tirto.id - Epidemiolog dari Universitas Sriwijaya, Iche Andriyani Liberty, mengungkapkan keberhasilan penanganan karhutla tidak bisa diukur dari berapa banyak warga yang mendapat pengobatan gratis. Kondisi ini justru menggambarkan makin besarnya beban penyakit akibat bencana ini.
Hal ini perlu diluruskan agar tidak ada klaim dari pihak-pihak terkait.
"Banyaknya orang yang berobat justru dapat mencerminkan besarnya beban penyakit akibat asap karhutla, bukan keberhasilan penanganan," ungkap Iche, Selasa (6/10/2026).
Iche menjelaskan kabut asap akibat karhutla perlu dilihat sebagai environmental exposure atau pajanan lingkungan yang memengaruhi populasi. Risiko kesehatan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan asap, tetapi juga intensitas, durasi, frekuensi pajanan, dan kondisi kelompok yang terpapar.
Menurut dia, dampak yang ditimbulkan dari asap karhutla tak hanya berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Gangguan pernapasan dan kardiovaskular, termasuk pneumonia, eksaserbasi asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga penurunan fungsi paru juga kemungkinan terjadi.
"Semakin lama karhutla tidak tertangani dan kabut asap terjadi, maka akan berpengaruh kepada kesehatan masyarakat," kata dia.
Menurut Iche, partikel halus atau PM2.5 menjadi salah satu perhatian utama karena ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel masuk jauh ke saluran pernapasan. Kelompok rentan harus diperhatikan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit paru dan jantung, dan pekerja luar ruang perlu mendapat perhatian lebih.
Dia menekankan pemantauan dampak kesehatan akibat kabut asap juga tidak seharusnya berhenti pada jumlah kasus ISPA. Data kesehatan, seperti pneumonia, asma, PPOK, kunjungan ke instalasi gawat darurat (IGD), hingga angka rawat inap perlu dipantau berdasarkan waktu, lokasi, dan kelompok masyarakat.
"Surveillance tidak boleh berhenti pada ISPA. Kita sebenarnya perlu memantau health outcome-nya seperti pneumonia, asma/PPOK, kunjungan IGD, dan rawat inap," kata dia.
Peningkatan kasus penyakit juga tidak bisa langsung disimpulkan hanya berdasarkan kondisi ketika asap muncul. Secara epidemiologis, perlu dilihat hubungan antara tingkat pajanan polusi dengan perubahan kondisi kesehatan masyarakat.
"Salah satunya dengan membandingkan data PM2.5 atau PM10 berdasarkan waktu dan lokasi dengan health outcome. Apakah incidence rate ISPA meningkat setelah peningkatan PM2.5, berapa besar excess risk-nya, kelompok umur mana yang paling terdampak, berapa peningkatan kunjungan IGD, berapa kasus pneumonia, dan berapa hospitalisasi," jelas Iche.
Berdasarkan grafik riwayat konsentrasi partikulat (PM2.5) yang terpantau di Stasiun Talang Betutu Palembang, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), Selasa (6/10/2026), masih masuk dalam level.berbahaya.
PM2.5 tercatat berada di angka 679,7 mikrogram meter per kubik pada pukul 00.00 WIB dan puncaknya terjadi pada pukul 03.00 WIB dengan PM2.5 di angka 765,8 mikrogram meter per kubik.
Sementara PM2.5 pada pukul 06.00-15.00, tercatat berkisar 88,5 mikrogram meter per kubik hingga 585,1 mikrogram meter per kubik. Dalam kondisi ini, kualitas udara di Palembang berada di level tidak sehat hingga berbahaya.
Masuk tirto.id
































