada yang merendahkan.

“Kalo full, mau dipindahkan kemana ? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak BPJS yang make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini,” tulis akun @bennychrstn.

Usai ditilik dari informasi terbuka tentang akun tersebut, @bennychrstn merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dalam unggahan Instagram yang ditemukan warganet, @bennychrstn tampak pernah menjadi mahasiswa Departemen Kardiologi di UI.

Baca juga artikel terkait TENAGA KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher