tirto.id - Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta masyarakat tidak mudah menyimpulkan penyebab kematian seseorang tanpa pembuktian yang valid. Komentar ini menanggapi adanya seorang warga Palembang, Hardiansyah (41), meninggal dunia diduga akibat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Deru mengaku belum dapat memberikan komentar banyak terkait kematian Hardiansyah. Menurut dia, diperlukan pemeriksaan medis menyeluruh terlebih dahulu sehingga dapat diketahui penyebab pastinya.
"Untuk yang meninggal, saya tidak bisa membenarkan atau menolak, sebab penyebab meninggal harus autopsi," ungkap Gubernur Sumsel Herman Deru, Senin (5/10/2026).
Deru mengatakan, dirinya telah menginstruksikan seluruh bupati dan walikota untuk menyiagakan pelayanan puskesmas 24 jam bagi pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Pemerintah juga memberlakukan pengobatan gratis untuk meringankan beban masyarakat.
Di Palembang sendiri, terdapat enam puskesmas yang membuka pelayanan selama 24 jam. Di antaranya, Puskesmas Pembina Plaju, Puskesmas Sukarami, Puskesmas Basuki Rahmat, Puskesmas Alang-Alang Lebar, Puskesmas Sei Selincah, dan Puskesmas Sematang Borang.
"Penanganan ISPA ini free (gratis)," kata Deru.
Selain itu, Pemprov Sumsel mendorong pemerintah daerah memperbanyak posko pelayanan kesehatan dan menggencarkan pemeriksaan rutin bagi masyarakat.
"Simpul tempat penduduk terbanyak kita pasangi pos untuk melengkapi itu. Ini tanggungjawab kita semua," kata Deru.
Kronologi Driver Ojol Meninggal Mendadak
Diberitakan sebelumnya, Hardiansyah (41), meninggal dunia diduga akibat menderita ISPA setelah terpapar asap karhutla, Jumat (2/10/2026) pagi. Pria yang sehari-hari berprofesi pengemudi online itu diketahui memiliki riwayat asma.
Istri almarhum, Rika Yunita Sari (39), menuturkan, suaminya mengeluhkan sesak napas berat saat siap-siap bekerja. Dia mengerok tubuh suaminya seperti yang diminta tetapi justru kondisinya memburuk dengan tubuh membiru.
Keluarga langsung membawa ke RSUD Bari Palembang. Sesampai di rumah sakit, Hardiansyah meninggal dunia.
"Selang waktu ngedrop dan meninggal begitu cepat, tidak sampai satu jam, tiba-tiba begitu," kata Rika.
Rika yang tinggal di Lorong Mataram, RT 01, RW 01, Kelurahan Kemas Rindo, Kertapati, Palembang, itu mengakui suaminya memiliki riwayat asma sejak kecil tetapi jarang kambuh. Kesehatannya menurun drastis ketika ada karhutla yang terjadi tak jauh dari kediamannya pada 15 September 2026.
Sejak saat itu, almarhum sering mengeluhkan sesak napas dan batuk. Meski Palembang dikepung asap, dia tetap bekerja seperti biasa dengan memakai masker.
"Sepulang kerja dia sering mengeluh banyak asap, bikin sesak dan batuk," kata Rika.
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































