tirto.id - Berabad-abad sebelum manusia mengenal virus, wabah, atau zombie, ada satu penyakit yang jauh lebih lawas: obsesi kronis mewariskan kekuasaan, turun temurun.
Penyakit ini nyatanya telah merambah, menular, dan hidup dalam kerajaan, perusahaan, kepala kepala daerah, Republik Indonesia, dan dinasti-dinasti lain di sekitar kita.
Berangkat dari perkara itulah, saya kesulitan membaca Abadi Nan Jaya hanya sebagai film tentang zombie yang mengamuk. Di balik mayat hidup, darah, ontran-ontran, dan kepanikan yang memenuhi layar, saya menemukan cerita yang lebih akrab, yakni tentang seorang patriark, tentang warisan, dan tentang kekuasaan yang menolak mengakhiri dirinya sendiri.
Saya kemudian membaca lagi tulisan saya yang terbit enam tahun silam, soal bagaimana wabah zombie dijadikan alat legitimasi kekuasaan kerajaan dalam series Kingdom. Jauh sebelumnya lagi, satu dekade silam, saya menyaksikan bagaimana kereta dalam film Train to Busan berubah menjadi miniatur kelas sosial yang panik mempertahankan privilese di tengah kegawatan zombie.
Barangkali itu sebabnya saya tidak pernah benar-benar melihat zombie sebagai monster. Dalam banyak cerita, mereka hanyalah latar. Yang selalu menjadi pusat justru manusia dan struktur kuasa yang mereka pertahankan mati-matian, bahkan ketika dunia sudah morat-marit menanti mukjizat sebelum kiamat. Dalam konteks itulah, film zombie Kimo Stamboel ini penting untuk dibahas.
Tragedi nahas di film Abadi Nan Jaya berasal dari Sadimin, patriark pengusaha jamu “Wani Waras” di desa Wanirejo. Dimin adalah jenis orang yang percaya bahwa kaya dan dihormati itu baru separuh jalan. Separuh lainnya adalah keabadian, atau setidaknya ilusi tentang itu.
Ramuan barunya, jamu ANJ, meluncur ke tangan pemesan bahkan sebelum cap persetujuan BPOM turun. Jamu yang menjanjikan awet muda ini yang kemudian melahirkan zombie.

Zombie paling wahid lahir di rumah Dimin, dan kemudian meledak beranak pinak di hajatan warga. Dari tubuh sopir, tetangga, dari orang-orang yang sepanjang hidup mungkin tak pernah punya imaji untuk abadi.
Di tengah huru-hara itu, Kenes, putri Sadimin, dan Karina, istri muda Sadimin bergerak di antara karut-marut desa dan di antara keyakinan mereka sendiri. Sepanjang hampir dua jam durasi film, Kenes dan Karina empot-empotan memastikan Raihan tetap hidup. Anak Kenes yang juga cucu Dimin ini adalah mata rantai berikutnya, yang membuat garis keturunan itu tetap hidup.
Namun film ini diam-diam menaruh satu pertanyaan di saku saya sebagai penonton: yang mereka selamatkan itu keluarganya belaka, atau dinasti yang sejak awal menyiapkan panggung bagi bencana zombie ini?
Di konteks itu, Abadi Nan Jaya menjadi menarik. Ketika dua orang anggota keluarga pemilik perusahaan Jamu Wani Waras, setelah segala kekacauan yang mereka ciptakan, masih berdiri di tanah keluarga. Sedikit terluka, sempoyongan, lolos dari brutalnya gerombolan zombie, namun mereka masih berdiri. Dinasti itu, meski oleng, nyatanya tidak tumbang.
Untuk mengurai kegelisahan, saya ingin membaca momen itu sebagai pertanyaan, alih-alih pernyataan. Apakah sutradara Kimo Stamboel sedang menggambarkan realitas, bahwa di Indonesia, berbagai dinasti yang berdiri di dalamnya memang tidak pernah benar-benar tumbang? Atau ia sedang melanggengkan realitas itu tanpa menyadarinya?
Kritik ini tidak akan menjawab pertanyaan tersebut secara tunggal. Yang akan saya lakukan adalah menelusuri bagaimana Abadi Nan Jaya bekerja sebagai satire politik dinasti. Di mana film ini berhasil, di mana film ini gagal, dan mengapa kegagalan itu justru menjadi bagian paling menarik untuk dibaca.
Membaca Abadi Nan Jaya sebagai Satir yang Tanggung
Genre horor, dalam tradisi panjangnya, selalu bekerja dengan cara ganda. Horor menakutkan secara kasat mata, dengan darah, dengan tubuh yang rusak, dengan kegelapan yang tidak bisa diterangi. Namun genre ini juga menakutkan secara politis, dengan memperlihatkan lewat jarak aman fiksi, apa yang dalam kehidupan nyata terlalu berbahaya atau terlalu memalukan untuk diucapkan secara terang-terangan.
Robin Wood, kritikus film yang paling konsisten membela horor sebagai genre yang serius, pernah berprovokasi bahwa horor adalah "genre paling penting dan paling progresif" dalam sinema Amerika. Horor menyediakan ruang di mana pihak yang paling ditekan oleh tatanan sosial kembali muncul ke permukaan dalam bentuk yang menakutkan.
Formula Wood sederhana namun menghujam: normality is threatened by the monster. Dan monster, dalam pembacaannya, selalu merupakan konsekuensi dari tatanan sosial itu sendiri yang kemudian dibawa ke titik ekstremnya.
Abadi Nan Jaya garapan Kimo Stamboel layak dibaca dalam tradisi itu. Film ini hadir dengan segala kemegahan produksi sebuah film horor Netflix yang ambisius: zombie dengan prostetik yang luar biasa, sinematografi yang benderang, dan narasi keluarga yang bikin sakit kepala para lakonnya.
Namun justru di balik semua kemegahan itu, tersimpan sebuah alegori yang hampir terlalu sempurna tentang fenomena yang paling persisten dalam lanskap kekuasaan Indonesia pasca-reformasi: politik dinasti. Sebuah keluarga pengusaha yang mendambakan keabadian, yang melanggar batas regulasi demi kepentingan bisnis, dan yang menyaksikan warganya hancur akibat ambisi mereka sendiri. Dan iya, yang pada akhir cerita, masih berdiri di tanah yang sama. Membaca Abadi Nan Jaya ‘hanya’ sebagai film horor saja adalah seperti membaca Animal Farm hanya sebagai kisah tentang hewan ternak yang memberontak.
Tentu saja, selalu ada risiko dalam membaca satir di tempat yang mungkin tidak pernah dimaksudkan sebagai satir. Namun yang saya percayai, karya yang sudah beredar tidak lagi sepenuhnya milik pembuatnya, ia juga menjadi milik konteks yang menerimanya.
Dan dalam konteks Indonesia 2025, di mana proliferasi dinasti politik di berbagai daerah telah menjadi salah satu topik perdebatan publik yang paling keras, sebuah film tentang keluarga pengusaha jamu yang menciptakan bencana namun tetap selamat adalah teks yang terlalu kaya untuk dibiarkan tanpa pembacaan semacam ini.
Premis Abadi Nan Jaya adalah sebuah dinasti ekonomi lokal yang mendambakan keabadian. Jamu ANJ adalah produk bisnis sekaligus fantasi tentang kelanggengan yang melampaui batas biologis dan regulatif.
Jamu ini bahkan dikirimkan ke tangan patriark sebelum mendapat persetujuan BPOM, sebuah detail kecil yang berbicara sangat keras tentang bagaimana modal privat memperlakukan mekanisme akuntabilitas publik, yakni sebagai birokrasi yang bisa dilampaui jika kepentingannya mendesak.
Khorapin Phuaphansawat dalam jurnalnya, Zombie Apocalypse and the Crisis of Global Capitalism menunjukkan bahwa zombie non-Hollywood cenderung mengangkat krisis yang jauh lebih lokal dan spesifik: pekerja serabutan yang rentan, migrasi ilegal, eksploitasi ekologis, atau jaringan kapitalisme yang menyandera kehidupan sehari-hari.

Dalam pembacaan ini, wabah di Abadi Nan Jaya adalah produk yang sangat logis dari industrialisasi jamu yang melampaui batas pengetahuan tradisional.
Nama produk "Abadi Nan Jaya" adalah obsesi dinasti yang diberi label-label eksplisit, seperti 'jaya selamanya, bertahan tanpa batas'. Dan nama itu juga yang dipilih sineas menjadi judul film, sebuah ironi yang jumawa mengangkat tangan.
Ia meletakkan kritiknya langsung pada papan nama judul film, seolah menantang penonton untuk menyadari bahwa yang sedang diceritakan bukan sekadar kisah jamu dan zombie di Netflix. Film ini nyatanya juga menuturkan sesuatu yang jauh lebih familiar: keabadian dan kekuasaan.
Memilih tanaman Nepenthes atau kantong semar sebagai inspirasi biologis zombie adalah keputusan menarik. Kantong semar memikat mangsanya dengan penampilan indah dan aroma menggoda, lalu menjebaknya dalam cairan pencernaan yang tak bisa dihindari.
Tanaman ini adalah "keindahan yang mematikan". Sebuah metafora yang terlalu tepat untuk dinasti yang menawarkan keabadian namun menghasilkan kehancuran. Lebih jauh: kantong semar memperoleh nutrisi dengan cara yang tidak konvensional secara ekologis, ia memangsa ekosistem di sekelilingnya.
Inilah gambaran yang presisi tentang akumulasi kapital yang ekstraktif, yang menciptakan nilai dengan mengambilnya dari orang-orang yang terpikat oleh ilusinya.
Sejauh ini, Abadi Nan Jaya bekerja sebagai satir yang cerdas.
Bagaimana Film Menuntun Penonton Memilih Jagoannya
Menurut Florian Krautkrämer dalam Mobilizing the Undead (2023), zombie selalu bekerja lewat “wacana keliyanan”. Si liyan adalah sosok yang dianggap ancaman, lalu sah untuk dikendalikan atau disingkirkan. Yang berubah tiap zaman bukan bentuk ancamannya, melainkan siapa yang ditunjuk sebagai liyan. Di Abadi Nan Jaya, pertanyaannya jadi sederhana: zombie ini mewakili siapa?
Kita bisa coba-coba menjawabnya dengan membaca karakter-karakter utama di film ini. Dimin adalah arketipe pendiri dinasti yang visioner lagi narsistik dan kemaki. Dia juga tiran kecil yang tidak mampu membedakan antara obsesi personalnya dan kebutuhan komunitas di sekitarnya.
Kenes adalah arketipe pewaris yang ambivalen: mewarisi privilese dinasti namun juga mewarisi konsekuensinya. Perannya dalam narasi adalah "yang membereskan", yakni yang datang setelah bencana untuk mengembalikan ketertiban, seperti mesiah. Di sini kita perlu berhenti dan memperhatikan: "membereskan" versi Kenes nyatanya bukan meruntuhkan sistem yang menghasilkan bencana. Kenes sebatas ‘menstabilkannya kembali’.
Saya pikir, Kenes bukan reformis. Ia adalah manajer krisis. Setiap keputusannya, bagaimana bergerak, siapa yang diselamatkan lebih dahulu, ke mana berlindung, diatur oleh logika bertahan yang pada dasarnya adalah logika mempertahankan apa yang masih bisa dipertahankan dari dinasti. Coba perhatikan di dua jam film berjalan, apa pernah Kenes benar-benar mencoba menyelamatkan orang lain selain keluarganya? Hampir tidak pernah.
Di titik ini, Abadi Nan Jaya terasa sangat berjarak dari banyak film zombie yang menjadikan wabah sebagai ujian bagi kemanusiaan universal. Dalam Colony (Yeon Sang-ho, 2026), misalnya, zombie dipakai untuk menekan manusia sampai lapisan moral paling dalam mereka terbuka: siapa yang tetap mau berbagi, siapa yang masih percaya bahwa orang asing pun layak diselamatkan, atau sebaliknya, siapa yang mampu mengorbankan kemanusiaannya untuk menyelamatkan diri sendiri.

Zombie di Colony adalah eksperimen moral berskala besar. Sedangkan dalam Abadi Nan Jaya, lingkar kepedulian para tokohnya terasa jauh lebih sempit. Kemanusiaan hadir, namun sebatas garis darah, warisan, dan keluarga. Satu desa Wanirejo boleh saja hancur lebur, asal garis keturunan sendiri tetap selamat.
Tokoh-tokoh yang saya pikir paling penting untuk didedah di Abadi Nan Jaya justru adalah warga desa Wanirejo (yang kelak, secara bertahap menjadi zombie satu demi satu). Posisi mereka menjadi sosok yang paling penting untuk dibaca, justru karena mereka tidak pernah diberi nama.
Phuaphansawat mencatat bahwa zombie non-Hollywood seringkali merepresentasikan pekerja yang "dibuang" oleh sistem ketika tidak lagi diperlukan. Pun dalam Abadi Nan Jaya, warga desa adalah orang-orang yang tidak duduk dalam keputusan yang menciptakan bencana, tidak menerima manfaat dari eksperimen jamu Sadimin, namun sialnya, merekalah yang pertama menanggung konsekuensinya.
Setelah menjadi zombie, mereka kehilangan satu hal terakhir yang manusiawi: identitas individual. Lebih sial lagi, sineas melalui keputusan sinematiknya, melabeli mereka sebagai massa berbahaya, perlu dihindari, bahkan dimusnahkan dalam kobaran api. Hal ini bisa disaksikan dan dirasakan di sekujur film 2 jam ini, mulai dari keberpihakan kamera, musik scoring, hingga cara dialog didistribusikan antarkarakter.
Kamera tidak memperlihatkan wajah warga Wanirejo sebagai orang yang pernah memiliki sejarah. Kalaupun sempat, paling hanya sekelumit adegan Ningsih dan Rahman di awal film. Kamera lebih memilih menyorot Dimin birahi, Karina yang sok pengertian, Kenes yang berasa jagoan, Raihan yang susah kencing, atau dua laki-laki di keluarga ini yang tidak juga ada faedahnya.

Lebih-lebih lagi, keluarga Sadimin ditangkap kamera dengan cara yang membangun intimasi. Close up wajah pada momen-momen emosional, medium shot yang memberi ruang bagi bahasa tubuh terbaca, serta komposisi yang menempatkan mereka sebagai subjek yang penonton ikuti.
Eva Celia sebagai Karina dan Mikha Tambayong sebagai Kenes mendapat perlakuan kamera yang paling kaya. Wajahnya diperlihatkan dalam detail. Penonton secara sadar bisa tahu kapan mereka merasa takut, lelah, murung, atau emosi-emosi lainnya.
Ini adalah cara kerja ideologi yang paling efisien dalam film: mengatur siapa yang kita ikuti, siapa yang kita cemaskan nasibnya, dan siapa yang kita terima sebagai "kehilangan yang tidak bisa dihindari”.
Jika dilihat dari tata riasnya, tim Astrid Sambudiono memang mengerjakan detail yang luar biasa pada masing-masing zombie. Hanya saja, kamera tidak memberikan waktu kepada detail itu untuk dibaca sebagai individu. Kamera memilih memperlihatkan warga zombie dari sudut yang mengancam, dari bawah, dari kejauhan, dalam gerombolan. Sebagai kerumunan massa yang mengancam.
Perhatikan juga musik scoring-nya. Dalam film horor, musik tentu bukan cuma mesin yang dibikin agar penonton terkaget-kaget. Musik juga mesin empati, instrumen yang secara aktif memberi tahu penonton kepada siapa mereka harus merasa berpihak.
Fajar Yuskemal mengerjakan scoring cukup terampil dalam membangun ketegangan. Namun yang paling instruktif adalah ketika musik ‘berpihak’ kepada siapa dia berduka.
Ketika ayah Raihan jadi zombie, atau juga saat Kenes mengorbankan diri, scoring merespons dengan melodi yang menanggung beban. Sebuah musik yang memberi tahu penonton bahwa kita sedang menyaksikan penderitaan yang layak diratapi.
Bandingkan dengan apa yang terjadi ketika satu demi satu warga desa Wanirejo berubah menjadi zombie dan kehilangan kemanusiaan mereka. Musik tidak berduka untuk mereka. Beberapa kali bahkan yang hadir musik ancaman, yang memperingatkan. Penonton langsung diarahkan secara musikal bahwa sesuatu yang berbahaya sedang mendekat.
Ini adalah cara musik melakukan pekerjaan ideologisnya. Scoring yang dipilih sineas tidak memberikan tema duka kepada warga, secara otomatis mengonfirmasi bahwa mereka bukan korban.

Cuplikan Film Abadi Nan Jaya. youtube. Netflix
Selain itu, aspek lain yang perlu didedah adalah distribusi dialog. Saya tidak bermaksud mengajak membandingkan siapa yang berbicara lebih banyak, tapi siapa saja yang diberi kalimat bermakna.
Dalam Abadi Nan Jaya kalimat-kalimat penting, yang mengandung refleksi, penyesalan, rencana, atau pilihan moral, hampir seluruhnya dimiliki oleh keluarga Sadimin. Dimin diberi monolog tentang visinya terhadap perusahaan jamu Wani Waras. Kenes diberi dialog yang mengungkap konflik batinnya yang tak putus-putus murka dengan keputusan Bapaknya menikahi sahabatnya sendiri.
Bahkan karakter pendukung dalam lingkaran keluarga (suami Kenes yang tidur dengan perempuan lain, atau Bambang yang lebih tekun nge-game dibanding kerja) diberi kalimat yang menunjukkan mereka adalah individu dalam perspektif.
Scoring yang berduka secara asimetris, framing yang membangun intimasi hanya untuk keluarga, sampai dialog yang tidak didistribusikan secara adil tentu bukan kegagalan teknis yang bisa disalahkan secara individual. Masing-masing adalah pilihan yang tereksekusi dengan baik dan konsisten satu sama lain.
Konsistensinya itulah yang paling bermakna, yang menunjukkan bahwa keberpihakan struktural film ini bukan sekadar hadir dalam naskah, namun juga sudah meresap ke dalam setiap lapisan bahasa sinematiknya. Yang mana bekerja dengan sangat efektif justru karena ia tidak pernah terasa seperti keberpihakan dengan dinasti (baca: keluarga Sadimin).
Para Penyintas dan Pengampunan Penonton
Ada rasa tidak nyaman yang tertinggal lama setelah Abadi Nan Jaya selesai. Dan saya sepenuhnya yakin, saya terganggu bukan karena ratusan zombie yang kelojotan dengan luwes itu. Ini semacam kegelisahan yang meninggalkan perasaan compang-camping yang aneh: jangan-jangan Kimo Stamboel, melalui filmnya, tidak cuma mau menggambarkan ‘politik dinasti’ yang sulit runtuh di Indonesia. Saya curiga, Kimo diam-diam sedang menormalkannya.
Sehari sebelum menulis paragraf di atas, saya masih memutar ulang adegan akhir Abadi Nan Jaya. Mencoba melerai prasangka, kenapa Kimo hanya menyelamatkan Eva Celia dan si kecil Raihan. Sialnya, saya gagal berprasangka baik.
Para penyintas utama di akhir film adalah keluarga inti Sadimin. Dinasti yang menciptakan bencana adalah dinasti yang juga berhasil bertahan melewatinya. Bencana di film ini digunakan bukan untuk mengguncang tatanan dinasti, tapi rupanya efektif untuk membuktikan 'ketahanannya'.

Bandingkan ini dengan cara Zona Merah (Sidharta Tata, 2024) yang mengelola pertanyaan serupa. Di sana, "mayit" (istilah yang dipilih sadar untuk dibedakan dari "zombie" yang terasa impor) adalah produk dari kekerasan struktural yang berlapis: industri kayu lapis, jaringan trafficking, politisi korup lokal. Tidak ada satu figur tunggal yang bisa ditunjuk sebagai penyebab, karena penyebabnya adalah sistem yang sudah membusuk jauh sebelum mayit pertama bangkit. Dan karena tidak ada penyebab tunggal, tidak ada pula resolusi yang bersih. Zona Merah tidak memberi kelegaan kepada penontonnya, karena yang ia gambarkan terlampau sistemik untuk diselesaikan oleh penyesalan siapa pun.
Adegan akhir, yang mana keluarga Sadimin masih berdiri di tanah keluarga, setelah segala yang terjadi adalah perkara yang patut dibaca lebih jauh.
Ada dua cara membaca momen itu, dan saya tidak akan memilih salah satunya secara sepihak.
Cara pertama: ini adalah gambaran yang jujur tentang realitas Indonesia. Dinasti di beberapa daerah memang tidak tumbang, tidak oleh skandal, tidak oleh krisis bisnis, bahkan tidak oleh bencana yang mereka ciptakan sendiri. Mereka mengelola, beradaptasi, dan bertahan. Dalam pengertian ini, film sedang memperlihatkan realitas dengan presisi yang tidak menyenangkan. Ketidaknyamanan yang kita rasakan adalah respons yang tepat, bukan bukti bahwa film ini adalah karya yang buruk.
Cara kedua: ini adalah pemberian pengampunan yang tidak disadari. Dengan membiarkan dinasti bertahan tanpa konsekuensi yang benar-benar mengubah posisi mereka, film secara diam-diam mengonfirmasi bahwa bertahan adalah hak alami mereka. Bahwa kepemimpinan dalam krisis (meski krisis itu mereka ciptakan) secara natural jatuh ke tangan mereka. Bahwa yang perlu diubah hanyalah “individu” di puncak, bukan “struktur” yang menempatkan seseorang di sana.
Kemungkinan besar kebenaran ada di antara keduanya. Dan justru di situlah terletak kegagalan satir yang paling bermakna. Abadi Nan Jaya cukup cerdas untuk membuka pertanyaan tentang politik dinasti, namun berhenti tepat sebelum pertanyaan itu menjadi terlalu tidak nyaman untuk ditanggung.
Kantong semar menangkap mangsanya dengan keindahan. Abadi Nan Jaya menangkap kita dengan cara yang sama, yakni dengan pertanyaan yang tajam, namun dengan pintu keluar yang cukup lebar untuk membiarkan dinasti, serta penonton yang mengidentifikasi dirinya sebagai pro-dinasti, pergi tanpa terlalu terganggu, tidak gelisah, dan baik-baik saja.
Apakah itu kegagalan artistik, atau pilihan yang sangat sadar? Ambiguitas inilah yang mengunci posisi Abadi Nan Jaya sebagai teks sinema yang menarik untuk terus diuji.
**
Saya mendedah Abadi Nan Jaya dalam dua pembacaan tentang bahasa kekuasaan yang dibentuk oleh dinasti di tulisan ini, dan bagaimana bahasa sinema yang dibentuk oleh algoritma Netflix di artikel Membaca The Elixir dan Pergeseran Bahasa Sinema di Era OTT.
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































